NovelToon NovelToon
PEWARIS TERHEBAT 7

PEWARIS TERHEBAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sci-Fi / Balas Dendam
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.

Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Tuan Osvaldo," ujar Asher sembari mendekati Osvaldo.

Osvaldo Tolliver duduk di kasur, memijat kepala yang terasa sangat pening. Keringat membasahi sekujur tubuhnya dan embusan napasnya terdengar tersengal-sengal.

Osvaldo Tolliver mengembus napas panjang, termenung selama beberapa waktu. Ia mengamati keadaan sekeliling, mendapati sebuah robot memeriksa keadaannya dan juga Asher yang tampak khawatir dengan keadaannya.

"Penglihatan itu semakin jelas dari waktu ke waktu. Galata ... menyerang tempat ini. Aku harus segera memberitahu hal ini pada yang lain."

"Tuan, beristirahatlah. Kondisimu memburuk karena kau terlalu banyak menerima tekanan akhir-akhir ini. Keberadaan Anda sangat penting sehingga Anda harus terus dalam keadaan yang baik. Aku yakin yang lain akan mengerti," kata Asher.

Osvaldo Tolliver mengamati Asher, berbaring kembali. "Kau benar, Asher."

Osvaldo mengamati langit-langit ruangan. "Katakan, apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri. Apakah terjadi hal yang buruk?"

Asher terdiam selama beberapa waktu, merasa takut jika kondisi Osvaldo akan semakin memburuk setelah mendengarkan ceritanya.

"Aku akan baik-baik saja. Aku hanya butuh beristirahat selama beberapa waktu."

"Alexander memastikan jika Samuel adalah Draco. Dia menggunakan kemampuan burung merpati itu untuk melihat kondisi Draco. Draco berada di markas Galata, memantau orang-orang yang berada dalam tabung kaca, dan anggota-anggota Galata. Selain itu, Alexander melihat Draco berada di sebuah tempat seperti tempat pemujaan dengan gambar mata satu di dinding batu."

"Tempat pemujaan? Gambar mata satu?" tanya Osvaldo Tolliver memastikan. "Ini ada hubungannya dengan sosok hitam yang pernah aku lihat sebelumnya."

"Berdasarkan keterangan George, terdapat informasi soal sosok hitam yang menjadi sosok makhluk yang mengetahui segala hal. Dia memberikan kuasa berupa pengetahuan pada manusia terpilih. Informasi itu hanya diketahui oleh para petinggi kelompok."

"Ya, dugaanku selama ini ternyata benar." Osvaldo Tolliver tersenyum. "Aku sepertinya bisa beristirahat dengan nyenyak sekarang."

"Tuan, sebenarnya Alexander ingin menemui Anda untuk bertanya soal tempat pemujaan dan simbol mata satu. Hanya saja, Anda tidak sadarkan diri saat itu."

"Kau bisa memberikan informasi itu pada Alexander melalui dokumenku." Osvaldo Tolliver memindai sidik jari di jam tangannya. Deretan folder seketika bermunculan di layar hologram. Ia memilih salah satu folder dan menggesernya ke arah Asher.

Asher menerima sebuah notifikasi mengenai file masuk. "Aku akan memberikan informasi ini pada Alexander, Tuan. Kau sebaiknya segera beristirahat."

Osvaldo Tolliver memejamkan mata, dan tertidur tak lama setelahnya.

Asher mengembus napas panjang, duduk di kursi, mengamati Osvaldo Tolliver. "Kondisi Tuan Osvaldo memang menunjukkan perubahan yang baik. Tubuhnya jauh lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya. Akan tetapi, aku justru semakin khawatir."

Asher mengirimkan informasi pada Xander, memeriksa perkembangan dan keadaan di kediaman utama Tolliver. "Pasukan masih berlatih hingga saat ini. Progres mereka terus meningkat, terutama pria bernama Shane dan Edward."

Hujan mengguyur deras, disusul oleh petir yang menggelegar. Malam terasa lebih dingin dibandingkan sebelumnya. Para robot dan penjaga tampak berlalu lalang di titik penjagaan. Deretan informasi mengenai keadaan terus diperbaharui di layar.

Di tengah pembawa acara yang memberitakan soal kelompok teroris, virus Hole, dan unjuk rasa yang tidak henti, Xander tengah berada di dalam kamar. Pria itu menatap langit-langit ramai, berusaha tertidur. Sayangnya, ia terus terjaga karena pikirannya yang terasa penuh.

Xander memijat kening berkali-kali, mengembus napas panjang. Ia menikmati keheningan berlatar suara hujan dan petir.

Xander terdiam saat melihat notifikasi di jam tangannya. "Asher mengirimkan sebuah file dari Osvaldo Tolliver. Pria itu sudah sadarkan diri."

Xander membuka file, tersenyum. "Informasi ini yang memang aku butuhkan sekarang. Tempat pemujaan dan juga simbol mata satu."

Xander membaca deretan informasi, berusaha menahan kantuk yang mendadak datang.

Sayangnya, ia harus kalah sebab tertidur di saat layar hologram masih menyala. Pria itu terlelap di sofa, tampak sangat kelelahan.

Di waktu yang sama, Lorcan dan para bawahannya tiba di sebuah pulau untuk beristirahat. Kondisi hujan yang semakin mengganas membuat mereka harus menghentikan perjalanan, terlebih malam sudah semakin larut.

Lorcan memeriksa kondisi tubuhnya dan banyak alat. Ia mengamati api unggun yang menerangi ruangan, beralih pada Gideon, Gabriel, Talon, dan dua anggota lain.

"Aku sudah semakin dekat dengan Monteno, tetapi kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan sekarang. Selain hujan, aku dan yang lain juga sudah sangat kelelahan. Akan sangat berbahaya jika Galata menyerang dengan kekuatan penuh."

Lorcan mengembus napas panjang, mengamati penampilannya di layar. "Kondisi seperti gelandangan menjijikkan. Aku tidak memiliki waktu untuk sekedar merapikan penampilan mengingat fokusku adalah menghindari Galata."

Lorcan berbaring di ranjang yang merupakan sebuah robot, menatap bayangan hitamnya. "Galata mengirim pasukannya yang menggunakan alat-alat canggih. Aku penasaran kenapa mereka tidak mengirim orang-orang berkemampuan. Mereka banyak tertangkap saat penyerangan tempo hari."

"Kenapa Galata tidak mengirimkan orang-orang berkemampuan itu? Apakah mereka dilenyapkan, atau justru mereka... sedang diperbaharui dan diperkuat?"

"Galata tidak memiliki cukup kemampuan dan alat-alat untuk melakukan eksperimen sebelumnya. Akan tetapi, melihat kekuatan mereka sekarang, aku yakin mereka memiliki lebih dari cukup alat dan kemampuan untuk melakukan eksperimen."

"Saat terjadi penyerangan yang dilakukan Galata, orang-orang berkemampuan sedang ditugaskan untuk melakukan pencarian penyusup-penyusup sialan itu. Sesaat sebelum penyerangan, aku sempat mendapatkan pesan dari seorang anggota berkemampuan. Sayangnya, Galata sudah menyerang lebih dahulu."

Suara alarm mendadak berbunyi. Lorcan dan yang lain sontak bersiaga penuh. Robot-robot yang berjaga menampilkan mode bahaya.

Anggota Galata mendadak muncul dari sebuah lorong. Mereka bergegas menyebar ke sekeliling pulau, menerobos hujan yang deras.

Lorcan mendengkus kesal saat melihat satu per satu robot yang berjaga tidak aktif. "Galat menyerang. Kita pergi sekarang."

"Ketua, mereka tampaknya menggunakan teleport," ujar Gideon yang sudah dalam mode bertahan. Tubuhnya dilapisi armor dan persenjataan lengkap.

"Sial! Bagaimana mungkin mereka bisa tahu aku berada di sini?" Lorcan menghidupkan mode pertahanan penuh. Tangan dan kakinya berubah menjadi robot.

Suara ledakan terdengar beberapa kali. Pepohonan berjatuhan ke tanah bersamaan dengan angin dan petir yang menyambar.

"Ketua, robot-robot yang berjaga di luar sudah dimusnahkan. Galata sudah mengepung seluruh pulau," kata Talon.

"Dasar brengsek!" Lorcan terkejut saat barier nyaris hancur saat terkena tembakan. "Barier ini tidak mungkin bisa bertahan selamanya. Aku harus mendapatkan alat-alat mereka sekaligus melarikan diri. Aku tidak memiliki pilihan selain mengorbankan anggotaku."

"Tidak! Aku tidak boleh kehilangan anggotaku lagi. Aku masih sangat membutuhkan mereka sekarang.”

"Pertahankan barier selama mungkin. Aku akan mempersiapkan diriku untuk membuka gerbang teleportasi."

Pasukan Galata bersama para robot mereka terus melakukan serangan ke arah barier. Suara ledakan terdengar bersahutan, disusul dengan getaran dan asap yang mengepul ke langit meski akhirnya menghilang karena hujan.

Pasukan Galata dan robot mereka menghimpun kekuatan, bersiap dengan sebuah serangan besar. Bersamaan dengan serangan petir yang menggelegar, serangan dilancarkan kuat ke arah barier.

Sebuah ledakan terjadi bersamaan dengan Draco yang bangun dari tidurnya. Ia tersenyum saat membaca pesan mengenai keberadaan Luc dan Graham.

"Aku harus mendapatkan kalian berdua." Draco segera menghubungi bawahannya. "Kirimkan pasukan untuk menangkap Luc dan Graham. Aku harus menjadikan mereka sebagai bawahanku.”

1
Nathan Grdn
tarik nafas
Nathan Grdn
masa kalah terus jagoan nya,persis di konoha penjagat selalu di depan
MELBOURNE
saksikan terus
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍
aim pacina
Miguel Mikael dan govin berikan kekuatan khusus thor biar seru karna fisik mereka kuat
Glastor Roy
update ya torrr ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!