Apa jadinya jika seorang gadis remaja berusia 16 tahun, dikenal sebagai anak yang bar-bar dan pemberontak terpaksa di kirim ke pesantren oleh orang tuanya?
Perjalanan gadis itu bukanlah proses yang mudah, tapi apakah pesantren akan mengubahnya selamanya?
Atau, akankah ada banyak hal lain yang ikut mengubahnya? Atau ia tetap memilih kembali ke kehidupan lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6 - Kafilah Cinta
~💠💠💠~
Beberapa minggu kemudian, acara silaturahmi keluarga besar yang biasa di laksanakan setiap sebulan sekali telah tiba.
Abi Rasyid, Umi Farida dan Miska pun tidak pernah bolos menghadiri acara yang di selenggarakan di rumah nenek kakeknya itu. Meski Miska enggan, tapi ia hanya terpaksa mengikuti demi Umi dan Abi nya.
**
Kini, mobil hitam yang ditumpangi Miska, Abi Rasyid, dan Umi Farida akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar dengan halaman yang luas.
Rumah kakek dan nenek dari pihak ayahnya ini terletak di kota sebelah, sekitar dua jam perjalanan dari rumah mereka.
Begitu turun dari mobil, Miska langsung merasakan hawa yang membuatnya enggan.
Silaturahmi keluarga besar seperti ini adalah salah satu acara yang paling malas ia hadiri. Bukan karena tidak menyayangi keluarganya, tapi karena atmosfernya selalu membuatnya merasa seperti alien di antara mereka.
Di depan rumah, beberapa sepupunya sudah berkumpul, semuanya berpakaian rapi dan sopan.
Yang perempuan mengenakan gamis dan jilbab panjang, yang laki-laki bersarung atau mengenakan baju koko.
Sementara Miska, dengan celana jeans dan sweater oversized serta jilbab yang hanya ia lilitkan seadanya, sehingga tampak seperti makhluk dari dunia lain.
Saat ia melangkah masuk ke dalam rumah, suara salam bersahut-sahutan. Orang-orang saling bersalaman dan berpelukan, saling menanyakan kabar dengan penuh kehangatan.
"Miska, assalamualaikum!," sapa seseorang.
Miska pun menoleh dan melihat sepupunya yang bernama Zahra, tersenyum ramah ke arahnya. Zahra adalah tipe anak perempuan yang selalu menjadi contoh keluarga, ia lembut, santun, dan rajin mengaji.
"Waalaikumsalam," jawab Miska seadanya, lalu buru-buru melewati Zahra dan mencari tempat duduk yang agak sepi.
Tapi baru saja ia ingin duduk di pojokan, suara lain menyapanya.
"Miska! Lama nggak ketemu. Kamu sehat?."
Kali ini sepupunya yang lain, bernama Fadhlan, seorang pemuda yang rajin ikut kajian dan terkenal dengan kepintarannya dalam agama.
"Iya, sehat," jawab Miska sambil berusaha tersenyum, tapi ekspresinya jelas menunjukkan ia ingin segera keluar dari situasi ini.
Dari kejauhan, ia melihat Abi Rasyid dan Umi Farida sibuk berbincang dengan para paman dan bibinya.
Sementara anak-anak muda seperti dirinya mulai berkumpul di ruang keluarga. Mereka saling berbagi cerita dan, tentu saja, berbicara soal hal-hal yang berbau religius.
"Eh, Miska. Kamu sekarang sekolah di mana?," tanya seorang sepupunya yang lain, bernama Aisyah.
Miska menyesap teh yang disediakan neneknya dan menjawab pendek, "Masih di sekolah yang sama."
"Oh, belum pindah ke pesantren ya? Kirain," balas Aisyah seraya mengangguk.
Miska pun langsung menoleh dengan tatapan tajam. "Kok kirain?," tanyanya.
"Soalnya, denger-denger dari Umi kamu, rencananya mau masuk pesantren. Jadi, aku pikir kamu sudah mulai adaptasi," jawab Aisyah tersenyum lembut.
"Huh!." Miska mendengus pelan. "Belum. Dan semoga nggak."
Melihat ekspresi Miska, beberapa sepupunya pun saling bertukar pandang, tapi tidak ada yang berkomentar lebih jauh.
Karena mereka tahu, Miska berbeda dari mereka.
Ia tidak pernah ikut kajian keluarga, tidak hafal surat-surat panjang seperti mereka, dan jelas tidak terlalu peduli soal pembahasan agama yang sering mereka bicarakan.
"Miska," tiba-tiba Zahra berbicara lagi, "Aku tahu kamu nggak suka acara kayak gini, tapi… keluarga tetap keluarga, kan? Aku harap kamu nggak merasa terasing di sini."
Namun, Miska hanya diam.
Ia tidak bisa membenci Zahra, karena sepupunya ini selalu bersikap baik padanya, tidak pernah menghakimi atau menggurui seperti beberapa anggota keluarga lainnya.
"Aku nggak terasing," jawabnya walau terdengar setengah hati.
Tiba-tiba, terdengar suara panggilan dari ruang utama. "Ayo, semuanya kumpul! Kakek mau bicara!."
Miska menoleh, lalu menghela napas panjang.
Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Nasihat panjang lebar tentang pentingnya agama, keluarga, dan mungkin sedikit sindiran halus soal dirinya yang masih ‘belum berubah’.
Dan di sinilah ia, terjebak di antara keluarga yang sempurna dalam hal agama, sementara dirinya masih mencari di mana ia sebenarnya berada.
**
Kini, semua anggota keluarga besar berkumpul di ruang utama. Mereka duduk melingkar di atas karpet besar besar yang tergepar.
Kakek, seorang pria tua dengan sorot mata bijak dan suara lembut tapi berwibawa, duduk di kursi kayu di bagian tengah ruangan.
Di sampingnya, nenek tersenyum lembut sambil sesekali mengangguk dan mendukung setiap kata yang akan diucapkan suaminya.
Adapun Miska, ia duduk di bagian paling pinggir dan berusaha membuat dirinya sekecil mungkin. Lantaran ia sudah menduga arah pembicaraan ini.
Setelah berbasa-basi tentang keluarga, kesehatan, dan kebersamaan, akhirnya kakek memulai topik yang lebih serius.
"Kita semua tahu bahwa hidup ini tidak hanya soal dunia, tapi juga akhirat," kata kakek dengan suara yang lembut tapi tegas. "Keluarga besar kita sudah berusaha menjaga nilai-nilai agama. Alhamdulillah, semua anak-anak kita tumbuh dengan baik dalam tuntunan Islam," tutur sang kakek.
Baru sampai di situ, Miska menelan ludahnya dan merasakan hawa panas di tenggorokannya.
"Tapi," lanjut kakek, "di antara kita pasti ada yang masih butuh bimbingan, yang masih mencari jalannya. Kita sebagai keluarga tidak akan pernah menutup pintu bagi mereka, karena tugas kita adalah saling menasihati, bukan menghakimi."
Kini mata Miska mulai memanas, karena kata-kata itu seolah ditujukan padanya.
"Setiap manusia bisa berubah," tambah salah satu pamannya, yang bernama Pak Fadhil, yang dikenal sebagai sosok ustaz di keluarga ini. "Dulu pun kita pernah muda, pernah salah langkah. Tapi ketika Allah memberi hidayah, kita harus meraihnya. Bukan malah menjauh," lanjutnya.
Lalu, beberapa sepupunya melirik ke arah Miska. Tidak dengan tatapan merendahkan, tapi lebih ke ekspresi penuh harapan.
Namun bagi Miska, itu lebih terasa seperti tatapan kasihan.
Ia lalu mengepalkan tangannya di pangkuan dan menundukkan kepalanya seolah pura-pura tidak mendengar.
"Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah dan semakin istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya," tutup kata sang kakek, sebelum acara berlanjut dengan doa bersama.
Namun, Miska tidak ikut mengangkat tangannya. Ia hanya duduk diam sambil menatap lantai, dan merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Setelah doa selesai, acara berlanjut ke sesi berbincang santai. Anak-anak muda berkumpul, orang dewasa bercengkerama, sementara para ibu membantu nenek di dapur.
Tapi Miska?
Ia bangkit pelan-pelan, lalu berjalan keluar dari ruang utama, melewati teras, lalu turun ke halaman belakang rumah yang sepi.
Di sana, ia duduk di atas ayunan kayu sambil terus menghela napas panjang.
Ia tahu, keluarganya tidak benar-benar membencinya. Mereka hanya ingin ia berubah, ingin ia menjadi ‘lebih baik’.
Tapi cara mereka menyampaikannya membuatnya merasa… tidak diterima.
Seakan-akan ia adalah satu-satunya bagian keluarga yang rusak.
Seakan-akan, selama ini mereka hanya bersabar menunggu kapan ia ‘kembali ke jalan yang benar’.
Dan itu menyakitkan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Miska?," panggil Zahra.
Meskipun mendengar, tapi Miska tidak menoleh, ia hanya tetap menatap lurus ke depan seolah tidak peduli.
"Kamu nggak apa-apa?," tanya Zahra sambil duduk di sampingnya.
"Zah, kamu tahu nggak, rasanya gimana jadi aku?," kata Miska dengan suara yang lirih.
Zahra hanya diam dan tidak langsung menjawab, ia hanya membiarkan Miska untuk melanjutkan perkataannya.
"Setiap kali kumpul keluarga, aku selalu merasa seperti orang luar. Seakan aku ini aib yang harus segera diperbaiki," ujar Miska seraya tertawa kecil, tapi tanpa kebahagiaan. "Mereka nggak sadar, cara mereka bicara malah bikin aku semakin menjauh," lanjutnya.
Zahra menatap sepupunya itu dengan empati, lalu berkata pelan, "Aku yakin mereka cuma ingin yang terbaik buat kamu, Miska."
"Tapi aku nggak butuh dikasihani, Zah," balas Miska cepat. "Aku cuma butuh diterima. Aku tahu aku nggak sempurna. Aku nggak seperti kamu, atau Aisyah, atau Fadhlan. Tapi… apa salah kalau aku jadi diriku sendiri?."
"Nggak ada yang salah, Miska. Tapi… kamu juga nggak bisa selamanya menutup diri," balas Zahra.
Miska menghela napas, lalu bangkit dari ayunan sambil berkata, "Aku nggak nutup diri, Zah. Aku cuma muak."
Tanpa menunggu balasan, ia berjalan kembali ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya, lalu kembali ke halaman.
Ia menghabiskan sisa acara dengan duduk sendiri di bangku taman dan tidak peduli pada percakapan keluarga yang terdengar dari dalam rumah.
Baginya, pertemuan ini hanya pengingat… bahwa ia tidak benar-benar punya tempat di antara mereka.
BERSAMBUNG...