"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Suasana sunyi menyelimuti mansion megah di kawasan elit Kota Medan itu. Hanya suara rintik hujan sisa badai tadi sore yang sesekali terdengar mengetuk kaca jendela setinggi plafon. Di dalam kamar utama yang luasnya hampir menyamai luas rumah mewah orang biasa, cahaya lampu remang berwarna warm white menciptakan bayangan panjang yang melankolis di atas lantai marmer Italia.
Garvi Darwin melangkah masuk dengan langkah yang sedikit berat. Aroma alkohol mahal dan cerutu tipis masih tertinggal di jas kasmir yang ia sampirkan di lengan. Pria itu berhenti di ujung ranjang king-sized. Di sana, terbungkus selimut sutra berwarna abu-abu, istrinya—Alsava Emily Claretta—tengah terlelap.
Sava terlihat begitu damai dalam tidurnya. Rambut brunette curly-nya yang legendaris itu tersebar di atas bantal, membingkai wajah cantiknya yang biasanya terlihat tegas dan tak tersentuh di kantor. Dalam tidur, Sava tidak memakai topeng COO-nya yang dingin. Dia hanya Ave—wanita yang selama ini menjadi pusat obsesi Garvi.
Perlahan, Garvi duduk di tepi ranjang. Kasur itu sedikit amblas di bawah beban tubuhnya yang tegap dan atletis. Dengan jemari yang gemetar, ia mengulurkan tangan, membelai pelan anak rambut yang menutupi wajah Sava. Kulit istrinya terasa begitu halus, kontras dengan hatinya yang mungkin sudah berkerak karena luka.
Tiba-tiba, setetes air hangat jatuh dari mata tajam sang CEO. Garvi Darwin, pria yang dikenal dingin, manipulatif, dan tak kenal ampun di dunia bisnis Skyline Group, kini menangis dalam diam.
"Maafkan aku, Ave... Maafkan aku," bisiknya dengan suara serau yang sarat akan penderitaan.
Ia membungkuk, mendaratkan kecupan lama di kening Sava, lalu turun ke bibir istrinya. Kecupan yang penuh dengan rasa bersalah, sebuah permohonan maaf yang tidak akan pernah sampai jika hanya diucapkan saat wanita itu terlelap.
Tak tahan dengan sesak di dadanya, Garvi bangkit dan melangkah masuk ke kamar mandi. Ia tidak menyalakan lampu, hanya membiarkan cahaya dari luar menyinari ruangan yang didominasi batu alam gelap itu.
Ia berdiri di bawah shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya yang masih mengenakan kemeja lengkap. Saat air membasahi wajahnya, kilasan perbincangannya dengan Roy di bar tadi kembali berputar di kepalanya seperti film horor yang menyakitkan.
Flashback: The Edge Private Bar, Satu Jam yang Lalu.
Gelas wiski di tangan Garvi sudah kosong untuk yang kelima kalinya. Matanya memerah, menatap Roy yang duduk dengan raut wajah datar namun prihatin.
"Roy... katakan padaku. Apa lagi yang aku lewatkan?" tanya Garvi, suaranya parau.
Roy menarik napas panjang. Ia adalah saksi bisu perjalanan hidup Garvi dan Sava sejak mereka masih kecil.
"Tuan ingin tahu kenapa Miss Sava sangat tertutup? Ingatkah Anda saat pesta ulang tahun Anda yang ke-27?"
Garvi mengernyit. Ingatannya tentang masa itu sedikit kabur, tertutup oleh arogansi masa mudanya.
"Malam itu, Miss Sava baru berusia 19 tahun. Dia datang ke pesta Anda dengan gaun paling cantik yang pernah saya lihat. Dia membawa kado yang dia siapkan selama berbulan-bulan. Dia sangat bersemangat karena dia pikir, setelah perjodohan itu diumumkan, Anda akan mulai melihatnya sebagai seorang wanita," Roy memulai cerita dengan nada pahit.
Garvi terdiam, membiarkan Roy melanjutkan.
"Dia berdiri di balik pilar besar di taman, hendak memberi kejutan. Tapi saat itu, Anda sedang bersama teman-teman Casanova Anda. Anda tertawa keras saat ditanya tentang pertunangan itu. Suara Anda malam itu... saya pun masih ingat betapa tajamnya."
Roy menirukan nada bicara Garvi saat itu, membuat Garvi di masa sekarang merasa ingin menghancurkan kepalanya sendiri.
"Sava? Dia hanya adik kecil yang manis, titipan kakekku," tiru Roy. "Tidak akan ada cinta di antara kami. Pernikahan itu hanya kontrak bisnis. Aku tidak bisa mencintai anak kecil yang masih bau krayon."
Garvi yang berada di bawah shower memejamkan mata kuat-kuat. Brengsek! Kenapa aku sepicik itu? batinnya mengumpat.
"Miss Sava menjatuhkan kado itu, Tuan. Dia lari dan menangis semalaman. Dan besoknya, Anda justru memperparah keadaan," lanjut Roy di bar.
"Kenapa? Apa yang aku lakukan?" tanya Garvi tak sabar.
"Anda melihatnya di kampus bersama seorang teman pria. Anda meledak marah, padahal saat itu mereka hanya sedang mengerjakan tugas kelompok. Tapi karena ego Anda yang setinggi langit, Anda menuduhnya berselingkuh. Anda mematainya, membatasi ruang geraknya, dan menghinanya di depan teman-temannya hanya untuk menunjukkan kekuasaan Anda."
Garvi memukul dinding kamar mandi dengan keras hingga tangannya memerah.
"Aku... aku benar-benar sepicik itu? Aku tidak mendengarkannya?"
"Cinta yang Anda rasakan saat itu bukan cinta, Tuan. Itu adalah obsesi. Anda merasa memiliki hak atas hidupnya, tapi Anda tidak memberikan hati Anda padanya. Apa pun yang dikatakan Miss Sava, bagi Anda itu adalah kebohongan jika tidak sesuai dengan spekulasi Anda. Anda merasa diri Anda adalah kebenaran mutlak," Roy berucap tanpa ampun.
Garvi mematikan air shower. Ia berdiri dalam kegelapan, tubuhnya basah kuyup, napasnya memburu. Perasaan benci pada dirinya sendiri kini mencapai puncaknya. Ia keluar dari kamar mandi, tidak memedulikan air yang menetes ke lantai marmer yang mahal.
Pikirannya kembali pada momen terakhir di bar sebelum Roy menyeretnya pulang.
"Roy!" bentak Garvi saat itu, mencengkeram kerah kemeja Roy. "Lalu bagaimana dengan pernikahan itu? Jika aku sejahat itu, kenapa dia masih mau menandatangani surat pernikahan itu bersamaku?"
Roy menatap Garvi dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kesedihan, kemarahan, dan rahasia besar di sana. Roy melihat Garvi yang sudah mulai mabuk berat, bicaranya sudah mulai melantur namun tatapannya masih menuntut jawaban.
"Kita pulang dulu, Tuan. Anda sudah terlalu mabuk. Besok saya akan melanjutkan ceritanya," ujar Roy mencoba menenangkan.
"Tidak! Sekarang! Aku ingin mendengarnya sekarang!" Garvi berteriak, mengabaikan beberapa mata penjaga bar yang melirik ke arah ruangan privat mereka. "Kenapa dia setuju? Apakah aku memaksanya lagi? Atau kakek yang mengancamnya?"
Garvi tersentak di masa sekarang. Ia mendekati meja rias Sava, melihat beberapa dokumen kantor yang istrinya bawa pulang. Di antara tumpukan berkas itu, ada sebuah amplop kecil yang terselip.
Dengan tangan gemetar, Garvi membukanya.
Isinya bukan dokumen bisnis. Melainkan sebuah foto usang—foto saat mereka masih kecil. Di belakang foto itu, ada tulisan tangan Sava yang rapi namun terlihat sedikit pudar:
“Untuk Mas Garvi, cintaku yang pertama. Semoga suatu hari, kau tidak hanya melihatku sebagai beban kakek, tapi sebagai wanita yang ingin mencintaimu selamanya.”
Hati Garvi serasa diremas. Tulisan itu dibuat bertahun-tahun lalu, sebelum ia menghancurkan hati wanita itu berkali-kali. Sebelum ia mengubah gadis ceria menjadi COO yang sedingin es.
Tiba-tiba, suara erangan kecil terdengar dari atas ranjang. Garvi menoleh cepat.
Sava bergerak dalam tidurnya, keningnya berkerut seolah sedang mengalami mimpi buruk. Bibirnya bergumam lirih, "Jangan... Mas Garvi, jangan pergi dengan dia... maafkan aku..."
Garvi mematung. Bahkan dalam tidurnya, Sava masih memohon maaf padanya? Padahal dialah yang seharusnya berlutut memohon ampun.
Ia mendekat, menyentuh tangan Sava, kemudian mengecup punggung tangan itu.
***
semoga Sava bisa memberikan alasan yg logis yg bisa di terima , tanpa menyalahkan Sava,
dan semoga dengan adanya tragedi pil kontrasepsi, bisa mengawali hubungan kalian lebih mesra tanpa adanya keraguan lagi.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰