Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malas Kuliah
Erica duduk menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menikmati musik yang mengalun merdu yang diputar dari ponselnya. Sesekali ia menoleh ke arah Adam yang duduk di bangku kemudi dengan senyum yang kian merekah.
"Kenapa, Ri?" tanya Adam.
"Apanya?"
"Dari tadi noleh ke arah Mas terus, kenapa?"
"Nggak apa-apa. Memangnya nggak boleh?"
"Boleh, tapi nanti leher kamu sakit. Kalau mau lihat Mas terus, duduknya menyamping aja menghadap ke arah Mas biar lehernya nggak sakit."
"Ih siapa juga yang mau lihat Mas terus."
"Tahu lah Mas, kamu lagi bucin kan?"
"Dih, bucin sama siapa?"
"Sama Mas lah, masa sama Syafiq."
"Perasaan Mas aja kali." Erica menyangkal, meski sebenarnya ada benarnya juga apa yang Adam katakan. Kalau bukan bucin apa namanya, habis di bentak kok langsung mau datang menemui? **** kah?
"Yah, sayang sekali. Padahal Mas lagi bucin nih sama kamu."
Ucapan Adam berhasil membuat Erica membulatkan mata dengan rona merah yang menghiasi wajahnya. Terkejut, tapi mampu melambungkan hatinya tinggi-tinggi.
"Memangnya Mas bisa bucin juga?" tanya Erica, mencoba mencairkan suasana yang mulai meletup-letup dan membara. Suasana hati maksudnya.
"Wah mengejek nih."
Erica tertawa kecil mendengar ucapan Adam. Tawa yang berbeda, lebih terkesan seperti senang.
"Kamu ada kelas lagi?" tanya Adam, mengalihkan pembicaraan.
Erica membenahi posisi duduknya, mencari posisi yang nyaman. Ia kehilangan posisi nyamannya karena Adam mengalihkan topik pembicaraan dari topik yang amat disukainya; Topik percintaan.
"Harusnya ada, tapi sudah telat lima belas menit."
"Kenapa nggak bilang dari tadi, biar cepat-cepat Mas antarkan ke kampus?"
Erica menghela napas panjang, ia melempar pandangannya ke sembarang arah untuk menghindari tatapan Adam.
"Ada apa, Ri?" tanya Adam, menyadari ada sesuatu yang sedang tidak beres dengan istrinya itu.
Dengan ragu-ragu, Erica menatap wajah Adam dari samping. "Mas, kalau aku berhenti kuliah saja bagaimana? Biar aku di rumah saja, ngurus rumah, ngurus Mas, ngurus Zhafran juga."
Kini giliran Adam yang menghela napas panjang, kesal mendengar jawaban Erica. Lalu dengan cepat, ia menjawab.
"Mas tidak setuju."
Alis Erica bertautan mendengar Adam yang langsung menolak permintaannya mentah-mentah. "Kenapa?"
"Harusnya Mas yang bertanya 'kenapa?'"
"Aku ingin jadi ibu rumah tangga saja, Mas."
Adam menggeleng cepat. "Sekarang pun kamu sudah jadi ibu rumah tangga, Ri."
"Tapi aku ingin menjadi ibu rumah tangga seutuhnya."
"Memangnya sekarang ini kamu hanya separuh? Bukannya Mas sudah menuruti keinginanmu untuk tidak menyewa jasa asisten rumah tangga agar kamu bisa belajar jadi ibu rumah tangga?"
"Tapi aku ingin menjadi ibu, Mas. Mengurus Zhafran seutuhnya, tanpa bantuan Bibi." Suara Erica sedikit meninggi, ingin didengarkan oleh suaminya. Tapi justru hal itu membuat Adam berdecak jengkel.
"Zhafran, Zhafran, dan Zhafran. Selalu saja dia yang kamu pikirkan. Apa kamu tidak memikirkan masa depanmu?"
Erica terdiam sesaat, bola matanya yang begitu percaya diri dan penuh semangat menatap lekat Adam yang terlihat begitu tidak suka. Lalu, ia berkata lirih, "Kamu dan Zhafran adalah masa depanku, Mas. Masa depanku berasa di tangan kalian."
Adam tertawa nanar mendengar jawaban istrinya itu. Beberapa kali ia menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan pola pikir Erica.
"Jangan terlalu mendedikasikan hidupmu untuk orang lain dan jangan menggantungkan masa depan mu di tangan orang lain, Ri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bagaimana jika suatu saat Mas meninggal dunia, atau Zhafran di ambil oleh ibunya? Kamu mau apa? Sedangkan kuliahmu saja tidak tamat."
Hening. Alunan musik pun ikut berhenti, tersendat oleh koneksi internet yang seolah memberi ruang bagi Adam untuk berbicara lebih banyak lagi. Membuat suasana di dalam mobil begitu senyap dan benar-benar mendukung untuk berdebat.
"Mas kenapa selalu mempermasalahkan Zhafran?" Suara Erica terdengar parau.
"Mas tidak mempermasalahkan dia, Ri. Mas hanya tidak ingin kamu bertindak gegabah, tanpa berpikir matang-matang. Coba pikirkan jauh ke depan, Ri. Jangan sampai kamu menyesal dengan tindakan yang telah kamu ambil hari ini," ucap Adam, lirih. Berusaha berbicara setenang dan semudah mungkin agar dapat dipahami Erica. Ia tidak mau terpancing emosi lalu menimbulkan perselisihan lagi seperti tempo hari.
"Aku tidak akan menyesal, Mas."
"Sudahlah, Ri. Mas akan mengantarmu ke kampus."
Adam memutar balik mobilnya, membawa Erica menuju kampus.
Sesampainya di kampus, Erica nampak cemberut. Bibirnya mengerucut sempurna ketika Adam menurunkannya di parkiran. Alih-alih menghibur Erica, Adam justru membuat istrinya itu semakin kesal dengan celetukan-celetukan yang jauh dari kata menyemangati.
"Kamu nggak ada lucu-lucunya kalau manyun begitu."
Seketika Erica memberengut mendengar ucapan suaminya itu.
"Jangan harap Mas takut ya lihat kamu berengut begitu!" imbuh Adam, membuat membulatkan matanya.
Apa maksudnya ini?
"Udah ah, aku nggak mau masuk kelas!" ucap Erica seraya kembali masuk ke dalam mobil, padahal ia sudah tinggal melangkah pergi ke menuju kelas.
"Eh eh apa-apaan ini?" tanya Adam sewot ketika Erica kembali memasang safety belt-nya.
"Sudah hampir telat setengah jam, Mas. Aku malu," sahut Erica dengan wajah yang ditekuk.
Adam menoleh ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Benar apa yang Erica bilang, sudah lebih dari setengah jam Erica telat masuk ke kelas. Percuma juga masuk kelas, ia tidak akan dapat toleransi.
Tak ingin membiarkan Erica kembali mengulangi kesalahannya, Adam terdiam sejenak lalu memicingkan matanya ke arah Erica. Membuat Erica mengerjap beberapa kali.
"Kenapa, Mas?"
"Nakal!" ucap Adam seraya mencubit hidung Erica. "Mas akan beri kamu hukuman kalau sampai IPK mu turun."
Seolah tidak takut dengan gertakan Adam, Erica malah menipiskan bibirnya. Mengejek.
"Jadi ibu rumah tangga tidak perlu IPK tinggi-tinggi."
"Khusus istri Mas harus punya IPK tinggi dengan soft skill yang mumpuni."
"Pekerjaan rumah tangga tidak perlu rumus seperti mengolah data, Mas."
"Tapi dalam mengelola rumah tangga memerlukan skill, Erica sayang."
Lagi-lagi Erica menipiskan bibirnya, meledek ke arah Adam yang tengah menatapnya serius.
"Mas serius, Ri."
Erica terdiam mengamati ekspresi Adam yang semakin tegas. Lihat saja matanya, tatapannya tajam. Tidak ada lagi sudut bibir yang terangkat, menandakan Adam sedang serius dalam ucapannya.
"Iya, Mas."
"Tanggung jawab Mas terhadap orangtuamu besar, Ri. Tolong jangan membuat orangtuamu menyesal telah melepas putri kecilnya ke tangan Mas." Adam menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Matanya menatap letih kaca mobil di depannya.
Lalu, ia menoleh ke arah Erica yang tergugu di sampingnya. Adam tersenyum bersamaan dengan tangannya terulur untuk mengelus wajah Erica.
"Kamu kesayangan Mas, dan Mas nggak mau kehilangan mu."
Erica mengangguk pelan lalu terdiam, membiarkan Adam mencurahkan apa yang ada di kelapa dan benaknya.
"Jangan sampai kuliahmu terhambat, apalagi sampai terputus. Atau ibumu akan mengambil kamu dari pelukan Mas. Kamu mau itu terjadi?"
Erica menggeleng cepat.
"Kalau begitu, bantu Mas untuk mempertahankanmu dengan cara meraih apa yang seharusnya kamu raih. Jangan meraih yang tidak semestinya atau belum semestinya kamu raih."
Erica kembali menunduk. Pandangannya jatuh pada tiga lensa handphone yang seolah tengah menertawakan melihat Erica di ceramahi oleh Adam.
"Paham?" tanya Adam, membuat Erica mengangkat kepalanya lalu menoleh ke sumber suara.
"Iya, Mas."
"Bagus!" gumam Adam, puas dengan jawaban istrinya.
"Sini cium dulu," ucap Adam sembari mengarahkan pipinya ke arah Erica, minta diberi jejak.
Erica sedikit menggeser tubuhnya ke arah Adam, lalu mendaratkan bibirnya di pipi kiri Adam.
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂