Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Ardan berdiri di balik pohon mangga tua, tepat di seberang jalan tanah yang membelah halaman kecil rumah Albi. Ia tidak sepenuhnya bersembunyi, tapi juga tidak berdiri terang-terangan. Tubuhnya setengah tertutup bayangan batang pohon, topi ditarik sedikit lebih rendah dari biasanya.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat jendela ruang tengah yang terbuka setengah.
Seorang anak duduk bersila di depan televisi.
Arbani.
Ardan mengenali punggung kecil itu tanpa ragu. Cara anak itu duduk, sedikit condong ke depan, sesekali meraih sesuatu di sampingnya—cemilan.
Di dalam rumah, seorang perempuan mondar-mandir, tidak pernah benar-benar menjauh dari anak itu. Kadang melipat kain, kadang duduk di kursi dekatnya, kadang berdiri seolah hanya ingin memastikan sesuatu.
Nara…
Dada Ardan mengencang.
Ia tidak mendengar apa pun, tapi ia tahu.
Ia tahu Nara sedang menjaga.
Dan penjagaan itu bukan tanpa sebab.
Ardan melangkah setengah tapak lebih dekat, nyaris refleks. Kerikil kecil berderak di bawah sepatunya.
Ia membeku.
Dari dalam rumah, sesosok pria keluar ke teras. Albi. Ia berdiri dengan tangan bertolak pinggang, memandang halaman depan seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya.
Ardan menahan napas.
Tubuhnya menempel ke batang pohon. Bahunya menegang, tangan di saku celana mengepal pelan. Ia tahu, satu langkah lagi saja—ia akan terlihat.
Albi menatap jalanan desa, lurus ke arah Ardan berdiri.
Untuk beberapa detik yang terasa terlalu panjang, pandangan mereka hampir bertemu.
Hampir.
Angin bertiup, daun mangga bergoyang, menutupi sebagian wajah Ardan. Albi menyipitkan mata, seperti merasa ada yang janggal, tapi tidak cukup yakin untuk melangkah mendekat.
“Aneh…” gumam Albi lirih.
Ia menoleh ke dalam rumah. “Ra,” panggilnya.
Nara menjawab dari dalam, suaranya terdengar dekat. Albi menghela napas kecil, lalu masuk kembali ke rumah, meninggalkan teras kosong.
Ardan baru berani menarik napas ketika pintu itu tertutup.
Keringat dingin merambat di tengkuknya.
Ia menatap rumah itu lama—terlalu lama untuk seseorang yang hanya “kebetulan lewat”. Di balik jendela, Arbani tertawa kecil melihat layar televisi, tapi matanya sesekali melirik ke arah pintu, seperti ingin keluar namun tidak benar-benar berani.
Ardan menelan ludah.
“Kenopo kowe dikurung, Le…” bisiknya nyaris tak terdengar.
(Kenapa kamu dikurung, Nak…)
Ia mundur selangkah, lalu dua. Tidak pergi jauh—hanya cukup untuk kembali tersembunyi. Hatinya berdebar bukan karena takut ketahuan, tapi karena satu kesadaran pahit mulai menekan dadanya:
Nara tidak sekadar waspada.
Ia melindungi.
Dan jika Nara sampai sejauh ini, berarti ada sesuatu yang benar-benar tidak ingin ia biarkan mendekati anak itu—termasuk dirinya.
Ardan berbalik, melangkah pergi dengan kepala penuh tanda tanya yang semakin padat.
Dari balik jendela, tanpa tahu bahwa dirinya sedang diawasi, Arbani menggenggam bantal kecil di pangkuannya, merasa rumahnya hari itu terlalu ramai… namun entah kenapa, juga terlalu sunyi.
☘️☘️☘️☘️☘️
Angin pagi berembus pelan di halaman depan rumah. Daun mangga di sudut pagar bergoyang, sesekali menimbulkan suara gesek halus.
Di balik batang pohon itu, Ardan berdiri diam. Topi ditarik rendah, tubuhnya setengah tersembunyi. Matanya tak lepas dari rumah Albi. Dari celah pagar, ia bisa melihat bayangan kecil Arbani yang duduk di depan televisi, juga sosok Nara yang mondar-mandir di ruang tengah.
Dada Ardan naik turun perlahan. 'Masih dikurung…' batinnya.
Ia melangkah sedikit lebih dekat. Terlalu dekat. Saat itulah pintu depan rumah terbuka. Albi keluar membawa sapu. Matanya menyapu halaman sekilas, lalu berhenti. Ada perasaan aneh. Seperti sedang diperhatikan.
Albi menyipitkan mata ke arah pohon mangga. Ardan refleks mundur setengah langkah. Nafasnya tertahan. Jika Albi maju satu langkah saja.
“Bi?”
Suara Nara dari dalam rumah membuat Albi menoleh.
“Ana opo?” (Ada apa?) tanya Nara dari ambang pintu.
Albi menggeleng kecil. “Ora ono.” (Tidak ada apa-apa.)
Namun sebelum masuk kembali, ia sempat menatap sekali lagi ke arah pagar. Lama. Seolah menandai sesuatu dalam ingatannya.
Di balik pohon, Ardan tak bergerak sama sekali sampai pintu itu menutup kembali.
"Ah, syukurlah," ucap Ardan.
☘️☘️☘️☘️
Di dalam rumah, suasana mendadak lebih sunyi. Televisi masih menyala, tapi volumenya dikecilkan. Arbani sudah tertidur setengah rebah, cemilan tersisa remah di mangkuk.
Albi duduk di kursi kayu, sikunya bertumpu di meja. Pandangannya lurus ke depan, tidak pada televisi, tidak pada anaknya.
“Nara,” ucapnya pelan.
Nara yang sedang membereskan piring langsung berhenti.
“Iyo?” (Iya?)
Albi tidak langsung menatapnya. “Aku pengin ngerti.” (Aku ingin mengerti.)
Nara menelan ludah. “Kowe iki ngopo tenan?”
(Kamu ini sebenarnya kenapa?)
Nara tersenyum tipis, tapi tangannya bergetar saat meletakkan piring.
“Ngopo maksude?” (Kenapa maksudnya?)
Albi akhirnya menoleh. Tatapannya tidak keras, tapi menekan. “Saka esuk nganti saiki, kowe ora ninggal Bani sedetik wae.” (Dari pagi sampai sekarang, kamu tidak meninggalkan Bani sedetik pun.)
Nara menghela napas kecil. “Aku ibune.”
“Iyo. Nanging kowe kaya wong wedi.” (Iya. Tapi kamu seperti orang takut.)
Kalimat itu membuat bahu Nara menegang.
“Wedi opo, Ra?” (Takut apa, Ra?)
Sunyi. Hanya suara kipas angin berputar pelan. Nara membalikkan badan, pura-pura merapikan taplak meja. “Kowe kebacut mikir adoh.” (Kamu terlalu berpikir jauh.)
Albi berdiri. Langkahnya pelan, tapi jaraknya mendekat “Aku ndelok caramu nyawang jendela.” (Aku melihat caramu menatap jendela.)
Nara terdiam, mencoba menutupi getaran di hatinya.
“Caramu nutup lawang.” (Caranya kamu menutup pintu.)
Nara memejamkan mata sesaat.
“Lan caramu ngempet anakmu nganggo panganan lan televisi.” (Dan caramu menahan anakmu dengan makanan dan televisi.)
Nara berbalik cepat. “Aku ora ngempet!” (Aku tidak menahan!)
Albi menunduk sedikit, suaranya merendah. “Yen ora ngempet, kok kowe wedi yen dheweke metu?” (Kalau gak menahan kenapa kamu takut dia keluar.)
Kata takut itu menusuk.
Nara menggenggam ujung bajunya. “Aku mung pengin aman.”
“Sing aman sopo?” (Yang aman siapa?)
Nara tidak menjawab.
Albi mengangguk pelan, seolah mengerti sesuatu yang belum ingin ia terima.
“Ana wong sing kowe ndhelikno, Ra?”
(Ada orang yang kamu sembunyikan, Ra?)
Jantung Nara berdetak keras.
Di luar, bayangan seseorang bergerak menjauh dari pagar. Di dalam, Nara berdiri di antara suami dan anaknya, menyadari satu hal pahit: Ia bisa menutup pintu rumah, tapi tidak bisa selamanya menutup kecurigaan.
Bersambung…
ada bonus chapter kah? hehe
aku nangis ini kak...
antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku