Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Yang Tidak Biasa
## Kelas XI-A
Setelah memastikan kondisi Raya sudah stabil dan Dhea berjanji akan menemaninya menghadap guru untuk urusan administrasi, Vino, Jeka, dan Misca melanjutkan langkah mereka menuju ruang kelas.
Di koridor yang mulai sepi karena bel masuk sudah berbunyi lima menit lalu, Jeka berbisik pelan—tepat di telinga Misca agar tidak terdengar orang lain yang mungkin masih lewat.
"Mis, kamu beneran bikin Bima, si jagoan tawuran itu, merintih di lantai." Nada suara Jeka adalah campuran antara kagum dan sedikit takut. "Kamu akhirnya menunjukkan skillmu. Pelintiran tadi... itu sebenarnya jurus apa? Dari mana kamu belajar?"
"Itu hanya teknik sederhana untuk menenangkan orang yang terlalu emosional agar tidak mencelakai orang lain," jawab Misca dengan nada datar tanpa ekspresi—seperti menjelaskan rumus matematika, bukan teknik yang bisa mematahkan tulang.
"Teknik menenangkan?" Jeka hampir tertawa tidak percaya—suaranya meninggi sedikit sebelum ia menyadari dan menurunkannya lagi. "Kamu tadi hampir saja membuat tangannya patah! Aku lihat sudut pelintirannya—itu satu derajat lagi dan tulangnya pasti retak!"
Vino menepuk bahu Misca dengan kuat—tepukan yang penuh dengan keyakinan baru yang membara seperti api yang baru dinyalakan. "Aku sudah tahu. Aku selalu tahu kamu menyimpan sesuatu yang besar di balik sikap tenangmu itu. Tapi tadi... gila, Mis. Kamu lebih terlatih dari yang kami bayangkan. Gerakanmu terlalu rapi untuk sekadar belajar dari video atau buku."
Misca tidak menjawab—hanya terus berjalan dengan langkah yang sama tenangnya, seperti tidak terjadi apa-apa.
Jeka merapikan kacamatanya yang sudah miring sejak tadi, lalu berkata dengan nada yang lebih serius—nada yang jarang ia gunakan kecuali untuk hal penting. "Dengan kemampuan seperti itu, aku tidak perlu khawatir lagi soal duel bulan depan. Nanda, Tino, Raka... mereka sama sekali tidak akan siap menghadapi ini. Mereka pikir kamu cuma otak tanpa otot. Mereka salah besar."
"Kita lihat saja," jawab Misca singkat—tidak mau memberi harapan berlebihan, karena ia tahu bahwa duel satu lawan satu dengan tiga petarung yang sudah teruji di jalanan tidak akan semudah melumpuhkan Bima yang hanya jagoan sekolah.
Mereka tiba di depan pintu kelas XI-A. Misca membuka pintu dengan tenang dan masuk—langsung menuju bangku paling belakang di sudut, tempat favoritnya karena bisa memantau seluruh ruangan tanpa harus menoleh.
Beberapa siswa yang sudah duduk langsung melirik—ada yang berbisik, ada yang hanya menatap dengan tatapan kagum atau takut. Berita tentang insiden Bima pasti sudah menyebar seperti api di rumput kering.
---
## Bangku Kosong
Murid-murid sudah duduk rapi di tempat masing-masing. Tapi ada satu bangku kosong yang menarik perhatian—bangku yang selalu kosong sejak semester lalu karena tidak ada yang berani duduk di sebelah Misca.
Bangku itu terletak di barisan paling belakang, tepat di sudut ruangan—posisi strategis yang secara tidak sadar selalu dibiarkan kosong oleh murid lain karena aura Misca yang terlalu dingin untuk didekati.
Beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka lagi. Wali kelas mereka, **Bu Ratih**—seorang guru muda dengan wajah ramah yang selalu tersenyum—masuk dengan langkah cepat, diikuti oleh seorang siswi yang berdiri canggung di belakangnya.
Raya.
Bu Ratih tersenyum ramah menyambut kehadiran murid baru ini—tidak tahu drama yang baru saja terjadi di koridor tadi pagi. "Baik, anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru. Raya, tolong perkenalkan diri."
Raya melangkah maju dengan kaki yang sedikit kaku—gerakan orang yang gugup tapi mencoba terlihat percaya diri. Ia berdiri di depan kelas, menatap puluhan pasang mata yang menatapnya dengan berbagai ekspresi: penasaran, acuh, tertarik, atau bahkan sedikit iri.
"Nama saya Raya Adiwangsa." Suaranya cukup jelas—tidak terlalu keras, tidak terlalu pelan, stabil meski ada sedikit gemetar di akhir. "Pindahan dari kota sebelah. Salam kenal."
Singkat. Langsung pada intinya. Lalu dia berdiri diam—tidak tahu harus menambahkan apa lagi.
Beberapa siswa bertepuk tangan tipis—lebih karena kebiasaan daripada antusiasme. Ada juga yang hanya mengangguk sopan.
Bu Ratih tersenyum lebih lebar—mencoba membuat Raya merasa diterima. "Baik, Raya. Selamat datang di kelas XI-A. Semoga kamu betah di sini."
Lalu Bu Ratih melihat sekeliling ruangan, matanya mencari bangku kosong. Tatapannya berhenti di bangku paling belakang—bangku yang kosong di sebelah Misca.
"Oh ya, kamu bisa duduk di bangku paling belakang, yang kosong itu," kata Bu Ratih sambil menunjuk ke sudut ruangan dengan senyum yang tidak tahu apa yang baru saja terjadi pagi ini.
Raya mengikuti arah jari Bu Ratih dengan gerakan kepala yang lambat—seperti orang yang takut melihat sesuatu yang mengerikan.
Bangku itu terletak di barisan paling belakang, tepat di sudut, tempat yang secara strategis terlihat seperti zona isolasi. Dan yang membuatnya semakin canggung—bahkan sedikit panik—adalah bangku itu bersebelahan dengan **Misca**.
Sosok pangeran es yang pagi tadi hampir mematahkan tangan kakak kelas dengan satu gerakan memelintir yang sangat mematikan, kini duduk tenang dengan punggung tegak, fokus membaca buku fisika tebal yang terbuka di mejanya.
Misca bahkan tidak mengangkat wajahnya sedikit pun ketika Raya berjalan mendekat dan menarik kursi di sampingnya dengan bunyi gesekan kayu yang terdengar terlalu keras di kelas yang mulai sunyi ini.
Raya menelan ludah dengan susah payah—tenggorokannya terasa kering. Ia mencoba bergerak sealami mungkin, meletakkan tasnya dengan hati-hati, dan duduk di samping Misca dengan gerakan yang sangat pelan—seperti takut membangunkan harimau yang sedang tidur.
Kehadiran Misca di sampingnya terasa seperti berada di dekat balok es yang sangat tajam—dingin namun berbahaya. Aura yang memancar dari siswa itu bukan aura agresif atau mengancam, tapi aura yang membuat orang secara instingtif tahu: **jangan ganggu**.
---
## Pelajaran Fisika
Pelajaran dimulai—Fisika. Materi hari ini adalah gelombang elektromagnetik, sesuatu yang cukup kompleks untuk siswa yang baru pindah dan belum terbiasa dengan pace mengajar di sekolah baru.
Raya, meskipun tergolong siswi cerdas—skornya di sekolah lama selalu masuk sepuluh besar—merasa sedikit tertinggal karena kurikulum di kota lamanya berbeda dan beberapa materi ini belum pernah ia pelajari.
Ia mencoba mengikuti rumus-rumus kompleks yang ditulis Bu Ratih di papan tulis dengan spidol biru dan merah, tapi otaknya terasa buntu—seperti ada dinding yang menghalangi pemahamannya.
Raya menggaruk kepalanya—gerakan frustrasi yang tidak disadari—pensilnya terhenti lama di tengah buku catatan yang masih kosong. Ia menatap papan tulis dengan alis berkerut, mencoba memahami persamaan gerak melingkar yang tampak seperti hieroglif alien baginya.
Tanpa sadar, ia menghela napas frustrasi yang cukup keras—terlalu keras untuk ruangan yang tenang ini.
Tiba-tiba, sebuah pulpen hitam diketuk pelan di atas permukaan buku catatan—**tok tok tok**—bunyi kecil tapi cukup untuk menarik perhatian.
Raya menoleh dengan terkejut—tubuhnya sedikit tersentak seperti orang yang baru saja dibangunkan dari lamunan.
Itu adalah Misca.
Tatapan Misca masih tertuju pada bukunya sendiri—tidak menatap Raya, tidak ada kontak mata—tapi ujung pulpennya menunjuk ke sebuah baris kalimat di buku catatan miliknya yang sangat rapi, dengan tulisan tangan yang sangat terstruktur dan mudah dibaca.
"Pelajari Momentum Angular," bisik Misca—suaranya pelan dan rendah, hampir tidak terdengar, tapi di keheningan kelas yang hanya dipenuhi suara spidol Bu Ratih di papan tulis, suara itu terdengar jelas di telinga Raya.
Raya tersentak lagi—tidak percaya. **Bagaimana Misca bisa tahu dia sedang kesulitan?**
"Fokus pada hubungan antara Jari-jari dan Kecepatan Sudut. Itu kuncinya," lanjut Misca tanpa mengangkat kepala, pulpennya bergerak menunjuk rumus yang ia tulis dengan sangat rapi: **L \= Iω \= mr²ω**
Raya terdiam sejenak, menatap buku catatan Misca yang sangat rapi—setiap huruf dan angka ditulis dengan sangat teratur, seolah dicetak oleh mesin, bukan ditulis tangan. Garis-garis bantu ditarik lurus tanpa cela, sementara diagram-diagramnya digambar dengan akurasi yang tajam.
Misca tidak memberinya jawaban langsung—tidak memberikan contekan yang bisa langsung disalin—tapi Misca memberikan **panduan**. Cara berpikir. Jalan pintas logis untuk memecahkan kerumitan.
Dan bagi Raya, itu jauh lebih berharga daripada sekadar jawaban mentah.
Raya berbisik sangat pelan—hampir tidak bersuara, lebih seperti gerakan bibir—"Terima kasih."
Misca tidak menoleh. Tidak menjawab. Pulpennya hanya kembali bergerak melanjutkan catatan rumusnya sendiri dengan gerakan yang teratur dan mekanis—seperti mesin yang tidak pernah berhenti bekerja.
Tapi Raya melihat—sangat samar, hampir tidak terlihat—sudut bibir Misca terangkat sedikit. Bukan senyum penuh, bahkan bukan senyum setengah, hanya **perubahan kecil** yang hanya bisa ditangkap oleh orang yang memperhatikan dengan sangat seksama.
Raya, dengan panduan singkat itu, kembali fokus ke catatannya. Ia mengikuti saran Misca, dan seketika benang kusut di otaknya terurai—seperti puzzle yang tiba-tiba menemukan potongan yang hilang.
Persamaan gerak melingkar itu mendadak menjadi sangat masuk akal. Ia mulai bisa mengikuti penjelasan Bu Ratih dengan lebih baik, bahkan mulai bisa menjawab beberapa pertanyaan di buku latihan dengan percaya diri.
Ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa hangat: Misca bukan hanya seorang petarung yang menakutkan dengan kemampuan melumpuhkan orang dalam hitungan detik.
Di dalam kelas, Misca adalah seorang jenius yang pendiam dan sangat kompeten—yang sanggup melihat masalah orang lain dan memberikan solusi paling tepat bahkan tanpa diminta, tanpa mengharapkan imbalan, bahkan tanpa kontak mata.
Kontras ini membuat sosok Misca semakin misterius dan dalam di mata Raya—seperti kotak teka-teki yang setiap kali dibuka, menampilkan layer baru yang lebih rumit dari sebelumnya.
---
## Bel Istirahat
Bel istirahat berbunyi nyaring—bunyi yang memecah konsentrasi dan membuat seluruh kelas langsung berubah ramai dalam sekejap.
Siswa-siswa mulai bangkit dari kursi mereka, ada yang langsung menuju kantin, ada yang berkumpul di lorong untuk ngobrol, ada yang masih duduk menyelesaikan PR yang terlupakan.
Misca menutup buku fisikanya dengan gerakan yang sangat tenang—tidak terburu-buru, tidak lambat—lalu memasukkannya ke dalam tas dengan rapi. Ia bersiap berdiri untuk pergi ke kantin seperti biasa.
Tapi sebelum ia sempat berdiri sepenuhnya, Dhea—pacar Vino yang ceria—tiba-tiba muncul di depan meja mereka dengan senyum lebar yang terlihat sedikit jahil.
"Raya! Gimana hari pertamamu? Aman?" tanya Dhea dengan nada riang, melirik sekilas ke arah Misca yang sudah bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas, diikuti oleh Vino dan Jeka yang sudah menunggu di pintu dengan postur santai tapi waspada seperti biasa.
"Lumayan," jawab Raya sambil membereskan bukunya dengan gerakan yang masih sedikit canggung—gerakan orang yang belum terbiasa dengan rutinitas baru. "Sampai ada insiden menegangkan tadi pagi. Tapi untungnya ada kamu, dan... dia."
Kata "dia" itu keluar dengan nada yang sulit dijelaskan—campuran antara takut, kagum, dan rasa penasaran yang membara.
Dhea tersenyum mengerti—senyum orang yang sudah tahu kemana arah pembicaraan ini akan berjalan. "Ayo, kita ke kantin. Aku traktir minum. Kamu pasti butuh sesuatu yang manis setelah pagi yang 'dramatis' itu."
Mereka berdua berjalan keluar kelas, melewati koridor yang sudah mulai ramai dengan murid-murid yang bergegas ke kantin atau ke toilet. Setelah menemukan tempat duduk di sudut kantin yang agak sepi—jauh dari keramaian tapi masih bisa melihat seluruh area—mereka duduk berhadapan dengan dua gelas teh manis dan sepiring gorengan yang masih hangat.
Raya langsung melontarkan pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya sejak pagi tadi—pertanyaan yang tidak bisa ia abaikan lagi.
"Dhea, aku mau tanya soal Misca," ucap Raya, suaranya direndahkan agar tidak terdengar murid lain yang mungkin lewat atau duduk di meja sekitar. "Dia itu sebenarnya siapa? Tadi pagi dia bertindak seperti... entahlah, seperti tentara terlatih atau agen rahasia di film-film. Dan di kelas, dia membantuku mengerjakan Fisika tanpa aku minta, tanpa menatapku sama sekali, seperti dia punya radar untuk tahu aku lagi bingung."
Dhea tersenyum kecil—senyum yang mengandung banyak cerita yang tidak bisa disampaikan dalam satu percakapan—memandangi Misca dan Vino yang duduk di meja ujung kantin, jauh dari keramaian.
Misca sedang minum air mineral dengan tenang, sementara Vino sibuk melahap makanannya dengan lahap sambil sesekali bicara dengan Jeka yang duduk di sampingnya dengan laptop terbuka—seperti biasa, Jeka tidak pernah bisa lepas dari data dan analisis.
"Misca itu... sangat rumit, Ray," jelas Dhea dengan nada yang lebih serius dari biasanya—nada yang jarang ia gunakan kecuali untuk hal penting. "Dia bukan seperti pemimpin geng yang mungkin kamu bayangkan di film-film. Dia nggak pernah terlihat sengaja mencari masalah. Justru **masalah yang selalu datang mencari dia**. Dan saat masalah itu datang, dia akan menyelesaikannya dengan cara yang paling praktis—tanpa drama, tanpa emosi berlebihan."
"Aku lihat tadi pagi, dia sangat tenang saat melukai Kakak Kelas itu," potong Raya cepat—suaranya sedikit gemetar karena mengingat kembali adegan itu. "Dia tidak marah, tidak emosional, bahkan tidak terlihat **peduli**. Itulah yang sebenarnya membuatku takut. Bukan karena dia brutal—tapi karena dia melakukannya dengan ketenangan yang... tidak wajar."
"Itulah Misca." Dhea mengangguk—seperti guru yang menjelaskan materi penting. "Ketenangan adalah senjata utamanya. Vino pernah bilang, kalau Misca sudah bergerak, itu berarti dia sudah menghitung semua kemungkinan—dari cara termudah sampai cara paling ekstrem. Dia nggak akan buang-buang energi untuk hal yang sia-sia. Kalau dia memelintir tangan, berarti itu cara paling praktis untuk menyudahi konfrontasi tanpa perlu perkelahian panjang yang melelahkan dan menarik perhatian lebih banyak orang."
Dhea mengambil napas—seperti bersiap menjelaskan sesuatu yang lebih dalam. "Dia adalah seorang **mastermind** yang terpaksa menjadi pemimpin. Dia sebenarnya orang yang paling tidak cocok menjadi ketua geng karena sifatnya yang introvert dan tidak suka keramaian—tapi dialah yang paling dibutuhkan oleh Vino dan Jeka. Karena hanya dia yang bisa membuat orang-orang lain diam tanpa perlu berteriak atau mengancam."
Raya mengangguk-angguk—mencoba mencerna informasi yang berat ini seperti spons yang menyerap air. Ia lalu bertanya lagi dengan nada yang lebih penasaran, lebih dalam. "Terus... kenapa dia mau mengambil peran itu? Kenapa nggak jadi siswa biasa saja dan fokus ke sekolah? Dia kelihatan sangat pintar—bahkan jenius. Dia bisa masuk universitas mana pun yang dia mau dengan nilai seperti itu."
"Itu pertanyaan yang kami semua tanyakan," balas Dhea, pandangannya beralih ke Vino yang kini tertawa keras—sepertinya Jeka baru saja mengatakan sesuatu yang lucu. "Jeka dan Vino sangat menghormatinya. Mereka bilang, Misca melakukan ini karena dia muak melihat kekacauan di jalanan—kekerasan yang tidak terkontrol, orang-orang lemah yang diinjak-injak, aturan yang tidak ada. Wilayah Utara butuh ketertiban, dan dia memilih mengorbankan ketenangan hidup pribadinya demi ketenangan wilayah."
Dhea berhenti sejenak, menatap Raya dengan tatapan serius. "Tapi aku rasa... ada alasan lain yang lebih personal. Sesuatu dari masa lalunya. Tapi Misca nggak pernah cerita tentang itu—bahkan ke Vino dan Jeka."
Raya kembali memandang Misca dari kejauhan—di tengah hiruk pikuk kantin, Misca tampak seperti patung yang elegan namun menyendiri, seperti pulau di tengah lautan yang ramai.
Raya menyadari—di balik ketenangan luar biasa itu, ada beban tanggung jawab yang sangat berat dipikul oleh bahu seorang anak SMA. Seorang remaja yang seharusnya memikirkan ujian dan masa depan kuliah, kini harus memikirkan bagaimana menjaga wilayah tetap aman dari kekerasan dan kekacauan.
Rasa takut Raya perlahan berganti menjadi **rasa simpati** dan **penasaran** yang semakin dalam—seperti moth yang tertarik pada api, meski tahu api itu berbahaya.
---