Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Akhir-akhir ini Rico banyak kerjaan di kantornya, proyek baru yang berhasil mereka menangkan tendernya, membuatnya nyaris tak punya waktu fi rumah, Kila paham kerja suaminya seperti apa, tapi jujur saja Kila butuh perhatian di masa kehamilannya, apa lagi ini kehamilan pertama baginya.
Seperti malam ini, entah mengapa dia begitu ingin makan malam bersama suaminya, mungkin suaminya takkan punya waktu di rumah, itulah sebabnya dia bermaksud menemui Suaminya di kantor.
Kila menghubungi ponsel suaminya berkali-kali tapi tak ada respon, mungkin suaminya sedang di ruang rapat, berpikir begitu membuatnya memilih menunggu suaminya menghubunginya.
Tok
Tok
"Nyonya, ini sudah lewat jam makan malam, biar saya temani nyonya makan" ujar Nana membujuk Kila, dia tau Kila sedang merindukan tuan Rico, sudah setegah bulan ini tuanya tak punya waktu menemani nyonya nya.
Tak ada respon dari dalam kamar, dia khawatir sebab Kila sedang hamil, takut terjadi sesuatu terhadap kesehatannya.
Karena tak berhasil membujuk Kila Nanapun memilih pergi kekamarnya, hanya tuanya yang mampu membujuk nyonya.
Sementara Rico yang sedari rapat sengaja meninggalkan ponselnya di ruang kerja. tak tahu puluhan pangilan tak terjawab dari istrinya terpampang di layar ponselnya. selesai rapat dia menjamu koleganya makan malam, baru setelah itu dia kembali kekantornya.
Rico mencari ponselnya sudah waktunya pulang, jam kantor menunjukalan jam 23:00. betapa terkejutnya Rico membaca panggilan Kila yang terabaikan olehnya, bukan satu tapi puluhan kali, ada apa..?
Rico menghubungi istrinya tapi sepertinya ponselnya sudah tak aktif, dia beralih menghubungi Nana.
"Halo Na, nyonya mana" tanya Rico khawatir.
"Di kamar tuan" jawab Nana.
"Nyonya menghubungiku berkali-kali, ada apa, bagaimana keadaan rumah" tanya Rico masih penasaran dengan keadaan istrinya.
"Nyonya baik -baik saja tuan, begitu juga rumah, hanya saja nyonya tak bersedia untuk makan malam tuan, aku sudah berusaha membujuknya, tapi tak berhasil" terang Nana.
"Apa!, kenapa kau baru sampaikan sekarang!" bentak Rico emosi
"Saya sudah telpon tuan berkali-kali tuan" jelas Nana lagi.
"Ya sudah" ujar Rico memutus pangilannya.
"Bisa lebih cepat pak" perintah Rico pada supirnya, dia sudah tak sabar ingin segera sampai di rumahnya, terbayang olehnya derita kila yang menahan lapar karena ulahnya.
Rico begitu khawatir dia telah melanggar janjinya untuk selalu memberinya kabar sesibuk apa pun, belum lama berselang dia kembali mengulangi kesalahannya.
"Shit..!!" umpatnya kesal.
Sakha keluar dari mobil dengan tergesa, berjalan menuju lift penghubung di setiap lantai rumahnya.
Begitu pintu lift terbuka, Rico bergegas menuju kamarnya, perlahan dia membuka handle pintu, masuk dengan perlahan kemudian menutup pintunya rapat-rapat.
Rico menatap tubuh istrinya yang tengah berbaring memunggunginya, kemudian beringsut mendekat, duduk perlahan di tepi ranjang.
"Sayang bangunlah" Rico mengguncang tubuh Kila dengan perlahan takut kalau-kalau mengejutkan istrinya.
Kila membuka matanya yang terlihat sembab, kemudian berbalikbadan menhadap kearah Rico.
"Udah pulang mas" sapanya dengan senyum.
Rico tak menyahut, mata sembam Kila memicu kemarahannya, kemarahan pada dirinya sendiri.
dalam khayalannya Kila akan memarahinya atau paling tidak mendiamkannya, tapi itu rupanya tidak terjadi, Rico malah di hadiahi senyum, dengan mata sembabnya.
Perlakuan kila malah membuatnya seperti terhempas dari ketianggian, hatinya remuk, sakit.
Kila beranjak bangkit menuju kamar mandi.
"Kemana sayang" tanya Rico.
"Kamar mandi bentar mas" ujarnya. Rico mengangguk mengerti.
Rico menghela nafas kasar, tak tega melihat keadaan Kila karenanya, penyesalan memang selalu datang terlambat, sudah membuat istrinya menangis baru menyesal, yang lebih sakit lagi istrinya bahkan memperlakukannya seperti orang tak bersalah.
Kila keluar kamar mandi dengan muka terlihat lebih fresh, walau mata sembabnya masih juga menghiasi wajahnya.
"Bukalah jas mu mas, mas pasti lelah istrahatlah" ujar Kila.
"Aku belum mau istirahat sayang" ujarnya lirih.
"Sudah tengah malam mas" sahut Kila sedikit heran dengan jawaban suaminya. sikap suaminya juga terlihat berbeda, ada apa, apa telponnya yang berjumlah puluhan telah mengganggu pekerjaannya.
"Sayang menelponku berulang kali ada apa" tanya Rico dengan tatapan yang begitu dalam.
Seketika Kila menundukkan wajahnya sedalam mungkin, dugaannya benar teleponnya mengganggu pekerjaan suaminya.
"Maaf mas, aku tidak tau apa yang terjadi dengan perasanku, hingga aku menggangu mas dengan terlponku, aku..aku janji tidak akan mengulanginya lagi" ucap kila begitu lirih.
Rico menghela nafas kasar, menatap istrinya yang semakin tertunduk dalam, ya ampun kila kenapa kau menghukumku dengan kata maaf mu batin Rico gusar.
"Aku tanya kenapa kau menelponku berulang kali kila" ucapnya tanpa sadar, amarah yang seharusnya di tujukan untuk dirinya sendiri, kini malah di lampiaskan ke Kila. Kila menggeleng pelan.
"Maaf mas" ujarnya lirih dengan wajah masih tertunduk semakin dalam.
Tak senganja mata Rico menangkap bulir bening jatuh di telapak tangan Kila yang berada di atas pangkuannya.
Rico tak mampu lagi menahan perasaannya, dengan lembut dia merengkuh tubuh Kila kedalam pelukannya. memciun puncak kepalanya berulang kali.
"Belajarlah untuk tidak meminta maaf, atas kesalahan yang tak pernah kau lakukan, mengerti" bisiknya pelan ketelinga Kila. walau Kila tak paham dengan maksud ucapan suaminya tapi Kila mengangguk seolah mengerti, dia ingin menenangkan hati suaminya.
"Sayang temani aku makan" bisiknya lagi, Kila kembali mengangguk setuju.
Rico berniat menelpon pelayan meminta di bawakan makan malam kekamarnya, tapi Kila menolak, dia tak ingin mengganggu waktu istirahat pelayanya hanya karena sepiring nasi.
Dengan berat hati Rico menuruti kemauan Kila, bahkan Kila yang menyediakan semua seorang diri.
Kila hanya menyediakan satu piring di atas meja, hanya untuk Rico, dia sudah tak berselera untul makan.
"Duduklah di sini, di sebelahku sayang" pinta Rico dengan suara sedikit lembut, beda dengan saat dia mengintrogasi dirinya tadi.
Kila mendekat, menempatkan tubuhnya duduk disebelah Rico, dengan bertumpu pada tangam kirinya wajahnya menatap Rico yang sedang menyusun nasi dan lauh di atas sendok.
"Aaa" ujarnya pada Kila yang tengah menatapnya, menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk. Kila menggeleng.
"Aaaa" paksanya dengan wajah kakunya, membuat Kila terpaksa membula mulutnya lebar-lebar, sebab sendok itu benar-benar sarat muatan.
Setelah Kila, sendok kedua masuk kemulutnya, dia mengunyah nasi seraya menatap wajah sembab istrinya, kemudian mengulangnya lagi, satu suapan ke Kila, satu suapan untuknya, hingga satu piring nasih tak tersisa.
"Sudah kenyang sayang" tanyanya, seraya menyodorkan gelas berisi air putih. Kila mengangguk.
"Maafkan papa sayang, membuat mama mu dan kamu menahan lapar" ujarnya mengusap perut Kila yang mulai terlihat sedikit membuncit. membuat Kila tersipu malu, merasa bodoh menangis cuma gara-gara ingin mekan dengan suami.
"Sudah bisa tidur lagi sayang" bisik Rico terdengar manja, yang mengandung makna terselubung, Kila mengangguk setuju dia paham kearah mana ucapan suaminya.
Rico menggandeng tubuh langsing Kila menuju kamar, menebus kesalahanya, dengan memberi Kila kesenangan dan kenikmatan dunia, yang mampu mencairkan kemarahan keduanya.
Bersabarlah Kila, hidayah itu memang sulit itu sebabnya imbalannya surga.
.
.
Happy reading 🥰
Dukung karya ini dengan memberi vote and like.🙏🥰