Delvia tak pernah menyangka, semua kebaikan Dikta Diwangkara akan menjadi belenggu baginya. Pria yang telah menjadi adik iparnya itu justru menyimpan perasaan terlarang padanya. Delvia mencoba abai, namun Dikta semakin berani menunjukkan rasa cintanya. Suatu hari, Wira Diwangkara yang merupakan suami Delvia mengetahui perasaan adiknya pada sang istri. Perselisihan kakak beradik itupun tak terhindarkan. Namun karena suatu alasan, Dikta berpura-pura telah melupakan Delvia dan membayar seorang wanita untuk menjadi kekasihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astuty Nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEORI BENANG MERAH
Menurut teori benang merah, katanya jika seseorang sudah habis masanya, maka semesta tidak akan mengizinkan orang tersebut untuk saling bertemu meski mereka tinggal di lingkungan yang sama. Namun teori ini tidak berlaku pada kisah Dikta dan Delvia, keduanya masih kerap bertemu meski secara tak sengaja, mereka harus tetap menyapa pada kesempatan yang tidak terduga.
Kali ini, Delvia dan Dikta kembali bertemu, mereka sama-sama mengantar Tofa ke bandara karena Tofa harus pulang ke kampung halamannya setelah memastikan Sari menemukan tempat tinggal dan pekerjaan.
Suasana canggung terlihat jelas di antara mereka, keduanya saling tak menyapa meski diam-diam memperhatikan satu sama lain.
"Titip Sari ya mbak, tolong jaga dia," ucap Tofa meminta bantuan, karena di Ibu Kota ini Sari sama sekali tak memiliki keluarga, hanya Delvia, Dikta dan Bagas yang Sari kenal.
"Tenang saja mas, Sari aman bersamamku," jawab Delvia seraya merangkul Sari.
Tofa lalu beralih pada adik sepupunya, dia merasa berat hati meninggalkan Sari, namun Tofa juga memiliki pekerjaan yang tidak bisa di tinggal lama. "Jangan macem-macem di Jakarta!" pesannya pasa sang adik.
"Iya mas, Sari akan menjaga diri kok. Tolong jaga ibu sama bapak di kampung ya!"
Perpisahan yang sangat mengharukan, untuk kali pertama Sari merantau dan jauh dari keluarganya. Gadis itu menitikkan air mata saat melepas kepulangan Tofa. Beruntung dia memiliki Delvia, teman sekaligus atasan yang akan dia andalkan selama hidup di perantauan.
"Aku harus kembali ke rumah sakit," ucap Dikta canggung.
"Ya mas, hati-hati di jalan. Aku dan Delvia juga harus kembali ke butik!"
Sebelum pergi, Dikta sempat melirik Delvia, namun gadis itu menunduk sehingga Dikta tidak bisa melihat wajah Delvia. Kerinduannya tak sepenuhnya terobati, namun melihat Delvia di tempat yang sama sudah lebih cukup baginya untuk saat ini.
Kisah cintanya memang begitu rumit, namun hidup juga harus tetap berjalan. Rasa sakit menemani kesehariannya, menjadikan Dikta terbiasa. Hanya saja Dikta sedikit berbeda, pria itu lebih banyak diam dan makin tertutup pada siapapun termasuk Bagas. Dikta juga bekerja bak orang gila, hampir semua waktunya dia habiskan di rumah sakit dan sisanya dia gunakan untuk persiapan pembukaan klinik.
Klinik yang di impikan Dikta dan Bagas sebentar lagi menjadi kenyataan. Kedua pria itu menyewa sebuah tempat berlantai dua dan berada di dekat Mayuri Attire, alasannya tentu karena tempat tersebut sangat stategis dan mudah di jangkau.
"Jadi nama apa yang cocok untuk klinik kita?" tanya Bagas seraya menatap klinik impiannya.
"Family Health Care," Dikta memberi jawaban dengan yakin. "Karena kita tidak hanya membantu ibu hamil dan melahirkan saja, di klinik ini kita juga akan membantu siapapun yang mengalami masalah kesehatan!"
"Jadi maksudmu kita juga akan merekrut perawat juga?"
Dikta menoleh, menatap sahabatnya yang tampak terkejut dengan tambahan rencananya. Awalnya mereka hanya akan membuka klinik bersalin, namun tiba-tiba Dikta berubah pikiran dan ingin membuka klinik untuk umum juga. "Ya, kita juga akan merekrut beberapa Dokter Umum."
"Tapi modal kita terbatas?" Bagas tampak ragu, untuk membuka klinik bersalin saja dia sudah menghabiskan seluruh tabungannya selama bekerja sebagai Dokter Anestesi.
"Jangan cemas, aku menemukan investor yang sangat royal!"
"Benarkah? Siapa? Dimana kamu menemukannya?"
"Di rumahku!" singkat Dikta.
"Jangan bilang tuan Diwangkara yang akan menjadi investor kita?" Bagas seperti sedang main tebak-tebakan dengan sahabatnya.
"Siapa lagi kalau bukan dia!"
"Ya Tuhan, kenapa aku lupa kalau daddy mu sangat kaya. Harusnya sejak awal aku mengajukan proposal kepada daddymu!" Bagas menatap sahabatnya dengan tatapan penuh arti. Bagas lupa jika sahabatnya berasal dari keluarga kaya, pemilik perusahaan travel and tour terbesar di kota ini. Berinvestasi di klinik kecil mereka pasti hanyalah uang receh bagi keluarga Diwangkara.
Ry dukung Dikta tunggu jandanya Delvi
Om Ocong Vs Mbak Kunti ngasih iklan
Dikta yg sll ada buat Dy
Om Ocong Vs Mbak Kunti ngasih iklan
Dikta yg sll ada bersamanya bkn suaminya
Lagian suaminya sibuk selingkuh sesama jenis
Om Ocong Vs Mbak Kunti ngasih iklan
Suami mana peduli
Om Ocong Vs Mbak Kunti ngasih iklan
Devi di datangi pelakor yg merebut ayah nya lagi
Om ocong Vs Mbak Kunti ngasih iklan
jangan sampai Dikta terjerat oleh Hera
Om Ocong Vs Mbak Kunti ngasih iklan
Om ocong Vs Mbak Kunti ngasih iklan
Om Ocong Vs Mbak Kunti ngasih iklan