Setelah diperkosa beramai-ramai hingga nyaris meregang nyawa oleh Jeam dan keempat rekannya, Titi justru mendapati jiwanya menempati tubuh wanita bernama Jia. Titi terlempar ke kejadian satu tahun sebelum dirinya diperkosa!
Kejadian tersebut membuat Titi mengetahui sederet fakta mencengangkan. Beberapa di antaranya masih berkaitan dengan kasus Titi. Karena ternyata, Jia merupakan mantan kekasih Jeam, dan kini menjadi saudara tiri. Selain tengah hamil, Jia yang belum menikah juga menjadi budak nafsu orang tua mereka maupun oleh Jeam sendiri.
Awalnya, Titi hanya berniat balas dendam untuk kasusnya. Namun mengenal Jia yang rapuh, membuat Titi bertekad untuk MENGUBAH TAKDIR. Titi akan membuat takdir baru untuk dirinya tanpa membuatnya ‘dirusak’ Jeam apalagi berakhir menjadi gadis ternoda. Namun karena misinya, Titi jadi mengetahui identitas aslinya. Ia bukanlah anak pembantu seperti yang selama ini ia ketahui. Ia anak orang penting dan masih berkaitan dengan Jeam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Patah Hati Paling Menyakitkan
“Biarkan aku masuk!” jengkel Bian.
Di dalam sana, tangis Titi terdengar jelas. Dengan jarak lumayan jauh saja, tangis Titi terdengar jelas. Apalagi jika dari dekat? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Titi sampai menangis meronta-ronta?
“Apa yang terjadi?” batin Bian benar-benar penasaran. Ia nekat memanjat gerbang setinggi hampir tiga meter di hadapannya, tapi satpam di sana dengan segera menodongnya menggunakan pistol.
Bian mendengkus kesal. Ia tak jadi memanjat karena memilih menelepon sang mbah yang memiliki pasukan mafia. Karena sang mbah juga yang menjadi bos Syukur. “Aku butuh bantuan. Kirim beberapa orang untuk mengamankan aku!” ucap Bian yang kemudian terlibat obrolan serius dengan sang mbah terbilang lama.
“Lepas!” teriak Titi sembari mendorong pak Tomy sekuat tenaga.
Berbeda kepada yang lain, pak Tomy langsung tunduk jika itu kepada Titi. Pak Tomy menatap bingung Titi.
“Kamu kenapa? Aku papamu. Aku tidak mungkin melukaimu!” lembut pak Tomy meyakinkan Titi.
Pengakuan Tomy barusan membuat Titi yang masih berlinang air mata bak disambar petir di siang bolong. Sekali lagi, pengakuan itu terputar di ingatan Titi seiring dunianya yang menjadi berputar lebih lambat.
“Dia papaku? Hah? Kok bisa? Bukankah Ibu bilang, ayahku sudah meninggal?” pikir Titi yang kemudian menjadi teringat semua yang ia alami saat menjadi Jia. Khususnya, ketika pak Tomy dengan sangat b*ejad-nya meno*dai Jia.
Kemudian, ingatan Titi juga dihiasi mengenai apa yang ia alami dari Jeam dan kelima rekan Jeam. Merinding, Titi merasakannya. Hatinya layaknya disayat sembilu dan rasanya sangat perih. Titi sampai tak bisa berkata-kata.
“Apakah ini yang namanya karma? Apakah ini yang namanya tabur tuai? Aku harus menuai apa yang papaku tabur. Begitu? Apakah mengubah takdir yang aku jalani juga tak akan menghasilkan apa pun?” pikir Titi bingung bahkan ketakutan sendiri.
Setelah menatap bingung sang ibu maupun pak Tomy silih berganti, Titi memutuskan pergi dari sana. Titi lari, dan terus begitu meski sang ibu maupun pak Tomy berusaha menghentikannya.
Hati Titi hancur lebur. Tak menyangka, papa yang ia ketahui sudah meninggal, justru menjadi satu di antara sosok menji*jikan yang ia tandai dalam hidupnya
“Jadi, ... Jeam itu anak dari panti yang sengaja kamu pungut untuk menjadi penerusmu?” lirih ibu Tuti tak habis pikir sekaligus kecewa.
Di lain sisi, ibu Jihan yang mengenali Titi sebagai korban Jeam, juga sudah lebih dulu tercengang.
“Astaga ... bisa-bisanya jadi begini! Dia memungut anak dari panti, membesarkannya dengan banyak kemewahan, tapi justru menghanc*urkan putri semata wayang yang dibawa minggat istrinya!” batin ibu Jihan yang kemudian tersenyum senang. Sebab ibu Tuti juga memilih pergi dari sana.
Layaknya pak Tomy, ibu Tuti juga menyusul Titi. Titi terus berlari dan kadang terdengar tersedu-sedu.
Di depan gerbang, Bian masih menunggu. Kedatangan Titi membuat Bian langsung gelisah parah. Bian sampai mengguncang gerbang yang masih terkunci rapat.
“Ti!” sergah Bian.
“Buka! Minggir!” isak Titi lagi-lagi teriak.
Satpam yang jaga dan awalnya sempat menodong Bian menggunakan pistol, menatap pak Tomy. Dari tatapan pak Tomy yang tampak sangat putus asa, ia diminta untuk menuruti keinginan Titi. Jadi, ia segera membuka gembok dan menjadi alasan Titi bisa keluar sekaligus pergi dari sana.
Bian yang memboyong Titi pergi. Bian juga sempat menunggu ibu Tuti, tapi wanita itu memilih tetap berdiri di sisi pintu gerbang.
Bingung, jiji*k, sekaligus sulit menerima kenyataan, Titi merasakannya. Sepanjang perjalanan, Titi memang bungkam. Namun, Titi juga gelisah parah. Kedua tangannya sibuk saling rem*as di pangkuan, sementara di ingatannya terus terputar kejadian ketika pak Tomy melakukan perbuatan seno*noh kepada Jia.
“Iih ...,” lirih Titi merasa sangat ngeri. Titi tak hentinya merinding Ia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajah.
Dihadapkan pada Titi yang tak hentinya menangis, Bian benar-benar bingung. Bian memilih menghentikan mobilnya kemudian mengajak Titi ngobrol dari hati-hati.
“Katakan kepadaku apa yang harus aku lakukan? Tadi kamu diapain? Itu papanya Jeam, kan? Itu tadi rumah orang tuanya Jeam dan setahuku, Jia juga tinggal di sana. Kamu sama ibumu ngapain ke sana?!” sergah Bian lirih tapi penuh emosi.
Alih-alih menjawab, apa yang Bian tanyakan malah membuat Titi histeris. Bagi Titi, papa berikut keluarganya, amat sangat menjij*ikan. Titi juga merasa malu jika harus menceritakannya kepada yang lain bahkan itu Bian.
“Sekarang kamu cerita ke aku, apa aku obrak-abrik mereka?!” lanjut Bian lebih serius dari sebelumnya.
Titi tak langsung menjawab. Ia tetap menangis tersedu-sedu. “Rasanya sesakit ini. Rasanya sejij*k ini. Rasanya semalu ini! Andai aku proses, yang ada sama saja mengumbar aib sendiri. Pantaslah aku digilir dan diperlakukan layaknya toilet umum yang bisa dipakai seenaknya. Papaku saja terbiasa asal pakai ...,” batin Titi.
Keadaan Titi benar-benar membuat Bian bingung. Bian berinisiatif memeluk Titi. Awalnya Titi memberontak khas orang ketakutan. Namun Bian meyakinkan bahwa itu dirinya.
“Mungkin ini yang namanya patah hati terdalam. Kelakuan papaku yang menjadi alasannya. Jika keadaannya sudah begini, rasanya lebih baik tidak pernah dilahirkan. Atau setidaknya, rasanya lebih baik aku tidak pernah tahu bahwa dia papaku,” batin Titi.
Terlepas dari semuanya, Titi juga merasa sangat kecewa kepada ibunya. Andai tak ada rahasia di antara mereka, setidaknya Titi pasti tak sampai dinoda*i oleh saudaranya sendiri.
****
Sebuah kamar kos Bian sewa untuk Titi. Tak semata karena Titi menolak pulang termasuk juga sekadar bertemu mamanya. Namun juga karena Titi tidak mau Bian taruh hotel. Padahal, Bian sudah meyakinkan bahwa Bian yang akan membayar.
“Sekarang, aku ingin memulai lembaran baru. Aku ingin melupakan semuanya meski aku yakin, itu tidak mudah. Karena sepertinya aku juga tidak mungkin bisa,” batin Titi. Ia masih duduk di pinggir kasur, sementara di hadapannya, Bian masih memperhatikannya.
“Aku ada di kamar sebelah,” ucap Bian lirih dan membuat Titi berangsur menatapnya.
“Tolong ... aku tidak mau bertemu ibuku. Aku tidak mau bertemu siapa pun. Aku ingin menjalani lembaran baru tanpa siapa pun,” lirihnya yang lagi-lagi berlinang air mata.
Bian yang menatap Titi penuh keteduhan juga berangsur menangis. Lagi-lagi ia memeluk Titi. “Kamu bisa mengandalkan aku!” lirihnya sambil menahan tangis.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Bahkan Titi sampai tidak mau bertemu ibunya. Lagian, punya hubungan apa ibu Tuti dengan orang tua Jeam? Apakah mereka sedang dalam proses perdamaian kasus?” pikir Bian yang berniat untuk menyelidikinya.
“Aku enggak mungkin cerita ke siapa pun. Aku malu. Aku ji*ik!” batin Titi.
Titi yakin, andai pak Tomy orang lain, bukan papanya. Patah hati yang ia rasakan, tak sesakit sekarang.
Terima kasih utk karyanya Kak 🙏🏻💐
Sehat2 slalu & semangat utk karya terbarunya 💪🏼🥰
Good job thor, terus & tetap semangat berkarya..