Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Penerimaan dibalik permusuhan
Sore itu, Anindia sedang mengemasi sebagian barang-barang serta pakaiannya ke dalam tas, karena perintah ibunya yang baru saja pulang dari butiknya. Anindia akan tinggal bersama Keanu di rumah mertuanya mulai malam ini.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Anindia terpaksa menuruti perintah ibunya. Anindia memang anak bungsu, tapi ia tetap menuruti perintah kedua orang tuanya. Ia dididik bukan untuk bermanja-manja, tapi untuk bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Terlebih saat ini Anindia sudah menikah, dan Anindia harus menjalankan tanggung jawab atas kewajibannya sebagai seorang istri.
Sementara itu di ruang tamu, ibu Anindia sedang berbincang dengan Keanu. Benar saja dugaan Keanu tadi, ibu Anindia ternyata menanyakan tentang motornya itu, pasalnya saat pergi tadi pagi ia berangkat bersama Anindia.
"Keanu, bukannya kamu tadi pagi pergi bareng Anindia? Tapi kenapa tiba-tiba ada motor kamu di rumah?" Tanya ibu Anindia.
"I-itu tadi sekalian ambil motor Keanu di bengkel, Tante... Eh, Ma," Ujar Keanu beralasan.
Ibu Anindia hanya menganggukkan kepalanya, ia mempercayai kata-kata menantunya itu. Ia kemudian meraih tangan Keanu dan mengusapnya lembut, seakan meminta Keanu untuk menjaga putri bungsunya itu.
"Keanu, Mama minta tolong sama kamu buat jagain Anindia ya nak. Jangan pernah kamu sakiti dia, Mama percaya kamu adalah jodoh terbaik buat anak Mama," ujar ibu Anindia yang menasihati dengan lembut dengan seutas senyum yang terukir di wajahnya.
Keanu merasa sedikit bimbang, seakan masih berat hati untuk menyetujui permintaan ibu mertuanya itu. Ia memikirkan sejenak, apakah keputusannya ini sudah tepat untuk dirinya.
Cukup lama ia terdiam tanpa kata, akhirnya Keanu menganggukkan kepalanya perlahan. Ia memutuskan untuk mulai berubah dan menjaga Anindia, bukan keinginannya tapi ini seakan merupakan keharusan bagi Keanu untuk mulai berubah.
"Iya Ma," ujar Keanu yang mencoba untuk membiasakan diri memanggil ibu mertuanya dengan sebutan 'Mama'.
"Mama percaya sama kamu, Keanu. Mama ke kamar Anindia dulu ya," ujar ibu Anindia yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
Keanu duduk sendirian di dalam ruangan itu, pikirannya sudah melayang kemana-mana. Ia pun akhirnya memantapkan diri dengan keputusannya untuk meninggalkan dunia liarnya. Ia merasa sudah waktunya untuk berubah, terlebih status nya sekarang sudah resmi menjadi seorang suami.
Di dalam kamarnya, Anindia yang masih merapikan pakaiannya, langsung terkejut ketika ibunya membuka pintu. Ibunya hanya tersenyum dan berjalan menghampiri putri bungsunya itu.
"Mama ngagetin aja," ujar Anindia sambil mengelus dada.
"Kenapa melamun sayang?" Ujar ibunya yang kini duduk di sebelah Anindia.
"Nindi gak melamun Ma, Nindi cuma ngerasa berat buat tinggal di rumah Keanu." Ujar Anindia sembari menghela nafas.
Ibunya mengerti akan kekhawatiran sang anak. Ia pun membelai lembut rambut Anindia penuh kasih sayang. Bahkan, kilasan matanya pun menunjukkan kasih sayang dan cinta yang mendalam untuk putrinya itu.
"Mama ngerti perasaan kamu, sayang. Pak Bram dan istrinya sangat baik, Mama yakin mereka akan menerima kamu dengan baik juga di sana," ujar ibunya lembut.
"Tapi Ma-" ujar Anindia tapi perkataannya terpotong ketika ibunya yang langsung meyakinkan dirinya dengan sedikit nasihat.
"Kamu dan Keanu sudah menikah sayang. Kamu punya kewajiban atas suami kamu, begitu juga sebaliknya. Keanu juga punya tanggung jawab atas kamu," ujar ibunya.
Anindia terdiam sejenak, ia memikirkan kata-kata ibunya. Terdengar helaan nafas panjang darinya, sebelum akhirnya Anindia menganggukkan kepalanya dengan berat hati.
"Iya Ma," ujar Anindia pada akhirnya.
Ibunya tersenyum dan merangkul pundaknya, lalu mengusap punggung Anindia lembut, seakan meyakinkan Anindia bahwa semuanya akan baik-baik saja. Anindia pun hanya bisa membalas senyum ibunya tanpa kata. Ia masih merasa ragu-ragu, tapi nasihat ibunya membuatnya merasa sedikit lebih baik.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Malam harinya, Anindia dan Keanu sedang makan malam bersama kedua orang tua Anindia. Mereka berdua masih terlihat kaku bahkan tidak ada percakapan sedikitpun di antara keduanya. Ayah dan ibu Anindia saling bertukar pandang untuk sejenak, seakan menanyakan sesuatu yang tak terucap dari keduanya.
"Keanu, Anindia... Papa ingin memberi sedikit nasihat untuk kalian berdua, mohon perhatiannya sebentar." Ujar ayah Anindia memecah keheningan.
Anindia yang masih mengunyah makanannya langsung menoleh ke arah ayahnya. Sementara Keanu yang ingin menyuap sendok ke mulutnya langsung menghentikannya sejenak, pandangan langsung tertuju pada ayah mertuanya itu.
"Iya Pa?" Ujar Keanu sopan yang sudah tidak memanggil ayah Anindia dengan sebutan 'om' lagi.
"Kalian berdua sudah menikah, Papa berharap kalian bisa saling menjaga, mendukung, dan menghormati satu sama lain. Pernikahan bukan hanya tentang cinta, melainkan juga komitmen dan tanggung jawab. Meskipun Papa tau bahwa pernikahan kalian ini bukanlah keinginan kalian sendiri." Ujar ayah Anindia menasihati.
"Iya Pa," ujar Anindia dan Keanu kompak.
Anindia dan Keanu langsung bersitatap untuk sejenak, tidak terlihat lagi tatapan permusuhan dari keduanya. Tatapan itu kini justru menunjukkan penerimaan satu sama lain, meskipun di balik tatapan Keanu masih tersirat tatapan dinginnya.
"Mama dan Pama hanya berharap kalian akur, kami akan selalu mendoakan yang terbaik buat kalian berdua," ujar ibunya menimpali.
Anindia dan Keanu hanya bisa mengangguk perlahan, meskipun mereka berdua masih belum terbiasa dengan situasi ini. Tapi bagaimanapun juga, mereka harus belajar untuk bisa menerima satu sama lain.
"Ya udah, silahkan dilanjutkan makannya. Nanti Papa dan Mama yang akan mengantarkan kalian," ujar ayah Anindia kemudian.
Tanpa perbincangan apapun lagi, mereka kembali menikmati makan malam itu. Anindia dan Keanu yang awalnya penuh penolakan, kini terlihat menunjukkan penerimaan satu sama lain meskipun masih terbilang canggung.
Setelah menikmati makan malamnya, mereka pun bersiap untuk pergi ke rumah Keanu. Ayah Anindia sudah memasukkan barang-barang Anindia ke dalam bagasi mobil avanza berwarna silver itu, karena sulit jika membawanya dengan motor.
"Ma, Pa, Keanu boleh izin agar Anindia naik sama motor Keanu aja boleh gak? Soalnya ada hal yang mau Keanu bicarakan dengan Anindia," ujar Keanu tiba-tiba, sebelum ayah dan ibu Anindia masuk ke dalam mobil.
Anindia terkejut dengan perkataan Keanu, dan ia merasa curiga dengan suaminya itu. Pasalnya, ia dan Keanu tidak pernah akur sebelumnya, dan kini tiba-tiba saja Keanu ingin berbicara dengannya jelas saja membuat Anindia merasa ragu.
"Boleh, kalian memang harus banyak pendekatan dan saling mengenal satu sama lain. Papa malah seneng kalo kalian mulai belajar buat akur," ujar ayahnya sebelum Anindia sempat berkata-kata.
"Makasih, Pa," ujar Keanu dengan seutas senyum samar dan langsung menarik tangan Anindia menuju ke arah motornya.
"Ehh??" Ujar Anindia yang terkejut, bahkan tubuhnya pun langsung terhuyung karena tidak sempat menyeimbangkan diri, untungnya ia tidak terjatuh karena refleks Keanu.
"Semoga mereka bisa mulai menerima satu sama lain ya, Pa." Ujar ibu Anindia sembari menoleh ke arah keduanya.
Ayah Anindia menganggukkan kepalanya dan menjawab perkataan istrinya, lalu ia pun membuka pintu mobil dan memulai mesin untuk memulai perjalanan menuju cluster A, dimana Keanu tinggal di area elit.
Sementara Keanu yang menarik tangan Anindia langsung memberikan helm untuk Anindia lalu langsung memasang helm full face untuk dirinya sendiri. Lalu ia pun memutar kunci dan menghidupkan mesin motornya, membuat suara deru motor itu terdengar jelas di telinga mereka.
"Ayo," ujar Keanu dengan nada dinginnya.
Anindia memicingkan matanya, seakan meragukan perubahan Keanu yang tiba-tiba. Dengan berat hati, akhirnya Anindia pun naik ke atas motor itu. Tapi karena tubuhnya yang mungil, membuatnya kesulitan untuk menaiki motor besar itu.
Keanu yang sudah duduk di atas motornya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Anindia dari balik kaca spion. Setelah mencoba berkali-kali, akhirnya Anindia pun berhasil naik ke atas motor hitam itu.
"Pegangan! Bandel banget!" Ujar Keanu sembari menarik tangan Anindia lagi untuk memeluk pinggangnya.
Anindia lagi-lagi terkejut dan tubuhnya kini kembali menyentuh punggung Keanu. Hari ini saja, Keanu sudah dua kali membuat jantung Anindia berdegup kencang karena refleksnya yang tiba-tiba.
Setelah melingkarkan tangan Anindia di pinggangnya, Keanu pun langsung melajukan motornya mengikuti mobil ayah Anindia yang sudah berlalu.
Motor itu pun melaju meninggalkan area perumahan menengah yang ditempati oleh Anindia. Keduanya hening tanpa kata, merasa canggung dengan kedekatan ini untuk yang kedua kalinya setelah momen tadi pagi.
Keanu pun merasa serba salah, ia tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Terlebih ini merupakan kali pertamanya ia dekat dengan lawan jenis. Keanu memang terkenal sebagai badboy, tapi ia bukanlah playboy seperti kebanyakan pemuda seusianya.
"Gue rasa kita harus belajar untuk menerima satu sama lain." Ujar Keanu dengan nada dingin di sela-sela keheningan.
"Hah?" Ujar Anindia yang tidak mendengar jelas suara Keanu karena suara deru motornya.
"Gue rasa kita harus belajar untuk menerima satu sama lain! Gak denger juga?!" Ujar Keanu mengulang kalimat itu dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
"Iya denger gak usah ngegas," ujar Anindia. "Tapi aku curiga sama kamu, kenapa tiba-tiba gitu?" Lanjutnya.
"Ya karena gue terpaksa! Ya kali karena gue mulai nerima lo!" Ujar Keanu yang kembali dengan nada galaknya.
Mendengar perkataan Keanu yang terdengar begitu menyebalkan, Anindia pun refleks mencubit pinggang Keanu karena geram. Bagaimana mungkin ia bisa menerima Keanu, terlebih sifatnya pun selalu saja membuat Anindia merasa kesal.
"Ihhhh!! Gak mungkin bakal akur kayak gini, kamu aja nyebelin banget!" Ujar Anindia berbarengan dengan cubitannya untuk Keanu.
"Awww!!" Ringis Keanu, bahkan laju motornya pun terlihat tidak stabil sejenak karena Anindia yang tiba-tiba saja mencubit pinggangnya.
Anindia pun melepaskan cubitannya, ia pun langsung menoleh ke arah lain, mencoba untuk menyembunyikan rasa kesalnya.
"Lo mau kita celaka?! Jangan cubit-cubit, sakit!!" Ujar Keanu yang kini kembali menormalkan laju motornya.
"Ya maaf," ujar Anindia dengan nada ketusnya.
Keanu menghela nafas panjang, ia sudah berusaha untuk mencairkan suasana. Tapi karena ia yang memiliki kesabaran setipis tisu, akhirnya membuat rencananya untuk berbicara dengan Anindia gagal total.
Suasana kembali hening, keduanya kembali tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Anindia sendiri merasa sedikit lebih lega karena Keanu tidak membalas dengan kata-kata yang menyebalkan lagi. Tapi tetap saja ia masih merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Ia masih merasa canggung bahkan masih tidak percaya bahwa mereka sekarang sudah menikah.
Sementara Keanu, ia mengendara dengan hati-hati dan terlihat fokus, meskipun ia lebih suka mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Tapi, karena adanya Anindia di jok belakangnya, membuat Keanu mengendarai motornya dengan kecepatan normal. Ia tidak ingin Anindia terluka hanya karena kecerobohannya, meskipun hubungannya dengan Anindia tidak pernah baik sebelumnya.
^^^Bersambung...^^^