Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Penuh Keprihatinan Palsu
Mata Aksa berbinar sesaat, sebuah kilatan emosi yang nyaris tak tertangkap mata sebelum akhirnya kembali ke ekspresi datarnya yang biasa.
"Oke," jawabnya singkat.
Salma memutar tubuhnya, kembali menatap Manda yang masih berdiri di sana dengan wajah penuh keprihatinan palsu.
"Kak, aku cuma berharap Kakak bisa lebih percaya sama aku daripada sekadar dengerin gosip di luar sana. Aku cuma punya Kakak sebagai saudara perempuan di dunia ini. Kalau Kakak sendiri juga salah paham sama aku... rasanya hidupku jadi gelap banget."
Kalimat itu diucapkan dengan nada menggantung, penuh makna tersirat. Orang-orang di sekitar mulai berbisik, mengaitkan kata-katanya dengan status keluarga mereka.
Mereka semakin yakin bahwa Manda hanyalah anak angkat, sementara Salma adalah putri kandung tunggal Keluarga Tanudjaja yang sebenarnya.
Manda merasakan gelombang kemarahan yang meluap di dadanya karena sindiran halus Salma.
Namun, ia hanya bisa menelan kekesalan itu bulat-bulat. Ia tahu betul posisi Salma di mata Papa Seno.
Di rumah itu, sejatinya hanya Salma yang merupakan darah daging Tanudjaja.
Manda merasa setiap hari ia harus berjalan di atas kulit telur demi menyenangkan Salma, sebuah kenyataan yang membuatnya muak.
Karena itulah, ia selalu menggunakan tangan orang lain untuk membuat hidup Salma menderita.
"Salma, kamu salah paham," Manda kembali memasang wajah melow yang sanggup mengundang simpati siapapun yang melihatnya.
"Aku cuma panik karena nggak mau kamu kenapa-napa. Makanya aku buru-buru pengen nyelesain masalah ini, bukan karena dengerin gosip. Kalau kamu nggak suka, ke depannya aku nggak akan ikut campur lagi. Jangan marah ya?"
Lihatlah! Mulai lagi aktingnya, batin Salma mencibir.
Manda benar-benar pantas mendapatkan piala Oscar atas kemampuan aktingnya yang bisa berubah dalam sekejap.
Jika bukan karena sudah pernah mati sekali, Salma tak akan pernah menyangka betapa busuk hati yang tersembunyi di balik wajah malaikat itu.
"Aku nggak marah, Kak. Aku cuma sedih. Aku nggak akan pernah bisa marah sama Kakak karena Kakak saudaraku, tapi pas Kakak nggak percaya sama omonganku, rasanya hatiku kayak diiris-iris. Aku peduli banget sama pendapat Kakak tentang aku," balas Salma. Akting jadi orang tertindas? Siapa takut?
Manda terpaku, tak tahu harus menjawab apa.
Biasanya Salma akan meledak-ledak karena harga dirinya yang tinggi dan tak pernah sudi menjelaskan apa pun.
Namun, sekarang? Salma terasa begitu asing. Sifat manja dan angkuhnya seolah lenyap, berganti dengan sosok yang tenang namun sulit ditebak.
Bel masuk berbunyi nyaring, memutus ketegangan di koridor.
Manda menghela napas lega; entah kenapa ia mulai merasa sedikit ngeri menghadapi Salma yang sekarang. "Ya sudah, yuk masuk kelas. Sisanya kita obrolin lagi pas pulang sekolah nanti, ya?"
Salma mengangguk kecil dan melangkah masuk ke kelas XI-7. Aksa mengikuti dari belakang. Di balik kacamata tebalnya, tatapan Aksa sempat melembut saat menatap punggung Salma.
Namun, seketika berubah menjadi sedingin es saat melirik Manda dan kelompok pemujanya.
Di dalam kelas, Melly Gunawan yang melihat Manda tampak murung segera berbisik menghasut, "Manda, tenang aja. Nanti biar aku yang kasih dia pelajaran. Berani-beraninya dia nyudutin kamu kayak tadi? Padahal dia yang salah, eh malah kamu yang minta maaf. Benar-benar nggak tahu diri."
"Melly, sudahlah. Jangan ganggu dia lagi," sahut Manda dengan senyum dipaksakan. "Sebagai kakak, aku emang harus banyak ngalah. Lagipula tadi aku emang salah karena langsung nuduh dia tanpa nanya dulu."
"Kamu itu terlalu baik! Kalau bukan karena dia tukang cari gara-gara, mana mungkin Bagas dan yang lain mau nyerang dia? Aku baru sadar ternyata Salma punya sisi licik juga ya, pakai nangis segala biar kelihatan lemah. Najis banget lihatnya," gerutu Melly.
Salma yang duduk dua baris dari mereka tiba-tiba tersentak.
Ia bisa mendengar setiap kata, bahkan bisikan paling pelan dari Melly dan Manda, seolah-olah mereka berbicara tepat di telinganya. Kenapa pendengaranku jadi setajam ini? Apakah ini efek samping dari reinkarnasi?
Salma memutuskan untuk tidak ambil pusing dulu.
Kekuatan baru ini justru akan menjadi senjatanya untuk menghancurkan Manda secara perlahan.
Ia ingin Manda kehilangan semuanya, termasuk persahabatan palsu yang ia bangun di sekolah ini.
Jam istirahat siang tiba.
Kelas XI-7 mulai sepi saat para siswa berhamburan menuju kantin sekolah yang mewah.
Salma tetap di bangkunya, fokus menyelesaikan soal matematika sulit yang tadi sempat tertunda.
"Salma, yuk ke kantin. Hari ini ada menu favoritmu, nanti keburu habis lho," suara Manda terdengar.
Salma mendongak, matanya berkilat mengejek namun bibirnya tersenyum tipis.
"Kakak duluan aja, aku mau selesein soal ini dulu."
"Barengan aja yuk, belajarnya kan bisa nanti. Makan itu lebih penting, nanti kamu sakit maag," Manda mencoba menarik tangan Salma.
Ia tak suka melihat Salma rajin; baginya, Salma harus tetap menjadi siswi peringkat bawah agar ia tetap terlihat sebagai si jenius di keluarga Tanudjaja.
"Udahlah Manda, palingan cuma akting biar kelihatan pinter. Padahal IQ-nya kan emang jongkok, mau belajar sampai botak pun nggak akan bisa nandingin kamu," celetuk Melly Gunawan yang berdiri di samping Manda.
Salma menutup bukunya dan berdiri perlahan, menatap Melly tepat di matanya.
"Aku heran, Melly. Kita ini nggak ada masalah apa-apa, kan? Kenapa mulutmu selalu pedas kalau ngomongin aku? Apa karena hidupku terlalu sempurna sampai kamu merasa rendah diri? Atau karena wajahku terlalu cantik sampai kamu iri?"
Salma maju selangkah, menekan tensi. "Ada orang bijak bilang, wajah iri itu adalah wajah paling buruk di dunia. Melly, kamu udah ngaca belum hari ini?"
Wajah Melly merah padam.
"Kurang ajar!" teriaknya sambil mengayunkan tangan hendak menampar Salma.
Manda berpura-pura panik dan mencoba melerai.
Namun ia justru sengaja membiarkan dirinya "terdorong" mundur agar bisa menonton Salma dipukuli.
Namun, kenyataannya justru terbalik. Sebelum telapak tangan Melly mendarat di pipinya, Salma dengan sigap menangkap pergelangan tangan Melly.
Cengkeraman Salma begitu kuat. Melly memekik kesakitan, merasa tulang pergelangan tangannya seperti akan remuk. "Aduh! Sakit! Lepasin, Salma!"
"Sakit? Wah, pinter banget ya kamu fitnah orang. Cewek lemah kayak aku mana mungkin bisa nyakitin kamu?" Salma memasang wajah polos. "Melly, selain jago menghasut, ternyata kamu jago juga ya akting jadi korban."
Salma menoleh ke arah Manda dengan mata berkaca-kaca. "Kak, lihat tuh temen Kakak. Dia yang mau mukul aku duluan, pas aku tangkis malah dia yang teriak-teriak nuding aku."
Manda tercengang.
Ia tahu Melly tidak berbohong soal rasa sakitnya, tapi ia tak mengerti darimana Salma mendapatkan kekuatan sebesar itu.
"Salma, lepasin dulu. Mungkin kamu nggak sengaja nariknya terlalu kencang."
Salma melepaskan tangan Melly dengan santai, lalu cemberut seperti anak kecil.
"Kakak selalu aja belain orang lain. Udahlah, aku males!"
Salma menyambar tempat makannya dan berjalan keluar kelas dengan langkah menghentak, meninggalkan Manda dan Melly yang masih syok.
Salma tidak pergi ke kantin.
Ia tahu di sana pasti penuh dengan pemuja Manda yang siap mencibirnya.
Ia lebih memilih pergi ke taman belakang sekolah yang sepi. Ada satu bagian tembok yang agak rendah di sana, tempat ia biasanya membolos dulu.
Namun, saat sampai di sana, ia justru menemukan sosok yang sangat ia kenali sedang bersandar di bawah pohon rindang.
Aksa Abhimana.
"Lho, Aksa? Kok kamu di sini?" tanya Salma heran.
Aksa tampak agak kikuk.
"A-aku tadi lihat kamu jalan ke sini, jadi aku ikutin... takut kamu kenapa-napa."
Salma curiga. Jalannya tadi benar-benar memutar untuk menghindari orang, bagaimana mungkin Aksa bisa tahu? Namun, ia segera menepis pikiran itu. Ia sangat mempercayai Aksa.
"Ini," Aksa menyodorkan sebuah kotak bekal dengan motif kartun lucu di atasnya.
"K-kamu belum makan siang kan? Aku tadi sempet beli di kantin buat kamu."
Salma tertegun melihat menu di dalamnya, semuanya adalah makanan kesukaannya. "Makasih ya, Aksa."
Mereka duduk berdua di bawah pohon. Salma makan dengan lahap, sementara Aksa memperhatikannya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh kasih.
Sesuatu yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
"Hahaha, oke deh Aksa. Pokoknya kalau ada yang berani ganggu kamu lagi, bilang aku ya."
"Aku yang bakal lindungin kamu!" seru Salma penuh semangat.
"Iya, makasih ya," sahut Aksa.
Dalam hati, ia berjanji sebaliknya. Kamu boleh tetap polos, Salma.
Biar aku yang menjadi pedangmu di kegelapan. Siapapun yang menyakitimu, akan kubalas sepuluh kali lipat.
Saat mereka asyik mengobrol, Salma tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang mengintai.
Benar saja, di balik semak-semak tak jauh dari sana, ia melihat Melly Gunawan sedang merekam mereka dengan ponselnya.
Salma tersenyum dingin.
Ia berpamitan pada Aksa dan sengaja berjalan ke arah tempat persembunyian Melly.
Melly yang panik mencoba melarikan diri, namun Salma sudah lebih dulu muncul di depannya bak hantu.
"Keluarin ponselnya," tuntut Salma tanpa ekspresi.
"Maksudmu apa? Jangan mentang-mentang kamu anak Tanudjaja, kamu bisa seenaknya ya!" Melly mencoba menggertak.
Salma langsung menyambar ponsel Melly dari tangannya.
Dengan kekuatannya yang luar biasa, Melly tak berkutik.
Salma membuka galeri dan memutar video rekamannya dengan Aksa tadi.
"Wah, jadi kamu punya hobi jadi pengintip ya, Melly?"
"Menurutmu, kalau video ini dan laporan tentang kamu yang suka menguntit privasi orang sampai ke meja Kepala Sekolah, apa yang bakal terjadi sama reputasi keluarga Gunawan?"
Melly gemetar hebat.
Ia tahu posisi keluarga Tanudjaja di sekolah ini sangat kuat. "Salma, aku... aku cuma bercanda. Tolong jangan laporin aku, aku mohon!"
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️