Nathan menjadi duda setelah menikah untuk ke dua puluh kalinya. Semuanya berakhir di saat malam pertamanya. Dia tak bisa melakukan kewajibannya pada istrinya hingga membuatnya mendadak untuk kesekian kalinya.
Jovita seorang gadis yang menikah dengan Deon karena suatu perjodohan dan tanpa ikatan cinta di antara mereka. Di malam pertamanya setelah menikah, Deon bersama wanita lain untuk menghabiskan malamnya.
Karena sering diabaikan oleh Deon, Jovita akhirnya mencari kesenangan sendiri. Secara tak sengaja dia bertemu dengan Nathan.
Awalnya hubungan mereka hanya teman biasa. Namun Nathan menaruh rasa pada Jovita yang mempunyai paras mirip seperti Cinta Pertamanya yang telah meninggal.
Bagaimanakah kelanjutan kisah cinta mereka? Apakah mereka bisa bersatu atau hanya sekedar menjadi teman saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ruby kejora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 30 Tersandung
Jovi dan Nathan turun dari mobil dan berjalan masuk ke taman. Taman yang mereka kunjungi terlihat segar karena banyaknya hijau-hijauan yang tumbuh di sana, selain itu terlihat menawan dengan aneka bunga yang tumbuh berwarna-warni di sepanjang jalan masuk taman.
“Sebaiknya kita duduk di sana saja.” Nathan menunjuk sebuah gazebo, satu dari beberapa Gazebo yang ada di taman itu yang terletak di beberapa titik taman. “Ya, boleh.” Jovi berjalan menuju gazebo yang ditunjuk oleh Nathan.
“Di sini tak ada kios atau sejenis nya yang menjual minuman atau camilan.” Nathan melihat tugas sekitar dan tak ada penjual sama sekali di sana.
Di depan pintu masuk taman bunga tertulis sebuah aturan jika semua pedagang maupun penjual dilarang berjualan di area taman bunga. Hal itu dikarenakan Pemda setempat ingin menjaga kawasan taman bunga itu tetap segar dan bersih dari sampah-sampah yang di hasilkan oleh para penjual.
“Jika kau haus aku akan keluar sebentar ke swalayan atau minimarket yang ada di sekitar sini untuk membeli minuman.” Nathan kembali menawarkan pada Jovi. “Tak perlu kak, aku tidak tahu ataupun lapar. Aku hanya butuh udara segar saja.” Jovi menolak tawaran Nathan karena ia masih kenyang setelah minum susu tiramisu di cafe Rockstar tadi.
Angin berhembus lembut di sore hari menerpa rambut panjang Jovi.
“Segarnya di sini.” Jovi tersenyum kecil merasakan udara dingin yang menyisipkan rambutnya. “Gadis ini... hanya karena angin saja ia terlihat senang seperti itu. Sungguh hiburan yang murah sekali.” Nathan menatap Jovi yang masih menikmati angin yang berhembus di sekitar mereka.
Jovi yang sama sekali tidak mengetahui siapa Nathan, di mana tempat tinggalnya atau apa statusnya menjadi penasaran dengan pria yang duduk di depannya.
“Aku tidak tahu kenapa dua kali aku dipertemukan dengan pria ini dan... dia juga tidak sudah membantuku dua kali.” Jovi menatap Nathan yang sedang menikmati pemandangan di sekitar mereka. “Entah ini takdir atau apa... aku merasa ada alasan kenapa aku dipertemukan dengan pria ini.” Jovi seketika mengalihkan pandangan saat Nathan menatapnya.
“Kakak Nathan tinggal di mana ?” tanya Jovi tiba-tiba untuk memecah kesunyian di antara mereka berdua. “Aku tinggal di kawasan Menteng.” jawab Nathan. “Aku kira tinggal di kawasan cempaka juga karena mengetahui tempat-tempat di sini.” lanjut Jovi masih penasaran pada pria misterius yang menyelamatkan dirinya.
“Tidak, teman ku dulu sering mengajak ku main kemari.” Nathan mulai terlihat senang karena Jovi sudah mau membuka dirinya dan mengajaknya mengobrol. “Jadi kakak kerja. Kakak kerja dimana ?”
“Bukannya aku sudah memberikan kartu namaku padamu ? Di sana tercantum nama perusahaan ku.” Nathan tidak menjawabnya dan memang sengaja berkata demikian karena ia ingin Jovi mengingatnya setelah gadis itu membaca profilnya di kartu nama yang ia berikan.
“Ahh... ya...” Jovi menjawab singkat namun dalam hati ia mengumpat kenapa pria itu tak mau memberitahunya dan ia menyesal sudah menanyakan itu padanya.
Satu jam berlalu dan suasana di antara mereka sudah terlihat tidak kaku ataupun tegang lagi. Mereka bisa mengobrol santai.
“Jam berapa ini ?” Jovi melihat langit yang sudah tampak gelap dan lampu-lampu berwarna-warni di sepanjang taman mulai menyala. “Sepertinya sudah malam.” melirik jam yang melingkar di tangannya yang menunjukkan jika waktu sudah menunjukkan pukul 19.00.
“Kak bagaimana jika kita pulang saja karena aku sudah lama berada di luar.” Jovi merasa sudah waktunya baginya untuk pulang ke rumah. Ia juga khawatir Deon sudah sampai di villa duluan. “Baiklah. Ayo kita pulang sekarang.” Deon ketika berdiri dan turun dari gazebo.
“Argh...” Jovi yang berjalan terburuk dan menuruni anak tangga gazebo jatuh terpeleset.
“Hati-hati jika jalan. Tak perlu buru-buru.” Nathan dengan sigap menangkap tubuh Jovi sebelum benar-benar mendarat di tanah.
Kedua mata mereka beradu dan saling menatap.