Untuk mengungkap penyebab adiknya bunuh diri, Vera menyamar menjadi siswi SMA. Dia mendekati pacar adiknya yang seorang bad boy tapi ternyata ada bad boy lain yang juga mengincar adiknya. Siapakah pelakunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Vera menatap bayangannya di cermin kecil di kamar rumah sakit. Pakaian bersih yang sekarang dia kenakan terasa jauh lebih nyaman dibandingkan baju pasien yang dingin dan kaku.
"Perhatian juga Dwiki sampai belikan aku baju."
Kemudian dia merapikan rambutnya yang masih sedikit kusut. Wajahnya tampak lebih segar meskipun matanya masih sedikit sayu.
Kemudian dia keluar dari kamar mandi dan mendekati Dwiki yang membawa tasnya. "Ayo, gue antar pulang."
Vera hanya menganggukkan kepalanya.
Sebelum berjalan keluar, Dwiki melepas jaketnya dan memakaikannya di punggung Vera. "Di luar mendung."
Vera hanya mengangguk dan berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dasar.
Sampai di lobi, Vera mendekati meja perawat karena dia penasaran dengan biaya rumah sakitnya. “Suster, saya ingin memastikan biaya rumah sakit saya. Bisa dicekkan? Atas nama Vera."
Suster itu tersenyum ramah dan melihat data di layar komputer. “Semua biaya sudah dilunasi.”
“Oleh siapa?”
“Atas nama Sagara.”
"Terima kasih." Vera kenbali berjalan pelan di samping Dwiki. "Saga benar-benar bayar biaya rumah sakit gue," gumam Vera.
"Lo gak perlu sungkan. Seandainya belum dibayar Saga, gue juga pasti akan lakukan hal yang sama," kata Dwiki.
Vera hanya terdiam. Mereka kini keluar dari rumah sakit.
Langkahnya terhenti ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Sagara keluar dari mobil itu, sorot matanya tajam namun tetap membawa ketenangan. Dia berdiri beberapa langkah di depan Vera, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, seolah menegaskan bahwa kehadirannya di sana bukan untuk ditolak.
“Gue antar pulang,” kata Sagara. Tak peduli pada Dwiki.
Vera hanya diam. Matanya menatap pria itu tanpa ekspresi.
Dwiki yang berdiri di sampingnya tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.
“Gue udah pesan mobil. Vera pulang sama gue saja,” kata Dwiki cepat. Sorot matanya menatap tajam ke arah Sagara, seolah ingin menegaskan bahwa dia yang bertanggung jawab atas Vera saat ini.
Sagara tidak langsung bereaksi. Namun, setelah beberapa detik berlalu, dia melangkah lebih dekat dan dengan santai meraih tangan Vera yang satunya.
“Gue udah bilang mau antar Vera," kata Sagara. Dia tidak mau kalah dengan Dwiki. Tangannya mencengkeram lembut, tapi cukup kuat untuk memberi sinyal bahwa dia tidak akan melepaskan begitu saja.
Vera kini terjebak di antara dua genggaman. Dia menelan salivanya tak menyangka dua pria itu akan berebut mengantarnya pulang.
“Lepasin,” kata Vera pada akhirnya.
Dwiki melonggarkan cengkeramannya lebih dulu, meskipun jelas terlihat ada ketidakrelaan di wajahnya.
Namun, Sagara justru semakin mempererat genggamannya. “Gue nggak bisa.”
Vera mendongak dan menatapnya tajam. “Saga, terima kasih lo sudah bayar biaya rumah sakit tapi sekarang gue bisa pulang sendiri."
Belum juga Sagara melepaskan tangannya, satu mobil lagi berhenti di dekat mereka. Kali ini, mobil mewah berwarna putih.
Pintu belakang terbuka, dan seorang wanita turun dari mobil itu.
“Vera,” panggil wanita itu dengan suara lembut. "Aku ingin bicara denganmu sebentar.”
Vera ragu menatap ibunya Novan yang tiba-tiba datang menemuinya. Dia melirik ke arah Dwiki dan Sagara yang sama-sama menunjukkan ekspresi tidak suka.
“Ada yang ingin aku sampaikan,” lanjut Bu Rina. “Masuklah ke mobil, aku akan mengantarmu pulang.”
Dwiki segera melangkah maju, berdiri di antara Vera dan Bu Rina. “Jangan percaya omongannya, Vera. Lo udah tahu gimana keluarganya.”
“Aku hanya ingin bicara pada Novan sebentar dan mengantarnya pulang," kata Bu Rina.
“Kalau memang ingin bicara, bicara saja di sini," kata Sagara. Dia bisa membaca apa yang diinginkan wanita paruh baya itu.
Bu Rina mendekati Vera dan menggenggam tangannya. "Aku sudah menganggap kamu seperti anakku sendiri. Aku mohon, kita bicara berdua saja."
Vera menatap wanita itu dengan keraguan. Hatinya mengatakan bahwa dia tidak boleh percaya, tapi di sisi lain, dia ingin tahu alasan ibunya Novan datang menemuinya secara langsung.
“Vera, jangan,” Dwiki kembali memperingatkan.
“Gue cuma mau dengar apa yang mau dia omongin. Gak papa." Kemudian Vera melangkah mendekati Bu Rina dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, suasana terasa begitu dingin. Vera duduk tegak, menunggu Bu Rina berbicara.
“Kami ingin bicara tentang tuntutanmu pada Novan," kata ayahnya Novan yang sedang mengemudi.
Vera mengepalkan tangannya. "Iya, kenapa?"
“Kami tidak menyangkal bahwa Novan sudah melakukan kesalahan,” lanjut Pak Adrian. “Tapi dia benar-benar menyesal. Dia tidak ingin kehilanganmu.”
Bu Rina mengangguk setuju. “Kami bisa membantumu, Vera. Biaya hidupmu, biaya kuliahmu, apa pun yang kamu butuhkan. Asalkan kamu mencabut tuntutannya. Kalian juga bisa menikah. Kamu akan memiliki semuanya."
Vera merasakan emosinya semakin memuncak. Dia sudah muak dengan keluarga ini. Mereka tidak benar-benar peduli padanya, mereka hanya ingin menyelamatkan Novan. "Apa kalian bisa mengembalikan Rhea? Kalau bisa aku akan bebaskan Novan."
"Vera, mungkin saja adik kamu dulu memang menyukai Novan."
Sudah habis kesabaran Vera. "Berhenti!"
“Vera, dengar dulu—”
“Berhentiin mobilnya!” bentak Vera. Dia bersiap merebut stir dari belakang jika mobil itu tidak berhenti.
Akhirnya Pak Adrian menepikan mobilnya. Begitu mobil berhenti, Vera segera membuka pintu dan melangkah keluar dengan cepat, tidak peduli di mana pun dia berada sekarang.
Sampai kapanpun dia tidak akan mencabut tuntutannya. Dia ingin Novan di hukum seberat-beratnya.
Vera kini berjalan di trotoar, tak peduli dengan gerimis yang mulai turun.
Beberapa saat kemudian, ada mobil yang berhenti di dekatnya. "Vera, hujan. Ayo, gue antar."
Vera mendongak menatap Sagara yang kini memayunginya. "Saga, bantu aku agar Novan mendapat hukuman yang seberat-beratnya!"
"Iya, tentu saja. Papa gue sudah sewa pengacara yang hebat. Novan pasti akan mendapatkan hukumannya."
Vera terus menatap Sagara. "Makasih." Mereka saling bertatapan hingga tanpa sengaja ada yang menyenggol Sagara dari belakang dan membuat tubuh mereka semakin rapat.
Aku tidak boleh terbawa perasaan baik pada Saga maupun Dwiki, karena besok aku akan benar-benar meninggalkan kota ini.
Ayooo semangat Dwiki cari dalangnya😥