Warning 21+!! mengandung banyak adegan dewasa dan kekerasan.
Deva Ghazanvar, seorang pria dewasa berusia 30 tahun. Seorang Mafia berdarah dingin, harus membalaskan dendam pada keluarga Darian Emery. Hingga pembantaian pun terjadi, dan hanya menyisakan Putri semata wayang dari keluarga Emery, Davina Emery.
Demi pembalasan dan kepuasannya sendiri, Deva menikahi Davina, membuat wanita itu mati secara perlahan di tangannya.
Bagaimanakah cara Deva, menekan istrinya secara perlahan menuju jurang kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arandiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu dari Anakku
Selamat membaca ...
...****************...
Kini Deva sudah siap dengan setelan jas kerja miliknya, sambil menunggu Davina di bawah sana. Tak butuh waktu lama, kini Davina sudah datang sambil menuruni satu persatu anak tangga tersebut.
Davina seolah menyihir pandangan Deva, hingga membuat pria itu tak mau mengedipkan matanya. Dress warna merah selutut dengan seutas benang di bahunya, membuat Deva terkagum-kagum dengan wanita yang kini sudah menjadi istrinya tersebut.
“Deva, ayo berangkat,” ucap Davina yang berdiri tepat di hadapan suaminya. Bukannya menjawab, Deva malah mengecup leher Davina, hingga membuat wanita itu terkejut dengan apa yang Deva lakukan.
“Deva, cepat lepaskan aku, ada orang di sini,” ucap Davina berusaha mendorong Deva, tapi pria itu semakin menguatkan ciumannya, bahkan pria itu memberikan banyak tanda kepemilikan dileher indah milik Davina.
“Memang kenapa jika ada orang?” tanya Deva dengan santai setelah selesai dengan permainannya, membuat Davina menghela napasnya panjang, tanpa berniat menjawab pertanyaan konyol dari pria yang ada di hadapannya tersebut.
“Kau memang pria paling gila yang pernah aku temui,” gumam Davina malas tapi masih bisa terdengar oleh Deva.
“Aku hanya ingin memberi peringatan pada mata yang mampu melihatmu dengan tatapan laparnya, bahwa kau adalah milikku. Aku juga hanya ingin menjaga kewarasan ku, agar aku tidak gila saat ada yang memuja mu di depan mataku,” ucap Deva dengan datar.
...----------------...
Setelah cukup puas berciuman panas sebelum pergi, akhirnya mereka sudah berangkat menuju perusahan Deva. Davina yang baru saja keluar, setelah sekian lama di kurung di sangkar emas milik Deva, akhirnya bisa melihat indahnya kota di siang hari.
Deva sesekali melirik ke arah istrinya yang terus mengamati jalanan kota, hingga seulas senyuman tipis tergambar dengan samar, yang tak mampu bagi siapapun untuk melihatnya.
“Deva, bolehkan kita nanti makan siang di luar?” tanya Davina tanpa melihat ke arah Deva sedikit pun.
“Apa begitu cara saat berbicara?” bukan menjawab, Deva malah bertanya balik, karena kesal seperti di abaikan oleh wanita itu.
“Apa aku juga harus mengulangi ucapan ku barusan?” tanya Davina dengan menampilkan wajah polosnya.
“Heh! Kau sudah semakin pintar membuat ku kesal, karena kau sudah punya penangkalnya,” ucap Deva sambil melirik ke arah perut Davina.
“Aku juga tahu, kau selalu berburuk sangka padaku, hingga menuduh ku menggunakan anakmu ini,” ucap Davina sarkas.
“Kita akan makan siang di Restoran dekat kantor saja,” ucap Deva memutuskan percakapan mereka yang selalu penuh dengan perdebatan, yang tidak ada ujungnya.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sudah sampai di perusahaan Deva. Mereka berjalan layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai. Tak jarang ada yang memuji kecantikan Davina, membuat Deva merasa tak nyaman dengan tatapan orang-orang pada istrinya.
Banyak para karyawan Deva baik pria maupun wanita, yang memuji keserasian mereka, ada yang hanya memuji kecantikan Davina, ada juga yang menilai jika Davina hanya seorang wanita murahan, karena pakaian Davina yang begitu seksi dan mencolok.
Davina yang merasakan aura Deva yang sudah berbeda, langsung menggenggam erat lengan pria itu, karena ia takut jika Deva akan melakukan hal gila di perusahaannya sendiri.
“Deva, aku baik-baik saja, tenangkan dirimu,” bisik Davina menenangkan Deva.
“Mereka bukan hanya menghina mu, tapi mereka juga menghina ibu dari calon anakku,” ucap Deva mendesis pelan dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.
‘Aku akan memberi pelajaran pada orang-orang yang sudah berani mengusik diriku, dan juga calon anak ku,’ batin Deva yang tidak akan tinggal diam.
...****************...
Terima kasih.
terima kasih thor ceritanya sangat bagus dan gak bertele2,,sangat menghibur walau aku harus ikut menangis 😭😭😭