Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
CAPTER 29
TIDAK BISA BERMAIN CANTIK LAGI
Hasan tidak tahu kalau pagi ini ibu Dewi mengirimkan makanan buatnya, dia berjalan dengan santai. Seperti biasa dia hendak jalan-jalan pagi disekitar komplek perumahan. Ketika melewati Naura dan bik Siti, Naura langsung menghentikannya.
"Tebar pesona terus nih ya ceritanya!." Sindir Naura.
"Maksudnya mba?." berlagak tidak faham.
"Tuh kiriman dari jandamu yang oversize itu!." Sambil menunjuk.
Hasan melangkah ke depan dan mengambil bungkusan dari tangan bik Siti, lalu mengeluarkan isinya. Dia hendak
mencicipi, namun tangan Naura segera merampasnya.
"Bik kasihkan ini sama pak Said dan pak satpam biar mereka yang makan... pasti makanan ini sudah dikasih
jampi-jampi!." Sambil menyerahkannya lagi ke bik Siti.
"Jangn su'dzon gitu!." Tegur Hasan.
"Mulai hari ini nggak ada jalan pagi, nggak ada sok baik, nggak ada tebar pesona!." Perintah Naura.
"Bik Mba nya ini habis minum jus asem ya?!." ucap Hasan ke bik Siti.
"Nggak Den...malah belum minum apa-apa." Jawab bik Siti serius.
"Ohhh...saya pikir habis minum jus asem...soalnya mukanya kecut!." Ledek Hasan sambil tertawa kecil, bik Siti juga tertawa dibuatnya.
Naura yang tidak terima jadi bahan ledekan langsung marah besar. Pagi ini mereka berdua kembali berdebat, sebungkus makanan yang dikirim ibu Dewi adalah penyebabnya. Naura terus memojokkan Hasan yang dianggap sok baik dan suka tebar pesona. Dan juga terus mengungkit pen yang dibelikan ibu Dewi kemarin untuk suaminya itu.
Naura tidak mau mendengarkan penjelasan Hasan yang mengatakan kalau pen itu sudah dia kasihkan pada temannya di kampus. Namun bagi Naura kesalahan Hasan adalah menerima pemberian itu.
“Mba tolong jangan dibahas terus...saya sudah ngasih pen itu ke teman saya, dari awal saya nerima niatnya juga gitu.” Tetap berusaha menjelaskan dengan tenang.
“Ok aku nggak akan mengungkitnya lagi...kita hanya berteman dan tidak sepantasnya seorang teman terlalu mencampuri urusan pribadi temannya sendiri.” Ucap Naura dengan menekan intonasi suaranya.
“Mba saya sepenuhnya nggak keberatan jika mba Naura mencampuri urusan pribadi saya...saya hanya mohon mba Naura agar tidak mengedepankan emosi.”
Hasan meningalkan Naura yang masih mengomel dibelakang, seolah tidak peduli dengan hal itu Hasan tetap berjalan keluar rumah. Baginya kemarahan Naura hanyalah bentuk kekesalan dan sikap yang belum dewasa.
"Ihh Non ini gimana sih...uda diajarin harus bermain cantik malah jadi landak!." Omel bik Siti.
"Bibik ini kok malah dikubu dia!." Tidak terima.
"Cepat Non sana ikut jalan-jalan pagi." Perintah bik Siti sambil sedikit mendorong tubuh Naura.
"Ogah...apa kata dunia!." Kilah Nauramenolak.
"Bukan saatnya dengerin kata dunia...kalo hati hancur dunia juga bakal ketawa Non." ucap bik Siti.
Bik Siti yang geram dengan sikap angkuh Naura, dia segera menarik tangannya dan berlari kedepan. Membuat Naura juga harus berlari dengannya.
“Bik lepasin...ngapain aku ikut jalan pagi sama dia!.” Tolak Naura sambil merusaha melepaskan tangannya.
“Sebelum Non menyesal sebaiknya perbaiki lagi selagi ada kesempatan.” Ujar bik Siti yang semakin mengencangkan pegangannya.
“Kesempatan apanya Bik...Papa aja bakal ngurusin perceraian kita!.”
“Tapi Aden langsung menolak dengan minta waktu kan Non...itu artinya Aden tidak ingin berpisah, harusnya Non itu paham maksudnya den Hasan.” Ujar bik Siti yang sudah kesal.
Naura tidak menjawabnya lagi, dia terdiam membisu meski langkahnya masih tetap berat mengikuti bik Siti yang terus menyeretnya.
"Den tungguin...Non Naura mau ikut!." Teriak bik Siti.
Langkah kaki Hasan langsung terhenti, dan dia berbalik badan untuk menunggu dan menyambut kedatangan Naura. Terlihat bik Siti memaksakan kehendaknya, dia setengah menyeret Naura ke arah Hasan.
“Den ini non Naura mau ikut jalan pagi katanya!.” Ujar bik Siti sambil mendorong Naura ke depan.
“Bibik!.” Protes Naura namun bik Siti tidak mengindahkannya.
"Nikmati jalan-jalannya Den, Non...bibik lanjut masak lagi." Menyerahkan Naura pada Hasan dengan wajah penuh senyum.
Naura terus memasang muka ketus, membuat Hasan enggan untuk bicara dengannya. Takutnya yang ada Naura
hanya akan berdebat. Karena alasan itu Hasan menutup rapat mulutnya selama berjalan kaki.
Naura merasa diabaikan keberadaannya, dia ingin lari dari dekat Hasan. Tapi kepalang tanggung kalau dia sampai melakukannya.
"Kemaren nyentuh-nyentuh aku, sekarang dicuekin...nggak berperasaan bener orang ini!." Batin Naura mengomel sambil menendang botol minuman yang tidak sengaja keinjak oleh kakinya.
Hasan melirik sebentar lalu kembali memusatkan pandangannya kedepan, mereka jalan berdua tapi sama sekali tidak ada obrolan, apalagi berpegangan tangan. Hati Naura sakit karena merasa tidak diinginkan oleh suaminya.
Ditengah perjalanan, terlihat dari arah berlawanan seorang wanita dengan baju ketat, yang seolah tubuhnya ingin menerobos kain penutup itu. Dada dan bokong super bahenol yang merupakan buah karya dari tangan terampil para dokter kecantikan menyapa dengan genit setiap pria yang memandangnya.
"Pagi mas Hasan!." Sapa ibu Dewi.
"Pagi juga Bu!." Hasan menyapa balik.
"Cihhh...sok manis." Guman Naura yang didengar oleh Hasan.
“Pagi mba Naura.”
“Pagi!." Dengan nada malas.
"Tumben mba Naura ikutan jalan-jalan pagi?!." tanya ibu Dewi pada Naura.
“Iseng aja cari yang seger-seger.” Jawab Naura sambil melirik ke Hasan.
“Mba Naura kalo pakai baju yang ini kelihatan mungil ya!.” Seru ibu Dewi memuji Naura.
“Mas Hasan suka yang mungil – mungil ya?.” goda ibu Dewi.
"Ibu bisa aja bercandanya!." Ucap Hasan tersipu malu.
"Beneran kok...kayaknya tipenya mas Hasan yang cantik dan mungil." Terus menggoda.
"Padahal saya kira dia sukanya yang oversize Bu!." Sindir Naura.
Tidak ingin melihat Naura memanas, Hasan segera pamit pada ibu Dewi. Dia tidak ingin istrinya berdebat dengan orang lain. Cukup berdebat dengannya saja, ditambah lagi ditempat umum. Kebayang bakal jadi pusat perhatian dipagi hari, benar-benar akan memalukan.
Hasan memegang tangan Naura dan berjalan kembali ke rumah, Naura berusaha melepaskan tapi Hasan semakin
menguatkan pegangannya. Dia baru melepaskan tangan itu setelah sampai dirumah.
Nuara tidak bersuara sama sekali, dia langsung naik ke atas tanpa menghiraukan sapaan bik Siti.
"Duhhh...kenapa itu Non?." tanya bik Siti cemas.
"Biasa Bik landak kalo dideketin kan langsung mekar durinya!." Menjawab pertanyaan bik Siti sambil terus berjalan menyusul istrinya yang merajuk.
Sesampainya dikamar Naura langsung menjatuhkan tubuhnya dikasur, tidur dengan posisi miring dan membelakangi pintu kamar.
"Mba...masak gitu aja marah!." Ucap Hasan.
Naura tidak menjawab, dia masih membisu sementara tatapannya kosong. Hasan berusaha mendekati, dan duduk ditepi kasur.
"Jangan marah...." Mencoba menenangkan dan mengelus bahu Naura.
"Udah sana urus aja janda jablay yang ukurannya oversize itu!." Sentak Naura sambil menepis tangan Hasan.
"Ngapain ngurusin dia...." Ujar Hasan dengan nada rendah.
"Bukannya kamu suka sama kebahenolannya dia!."
"Ya nggak lah...." Sambil mencoba menyentuh lengan Naura.
"Jangan sentuh aku!." Sentak Naura sambil menepis tangan Hasan lagi.
"Mba tolong jangan berdebat terus...hal kayak gitu nggak perlu dipermasalahkan!." Ucap Hasan.
"Kenapa kamu tadi cuma diem pas dia bilang aku mungil?!." masih lanjut berdebat.
"Ya Allah Mba...kan kenyataannya kalo dibandingin sama ibu itu mba Naura emang mungil." Jawab Hasan yang ternyata semakin membuat Naura marah.
"Ohhh...jadi kamu bandingin aku sama dia!.” Sentak Naura.
"Bukan gitu mba...." Ucapa Hasan yang terus berusaha tenang.
"Cukup...aku nggak mau denger lagi, bagimu aku hanya seorang musuh yang selalu berdebat denganmu, tapi seorang musuh tidak akan melingkarkan tangannya dipinggang musuhnya apalagi dengan pahanya!." Mulai menangis dan membenamkan mukanya dibantal.
Alasan sebenarnya yang membuat Naura menangis karena dia merasa diabaikan oleh Hasan, padahal baru kemarin dia berlaku mesra padanya. Dan ternyata sikap itu hanya akting belaka.
Bagaikan diiris hati Hasan ketika mendengar ucapan Naura tadi, tangannya berusaha menyentuh kepala Naura namun segera ditepis. Hasan tidak menyangka bagaimana bisa istrinya memiliki pikiran semacam itu. Bahkan dunia serasa runtuh dengan tangis istrinya saat ini, tidak tahu bagaimana caranya menenangkan dia dan menghentikan tangisnya.
"Mba...." Ucap Hasan.
Naura masih tetap menangis dan membenamkan mukanya seolah tidak ingin melihat. Hasan tetap berusaha menenangkannya, perlahan dia mengelus rambut Naura. Mengecup kepalanya, menjatuhkan kepalanya juga disana dan memejamkan mata.
"Adek mandi yuk...." Bisik Hasan.
Naura tidak menjawab tapi suara tangisnya berangsur menghilang, tanpa perintah Hasan mengangkat tubuh Naura dan membopongnya ke kamar mandi. Lalu menurunkannya tepat dibawah pancuran air dan tangan Hasan segera menekan kran.
Dinginnya air yang menyembur dari balik shower segera menguyur tubuh mereka berdua, membasahi rambut sampai keujung kaki. Tangan Hasan menarik tubuh Naura ke pelukannya dan membenamkan kepalanya didada. Hasan memejamkan mata dan merasakan setiap aliran air yang membasahi tubuhnya.