Jasmin Renata Luis, wanita cantik, mandiri dan tangguh, di usia yang baru 22 tahun, dia sudah terbiasa hidup susah setelah kematian kedua orang tuanya. Membanting tulang setiap harinya demi menghidupi kebutuhannya dan ke tiga anak kembarnya, Rio Putra Luis, Reno Putra Luis, dan si cantik Riana Putri Luis.
Memiliki Triple bagi Jasmin adalah anugrah yang di kirim Tuhan untuknya, Triple sek olah-olah di kirim untuk menjadi pengganti kedua orang tuanya. Dia selalu menikmati semua moment berharga bersama ke tiga buah hatinya setiap hari.
Ya akibat perbuatan yang di lakukan oleh lelaki yang dia sendiri tidak tau itu membuahkan hasil tiga malaikat bayi-bayi kecil yang tak berdosa, yang tumbuh menjadi anak-anak cerdas, suka menolong dan genius. Di tengah-tengah hinaan, cacian yang selalu dia terima karena hamil tanpa seorang suami dan menganggap Jasmi seorang perempuan nakal.
Akan kah triple berhasil mencari keberadaan ayahnya? dan mampukah tripel menyatukan kembali mereka nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Puspitasary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Selesai.
Sepanjang jalan menuju ruangan sang Daddy, banyak sekali karyawan yang berdiri untuk melihat secara langsung dan dekat anak Bos meraka, karena baru saja asisten Anisa mengirim foto dan nama ketiga anak Bima, pada pegawai kantor melalui pesan grub kantor atas perintah Galang. Meraka yang sedari tadi melihat ketiganya begitu gemas dan lucu karena wajah ketiga mirip sekali dengan Bima, dan kedua anak lelakinya pun sama seperti Daddy nya sama-sama tampan dan datar ucap meraka dalam hatinya. Ada juga yang menebak-nebak wajah Mommy nya pasti cantik karena kedua anak Bos nya laki-laki terlihat perpaduan antara Bos Bima dengan sang istri pikiran mereka setelah melihat wajah Reno dan Rio.
" Silahkan masuk. Ini ruangan Daddy Bima," Ucap Anisa setelah membukukan pintu dan mempersilahkan semuanya untuk masuk.
" Terima kasih Tante Anisa. Panggil aku Abang saja, dan mereke Reno dan Riana. Apa komputernya bisa di gunakan?" Ucap Abang Rio setalah melihat komputernya di ikuti kedua adiknya di belakangnya.
" Sudah bisa Abang Rio. Silahkan kalau mau di gunakan. Kalian mau minum apa biar Tante Anisa pesankan? Atau mau makan dulu," Tanya Anisa pada ketiga yang sedang mengamati ruangan Daddy nya.
" Endak ucah Tante. Tita halus kelja dulu Balu minum dan matan nanti setelah selesai cemua na," Jawab Riana mewakili kedua Abangnya.
" Baik kalua begitu. Tante ke Opa dulu, kalau butuh bilang sama Tante ya ," Ucap Anisa sebelum berjalan ke arah kanan di mana ketempat Papa Adam sedang membuka salah satu pekerjaannya.
Lalu ketiga pun menganggukkan kepalanya kompak. Sedangkan Abang Rio melihat kedua adiknya sedang berkerja dengan tangannya, di sampingnya ada Om Wili selalu di sampingnya. Dan bertapa terkejutnya Wili, melihat kemampuan Reno dan Riana, yang sedang mengerjakan sebuah sistem perusahaan terbesar di dunia, sampai sampai dia melihat ketiga wajah anak Tuan nya itu dengan teliti. Tingkah dan umurnya hanya tiup pikir Wili.
" Riana, setelah selesai ini Abang punya pekerjaan yang sudah menunggumu. Kamu boleh berperang nanti sama penjahat itu tapi kamu harus berhasil memancing seseorang untuk keluar? Dan Abang izinkan kamu memakai racun itu," Ucap Abang Rio enteng sambil duduk di belakang kedua adiknya. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Wili dan Papa Adam serta Mama Diana yang mendengar ucapan Rio barusan. Antara tidak percaya dan percaya itulah isi pikiran ketiganya.
"Wah cetuju talau itu Abang na. Liana atan menembak meleta cemua dol dol gitu," Jawab Riana dengan semangat tapi matanya fokus pada komputer di depannya.
"Cudah celesai Abang na, tinggal di cek cama Abang Lio," Kata Reno lalu turun dari kursi menuju kulkas samping mengambil air minum untuk dirinya dan kedua saudaranya tak lupa di bukakan sekali untuk sang adiknya dan langsung menyerahkan pada Riana.
" Telima kacih leno na," Ucap Riana setelah menerima minum yang di berikan oleh Reno.
" hmmm. Cudah belum Liana ? Leno cudah endak sabal beli kapal na," Tanya Reno pada Riana yang berdiri di sampingnya.
" Cudah dong? Liat ini tinggal di cek Abang duga. Lalu di kilim sama Abangnya. Nanti talau uang na udah di kilim bagi Liana na ya Leno, " Pinta Riana sambil melihat wajah Abangnya.
Baik Wili dan Papa Adam yang melihat dan mendengar ucapan mereka bertiga begitu kaget, bagaimana mungkin mereka bisa selesai mengerjakan dalan waktu setengah jam. Wili sampai berdiri di belakangnya untuk memastikan sendiri dan melihat dengan matanya sendiri.
"Endak boyeh beli beli aneh-aneh Liana tata Mommy, halus di tabung. Emang na tamu minta belapa ?" Tanya Reno pada Riana.
"Liana mau beli ayam tiken banak banak Leno na. Telus di bagi bagi di dalan sepelti biaca na Leno na, " Jawab Riana pada Reno.
"Ya nanti bila Abang Lio yang beli na. Tamu endak boleh matan itu ya? Talena Leno endak boyeh matan itu nanti Leno cakit lagi. Jadi cemua endak boyeh matan tata Mommy Dasmin," Ungkap Reno pada sang Adik.
" Beles Leno na. Tita matan bakso aja, Tan boyeh talau matan bakso. Iya tan Abang Lio," Tanya Riana pada Abang Rio di sampingnya.
"Iya nanti Abang pesankan Ayam untuk di bagikan pada anak jalanan seperti biasanya. Boleh kalau bakso Riana, yang enggak boleh yang makanan cepat saji. Kerana Reno, tidak bisa memakan makanan itu, jadi kita juga enggak usah makan itu ya? Kasih Reno, nanti sedih mau makanan seperti punya Riana, tapi kan enggak boleh. Jadi biar adil dan biar Reno, tidak sedih kita semua makan bakso aja ya, " Jelas Abang Rio panjang lebar pada Riana.
"Ciap Abang na. Dangan khawatir ya Leno, nanti kita matan matan yang bica buat Leno juga," Ujar Riana dengan semangat.
" Ini udah selesai dan sudah di kirim uangnya sama meraka. Abang sudah membayar kapal pesiar mu Reno, harganya 25 triliun sepertinya kamu dapat potongan? untuk berkas-berkasnya sudah Abang kirim ke Daddy biar Daddy saja yang mengurusnya aku males," Ucap Abang Rio sambil menunjukkan bukti pembayaran dan foto kapalnya.
"Apa tamu di warna pink Liana na? Talau mau nanti Leno na bilang cama Om Galang," Tanya Reno pada Riana yang melihat gambar-gambar kapalnya.
"Endak ucah itu punya Leno? Nanti Liana beli sendiri aja, telus di walna pink na," Jawab Riana tapi matanya fokus pada foto kapal.
" Itu tapal cama cama Laina!!! Leno tau itu tapal impian Liana tan," Ujar Reno pada Riana.
" Matacih Leno na. Sayang banak banak cama Leno na," Ucap Riana sambil memeluk Reno dan tak lupa mengajak Abang Rio juga.
Keempat orang dewasa yang menyaksikan dan mendengar semua pembicaraan ketiga begitu terharu dan bangga, ketiga memang di didik untuk saling menyayangi, membantu, menolong, dan melengkapi. Di usia yang masih kecil tapi pikirannya sudah saat dewasa. Papa Adam dan Mama Diana, begitu bangga dan kagum dengan cara mendidik Jasmin, Papa Adam akui bila Jasmin, benar benar berhasil mendidik dan membesarkan ketiga cucunya.
" Opa bisa suruh Daddy segera kesini. Meraka semua sedang bergerak mendekat ke arah kita Opa? Kita harus menyelesaikan semuanya sesegera mungkin," Pinta Abang Rio setelah di hadapan sang Opa denga tatapan memohon.
" Apa Om Wili mau berpetualang denganku? Aku ingin kita berdua menceburkan diri pada Meraka. Tak usah khawatir mereka datang tanpa persiapan, sedang kita menyambut dengan rencana yang cukup tidak terlalu buruk lah, " Ucap Abang Rio melihat ke arah Om Wili.
"Itu terlalu bahaya sayang. Opa tidak akan mengizinkan kamu melakukan itu," Ucap Opa Adam. Yang kaget dengan ucapan Abang Rio barusan.