NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Buku Besar Terakhir

Jakarta dalam keadaan genting. Keputusan Arum untuk merilis kunci enkripsi ke jaringan open source telah memicu kepanikan finansial dan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di luar gedung, sirene meraung-raung, dan jaringan internet nasional mulai melambat upaya terakhir dari "Aset No. 01" untuk membendung banjir data.

"Rum, kita harus keluar dari sini sebelum pasukan khusus mereka sampai," Baskara menarik Arum menuju pintu darurat.

"Bukan ke luar, Mas. Kita ke atas," Arum menunjuk ke arah ruang server hotel. "Jika mereka mematikan internet nasional, satu-satunya cara untuk memastikan data itu terkirim sepenuhnya ke server pusat di luar negeri adalah melalui uplink satelit pribadi yang biasanya ada di gedung-gedung setinggi ini."

Mereka berlari menaiki tangga darurat, menghindari kejaran pria-pria bersetelan safari yang mulai menyisir setiap lantai. Di dalam ruang server yang dingin dan bising oleh deru kipas, Arum menemukan apa yang ia cari: terminal komunikasi satelit darurat.

"Aku butuh waktu lima menit untuk menyinkronkan data terakhir," Arum memasangkan kabel ke laptopnya. "Data ini bukan cuma soal korupsi, Mas. Ini adalah Master Ledger (Buku Besar Utama) yang mencatat aliran dana dari setiap eksploitasi alam Indonesia sejak tahun 1990."

Saat bilah progres di layar mencapai 80%, pintu ruang server didobrak paksa. Namun, yang masuk bukan tentara.

Seorang pria tua dengan kursi roda elektrik masuk, dikawal oleh dua pria bersenjata tanpa seragam. Wajahnya tampak pucat dan keriput, namun matanya tetap tajam seperti elang. Ia adalah Eyang Subrata, sosok legendaris yang dikenal sebagai "Bapak Pembangunan" yang secara resmi sudah lama pensiun dari dunia politik.

"Cukup, Arum," suara Eyang Subrata serak namun berwibawa. "Kau sedang mencoba menghancurkan pondasi yang kubangun selama tiga puluh tahun untuk menjaga negeri ini tetap berdiri."

"Pondasi yang dibangun di atas kuburan desa-desa seperti Navasari, Eyang?" balas Arum tanpa menghentikan proses unggahnya.

"Keserakahan adalah bahan bakar pembangunan, Nak. Tanpa orang-orang seperti Darmono atau Adrian, tidak akan ada jalan tol, tidak ada listrik di desa-desa. Aku hanya mengelola keserakahan itu agar menjadi manfaat," Subrata mendekat, kursi rodanya mendesing pelan.

"Anda tidak mengelola keserakahan, Anda membiarkannya menjadi kanker," Arum menunjuk ke layar laptopnya yang mencapai 95%. "Dan hari ini, saya adalah ahli bedahnya."

"Jika kau menekan tombol kirim itu, ekonomi akan runtuh. Investor akan lari. Jutaan orang akan kehilangan pekerjaan hanya karena idealisme satu orang auditor," ancam Subrata.

"Ekonomi yang dibangun di atas pencurian adalah ekonomi fatamorgana, Eyang. Lebih baik kita jatuh sekarang dan membangun kembali di atas fondasi yang jujur, daripada menunggu semuanya meledak dan tak tersisa apa pun," jawab Arum tegas.

BIP!

UPLOAD COMPLETE. GLOBAL BROADCAST ACTIVE.

Wajah Eyang Subrata mendadak layu. Ia tahu, di detik itu, seluruh dunia sedang membaca namanya di barisan teratas pemilik akun rahasia di Swiss dan Cayman Islands.

Tiba-tiba, suara helikopter tempur terdengar sangat dekat. Kaca-kaca ruang server bergetar. Pasukan keamanan resmi negara akhirnya tiba, namun bukan untuk menangkap Arum. Mereka membawa perintah langsung dari Panglima tertinggi yang telah menerima data bocoran tersebut.

"Eyang Subrata," seorang perwira tinggi masuk dengan dokumen merah di tangannya. "Berdasarkan bukti pengkhianatan terhadap negara dan pencucian uang skala masif, Anda berada di bawah tahanan rumah efektif segera."

Eyang Subrata hanya bisa terdiam, tangannya yang gemetar mencengkeram pegangan kursi rodanya. Sang Arsitek akhirnya runtuh oleh desainnya sendiri yang dikuliti oleh seorang wanita dari desa.

Satu tahun kemudian.

Arum berdiri di dermaga baru Muara Biru. Lautnya kini kembali biru, dan Jaka baru saja melaporkan bahwa terumbu karang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Di Jakarta, pengadilan tipikor terbesar dalam sejarah masih berlangsung, menyeret ratusan pejabat yang masuk dalam daftar "Aset No. 01" hingga "Aset No. 100".

Baskara mendekati Arum, memberikan sebuah surat kabar. Judul utamanya: "Navasari Institute Resmi Menjadi Konsultan Independen PBB untuk Transparansi Mineral Dunia."

"Jadi, kita berangkat ke Afrika minggu depan?" tanya Baskara sambil tersenyum.

Arum melipat surat kabar itu, menatap cakrawala yang luas. "Tugas kita di sini belum benar-benar selesai, Mas. Tapi setidaknya, sekarang anak-anak di desa ini bisa menghitung masa depan mereka tanpa takut angkanya dicuri."

Arum mengambil tas kerjanya, di dalamnya masih tersimpan kalkulator tua milik ibunya. Ia berjalan menyusuri pantai, siap untuk mengaudit dunia, satu kebenaran di setiap waktu.

Eyang Subrata menatap layar yang kini menampilkan pesan “System Broadcast Success” dengan tatapan kosong. Kekuatan yang ia bangun dengan presisi algoritma selama puluhan tahun hancur bukan oleh kudeta militer, melainkan oleh seorang wanita yang memahami bahwa integritas adalah variabel yang tidak bisa dimanipulasi.

"Kau menghancurkan stabilitas demi sebuah transparansi, Arum," bisik Subrata, suaranya kini terdengar seperti angin kering di padang pasir. "Kau akan melihat betapa kacaunya dunia tanpa tangan yang mengatur di balik layar."

"Dunia memang akan kacau untuk sementara, Eyang," jawab Arum sambil merapikan kabel laptopnya. "Tapi setidaknya, kekacauan ini jujur. Kita tidak lagi hidup dalam kemakmuran palsu yang dibayar dengan nyawa orang-orang kecil."

SATU TAHUN KEMUDIAN: AUDIT SEMESTA

Navasari telah berubah menjadi kota pendidikan hijau yang menjadi rujukan dunia. Namun, Arum tidak duduk di kursi empuk kantor pusat Navasari Institute. Ia sedang berada di sebuah desa kecil di lereng gunung api, tempat proyek panas bumi raksasa baru saja dimulai.

Baskara menemaninya, kini bukan lagi sebagai Kades, melainkan sebagai penasihat hukum komunitas. Mereka sedang duduk di gubuk bambu, menatap hamparan pipa uap yang membelah hutan.

"Bagaimana hasil audit awalnya, Rum?" tanya Baskara sambil menyodorkan singkong rebus.

Arum menunjukkan layar tabletnya yang kini terhubung ke jaringan Global Transparency Ledger. "Perusahaan pengelolanya bersih, Mas. Mereka memberikan 30% royalti langsung ke dompet digital warga untuk pembangunan sekolah dan rumah sakit. Tidak ada akun 'Aset' rahasia kali ini."

Arum tersenyum, matanya berbinar menatap anak-anak desa yang bermain di sekitar pipa uap tanpa rasa takut. Ia teringat pada map merah ibunya, pada pengkhianatan Haris, dan pada dinginnya ruang server bersama Eyang Subrata.

Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari sistem audit otomatisnya muncul:

"ANOMALI TERDETEKSI: Proyek Penambangan Bawah Laut di Palung Mariana. Struktur Kepemilikan: Terfragmentasi."

Arum menarik napas panjang, lalu menyesap kopinya. Ia menutup tabletnya dan menatap Baskara dengan senyum cerdik yang tetap sama sejak hari pertama mereka pindah ke Navasari.

"Mas, sepertinya liburan kita harus ditunda," ujar Arum ringan.

"Ada apa lagi, Rum?"

"Ada angka yang tidak mau jujur di dasar samudra," Arum berdiri, merapikan tas kerjanya yang kini penuh dengan stiker dari berbagai desa yang telah ia selamatkan. "Dan kau tahu, aku tidak suka melihat angka yang menyembunyikan kebenaran."

Baskara tertawa kecil, ia berdiri dan menggandeng tangan istrinya. "Ke mana pun kau pergi mengaudit dunia, aku akan memastikan hukumnya tetap tegak di sampingmu."

Arum dan Baskara berjalan menuju mobil lapangan mereka, meninggalkan Navasari yang kini sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Di belakang mereka, matahari terbenam dengan warna emas yang murni—semurni transparansi yang kini diperjuangkan Arum di setiap jengkal tanah yang ia injak.

1
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!