“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Yura baru saja melangkah masuk ke lobi utama Perusahaan Lartika ketika langkahnya terhenti mendadak.
Di sana, berdiri seorang pria yang begitu ia kenal, pria yang wajahnya telah mengisi hampir seluruh masa remaja dan hidupnya. Pria yang mungkin bukan ayah kandungnya, tetapi adalah satu-satunya sosok ayah yang pernah ia miliki.
“Ayah…” suara Yura bergetar.
Tanpa ragu, Yura berlari kecil dan langsung memeluk pria itu erat, seolah takut jika dilepaskan maka sosok itu akan kembali menghilang. Pria itu membalas pelukan Yura dengan tangan yang sedikit gemetar, namun hangat dan penuh rasa sayang.
“Anakku…” ucapnya lirih, napasnya berat, tetapi senyumnya tulus. “Kamu semakin cantik.”
Mata Yura berkaca-kaca. Ia tak peduli lobi itu dipenuhi karyawan dan tatapan penasaran. Yang ia tahu, dadanya terasa penuh penuh rindu, penuh syukur.
Sky berdiri tak jauh dari mereka, menyaksikan adegan itu dengan tatapan yang sulit ditebak. Ada rasa lega, ada sedikit cemburu yang samar, tetapi lebih besar rasa hormatnya pada pria yang selama ini menjaga Yura sebelum ia hadir dalam hidup wanita itu.
“Dia sudah jauh lebih baik,” ujar Sky akhirnya, memecah keheningan. “Dokter mengizinkannya keluar rumah. Hal pertama yang dia minta … bertemu kamu.”
Yura melepaskan pelukan perlahan, menatap wajah ayah tirinya dengan cermat. Garis-garis kelelahan masih ada, tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi matanya mata itu masih sama. Hangat dan penuh cinta.
“Terima kasih…” Yura menoleh pada Sky. “Terima kasih sudah menjaganya. Terima kasih sudah membawanya ke sini.”
Sky mengangguk pelan. “Itu tugasku.”
Siang itu, Yura memutuskan tidak membahas pekerjaan sedikit pun. Ia mengajak Sky dan ayahnya makan siang di restoran favoritnya, sebuah restoran tenang dengan jendela besar menghadap taman kota.
Sebelum pergi, Yura memanggil Mario.
“Mario, urusan kantor kamu yang urus hari ini,” kata Yura tegas namun lembut. “Batalkan semua jadwal rapatku.”
Mario mengangguk tanpa banyak tanya. “Baik, Nona.”
Saat Mario berlalu menuju ruang kerja, Yura menatap dua pria yang kini duduk berhadapan dengannya dua sosok yang sama-sama memiliki tempat penting dalam hidupnya, dengan peran yang berbeda.
Di meja makan itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yura tertawa lepas. Bukan sebagai Nona Muda Lartika, bukan sebagai wanita penuh dendam dan rencana melainkan sebagai seorang anak yang akhirnya bisa duduk makan siang bersama ayahnya.
Restoran itu terasa hangat oleh cahaya siang yang menembus kaca besar. Yura duduk di antara Sky dan ayah tirinya, menikmati hidangan dengan perasaan yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini tenang.
Namun, ketenangan itu buyar ketika suara langkah mendekat terdengar.
“Yura.” Suara itu membuat sendok Yura berhenti di udara.
Arga berdiri tak jauh dari meja mereka, bersama Sheli di sisinya. Wajah Arga tampak letih, matanya menyimpan kegelisahan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Sheli menatap Sky sekilas, tetapi pria itu sama sekali tak memberi reaksi tatapannya dingin, acuh, seolah keberadaan mereka tak berarti.
“Boleh aku bicara?” tanya Arga, nadanya lebih rendah dari biasanya.
Yura mengangkat wajahnya perlahan. Bibirnya melengkung, bukan senyum lebih tepatnya tawa kecil yang sinis.
“Untuk apa, Tuan Arga?” balas Yura. “Bukankah semuanya sudah selesai?”
Arga menelan ludah. “Aku minta maaf. Untuk semuanya. Aku salah. Aku … ingin kamu kembali.”
Hening sejenak. Lalu Yura tertawa pelan. Bukan tawa bahagia melainkan getir.
“Kembali?” Yura mengulang, matanya menatap Arga tanpa sisa rasa. “Bersamamu tidak pernah membawa perubahan apa pun dalam hidupku, selain uang seratus miliar itu. Selebihnya? Luka, kecewa dan penghinaan.”
Arga terdiam.
“Bahkan,” lanjut Yura dengan suara yang kini dingin dan tegas, “kau pernah menyakitiku secara fisik. Kau lupa? Atau pura-pura lupa?”
Sheli tersentak, wajahnya memucat. “Kak Arga…?”
Arga maju setapak, refleks ingin menggenggam tangan Yura. Namun, sebelum jemarinya menyentuh kulit Yura, sebuah tangan lain menahan pergelangan Arga dengan kuat.
“Jaga batasanmu,” ucap Sky datar, namun ancamannya jelas terasa. “Dia bukan milikmu lagi.”
Arga menoleh tajam. “Ini urusanku dengan Yura.”
Sky mendekat sedikit, tatapannya menusuk. “Tidak, sekarang urusanmu seharusnya perusahaanmu. Fokuslah ke sana, selagi masih ada yang bisa diselamatkan. Atau kau ingin melihatnya benar-benar hancur?”
Ucapan itu membuat rahang Arga mengeras. Napasnya memburu, amarah jelas bergejolak, tetapi ia tahu Sky tidak menggertak.
Arga mendengus kasar. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia meraih lengan Sheli.
“Kita pergi.”
Sheli sempat menoleh ke arah Yura, matanya berkaca-kaca, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, Yura hanya membalas dengan tatapan datar bukan dingin, bukan marah, hanya sudah selesai.
Begitu Arga dan Sheli menghilang dari restoran, ayah tirinya menatap Yura penuh kekhawatiran.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya lembut.
Yura mengangguk, lalu tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, aku benar-benar baik.”
Sky menatap Yura lama. Dalam diam, ia tahu wanita di depannya bukan lagi Yura yang dulu mudah dilukai. Dan siapa pun yang mencoba menyentuhnya sekarang, harus siap menghadapi konsekuensinya.
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih