Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 28
Aruna terlihat sibuk dari semalam bahkan dia tak sempat tidur. Dia menyeting semua alat penyadap dan juga kamera Cctv yang sudah dimodifikasi sehingga tidak akan menimbulkan kecurigaan orang-orang di rumah Bima. Dia memerlukan alat itu yang paling utama untuk memantau keadaan adiknya. Dia khawatir jika kebebasannya malah akan membuat Bima menyakiti adiknya. Agar dia lemah dan kembali lagi kepada pria itu. Bima tahu kelemahan dia satu-satunya saat ini adalah Arkha. Tapi Aruna juga tahu Arkha adalah orang yang paling dia sayang. Dan tak mungkin Bima menyiksa harga seperti dirinya.
"Ternyata kamu masih saja mengumpatku Pak tua!" kekeh Aruna saat melihat dari rekaman CCTV yang ada di ruangan kerja Bima.
Dengan santai Aruna melihat layar laptop sambil menyeruput kopi di dalam gelas yang ada di tangannya. Dia melihat pertunjukan di dalam ruang kerja Bima. Dari semalam terlihat pria itu frustasi karena Edwin dan Ramon masih belum bisa menemukan keberadaan dirinya.
"Aku tak akan pernah kembali padamu apapun keadaannya saat ini. Aku akan kembali padamu saat aku benar-benar sudah siap membalaskan semuanya yang sudah kamu lakukan padaku dan juga Ibu! Aku akan membuat hidup kalian menjadi neraka. Kau pikir aku tidak tahu kalau kamu masih berhubungan dengan wanita iblis itu di belakang adikku!" kekeh Aruna. Tak lama ponselnya berbunyi dan melihat siapa yang menghubungi membaut dia tersenyum.
"Aku teman inginkan uang! Aku ingin wilayah dan juga anak buah! Jika kau sanggup memberikannya padaku, maka aku akan melakukan pekerjaan berat itu untukmu!" jawab Aruna.
"Pikirkan lagi tawaranku! Bukankah kau mendapatkan yang kamu mau dan aku juga mendapatkan yang aku mau. Kita sama-sama diuntungkan, win win solution. Aku bekerja secara profesional, untuk orang-orang yang menginginkan jasaku seperti kamu! Jika memang kamu tak sanggup memberikannya jangan hubungi aku lagi!" jawab Aruna tegas dan memutuskan panggilan.
Aruna menata ponselnya kemudian melirik ke sebelahnya. Ada dua CCTV kecil yang ditempatkan di dapur dan juga di ruang tengah. Entah Apa maksudnya Xavier menyimpan benda itu di dalam sana. Apakah dia khawatir padanya, ataukah mungkin dia penasaran siapa dirinya? tapi semalam seharusnya Xavier tidak penasaran lagi. Karena dia sudah tahu siapa Aruna. Orang yang dahulu pernah menyelamatkannya, bahkan saat itu Xavier hampir mati di tangan musuhnya.
"Mau apa kamu datang kesini pagi-pagi?" tanya Aruna ketus saat mendengar pintu unitnya di ketuk. Xavier berdiri di sana sambil membawa paper bag. Namun Ternyata dia tidak sendirian, melainkan bersama ayahnya. Devan Hananta.
"Selamat pagi Aruna!" sapa Pak Devan.
"Ngapain kamu bawa bapakmu kesini?" tanya Aruna kepada Xavier yang malah sudah masuk lebih dahulu.
"Papi memaksa ingin bertemu denganmu! Duduklah Aku bawakan sarapan untukmu, kamu pasti belum sarapan kan? apalagi semalaman kamu mau ngomel-ngomel!" jawab Xavier sambil terkekeh sedangkan Aruna mendelik kesal.
"Apa tujuanmu menyimpan benda seperti itu di sini?" tanya Aruna menatap tajam.
"Maafkan aku. aku tak memiliki maksud apa-apa, aku hanya khawatir jika orang yang meminta tolong padaku pada akhirnya malah akan mencelakai dan memanfaatkan kebaikanku," jawab Xavier.
"hei Tuan Hananta! Saya menyewa tempat ini menggunakan uang saya sendiri, dan motor itu juga saya beli dengan uang saya sendiri bukan uang anda! Alasan yang Anda berikan sangat tidak rasional! Berikan alasan yang tepat jangan bertele-tele seperti itu!" kesal Aruna tak peduli jika di sana ada Pak Devan, ayah dari Xavier.
"Ibumu pasti suka dengan wanita yang galak seperti ini. Karena Dia memiliki karakter yang sama dengan ibumu, sekali-kali kamu ajak ibumu ke sini atau bertemu dengannya! Dia pasti akan sangat senang," kekeh Pak Hananta.
"Tidak terima kasih Pak!" jawab Aruna semakin membaut Pak Devan tertawa menyukai karakter Aruna.
"Astaga, anak dan ayah sama saja. Silahkan katakan keinginan Anda bertemu dengan saya Pak Devan? Maaf Saya tidak terbiasa memberikan jamuan kepada tamu yang tadi undang," tanya Aruna ketus.
Memang sudah gayanya Aruna menjadi seperti ini. Menjadi wanita yang keras dan penuh waspada. Semua karena latihan yang selama empat tahun lebih dia lakukan. Baik di markas maupun di lapangan, dia banyak mendapatkan pelajaran berharga di sana. Sehingga membuatnya menjadi lebih baik dan lebih kuat lagi.
"Pertama saya ucapkan, senang sekali Akhirnya bisa bertemu dengan Dewi penyelamat kami saat itu. Karena hampir saja kami mengalami kekalahan dan mungkin kami sudah tidak ada di dunia ini. Apa kamu menginginkan sesuatu dari kami?" jawab Pak Devan.
"Silahkan di lanjut dahulu jika ada yang kedua dan ketiga Pak, biar saya jawab sekalian," jawab Aruna membuat Pak Devan geleng kepala, sedangkan Xavier terlihat melongo dengan kelakuan Aruna yang berani sekali kepada ayahnya. Padahal saat ini Ayahnya merupakan salah satu pimpinan terbesar di wilayah ini termasuk Bima dan juga satu lagi. Di depan Aruna sekolah wibawa ayahnya tidak ada sama sekali.
"Baiklah, galak sekali kamu ya ampun! Lady Runa ... Apa kau tahu? Sebentar lagi berita kepergianmu dari kelompok pimpinan Bima akan segera tersebar. Dan kamu akan menjadi orang yang paling dicari oleh mereka semua," ucap Pak Devan.
"Termasuk kalian?" potong Aruna sambil terkekeh kecil.
"Kamu memang benar-benar seorang Lady Runa!" kekeh Pak Devan.
"Dan jawabannya Kalian juga pasti sudah tahu! Aku tak akan bergabung dengan siapapun. Aku memilih kebebasanku, Aku tidak mau menjadi budak siapapun. Cukup sudah selama ini aku melakukan semuanya karena ingin kebebasanku. Bukankah sekarang kalian sudah menjadi kelompok yang cukup kuat di wilayah ini? Apa itu belum cukup untuk kalian? Seberapa banyak lagi kekayaannya kalian inginkan? Perusahaan dan bahkan dunia gelap sudah kalian kuasai. Janganlah menjadi manusia yang menjadi terlalu serakah dan tamak," jawab Aruna tenang menyenderkan punggungnya di kursi. Sedangkan Pak Devan dan Xavier duduk di sofa.
"Mungkin sebelum tahu siapa kamu, kami pasti akan memburu dan berlomba untuk memintamu bergabung. Tapi setelah semalam Xavier kalau orang yang menolong kami saat itu adalah lady Runa yang tak lain adalah kamu. Maka aku tak akan memintamu untuk bergabung. Apa kamu perlu bantuan kami untuk melindungimu dari pria itu? Jika memang kamu membutuhkan bantuan, kami akan membantumu. Hutang Budi kami terlalu besar padamu Lady Runa!" jawab Pak Devan membuat Aruna menatap tajam mata pria yang umurnya tak jauh dengan Bima.
Aruna mencoba mencari kebohongan dalam ucapan pria itu. Aruna tahu jika di dunia bawah tidak ada yang bisa dia percaya sepenuhnya. Karena mereka semua kebanyakan berkamuflase agar bisa mendekat dan pada akhirnya menikam dari belakang.
"Terima kasih tawarannya. Tapi untuk sekarang sepertinya saya tidak memerlukan apapun," jawab Aruna.
"Lalu apa di hari kebebasanmu ini, kamu belum memikirkan apapun untuk kedepannya? Kau tahu pasti ayahmu tidak akan melepaskanmu begitu saja. Kerena melepaskanmu sama saja dengan menghancurkan dunia bawahnya sendiri. dan dia akan kembali menjadi kelompok kecil," tanya Pak Devan.
"Sudah saya katakan kepada anak anda, kalau saya ini manusia sejenis amoeba. karena Ibu saya melahirkan melalui membelah diri, Saya tidak punya ayah. Dia bukan ayah saya melainkan iblis yang selalu menghukum saya selama ini. Jadi Jangan katakan kalau dia Ayah saya lagi. Sepertinya tak ada yang perlu kita bicarakan lagi Pak Devan. silakan Anda keluar dan berhati-hatilah dengan salah satu lawan bisnis anda. karena dia memiliki niatan buruk kepada kalian," usir Aruna kepada mereka.
Bahkan Aruna mendorong keduanya keluar dari unit apartemennya. Pak Devan benar-benar tidak ada harga dirinya di depan Aruna.
"Jangan lupa makan sarapannya! Itu adalah masakan Mami!" teriak Xavier sebelum Aruna benar-benar menutup pintunya.
",Astaga, gadis itu benar-benar anak singa! Galaknya minta ampun. Belum apa-apa sudah main menyerang saja," kekeh Pak Devan Xavier juga terkekeh dengan kedua pipi yang merona. Entahlah dia merasa bahagia bisa bertemu lagi dengan Aruna. Apalagi ternyata Aruna adalah Dewi penolongnya saat itu.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/