Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang 'Jubir' Warga Kembali
Keesokan harinya..
Suasana di kediaman Kiai Hasan Al-Hadid tampak berbeda. Kabar kepulangan Zahwa telah menyebar ke telinga para pemuda Karang Taruna. Belum juga Zahwa sempat membereskan seluruh isi koper ke dalam lemari, sekelompok pemuda desa yang dipimpin oleh Diman, ketua Karang Taruna sudah berkumpul di serambi depan.
"Neng Zahwa, kami benar-benar butuh bantuan Neng sebagai juru bicara," ujar Dimas dengan nada cemas.
"Jembatan di Dusun Tiga sudah rubuh total tiga bulan ini. Anak-anak sekolah harus memutar jauh lewat jalan setapak yang licin. Belum lagi irigasi di hulu yang mandek, sawah warga mulai kering."
Zahwa yang saat itu mengenakan gamis rumahan yang sederhana namun rapi, mendengarkan dengan saksama. Ia mencatat poin-poin tersebut di kepalanya.
"Kenapa tidak langsung lapor ke kades yang baru? Saya dengar dia sudah mulai audit lapangan."
"Nah, itu dia masalahnya, Neng," sahut pemuda lainnya.
"Pak Kades yang baru ini... gimana ya, auranya dingin sekali. Kami mau bicara saja sudah ciut duluan. Orangnya kaku, bicaranya irit. Kami takut aspirasi kami malah dianggap angin lalu."
Zahwa menghela napas panjang. Bayangan pria sombong di warung Bu Sari kembali melintas di pikirannya. Pria yang menutup bukunya dengan kasar hanya karena ia bertanya.
"Baiklah," ucap Zahwa akhirnya. "Beri saya waktu satu jam. Saya akan ke Balai Desa. Tapi ingat, kita akan bicara baik-baik. Saya tidak ingin kita datang dengan emosi."
Zahwa memilih pakaian yang paling sopan namun tetap menunjukkan identitasnya sebagai mahasiswi yang terpelajar. Meskipun wataknya frontal dan vokal saat berdebat di podium kampus, Zahwa tidak pernah melupakan jati dirinya sebagai putri seorang Kiai.
Abah dan Umminya selalu berpesan, "Kebenaran harus disampaikan, tapi adab tetap di atas segalanya. Apalagi yang kau hadapi adalah pemimpinmu."
Sambil berjalan menuju Balai Desa, Zahwa terus memantapkan hatinya.
Jangan terpancing emosi, Zahwa. Jangan tunjukkan kalau kamu kesal soal kejadian di warung kemarin. Fokus pada jembatan dan irigasi, batinnya bergumam.
Tepat pukul sepuluh pagi, Zahwa menginjakkan kaki di kantor desa. Suasana di sana kini jauh lebih rapi dibanding terakhir kali ia melihatnya. Tidak ada lagi staf yang merokok di dalam ruangan atau bermain catur di jam kerja. Semuanya tampak sibuk di depan komputer masing-masing.
"Permisi, Pak Sugeng, apakah saya bisa bertemu dengan Ak Kades?" tanya Zahwa dengan suara lembut namun tegas kepada Pak Sugeng, sang sekretaris desa.
Pak Sugeng mendongak, matanya membelalak kaget.
"Lho, Neng Zahwa? Baru pulang, Neng? Aduh, kalau mau ketemu Pak Kades harus ada janji dulu, beliau sedang memeriksa laporan anggaran."
"Tolong sampaikan, Pak Sugeng. Saya membawa pesan dari warga Dusun Tiga dan Karang Taruna. Ini soal jembatan yang rubuh."
Tak lama kemudian, Pak Sugeng mempersilakan Zahwa masuk. Pak Sugeng memang sudah hafal siapa Zahwa, saat kepemimpinan sebelumnya, Zahwa lah yang selalu berkoar-koar menyampaikan pesan warga.
Zahwa berjalan menuju ruangan Arka, ia sempat berdiri sejenak saat membaca nama pada papan kayu di sebelah pintu ruangan Arka.
"Arka Baskara, M.Ip - Pj. Kepala Desa"
Perlahan Zahwa mengetuk pintu ruangan Arka.
Tok.. Tok..Tok..
Tidak lama terdengar suara bariton dari dalam ruangan.
"Masuk, Pak Sugeng.. " Arka mengira yang akan masuk ke ruangannya adalah Pak Sugeng, karena yang biasa mondar-mandir ke ruangan Arka adalah Pak Sugeng.
Begitu pintu terbuka, aroma pengharum ruangan yang segar menyambutnya. Di balik meja kayu jati yang besar, Arka duduk dengan stelan kemeja kerja berwarna khaki, yang sangat pas di tubuh tegapnya. Membuat matanya yang tajam terlihat lebih jelas.
Arka mendongak. Ia sempat tertegun sesaat mengenali wajah gadis itu. Namun, ekspresinya segera kembali datar dan profesional. Ia tidak tahu bahwa gadis di depannya ini adalah putri dari tokoh paling berpengaruh di desa itu.
"Loh.. Saya pikir Pak Sugeng".
Assalamu'alaikum Pak Kades"
"Wa'alaikumusalam.. Silakan duduk, Mbak...?" Arka menggantung kalimatnya, seolah meminta nama.
"Zahwa Qonita, Pak," jawab Zahwa seraya duduk dengan punggung tegak namun tetap menundukkan pandangan sedikit sebagai bentuk hormat.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu."
Arka meletakkan pulpennya.
"Mbak Zahwa ya.. Saya ingat Anda dari warung kemarin. Jadi, ada kepentingan mendesak apa sampai Anda datang sebagai perwakilan warga?"
Zahwa menarik napas dalam.
"Begini, Pak Kades. Saya datang untuk menyampaikan amanah warga mengenai jembatan di Dusun Tiga yang sudah rubuh selama tiga bulan. Itu adalah akses vital bagi pendidikan dan ekonomi desa. Selain itu, masalah irigasi yang mandek di hulu juga sudah mulai mengancam hasil panen."
Zahwa berbicara dengan sangat terstruktur. Ia tidak meledak-ledak. Ia menggunakan data dan argumen yang masuk akal, persis seperti yang ia pelajari di kampusnya.
Arka memperhatikan cara bicara Zahwa. Ia sedikit terkejut. Gadis yang kemarin ia anggap "asal bunyi" itu ternyata mampu menyampaikan aspirasi dengan sangat elegan dan sopan. Tidak ada nada menantang, yang ada hanyalah ketulusan dalam setiap kata.
"Saya sudah meninjau jembatan itu pagi tadi secara pribadi," jawab Arka tenang.
"Saya setuju itu prioritas. Tapi Mbak Zahwa harus tahu, dana desa periode ini sudah dikunci oleh kades sebelumnya untuk proyek yang tidak jelas. Saya sedang berusaha menarik kembali dana itu atau mengajukan bantuan darurat ke kabupaten."
"Kami mengerti prosedur itu butuh waktu, Pak," sela Zahwa halus.
"Namun, rakyat butuh kepastian. Jika birokrasi terlalu lama, setidaknya berikan solusi jangka pendek seperti jembatan darurat yang layak. Warga siap gotong royong, kami hanya butuh arahan dan legalitas dari Bapak" lanjut Zahwa.
Arka terdiam sejenak. Ia menatap Zahwa dengan pandangan yang lebih lembut dari sebelumnya. Ada sesuatu dalam suara gadis ini yang membuatnya merasa bahwa Zahwa bukan hanya sekedar juru bicara di desa ini.
"Kenapa Anda begitu vokal mengurusi hal seperti ini?" tanya Arka tiba-tiba, sedikit melenceng dari topik.
Zahwa tersenyum kecil, sebuah senyum yang membuat jantung Arka berdesir tipis tanpa ia sadari.
"Bagi saya, Pak Kades, ilmu adalah amanah. Dan tanah kelahiran adalah tempat pertama untuk mengamalkannya. Saya tidak bisa tenang melihat anak-anak kecil bertaruh nyawa menyeberangi sungai hanya untuk sekolah."
Arka mengangguk perlahan. "Baiklah. Saya hargai inisiatif dan sopan santun Anda hari ini, Mbak Zahwa. Berbeda sekali dengan pertemuan pertama kita."
Wajah Zahwa sedikit memerah.
"Maafkan saya soal kemarin. Saya kira Bapak adalah... orang asing yang...."
"Saya memang orang asing, Mbak Zahwa. Tapi saya di sini untuk bekerja," pungkas Arka.
"Sampaikan pada warga, lusa saya sendiri yang akan memimpin gotong royong untuk jembatan darurat. Saya akan pastikan logistiknya tersedia."
Zahwa berdiri, merasa lega sekaligus takjub. Ternyata di balik sikap kaku Arka, ada niat tulus yang besar. "Terima kasih, Pak Kades. Warga akan sangat senang mendengarnya."
Saat Zahwa melangkah keluar, Arka memperhatikannya hingga hilang di balik pintu. Zahwa Qonita... gumam Arka. Ia meraih ponselnya, berniat menanyakan pada Pak Sugeng siapa sebenarnya latar belakang gadis itu, namun ia urungkan. Ia ingin mengenalnya lewat kinerjanya di desa, bukan lewat siapa orangtuanya.
...🌻🌻🌻...