NovelToon NovelToon
Wajah Lain Di Balik Topeng

Wajah Lain Di Balik Topeng

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Putri asli/palsu / Fantasi Wanita
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senjaku02

Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

 Aurora menatap balik, tenang seolah baja, namun jantungnya bergemuruh penuh luka. Mengapa kakaknya bisa lebih percaya pada orang asing daripada adik kandungnya sendiri? Sebuah pengkhianatan halus yang menusuk kalbu.

  ‘Betapa kejamnya hidup ini untukmu, Aurora…’ bisik hati kecilnya. 

  Dengan suara bergetar dan wajah yang mulai memerah karena amarah dan kesedihan, Aurora membalas, “Kalau aku yang sebenarnya korban fitnah, bagaimana? Apa kakak hanya akan diam dan memaafkannya begitu saja? Itu nggak adil!”

  Sebuah keadilan yang digantung, dan luka yang menganga di antara dua saudara kandung.

  Rumah ini bukan lagi tempat perlindungan, tapi medan pertempuran penuh dendam dan kecurigaan.

 Aruna terpaku, suaranya bergetar penuh keyakinan, "Aku percaya pada Anjani. Hatinya lembut dan bersih, tak mungkin dia melakukan hal buruk seperti itu."

  Aurora terkekeh miris, tatapannya menusuk tanpa berkata. Tanpa sepatah kata, ia melangkah pergi, mengikuti jejak kedua orang tua dan kakaknya menuju ruang CCTV.

  Tak lama kemudian, Aruna dan Anjani menyusul, langkah mereka berat dipenuhi kecemasan yang mengeram di balik dada.

  Udara di koridor seolah ikut menahan napas, menunggu kebenaran yang akan terungkap di balik layar monitor itu.

  Di sudut ruang CCTV yang sepi, Baskara berdiri tegang, menatap putranya dengan harap yang menggantung di udara.

  "Kaynen, cek rekaman tadi malam dan pagi ini di kamar Anjani dan Aurora," perintahnya berat, seolah mencari jawaban atas teka-teki yang membakar pikirannya.

  Kaynen mengangguk tanpa suara, langkahnya mantap mendekati komputer. Tangannya gesit mengendalikan mouse, menelusuri detik-detik rekaman yang tersimpan.

  Satu per satu cuplikan diputar, namun wajah-wajah dan gerakan di layar itu tidak menunjukkan sedikit pun bayangan kecurigaan.

  Kening Kaynen berkerut semakin dalam. "Pa, Ma, nggak ada rekaman Aurora mencuri kalung Anjani. CCTV dari jam 8 malam sampai pagi ini… mati," katanya pelan, suara itu membawa ketegangan yang tiba-tiba membekukan ruangan.

  Dada Baskara terasa sesak. Matanya menangkap kegelapan layar kosong itu, seolah dunia tengah menertawakannya keadilan terhalang oleh keheningan mesin yang membisu.

  Dalam bisu itu, rahasia semakin dalam terbenam, mengundang tanya yang tak terjawab.

...****************...

  Setibanya di ruang CCTV, Aurora langsung menangkap sorot mata suram kedua orang tua dan kakaknya. 

  Dahi mengerut dalam ketidakpastian yang menusuk. Namun, di balik tatapannya yang tenang, pikirannya bergejolak, 'Sudah pasti rekaman itu dihapus orang suruhan Anjani. Dia kira cuma dia yang licik.' Bisikan dingin itu menggantung di hatinya. 

  Dengan senyum polos penuh kepura-puraan, Aurora bertanya, "Sudahkah kalian lihat rekamannya?" Suaranya lembut, seolah tak tahu apa pun tentang keributan yang ada.

  Kaynen, Baskara, dan Adeline menatapnya dengan mata penuh teka-teki, sulit untuk dibaca. Aurora malah menatap balik dengan pandangan polos bagai anak kecil yang tak mengerti dunia yang penuh tipu daya ini.

  "Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanyanya, nada suaranya masih terjaga seolah tak punya dosa.

  Langkah Aruna terhenti di depan ruang CCTV. Ia melangkah cepat meninggalkan Anjani yang justru tengah merayakan dalam hati kemenangannya lebih awal.

  "Bagaimana hasilnya, diakan yang mencuri kalung Anjani?" suara Aruna menggema, menunjuk ke arah Aurora, menebarkan prasangka yang tajam dan membuat udara semakin berat, seperti badai yang akan pecah kapan saja.

  " Kami tak tahu, rekaman tadi malam tak ada, sepertinya mati." Ucap kaynen. 

  Aruna menatap tajam Aurora, napasnya memburu, suaranya berubah menjadi tuduhan yang menusuk, "Ini pasti ulahmu, kan? Kamu sengaja mematikan CCTV atau bahkan menghapus rekamannya untuk menutupi semuanya!"

  Mata Aruna membara, rasa bencinya terhadap Aurora semakin besar. seolah semua rahasia gelap Aurora akan terbongkar malam itu juga.

  Anjani melangkah masuk dengan dada berdebar, suaranya lirih, "Aurora... bagaimana kamu bisa melakukan ini? Kalau kamu memang menyukai kalung itu, aku rela memberikannya padamu. Sama seperti waktu kamu meminta kamar ku." 

  Matanya berkilat, tersamar di balik selimut air mata yang mengambang di ujung kelopak. Namun di balik semua itu, jantung Anjani berdentum kencang kemenangan berbisik dalam hatinya, menatap tajam pada Aurora.

  Aurora menatap orang-orang di ruangan itu dengan malas, Drama di rumah ini memang hiburan baginya, panggung di mana ia harus berakting.  Jika bukan karena membutuhkan perlindungan dari keluarganya, dia tak akan pernah repot-repot datang ke sini. 

  Kaynen mengernyit, matanya menusuk Aurora seperti pisau tajam, "Jadi begitu? Kamu benar-benar mencuri kalung Anjani? Ikut aku, kamu harus dihukum."

  Tangan Kaynen mencengkeram lengan Aurora dengan kasar, bersiap membawa keadilan di luar pengawasan CCTV.

  Namun langkah Kaynen yang tegas tertahan oleh suara dingin Aurora, seperti petir menyambar di udara, “Berhenti!” Suaranya berat, penuh peringatan yang membekukan suasana.

  Semua mata tertuju padanya, tegang dan menunggu apa yang akan terucap selanjutnya.

  Tanpa sepatah kata, Aurora mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang sedikit bergetar. Jari-jarinya gesit menelusuri file rekaman CCTV yang tersambung langsung ke perangkatnya.

  Saat video itu muncul di layar, suasana mendadak hening. Semua mata kecuali Aruna tertuju pada layar kecil yang memperlihatkan 

  sosok Anjani memasuki kamar Aurora dengan langkah pelan, saat Aurora masih asyik sarapan bersama keluarga di lantai bawah.

  Dalam rekaman itu, Anjani terlihat menarik kalung dari sakunya, lalu menatap benda itu dengan senyum tipis penuh arti senyum yang menggantung di sudut bibirnya, menyiratkan sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan.

  Dengan perlahan, dia meletakkan kalung itu di laci samping tempat tidur, lalu melangkah keluar seolah tak terjadi apa-apa.

  Orang-orang yang menonton video itu terdiam, pandangan mereka beradu antara kebingungan dan kemarahan. Tatapan mereka kini tertuju pada Anjani menanyakan dalam diam, apa sebenarnya maksud dari permainan licik ini? 

  Mengapa harus menodai nama Aurora dengan fitnah yang kotor? Hawa ketegangan semakin pekat, dan keheningan berubah menjadi bisik-bisik penuh tudingan. 

  Aurora menatap Anjani tanpa mengalihkan pandangannya, membiarkan momen itu menggantung berat di antara mereka semua.

  Aurora hanya bisa tersenyum tipis, saat melihat Aruna begitu yakin ialah yang bersalah."Keyakinan kamu memang besar Kakak, tapi sayang adik kamu yang tercinta itu lah yang menjadi biang masalah," gumamnya sinis.

  Aurora bersenandung kecil, dia berjalan pelan meninggalkan para pelayan yang menatapnya dengan aneh.

...****************...

Di ruang tamu.

  "Ma, bagaimana? Dia kan pelakunya?" tanya Aruna, dia mendesak seolah menuntut jawaban atas kejadian pagi ini.

  "Runa, tenang ya!" ucap Adeline pada sang Putri.

  "Ma, kenapa harus tenang? Jelas rumah ini tak membutuhkan putri pencuri seperti dia!" tunjuk Aruna kesal.

  "Siapa yang kamu bilang tak pantas, Runa?" Keynan bertanya, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan atas perkataan Aruna.

  "Kak, aku benarkan? Dia pencuri dan keluarga Harvey tak butuh dia, kembalikan saja dia ke tempat kumuh itu dan anggap ia tak pernah ada!" setelah selesai mengatakan itu, tangan Adeline melayang tepat mengenai pipi Aruna.

1
MataPanda?_
terus kak semangat trus..
selalu d berikan kesehatan😄
Senjaku02: Aamiin. terimakasih ☺️
total 1 replies
MataPanda?_
trus semangat kak up banyak"😄
Senjaku02: siap🫡
total 1 replies
Nadira ST
🥰🥰🥰🥰🥰🥰💪💪💪💪💪💪💪
Nadira ST
kereeennnn🥰🥰🥰🥰🥰🥰💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕☕
Allea
kirain mo bilang besok kamu akan dikembalikan ke keluarga kandungmu ternyata bukan
Allea
maaf thor drak hazel apa dark hazel
Senjaku02: dark hazel. maaf kalau typo😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!