Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yitno vs Dukun
Sontak Yitno tertegun sembari menelan ludah mendengar penuturan bude Sri. Apa yang ia takuti akhirnya terjadi, Tarman dan istrinya benar-benar meminta bantuan orang pintar untuk mengungkap siapakah yang telah membongkar makam Lastri anak mereka serta menodainya.
"Mbah suro, bude? Kayak pernah denger nama itu aku..dukun mana to, bude?" Tanya Yitno hati-hati
"Halah itu lho Yit, yang rumahnya sendirian di tengah kebon karet, dia yang ngurusin karet punya orang kota itu, seberang kali kampung sebelah." Tutur bude Sri
"Oh iya iya...kecil dulu aku sama iwan pernah di marah marah sama orang itu gara-gara ngambilin biji karet buat mainan."
"Jadi Mbah itu...hmm apa iya sih dukun bisa tau? Tapi dulu pak RT kehilangan motor ya pulang lho motornya pake dukun itu...bahaya ini. Aku harus nyingkirin dukun itu dulu..." Batin Yitno panik
***
Di sebuah rumah yang tampak tenang terlihat Tarman dan istrinya duduk di teras belakang rumah. Mereka berbincang melewati sore.
"Bu, bener gak sih yang kita lakuin ini?" Tanya Tarman ragu seperti orang bingung, ia tampak lesu dengan tangan bersandar di bahu kursi teras. Tangannya tampak lunglai dengan jarinya terselip sebatang rokok yang menyala.
"Maksudnya, pak? Gak ngerti aku..?" Jawab istrinya sembari menyendok teh manis di dalam gelas yang berada di genggaman tangan kirinya
"Kita kok kayak gak ikhlas soal kematian anak kita ya, buk? Pake acara ke dukun segala buat cari tahu siapakah pelakunya? Itukan urusan polisi bukan urusan kita. Ya bukannya bapak gak peduli soal ini atau gak sayang sama anak kita, tapi kok ngeganjel aja di hati. Anak kita udah gak ada, gak ada yang berbeda itu faktanya. Apa yang sebenernya kita perjuangin? Apa yang kita cari?"
"Bapak ini bilang apa lho...!! Ini demi keadilan pak..!! Bapak rela pelaku itu bebas berkeliaran setelah semua yang dia perbuat sama anak kita? Justru aku gak rela kalau dia menghirup udara bebas seenak hatinya." Sahut istrinya
"Bukannya itu urusan yang di atas ya buk? Kan anak kita udah gak ada. Kayak percuma.. ntah bener atau salah pikiran bapak tapi kayaknya kalau kita tahu siapa pelakunya justru kita sedang mencari siapakah yang harus kita benci. Kita gak akan cuma benci sama pelakunya saja, bisa keseluruhan keluarga pelaku. Kita cuma membuat permusuhan yang gak ada gunanya lagi."
"Aku justru bingung sama sampeyan pak! Terus mau bapak gimana? Bapak gak setuju soal kita cari tahu sendiri?"
"Gak gitu buk, bapak ya setuju..cuma takutnya kita malah gak bisa apa itu namanya..emm move on nah itu...kita bakal terus teringat tentang ini."
"Masalah itu udah resiko pak, emang kalau di diemin kita bakal cepet move on, gitu? Belum tentu... Lastri itu anak kita satu-satunya pasti susah buat kita ngelupainnya"
"Emm...syarat Mbah Suro udah ibu siapin belum?"
"Udah pak...Mbah Suro cuma minta daleman, foto, sama tanah kuburannya anak kita. Dia bilang tiga hari lagi suruh ke rumahnya. Gak bisa langsung, katanya sih mau di tirakatin dulu."
"Berarti besok kita ke sana nya ya buk?"
"Iya, malem aja ya pak. Gak enak kalau di liat warga kalau siang-siang."
"Iya, Mbah suro bilang gimana emangnya buk?"
"Ya katanya nanti di bantu, ya kemarin itu dia gak bisa. Mungkin dia cari hari yang pas sesuai neton anak kita, terus minta syarat itu..ya udah ku sanggupin terus pulang."
"Ibu sendiri kesana?"
"Iya pak, aku pengen gak ada yang tau."
"Emm..ya udah besok bapak temenin, kemarin gak bisa nemenin soalnya ada rapat. Besok malem aja biar bapak bisa temenin bareng kesana."
"Iya pak."
_____
Sementara itu di rumah Yitno, terlihat ia sedang sibuk memberi makan ikan nilanya. Sembari menabur pakan itu ia terus berfikir bagaimana cara dia menangani dukun bernama Mbah suro itu.
"Gimana ya caranya? Lawanku dukun, bisa saja aku di santet sama Mbah Suro itu..ini bener-bener bahaya, aku harus cepat bertindak. Malam ini aku harus pake kekuatan kain itu buat nemuin dukun sialan itu!" Batin Yitno
"Yit..!! Yit..!!" Teriak ibunya dari dalam rumah
"Ngapa Mak? Aku di samping lagi ngasih makan ikan"
"Ada tamu, nyariin kamu.."
"Tamu? Siapa? Apa Polisi?" Batin Yitno tak tenang.
Ia segera menaruh ember hitam yang ia pegang sebagai tempat pakan ikan nila dan segera masuk lewat pintu belakang. Ia mengendap-endap berusaha melihat siapakah yang berada di ruang tamu...
"Owalah sampeyan mas..." Sapa Yitno merasa tenang, ternyata yang datang adalah tukang folding gate.
"Iya mas, aku di suruh bos ngukur pintunya mas. Besok udah mau di buat." Ucap pemuda sekitar umur 20 tahunan.
"Iya..iya ayok ke depan, itu warungnya..."