Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Berkunjung
Di kediaman Gunawan, pagi-pagi sekali sudah terjadi kekacauan. Bukan karena pertengkaran, tapi karena Gunawan tiba-tiba harus pergi ke luar kota secara mendadak.
Ada problem pekerjaan yang mengharuskannya datang secara langsung.
Jika hanya dia sendiri, pasti tidak akan sekacau ini. Tapi masalahnya, dia harus mengikutsertakan kedua anak kembarnya yang masih berusia 5 tahun untuk pergi bersamanya.
Bayangkan, bagaimana banyaknya barang-barang yang harus dia bawa dan siapkan?
"Pa, aku bisa kok jagain mereka berdua. Lagian ada nantinya bibi juga bisa bantuin aku" Keisya sudah menawarkan hal ini sejak awal dia tahu tentang keberangkatan Papanya.
"Kuliah kamu gimana?"
"Gampang lah, nanti aku pikirin. Sisi juga pasti bakal bantuin"
Keisya tetap membujuk sekalipun tangannya tetap bergerak membereskan pakaian kedua adiknya. "Kata Papa di sana ada masalah kan, terus nanti Kai sama Key gimana?"
Kaivan dan Keyla, kedua adiknya itu masih tertidur saat ini. Langit di luar bahkan masih cukup gelap. Beruntung dia yang sudah terbiasa bangun pagi, cepat mengetahui jika Papanya tengah kerepotan.
Gunawan diam. Sejujurnya dia pun sejak tadi sedang memikirkan hal itu. Meskipun belum yakin dengan keputusannya ini, tapi untuk meninggalkan keduanya, dia merasa berat. Dia belum pernah meninggalkan mereka sejauh ini sebelumnya.
"Aku yakin Papa bakal lebih tenang kalau Key sama Kai tinggal di rumah kan?" Kali ini Keisya berhenti mengepak barang. Dia memfokuskan perhatiannya pada Papanya "Jangan khawatir, aku pasti jagain adik-adik aku. Kuliah itu ga lama, aku bisa bagi waktu. Kalau ga memungkinkan aku bisa cuti, lagian Papa juga perginya ga sampai satu minggu kan?"
"Paling lama tiga hari" jawab Gunawan.
Keisya mengangguk semangat. Kalimat itu dia anggap sebagai persetujuan atas tawarannya.
Dan sekitar pukul enam lewat, Gunawan akhirnya bersiap berangkat sendirian menggunakan Taksi. Keisya mengantarnya sampai depan. Sedangkan kedua adiknya masih belum bangun sampai sekarang.
"Hati-hati di rumah yah. Jangan gampang buka gerbang buat orang lain."
"Iya Papa, aku tahu kok. Aku udah dewasa, bentar lagi dua puluh tahun."
Gunawan menepuk gemas kepala putrinya tersebut, "Iya deh, si paling dewasa"
Keisya tergelak. Dia membantu membuka pintu setelah menyerahkan koper kecil pada supir taksi untuk di masukan ke dalam bagasi. "Papa hati-hati. Kalau ada senggang waktu jangan lupa kabarin aku"
"Iya sayang" Gunawan masuk, lalu menurunkan kaca mobil untuk kembali berbicara, "Oh iya, Papa udah minta Om Bastian buat sesekali liatin kalian."
Senyum di bibir Keisya perlahan luntur digantikan oleh kerutan pada pangkal hidungnya, hingga alisnya hampir bertaut, "Kenapa begitu? Kita bakal baik-baik aja kok Pa. Nanti malah ngerepotin Om Bastian" Keisya sebenarnya secara tidak langsung memprotes keputusan Papa-nya yang kembali melibatkan Bastian.
Gara-gara ucapan Sisi, dia jadi tidak nyaman jika mendengar nama Bastian. Padahal belum tentu kebenarannya, tapi dia sudah takut duluan.
Takut jika ucapan Sisi benar.
Dan tentang mobilnya, Papanya sangat berterimakasih pada Bastian. Keisya tidak tahu apa yang terjadi setelah hari itu, namun yang pasti, Bastian tidak menerima uang ganti atas biaya perbaikan mobilnya. Penolakan yang sama saat dia menanykan hal serupa. Katanya dia tidak perlu memikirkan hal itu. Lagipula itu tidak seberapa bagi Bastian.
Mungkin dari sana juga Papanya berpikir untuk kembali mempercayakan mereka bertiga pada temannya tersebut.
"Om Bastian sama sekali tidak merasa direpotkan. Dia sudah setuju. Katanya nanti setelah pulang kerja langsung datang ke sini"
What?!
\=\=\=\=\=
Setelah menerima panggilan telepon dari Gunawan, Bastian menjadi begitu bersemangat untuk memulai harinya. Dia tidak sabar menunggu sore hari.
Dia keluar kamar, menenteng jasnya dengan sesekali bersiul. Sebuah pemandangan langka bagi penghuni rumah tersebut.
Asisten rumah tangga yang melihatnya tidak tahan untuk tidak bergosip dengan rekan mereka. Saling bisik pun tak terelakan, mempertanyakan apa yang sudah terjadi sampai majikan mereka begitu berubah akhir-akhir ini.
Faktanya keanehan itu bukan hanya menimpa kedua putranya, melainkan semua orang.
Bastian menurun tangga berjalan mendekati ruang makan. Semakin dekat dia mulai mendengar perbincangan kedua anaknya yang sudah lebih dulu berada di sana.
"Masih aja dipake. Jorok banget" itu suara Haikal.
"Biarin" kali ini suara David. "Sayang banget soalnya kalau dibuang"
"Naksir lo sama tuh cewe? Jadi penasaran secantik apa orangnya sampe adik gue jadi gila begini"
Bastian melirik keduanya, terutama David yang sedang melihat panggung tangannya sendiri.
"Bukan naksir, lagian dia lebih dewasa dari gue" David tersenyum saat mengingat tindakan kecil perempuan yang tidak ia ketahui namanya itu, namun sangat membekas padanya. "Kaya, gimana yah ngejelasinnya? Yang jelas gue bukan jatuh cinta"
David sendiri bingung kenapa bisa seperti ini, seolah dia baru saja menemukan sesuatu yang sempat hilang sebelumnya.
Tapi apa?
"Apa yang kalian bicarakan?" suara Bastian menginterupsi keduanya.
Haikal membuka mulutnya, menjawab pertanyaan ayahnya "Oh ini yah,,"
"Bukan apa-apa" namun ucapannya terpotong begitu saja oleh suara David yang tiba-tiba menyela.
Bastian yang sudah duduk menatap selidik pada putra bungsunya. Tingkahnya itu tampak mencurigakan, seolah sedang menutupi sesuatu darinya. Bahkan David langsung menarik tangannya ke bawah meja.
"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Bastian langsung pada intinya.
David menggeleng cepat, "Ga ada, yah"
Bastian semakin menyipitkan matanya. "Kamu membuat masalah lagi?"
"Enggak"
Haikal ikut menatap adiknya. Ekspresinya juga tampak heran dengan perubahan David yang tiba-tiba itu. Namun setelahnya ia mulai mengerti, mungkin ini masih ada kaitannya dengan pertengkaran David di sekolah beberapa hari lalu yang mengharuskan ayahnya turun tangan langsung.
David takut pada Ayahnya.
Bastian enggan memperpanjang. Dia kemudian segera sarapan, diikuti kedua anaknya. Setelahnya tidak ada perbincangan apapun diantara mereka bertiga, hanya ada suara sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring.
"Nanti Ayah tidak pulang" ujar Bastian setelah menyelesaikan sarapannya.
"Ayah lembur lagi?" tanya Haikal tanpa melihat ke arah ayahnya. Dia tengah sibuk dengan ponselnya.
Bastian diam sebentar, sebelum menjawab, "Iya, Ayah lembur"
\=\=\=\=\=
"Papa kapan pulangnya, kakak?" Keyla dengan mulut penuhnya berbicara.
"Kamu sudah tanya itu tadi, Keyla" itu kakaknya, Kaivan yang menjawab.
"Aku tanya kakak Kei, bukan kakak"
"Soalnya kamu berisik"
Keisya tertawa. Selalu gemas dengan tingkah keduanya. "Sudah, makannya habiskan dulu. Nanti kita nonton Tv. Mau?"
"Mau!" mereka menjawab serempak.
Dan disinilah mereka sekarang. Di ruang tengah yang tampak begitu berserakan dengan segala macam mainan dan bantal sofa yang tergeletak di segala penjuru. Sekalipun layar televisi menyala, namun kedua bocah aktif itu tidak benar-benar fokus pada tayangan di depannya. Mereka berlarian, berteriak sambil memutari sofa yang Keisya duduki sekarang.
Namun Keisya tidak berniat menghentikan.. Biarkan saja. Selama tidak menangis, dia akan menganggap semuanya baik-baik saja.
Telinganya hampir tidak bisa mendengar suara apapun selain teriakan dua adiknya. Sampai kedatangan bibi asisten rumah tangga yang memang hari ini akan menginap untuk menemaninya datang, berhasil mengalihkan perhatian Keisya.
"Mbak, itu ada tamu"
"Papa pulang, Bi?" Keyla menyela dengan semangat.
Kaivan menutup mulut adiknya. "Diam Key. Jangan menganggu orang dewasa bicara"
Keisya menggeleng, lalu kembali fokus pada Bibi. "Siapa bi?"
"Teman Bapak, Mbak. Pak Bastian"
Keisya melotot. Dia segera beranjak dari tempat duduknya. Demi apapun, dia melupakan kedatangan pria itu.
Bagaimana sekarang? Apa yang harus dia lakukan?
Mengusirnya?
Hey, itu tidak mungkin.
Atau mempersilahkan masuk? Apa tidak akan terlalu canggung?
Sial, ini gara-gara Sisi.