NovelToon NovelToon
Tunangan Yang Tak Di Anggap

Tunangan Yang Tak Di Anggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.

Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

makan malam yang menegangkan

Malam pertunangan yang ditunggu oleh dua keluarga besar dan dikutuk oleh dua jiwa yang menjalaninya akhirnya tiba. Kediaman Maheswari disulap menjadi sebuah galeri kemewahan yang berlebihan. Karpet merah membentang dari lobi hingga ruang makan formal, aroma bunga lili putih yang mahal memenuhi udara, bercampur dengan aroma lilin aromaterapi yang seharusnya menenangkan, namun bagi Alea, bau itu terasa seperti bau kemenyan di pemakaman kebebasannya.

Alea berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan kebaya modern berwarna nude dengan payet yang berkilauan lembut setiap kali ia bergerak. Rambutnya disanggul rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang pucat. Polesan riasan di wajahnya sempurna, menyembunyikan mata yang bengkak karena kurang tidur selama beberapa hari terakhir.

"Nona, mobil keluarga Danuar sudah memasuki gerbang utama."

Suara bariton yang akrab itu membuat Alea sedikit tenang. Ia menoleh dan melihat Kenan berdiri di ambang pintu. Bodyguard itu tampak mengenakan Jak hitam yang biasa ia pakai.

"Terima kasih, Kenan," bisik Alea. Ia meremas jemarinya yang dingin. "Bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat seperti pajangan yang mahal?"

"Anda terlihat cantik, Nona. Tapi Anda terlihat tidak bahagia. Dan itu jauh lebih terlihat daripada pakaian Anda."

Alea tersenyum kecut. "Kamu selalu tahu cara membaca pikiranku."

"Itu tugas saya. Dan malam ini, tugas saya menjadi lebih berat," ucap Kenan. Ia menunduk sedikit. "Saya akan berada tepat di belakang Anda di ruang makan. Jika Anda merasa tidak sanggup, beri saya kode. Saya akan mencari alasan untuk membawa Anda keluar."

Alea mengangguk kecil. Kehadiran Kenan adalah satu-satunya hal yang membuatnya mampu melangkah menuruni tangga.

Di ruang tamu utama, keluarga Danuar telah tiba. Arkan Maheswari dan Sarah menyambut mereka dengan tawa yang dipaksakan namun terdengar meyakinkan bagi dunia luar. Bramantyo Danuar dan istrinya membalas dengan kehangatan yang sama palsunya. Namun, di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria yang seolah membawa badai es ke dalam ruangan.

Dafin Danuar.

Ia mengenakan setelan jas gelap yang memancarkan aura kekuasaan dan ketidaksenangan yang nyata. Wajahnya datar, rahangnya terkatup rapat, dan matanya tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun.

Saat Alea menuruni anak tangga terakhir, semua mata tertuju padanya. Arkan tersenyum lebar, senyum seorang pemenang.

"Dafin, perkenalkan, ini putri tunggal kami, Alea," ucap Arkan dengan bangga.

Dafin berbalik. Matanya bertemu dengan mata Alea. Tidak ada percikan kekaguman, tidak ada keramahan. Hanya ada penilaian dingin dan kebencian yang samar. Dafin sedikit mengangguk, sangat minimalis hingga hampir terkesan menghina.

"Selamat malam," ucap Dafin, suaranya sedingin es di kutub utara.

"Malam," sahut Alea singkat. Ia bisa merasakan tatapan Dafin yang seolah merendahkannya, seolah ia hanyalah penghalang yang harus disingkirkan.

Mereka pun beranjak ke ruang makan setelah acara pertunangan singkat itu. Meja panjang itu dipenuhi hidangan kelas dunia, namun suasana di sana begitu berat sehingga setiap dentingan sendok terdengar seperti lonceng kematian. Arkan dan Bramantyo sibuk membahas merger perusahaan dan proyeksi keuntungan semester depan, sementara para ibu sibuk membicarakan detail pesta pertunangan yang lebih besar.

Alea hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya. Di belakangnya, Kenan berdiri seperti patung hitam yang tak bergerak, namun matanya terus memantau setiap gerak-gerik Dafin.

Dafin tiba-tiba meletakkan garpunya dengan dentingan yang cukup keras, memotong pembicaraan Arkan. "Jadi, Alea," ucap Dafin, tatapannya tajam menusuk.

"Apa Papa-mu memberitahumu berapa nilai kontrak yang ia dapatkan dengan menukarmu denganku?"

Suasana mendadak senyap. Wajah Arkan memerah padam, sementara Bramantyo terbatuk canggung.

"Dafin! Jaga bicaramu!" tegur Bramantyo keras.

Dafin tidak bergeming. Ia tetap menatap Alea dengan senyum miring yang mengejek. "Aku hanya ingin tahu, apakah dia tahu harga dirinya sendiri atau tidak."

Alea merasa dadanya sesak. Amarah mulai membakar rasa sedihnya. Ia mendongak, menatap Dafin dengan berani.

"Aku tahu nilai diriku, Tuan Danuar. Dan aku juga tahu bahwa seseorang yang menyebut dirinya CEO hebat ternyata tidak punya cukup keberanian untuk menolak perintah ayahnya, hingga ia harus melampiaskan rasa frustrasinya pada orang asing."

Mata Dafin menyipit. Ia tidak menyangka gadis yang terlihat rapuh ini akan membalas ucapannya.

"Keberanian?" Dafin terkekeh sinis. "Aku punya cukup keberanian untuk membuat hidup orang yang memaksaku masuk ke situasi ini menjadi sangat sulit. Jadi, bersiaplah, Alea. Jangan harap ada pernikahan dongeng di sini."

"Dafin, cukup!" teriak Bramantyo sambil menggebrak meja. "Maafkan putra saya, Arkan. Dia hanya sedang lelah karena pekerjaan."

"Tidak apa-apa, Bram. Anak muda memang punya semangat yang tinggi," sahut Arkan, meski urat di lehernya menegang menahan amarah pada Dafin.

Alea tidak bisa lagi menahannya. Ia berdiri mendadak. "Maaf, aku merasa kurang sehat. Aku butuh udara segar."

Tanpa menunggu persetujuan, Alea melangkah cepat keluar menuju teras samping yang menghadap ke taman belakang. Kenan dengan sigap mengikuti di belakangnya, langkahnya ringan namun pasti.

Begitu sampai di teras, Alea mencengkeram pagar pembatas. Napasnya memburu. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menetes satu per satu. "Dia menghinaku, Kenan... Di depan orang tuaku sendiri, dia menghinaku seolah aku ini barang rongsokan."

Kenan berdiri di sampingnya, memberikan jarak yang sopan. "Dia hanya seorang pengecut yang ketakutan, Nona. Pria yang benar-benar kuat tidak akan merendahkan wanita untuk merasa berkuasa."

"Aku membencinya, Kenan. Aku benar-benar membencinya," isak Alea.

"Saya tahu, Nona." Kenan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sapu tangan bersih berwarna biru tua. Ia memberikannya pada Alea. "Hapus air mata Anda. Jangan biarkan dia melihat Anda menangis. Itu adalah kemenangan baginya."

Alea menerima sapu tangan itu, mencium aroma maskulin yang tipis dan menenangkan dari kain itu. Ia mengusap wajahnya dan mencoba menenangkan diri.

Namun, ketenangan itu terusik saat suara langkah kaki terdengar dari balik pintu kaca. Dafin muncul dengan tangan di saku celana, tampak sangat santai namun berbahaya.

"Oh, jadi ini tempat persembunyianmu? Dan kamu membawa pengawal pribadimu untuk menangis bersama?" ejek Dafin sambil melangkah mendekat.

Kenan langsung bergeser, berdiri tepat di depan Alea, menghalangi jalan Dafin. Tatapan Kenan yang biasanya tenang kini berubah menjadi sangat tajam dan mengintimidasi.

"Tuan Danuar, saya rasa Nona Alea sedang butuh waktu sendiri," ucap Kenan dengan suara rendah yang mengandung ancaman tersirat.

Dafin berhenti, menatap Kenan dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Minggir, kamu hanya seorang pengawal. Ini urusan calon suami dan calon istrinya. Kamu tidak punya hak di sini."

"Tugas saya adalah memastikan Nona Alea nyaman dan aman. Dan saat ini, keberadaan Anda membuat dia tidak nyaman," balas Kenan tanpa mundur selangkah pun.

Dafin tertawa meremehkan. "Seorang kacung mencoba menasihatiku? Kamu tahu siapa aku?"

"Saya tahu siapa Anda," ucap Kenan tenang. "Anda adalah pria yang baru saja mempermalukan calon istri Anda di meja makan. Dan di mata saya, itu tidak membuat Anda menjadi pria yang patut dihormati."

Rahang Dafin mengeras. Ia melangkah maju, mencoba mengintimidasi Kenan, namun Kenan tetap berdiri kokoh seperti batu karang. Ketegangan di antara kedua pria itu begitu terasa, seolah satu gerakan salah saja akan memicu perkelahian.

"Kenan, sudah," sela Alea, ia memegang lengan Kenan, mencoba meredam suasana. Ia kemudian menatap Dafin. "Apa lagi yang kamu inginkan, Dafin? Bukankah hinaan di dalam tadi sudah cukup?"

Dafin beralih menatap Alea, lalu kembali melirik Kenan dengan tatapan curiga. "Menarik. Ternyata kamu punya pelindung yang sangat setia. Atau mungkin... lebih dari sekadar setia?"

Alea terbelalak. "Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Aku hanya ingin memperingatkanmu satu hal," ucap Dafin, wajahnya kembali dingin. "Aku punya kekasih yang aku cintai. Dan aku tidak akan pernah menyentuhmu atau menganggapmu sebagai istriku. Bagiku, kamu hanya pajangan untuk memuaskan ambisi ayahku. Jadi, jangan pernah berharap lebih. Tetaplah dengan pengawalmu ini jika itu membuatmu merasa lebih baik."

Setelah mengucapkan kalimat pedas itu, Dafin berbalik dan melangkah pergi kembali ke dalam rumah.

"Cihh, siapa juga yang ingin menjadi istrimu. Menatapmu saja aku merasa mual dan jijik" ucap Alea yang mungkin masih bisa di dengar oleh Dafin.

Alea luruh, ia terduduk di kursi taman yang ada di sana. Dunia seolah runtuh. Di jodohkan dengan pria yang sangat membencinya dan sudah memiliki wanita lain di hatinya adalah neraka yang tidak pernah ia bayangkan.

Kenan berlutut di depan Alea, menatapnya dengan penuh simpati. "Nona, apa pun yang dia katakan, jangan biarkan itu masuk ke hati Anda."

"Dia benar, Kenan. Aku hanya pajangan," bisik Alea hampa.

"Bagi dia, mungkin iya. Tapi bagi saya, Anda adalah segalanya yang harus saya jaga," ucap Kenan dengan nada yang sangat tulus, hingga membuat Alea mendongak.

"Apa kamu menyukaiku, kenapa kamu sangat baik padaku"

Kenan tersenyum tipis. " saya hanya melakukan tugas saya nona"

1
Erna Riyanto
gadis SMA yg bunuh diri karena Davin...apakah adik kenan...makin penasaran
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ceritanya gampang di pahami dan alurnya menarik, ayahnya Alea memaksa Alea menikah dengan Dafin apakah Alea dan Dafin bisa saling mencintai
Erna Riyanto
semoga nnti Kenan bersatu sm alea...wlpun dgn jln yg sulit...suka bgt sm karakter Kenan...
Erna Riyanto
waahhh tambah lagi karya on going mu thorrr.....semoga konsisten dgn berbagai cerita yg dibuat...sukses...nungguin lanjutan si tuan Damian loh q
ig: denaa_127: makasihh udah support 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!