“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Seminggu berlalu sejak Yura meninggalkan kediaman Pradipta.
Shasmita diam-diam menunggu, bukan karena rindu, melainkan karena ada kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan. Sejak malam itu, sejak kontrak Arga dan Yura berakhir, semuanya terasa terlalu tenang. Terlalu rapi, seolah badai hanya menunggu waktu untuk menghantam.
Berbeda dengan Shasmita, Sky justru tak pernah benar-benar berhenti mengawasi Yura.
Setiap pagi, mobil hitam itu kerap terparkir tak jauh dari rumah besar bergaya modern yang kini dikenal sebagai kediaman Nona Muda Lartika. Ia tidak pernah turun, tidak pernah mendekat dan hanya mengamati dari jauh.
Sampai suatu hari, Mario menyadarinya. Pria itu berdiri di balik tirai kaca rumah Yura, menatap keluar dengan sorot mata tajam. Mario tahu itu mobil Sky, pria yang membantunya beberapa hari mengurus perpindahan ayah Yura.
“Dia belum menyerah,” gumam Mario pelan.
Yura, yang sedang menyesap teh paginya dengan tenang, bahkan tidak melirik ke arah jendela.
“Biarkan,” jawabnya datar. “Selama dia hanya menonton.”
Baginya, perhatian Sky bukan ancaman.
Pagi itu, di sebuah restoran eksklusif di pusat kota, Shasmita duduk berhadapan dengan Hans Elvano Wijaya.
Restoran itu sunyi, dipenuhi aroma kopi mahal dan percakapan rendah para pebisnis kelas atas. Namun, udara di meja mereka terasa berat.
Hans menatap Shasmita dengan wajah serius dan bahkan terlalu serius untuk sekadar pertemuan biasa.
Perlahan, Shasmita mengeluarkan sebuah plastik kecil dari dalam tasnya. Di dalamnya, terlihat beberapa helai rambut berwarna hitam kecokelatan.
“Sampel rambut Yura,” ucap Shasmita tenang. “Aku mengambilnya di villa Pradipta.”
Hans tidak terkejut. Justru sorot matanya mengeras, seolah potongan kecil itu adalah kunci dari semua kegelisahan yang selama ini menghantuinya.
“Apa yang membuatmu begitu yakin,” tanya Shasmita akhirnya, suaranya rendah namun tajam,
“bahwa Yura adalah adikmu, Putri Wijaya yang hilang saat masih kecil?”
Hans menghela napas pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menatap keluar jendela sesaat, seolah sedang mengulang kembali sebuah potongan ingatan yang menolak pergi.
“Malam pesta ulang tahun itu,” katanya akhirnya.
“Malam ketika semuanya kacau.”
Shasmita menyimak.
“Aku melihat punggung Yura,” lanjut Hans. “Tidak sengaja, saat Arga menggendongnya keluar dari ruangan.”
Nada suara Hans menurun, nyaris bergetar.
“Di sana ada tanda lahir. Kuning keemasan. Bentuknya seperti bunga melati.”
Shasmita terdiam.
“Itu tanda lahir adikku,” ujar Hans pelan namun tegas.
“Letaknya sama, bentuknya sama. Bahkan … cahayanya.”
Shasmita mengangkat alis tipis. “Tanda lahir tidak bisa dipalsukan, aku tahu. Tapi Hans, orang bisa membuat tato. Teknologi sekarang—”
“Bukan itu,” potong Hans cepat.
Ia menatap Shasmita lurus-lurus, sorot matanya penuh keyakinan yang nyaris obsesif.
“Tanda lahir itu menyala malam itu,” ucapnya.
“Bukan karena lampu. Bukan karena efek visual. Aku tahu karena aku pernah melihatnya dulu, saat kami masih kecil.”
Shasmita menegang.
“Itu bukan tato, dan bukan kebetulan,” lanjut Hans.
“Tanda lahir keluarga Wijaya bereaksi terhadap kondisi tertentu. Itu bukan mitos. Itu darah.”
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Darah bangsawan keluarga Wijaya.”
Shasmita terdiam lama, jari-jarinya mengepal di atas meja.
“Kalau dugaanku benar,” sambung Hans pelan, “maka Yura bukan sekadar wanita yang salah diperlakukan oleh Arga. Dia adalah pewaris yang hilang. Dan seseorang ... entah siapa telah mencabut identitasnya sejak kecil.”
Shasmita menatap plastik kecil berisi rambut itu.
Di dalam dadanya, sebuah firasat buruk perlahan tumbuh.
“Kalau hasil DNA ini cocok,” ucap Shasmita akhirnya, suaranya nyaris berbisik,
“maka segalanya akan berubah.”
Hans mengangguk perlahan.
“Dan saat itu terjadi,” katanya dingin,
“aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Putri ... menyentuhnya lagi.”
Di luar restoran, matahari pagi bersinar cerah.
Sejak Yura pergi seminggu lalu, kediaman Pradipta terasa asing. Terlalu sunyi, bahkan Shasmita pun jarang terlihat di villa, seolah ada jarak yang sengaja diciptakan.
Arga merasakannya.
Di saat menelpon Shasmita. Panggilan terhubung di sebuah restoran. Hans duduk tepat di depannya. Pria itu memberi isyarat agar Shasmita mengangkat telepon.
[Kapan kita memilih cincin tunangan?] tanya Arga, nadanya hangat.
Shasmita melirik Hans sekilas sebelum menjawab tenang, nyaris dingin,
“Aku yang akan mengurus semuanya. Kamu tinggal menerima.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Tanggal sepuluh Oktober. Itu hari yang tepat untuk mengumumkan pertunangan.”
Di seberang sana, Arga tersenyum.
Ia memang kehilangan Yura, entah sejak kapan rasa itu tumbuh. Namun kini, ia meyakinkan dirinya sendiri, Shasmita masih di sisinya, itu sudah cukup.
Tanpa Arga sadari, di meja restoran itu, Hans menatap layar ponsel Shasmita dengan sorot mata gelap.
Seolah tanggal sepuluh Oktober bukan awal kebahagiaan melainkan hitungan mundur menuju runtuhnya semua kebohongan.
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂