NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Rumahhantu / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu
Popularitas:22.5k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 002 : Labirin Kematian [Beelitz-Heilstätten]~Jerman Dark Story #2

Lampu neon di langit-langit kamar perawatan intensif itu berdengung rendah, suaranya terdengar seperti ribuan serangga yang terjepit di balik kaca.

Cahaya putih pucat itu berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan efek stroboskopik yang membuat setiap gerakan di ruangan itu tampak patah-patah.

Rachel melangkah mendekat ke arah ranjang tempat Klaus terbaring. Tubuh pria itu tampak sangat ringkih, hampir tenggelam di balik selimut putih yang kaku dan berbagai selang medis yang menjalar seperti tentakel di sekujur tubuhnya.

Rachel berdiri diam selama beberapa saat. Ia bisa merasakan sisa-sisa energi dingin yang tertinggal di ruangan ini—jejak dari sesuatu yang sangat jahat yang baru saja pergi.

 Dengan perlahan, ia mengulurkan tangannya, menyentuh kening Klaus yang sedingin es. Rachel memejamkan kedua matanya, memusatkan seluruh konsentrasinya pada sentuhan itu.

Seketika, Albert dan Barend muncul di sampingnya. Kedua hantu cilik Belanda itu tampak sangat tidak nyaman.

Wajah mereka yang biasanya pucat kini makin memutih, menatap ngeri ke arah raga Klaus yang seolah-olah dilingkari rantai ghaib yang tak terlihat.

 Mereka berdua ikut mengulurkan tangan, menyentuh tangan Rachel yang berada di kening Klaus.

Begitu koneksi itu terbentuk, penglihatan batin Rachel tersedot ke sebuah dimensi yang asing.

Ia tidak lagi berada di rumah sakit. Di sekelilingnya hanya ada kabut. Kabut hitam yang sangat tebal, pekat, dan seolah tidak memiliki ujung.

 Rachel mencoba melangkah maju, namun setiap kali ia menembus lapisan kabut, ia hanya menemukan kegelapan yang lebih pekat lagi.

"Bukankah kabutnya tebal sekali?" tanya Albert pada Rachel. Suaranya bergema di alam bawah sadar mereka, terdengar sangat serius.

Rachel tidak menjawab secara lisan, namun batinnya membenarkan. Di alam ini, ia tidak melihat apa pun kecuali kepekatan yang menyesakkan dada.

 Tiba-tiba, dari balik kabut itu terdengar suara geraman rendah yang sangat berat—seperti suara gesekan tulang yang dipaksa bergerak di atas lantai beton.

Grrrr... chrrkk...

"Dia ada di sana!" ujar Albert lagi.

Jari kecilnya menunjuk ke arah gumpalan asap hitam yang bergerak-gerak di kejauhan. Barend merapatkan tubuhnya ke lengan Rachel. Sejujurnya, ia sangat takut.

Di balik kabut itu, ia bisa merasakan kehadiran sosok-sosok tinggi besar yang bersembunyi.

 Bayangan-bayangan menjulang itu bergerak cepat di antara kabut, sesekali mengeluarkan suara-suara parau dalam bahasa Jerman kuno yang kasar.

"Verschwinde von hier... er gehört uns..."

 Rachel mengernyitkan dahi. Ia tidak mengerti apa yang mereka katakan, namun nada suaranya penuh dengan ancaman dan kebencian yang murni.

"Jadi, ini sebenarnya kabut apa?" tanya Rachel pada mereka berdua dalam batinnya.

"Tidak akan bisa ditembus, Rachel. Koneksinya terlalu jauh," jelas Albert.

"Jika kau ingin menjumpai pembawa jantung Klaus, maka kau harus pergi ke tempat itu! Kita tidak bisa memutusnya dari sini."

Barend menarik-narik jaket Rachel, matanya melirik ketakutan ke arah bayangan tinggi yang mulai mendekat di balik kabut hitam itu.

 "Ayo keluar, Rachel. Mereka melihat kita. Mereka besar-besar sekali di sini... aku tidak suka tempat ini."

Rachel merasakan getaran hebat pada jimat zamrud di lehernya. Sebelum ia melepaskan tautan, ia merasakan kehadiran lain di sampingnya.

Rara. Wanita yang selalu tampak bimbang karena ingatannya yang hilang itu kini berdiri dengan tatapan kosong namun tajam. Rara ikut meletakkan tangannya di atas tangan Rachel.

Seketika, penglihatan Rachel menjadi sedikit lebih luas, namun apa yang dilihat Rara pun sama.

 "Rachel... tidak ada jalan. Gelap sekali," bisik Rara pelan.

 Rara mencoba menyapu kabut itu dengan sisa kekuatannya, namun kabut hitam itu justru menggulung balik seolah-olah memiliki nyawa dan menolak untuk disingkap.

Rachel membuka matanya dengan sentakan kuat.

"Hah!" pekik Rachel.

Ia terengah-engah, menarik tangannya dari kening Klaus seolah baru saja menyentuh bara api. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

Rara juga tampak tersentak di sampingnya, wajahnya pucat pasi sambil memegangi dadanya yang sesak.

"Rachel? "What happened? What did you see?"

(Apa yang terjadi? Apa yang kau lihat?) tanya Peterson dengan nada khawatir.

Rachel mengatur napasnya sejenak, menoleh ke arah Elena yang sedang menanti jawabannya dengan tubuh gemetar di sudut ruangan.

"He is not here, Elena,"

 (Dia tidak ada di sini, Elena,) ujar Rachel dengan bahasa Inggris yang tegas.

"The Klaus you see is just an empty body. His soul and his heart are locked behind a black mist that I cannot reach from here."

(Klaus yang kau lihat ini hanyalah raga kosong. Sukma dan jantungnya terkunci di balik kabut hitam yang tidak bisa kujangkau dari sini.)

Elena menutup mulutnya, menahan isak tangis.

 "What do you mean? Is he dead?"

(Apa maksudmu? Apakah dia mati?)

"Not yet,"

(Belum,) jawab Rachel.

 "But Albert is right. We cannot help him by just staying in this hospital. The connection is too far and the mist is too thick."

(Tapi Albert benar. Kita tidak bisa menolongnya hanya dengan diam di rumah sakit ini. Koneksinya terlalu jauh dan kabutnya terlalu tebal.)

Rara mendekat ke arah Rachel, suaranya berbisik tipis, hampir tak terdengar.

"Buntu, Rachel. Semuanya cuma kabut hitam yang bergerak-gerak. Baunya... seperti mayat yang dibiarkan kehujanan."

Rachel merapikan jaketnya, matanya menatap tajam ke arah Elena.

"We must go to the place where it all started. We must go to Beelitz-Heilstätten now."

(Kita harus pergi ke tempat di mana semuanya dimulai. Kita harus ke Beelitz-Heilstätten sekarang.)

Peterson menelan ludah.

 "Rachel, it’s almost sunset. Beelitz at night is not a friendly place for the living."

(Rachel, ini hampir matahari terbenam. Beelitz di malam hari bukan tempat yang ramah bagi orang hidup.)

"They only speak in the dark, Peterson,"

 (Mereka hanya bicara di dalam gelap, Peterson,) sahut Rachel dingin.

 "Tell the others to get ready."

(Beritahu yang lain untuk bersiap.)

Cak Dika, yang sejak tadi mengawasi Rara dengan tatapan cemas, membuang puntung rokoknya yang belum sempat dinyalakan.

 "Hantu Jerman ini mainnya rapi, pakai kabut segala. Ayo, selesaikan sebelum makin gelap." ujar Marsya.

"Pram, Teguh, siapkan lampu-lampu besar!" seru Marsya sambil membenahi posisi kameranya.

"We are going to the real hell!" tambah Marsya berucap.

(Kita menuju neraka yang sebenarnya!)

Rombongan itu bergerak cepat meninggalkan rumah sakit, menembus udara Berlin yang semakin menggigit.

 Di dalam van hitam besar, suasana terasa sangat berbeda dari perjalanan-perjalanan mereka sebelumnya di Jawa.

Ada perasaan asing yang menindih, seolah-olah tanah yang mereka injak menolak kehadiran doa-doa yang biasa mereka rapalkan.

Cak Dika duduk di samping Rara, matanya tak lepas dari wajah wanita itu yang masih tampak pucat setelah mencoba menembus kabut hitam tadi. Ia mengulurkan tangan, menggenggam jemari Rara yang dingin.

 "Kamu tidak apa-apa?" tanya Cak Dika pelan.

Rara menoleh, matanya sayu namun ada ketakutan yang dalam di sana.

 "Rasanya sesak, Cak. Kabut itu... seperti ribuan tangan yang mencoba menarik kita masuk. Di Jawa, kegelapan biasanya punya bentuk. Tapi di sini, kegelapan itu terasa seperti ruang hampa yang menghisap nyawa."

Sementara itu, di barisan tengah, Pram dan Teguh sibuk dengan peralatan mereka.

"Pram, frekuensi radio kita berantakan," bisik Teguh sambil menekan-nekan tombol di walkie-talkie.

 "Dengar tidak? Ada suara statis, tapi polanya seperti detak jantung."

Pram memasang penyuara telinga, lalu mengernyitkan dahi.

"Gila... ini bukan gangguan sinyal biasa. Monitor kamera saya juga menangis, Guh. Liat ini, bayangannya flicker terus."

"Mbak Rachel!" panggil Marsya dari kursi belakang, wajahnya menempel ke kaca jendela.

"Lihat pohon-pohonnya! Kok kayak ada yang berdiri di balik batang pohon pinus itu ya? Tinggi-tinggi sekali, tapi tidak ada wajahnya!"

Rachel yang sedang duduk di samping Peterson menoleh sekilas ke luar jendela.

Di matanya, hutan pinus yang mengapit jalanan menuju Beelitz itu sudah dipenuhi oleh barisan bayangan yang berdiri tegak.

"They are the observers, Marsya. Don't look at them too long,"

(Mereka adalah pengamat, Marsya. Jangan menatap mereka terlalu lama,) ujar Rachel tenang.

Elena yang duduk di pojok van tampak menggigil.

 "We are almost there. The gate is just around this corner. Please... be careful,"

(Kita hampir sampai. Gerbangnya tepat di tikungan ini. Tolong... hati-hati,) bisiknya dengan suara bergetar.

Van itu perlahan melambat saat lampu depan menyoroti sebuah gerbang besi raksasa yang sudah berkarat dan ditumbuhi tanaman merambat yang mati membeku.

Di balik gerbang itu, bangunan bata merah Beelitz-Heilstätten berdiri angkuh. Jendela-jendelanya yang pecah tampak seperti mata hitam yang mengawasi kedatangan mereka. Begitu mesin mobil mati, kesunyian yang luar biasa langsung menyergap.

"Kita sampai," ujar Peterson pelan.

"The Sanatorium. This was the place of the silent screams,"

 (Sanatorium ini. Ini adalah tempat teriakan-teriakan dalam kesunyian.)

Mereka semua turun satu per satu. Uap napas mereka keluar tebal ke udara malam. Bangunan di depan mereka tampak seperti raksasa yang sedang tidur namun tetap waspada.

 Dinding-dindingnya yang terkelupas dan lumut kering yang menempel memberikan kesan bahwa tempat ini telah membusuk sejak lama.

"Rachel, jimatmu menyala sangat terang," bisik Bella sambil menunjuk ke leher kakaknya.

 Zamrud itu kini berdenyut kencang seolah-olah jantung Klaus sedang berada di dalamnya.

"Semuanya, tetap dalam formasi," perintah Rachel.

"Pram, Teguh, nyalakan lampu tembak. Kita butuh cahaya fisik sebanyak mungkin."

Cak Dika membantu Rara turun dari van. Namun, baru saja kaki Rara menyentuh tanah bersalju di depan pintu masuk bangunan utama, tubuhnya mendadak lemas.

"Rara!" seru Cak Dika pelan. Ia tidak panik, ia hanya sigap menahan tubuh wanita itu agar tidak terbentur keras ke lantai batu.

Rara terjatuh bersimpuh. Telapak tangannya menghantam lantai batu teras bangunan yang dingin dan lembap.

 Detik itu juga, seluruh tubuh Rara tersentak hebat. Punggungnya melengkung kaku, dan kedua bola matanya berputar ke atas hingga hanya menyisakan warna putih yang mengerikan.

Elena langsung berteriak ketakutan dan menutup mulutnya.

 "The same eyes! Klaus had the same eyes when he collapsed!"

 (Mata yang sama! Klaus memiliki mata yang sama saat dia pingsan!)

Berbeda dengan Elena, anggota keluarga Gautama yang lain tetap pada posisi mereka. Tidak ada yang bertanya "Ada apa?" atau "Kenapa dia?".

Mereka semua sudah cukup tahu bahwa Rara sedang ditarik masuk ke dalam memori tanah tersebut.

Pram dan Teguh hanya menggeser sudut kamera mereka untuk menangkap momen itu tanpa suara, sementara Peterson berdiri waspada di samping Elena untuk menenangkannya agar tidak mengganggu proses ghaib yang sedang berlangsung.

Di mata batin Rara, dunia fisik telah menghilang. Kesadarannya ditarik paksa menembus dimensi waktu. Ia tidak lagi berada di tahun 2026.

Ia ditarik masuk ke dalam titik waktu ketika Klaus ditarik ke alam sebelah. Rara melihat Klaus di sana—sedang memegang kamera dengan tangan gemetar hebat.

 Di depan Klaus, kabut hitam itu mendadak terbelah, menampakkan sosok pria tinggi dengan apron bedah yang kaku.

Rara merasakan ketakutan Klaus yang luar biasa, ia merasakan sensasi menyakitkan saat sukma Klaus dicabut paksa.

"Rachel... bantu..." suara Rara keluar, namun bukan sebagai suara manusia, melainkan suara ghaib yang berat dan parau.

Rachel segera berlutut di samping Rara, namun ia tidak menyentuh fisiknya secara langsung agar tidak merusak transmisi penglihatan itu.

 Ia hanya meletakkan tangannya beberapa sentimeter di atas bahu Rara, memberikan perlindungan energi.

"Jangan sentuh dia dulu, Cak," ujar Rachel tenang pada Cak Dika.

 "Biarkan dia melihat sampai tuntas. Dia sedang memetakan apa yang terjadi pada Klaus."

Cak Dika mengangguk, ia tetap memegangi lengan Rara agar posisinya stabil, matanya menatap tajam ke arah pintu bangunan yang gelap di depan mereka.

Di tengah kegelapan Beelitz yang mencekam, Rara terus mengerang di bawah tarikan visi maut itu.

Tepat saat itu, dari dalam bangunan tua yang seharusnya kosong, suara langkah kaki sepatu bot yang berat mulai terdengar.

Tap... tap... tap...

 Suara itu bergema di lorong utama, bergerak lambat namun pasti menuju ke arah mereka yang sedang berada di teras depan.

 Seolah-olah "Sang Ahli Bedah" sedang datang untuk menjemput pasien barunya yang sudah menunggu di depan pintu.

1
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok di lawan🤣🤣
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Yang lagi takut kenapa napa dengan Rachel ini🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
apa yang dibilang Rachel sangat benar banget lho
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
cieee Adio berani jujur tidak kamu nantinya 😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Untung Rachel selamat. semoga nanti bisa bertemu lagi dengan Thoriq kamu
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
tak bisa membayangkan lagi aku, serem banget 🤭🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kamu sangat luar biasa, jiwamu sangat pemberani 👍👍
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Sabar Marsya, kamu harus kuat supaya misi kalian bisa terselesaikan
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
haduuuh dimakan apa ini maksudnya
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
menyeramkan tapi bikin penasaran ingin tahu 😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
uhuk uhuk uhuk .. cie cie cie 🤣🤣
Ela Jutek
ikut petualangan lagi nie
Ela Jutek: ngokeh deh😉
total 4 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Nah baru tahu kan kamu😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Semoga Rachel berhasil mengembalikan sukma klaus ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ayo Marsya senangat bermain cantik juga ya😁😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Hantu luar negeri bikin tambah penasaran kan🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Dio dapat lampu hijau tuh, gass lah😉
Lexy¹⁰⁵
meskipun di roma, hal serem tetap ada
Lexy¹⁰⁵
merinding disko bacanya
Dony ¹⁰4
lanjut thor, semangat buatmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!