Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semesta Bertindak
Sejak hari itu—sejak Tafana pergi dengan sumpah yang terucap tanpa teriak—hidup Ravindra dan Yunika mendadak seperti sinetron yang salah jadwal.
Pertemuan pertama setelahnya kacau karena hujan. Bukan hujan romantis. Bukan gerimis manja. Tapi hujan Jakarta yang turun seperti dendam lama.
“Astaga, ini kafe outdoor kenapa nggak punya atap sih?” Yunika menjerit sambil berdiri, tasnya sudah basah setengah.
Ravindra menahan payung yang jelas kalah wibawa. “Ramalan cuaca bilang cerah.”
“Ramalan cuaca juga sering mengkhianati fakta,” gerutu Yunika.
Mereka pulang tanpa sempat menyentuh kopi.
-oOo-
Pertemuan kedua, lebih niat. Lokasi dipindah. Jam disesuaikan. Tapi baru setengah jalan, mobil Ravindra berhenti mendadak.
“Ada apa?” Yunika mencondongkan badan.
“Pohon tumbang,” jawab Ravindra pelan.
Benar saja. Sebatang pohon besar melintang manis di tengah jalan, lengkap dengan garis polisi dan warga yang sibuk merekam.
Yunika tertawa kering. “Ini… kebetulan kan?”
Ravindra tak menjawab.
-oOo-
Percobaan ketiga akhirnya berhasil. Yunika sampai di rumah Ravindra. Tanpa hujan. Tanpa pohon. Tanpa gangguan.
Mereka duduk di sofa. Dekat. Terlalu dekat.
Yunika menyandarkan kepala di bahunya, tangannya menjalar pelan. “Akhirnya.”
Ravindra menelan ludah. Tidak ada reaksi dari tubuhnya. Gelora yang biasanya datang, kini tidak muncul.
Ia memejamkan mata. Menarik napas. Tetap tidak ada.
“Kenapa?” Yunika mendongak, suaranya berubah waspada.
“Capek, mungkin,” Ravindra berdalih.
Yunika menyilangkan tangan. “Capek sama aku?”
Ravindra bangkit, gelisah. “Enggak. Aku juga bingung.”
Sunyi menggantung. Tidak sensual, jauh dari romantis. Canggung.
Yunika menatap langit-langit, lalu terkekeh pelan. “Jangan-jangan…”
“Jangan-jangan apa?” Ravindra menoleh.
“Ucapan Tafana,” kata Yunika lirih. “Yang dia bilang semesta nggak bakal merestui kita.”
Ravindra terdiam terlalu lama.
Yunika tertawa, kali ini tanpa humor. “Lucu ya. Kita nggak percaya karma… sampai hidup mulai bercanda berlebihan.”
Di luar, angin berdesir. Entah dari mana, daun kering menempel di kaca jendela.
Dan untuk pertama kalinya, Ravindra merasa: mungkin ini bukan kebetulan.
-oOo-
Siang itu mereka sepakat bertemu lagi di akhir pekan. Jam aman, lokasi sudah disusun matang.
“Pokoknya jangan outdoor,” kata Yunika di telepon. “Aku trauma sama hujan.”
“Tenang,” jawab Ravindra. “Aku pilih kafe indoor. AC dingin. Aman.”
Kafe pertama.
Parkiran penuh, bahkan berjejer sampai trotoar.
Yunika melongok dari balik kacamata hitam. “Ini lagi diskon apa?”
Ravindra turun, masuk sebentar, lalu kembali dengan wajah tak percaya. “Waiting list dua jam.”
“Dua jam?” Yunika mendengus. “Oke, next.”
Kafe kedua.
Begitu masuk, seorang staf langsung mendekat, senyumnya profesional tapi kaku.
“Maaf, Pak. Hari ini full reservation untuk satu hari penuh. Ada tamu penting.”
Yunika menoleh cepat ke Ravindra. “Tamu penting siapa sampai seharian?”
Ravindra mengangkat bahu. “Entah pejabat, atau influencer.”
Mereka keluar lagi.
Kafe ketiga.
Pintu terkunci. Lampu mati. Tempelan kertas di kaca bertuliskan: "Mohon maaf. Libur mendadak."
Yunika tertawa pendek, kali ini benar-benar terdengar lelah. “Ini… statistiknya kecil banget nggak sih?”
Ravindra menyandarkan punggung ke mobil. “Tiga kafe berturut-turut, di jam makan siang.”
“Semesta kerja lembur ya,” gumam Yunika.
Mereka akhirnya duduk di dalam mobil, mesin mati, AC menyala. Sunyi aneh menyusup.
Yunika menatap Ravindra lama. “Kamu kenapa belakangan kayak menjauh?”
“Aku nggak menjauh,” Ravindra refleks. Lalu terdiam. “Aku cuma… bingung sama diri sendiri.”
“Bingung apa?”
Ravindra menghela napas. “Aku sayang kamu. Aku nyaman. Tapi soal yang lain…” Ia mengusap wajah. “Aku nggak ngerasa seperti dulu.”
Yunika menegang. “Maksud kamu?”
“Hasratku ke kamu... entah kemana,” katanya jujur. “Aku bahkan takut mikir ke depan. Kalau kita nikah nanti, terus aku tetap begini—”
“Jadi kamu percaya ini kutukan?” Yunika memotong.
Ravindra menatap kemudi. “Aku nggak percaya… tapi aku juga nggak bisa jelasin.”
Yunika terdiam lama, lalu berkata pelan, “Kata orang, doa orang tersakiti itu cepat terkabul.”
Kalimat itu keluar seperti kunci.
"Kalau begitu kita pulang, aku antar kamu dulu," Ravindra menjalankan kembali mobil menuju ke kediaman Yunika.
Dalam perjalanan pulang, Ravindra termenung. Wajah Tafana terlintas. Tenang, dingin, tidak mengutuk, tapi juga tidak memaafkan.
Di garasi rumahnya, mobil berhenti. Ravindra duduk di mobil lebih lama dari yang ia sadari. Mesin sudah mati.
Ia tidak membuka ponsel, tidak menyalakan apa pun. Malam itu tidak ada yang ingin ia kejar. Tidak ada rencana cadangan. Ia hanya duduk, menunggu sesuatu yang tidak datang.
Ravindra menyandarkan kepala ke kursi mobil.
Untuk sesaat, ada pikiran yang muncul. Mengganggu dan tidak menyenangkan.
Kalau Tafana tidak sedingin itu, mungkin semua ini tidak akan sejauh ini.
Pikiran itu membuat dadanya terasa lebih ringan… lalu justru lebih kotor.
Aku sudah berusaha, katanya pada dirinya sendiri.
Tidak sempurna, tapi berusaha.
Bukankah hubungan memang selalu rumit?
Namun nama Tafana tetap tidak pergi. Bukan karena ia marah. Tapi karena Ravindra tahu, dalam diam itu, Tafana tidak menunggu apa pun lagi darinya.
“Aku harus minta maaf ke dia,” katanya akhirnya.
Bukan karena yakin dimaafkan. Tapi karena ia tak sanggup terus berpura-pura semua ini bukan salahnya.
Dan saat itu pula Ravindra sadar: ada harga yang belum ia bayar.
-oOo-
Pagi di rumah itu datang tanpa tergesa.
Tafana bangun saat cahaya matahari menyelinap lewat sela tirai tipis. Udara masih sejuk. Tidak ada suara kendaraan terlalu dekat, hanya kicau burung dan desau dedaunan dari taman kecil di depan rumah. Ia berjalan ke dapur dengan rambut masih tergerai, mengenakan kaus longgar dan celana rumah.
Ia membuat sarapan sederhana. Telur dadar, roti panggang, keju, kopi hitam. Tidak istimewa, tapi cukup. Ia makan di dekat jendela, piring di pangkuan, pandangan jatuh ke taman yang tertata rapi. Rumput hijau, semak berbunga, dan bangku kayu yang tampak jarang diduduki. Tenang. Tidak ada yang menuntutnya bicara. Tidak ada yang menunggu penjelasan.
Setelahnya, ia bersiap ke butik.
Di sana, Tafana kembali menjadi dirinya sendiri. Ia duduk di meja kerja, sketsa-sketsa terbentang. Tangannya bergerak pasti, garis demi garis lahir tanpa ragu. Ia berdiskusi dengan penjahit, memeriksa jahitan, merapikan detail. Sesekali ia mengernyit, lalu mengangguk puas. Kesibukan itu tidak melelahkan, justru mengisi. Ada kepuasan kecil saat melihat rancangannya mulai mengambil bentuk nyata.
Sore menjelang, ia pulang dengan kepala ringan.
Malam di rumah itu sunyi, tapi bukan sunyi yang menekan. Tafana menyalakan TV, lalu beralih ke laptop. Ia membuka film acak, mengunyah camilan dari mangkuk kecil. Di satu adegan horor, ia sempat tersenyum miring, teringat dulu Ravindra selalu menutup mata setengah, pura-pura berani.
Tangannya berhenti sebentar. Lalu ia melanjutkan menonton.
Saat meraih camilan lain, ia menyadari itu merek yang dulu sering Ravindra belikan. Ingatan itu datang singkat, seperti kilatan lampu di jalan gelap. Tidak menyakitkan. Tidak hangat juga. Hanya ada.
Ia tidak merindukannya lagi.
Yang tersisa hanyalah pemahaman tenang: sesuatu sudah selesai. Bukan karena ia kuat, tapi karena ia sudah terlalu kecewa untuk berharap ulang.
Tafana mematikan layar, mencuci mangkuk, lalu berjalan ke kamar. Ia berbaring, memandangi langit-langit sejenak.
Di rumah itu, sendirian, ia merasa utuh.
-oOo-
Ravindra mulai mencarinya dengan cara paling sederhana: bertanya.
Ia mendatangi apartemen Darren sore itu, berdiri di depan pintu dengan raut wajah ragu yang jarang ia bawa. Darren membuka pintu setengah, cukup untuk melihat siapa yang datang, lalu menyandarkan bahu di kusen.
“Dia di mana?” Ravindra langsung ke inti.
Darren mengangkat alis. “Siapa?”
“Kakakmu,” jawab Ravindra, suaranya menahan kesal. “Tafana.”
“Oh,” Darren tersenyum tipis. “Nggak tahu.”
“Kamu bohong.”
“Terus?” Darren mengangkat bahu. “Lo nggak punya hak lagi buat nuntut jawaban.”
Ravindra menatapnya lama, mencoba mencari celah. Tidak ada. Wajah Darren santai, tapi matanya dingin. Pintu ditutup pelan di depan hidungnya.
-oOo-
Esoknya, Ravindra datang ke butik Sierra.
Sierra sedang berdiri di antara rak kain, memeriksa warna. Begitu melihat Ravindra, senyumnya—jika bisa disebut begitu—langsung menghilang.
“Aku mau ketemu Tafana,” kata Ravindra.
Sierra menoleh sekilas, lalu kembali ke pekerjaannya. “Butik lagi sibuk.”
“Aku cuma tanya dia di mana.”
Sierra tertawa pendek, tanpa humor. “Lucu. Waktu lo hilang, lo nggak kepikiran dia di mana, kan?”
Ravindra terdiam.
“Sekarang giliran lo,” lanjut Sierra dingin. “Ngerasain ditinggal tanpa alamat.”
Ia berbalik, memanggil stafnya, dan berjalan menjauh seolah Ravindra tidak pernah berdiri di sana.
Di mobil, Ravindra mencoba menghubungi Tafana. Nada sambung terdengar, lalu terputus. Ia menatap layar ponselnya, memastikan.
Diblokir.
Pesan-pesan lamanya tak terkirim. Foto profilnya menghilang. Seolah Tafana dengan sengaja menghapus dirinya dari satu-satunya jalur yang masih tersisa.
Hari-hari berikutnya berjalan pincang. Tidak ada lagi pesan singkat yang dibalas. Tidak ada kabar samar. Tafana benar-benar menghilang, rapi, tanpa jejak.
Pada akhirnya, Ravindra hanya bisa duduk di ruang kerjanya, menatap kalender.
Sidang cerai.
Tanggal itu satu-satunya kepastian. Satu-satunya tempat di mana, mau tidak mau, mereka akan bertemu lagi.
Ia menghela napas panjang.
Baiklah, pikirnya pahit. Kalau itu satu-satunya cara. Ia akan menunggu.
batu kali kau dapatkan
yang kamu pilih malah obralan, padahal ada yang eksklusif
yang katanya sahabat tapi menusuk s
dari belakang 😓😓