Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah kecil
Beberapa menit setelah itu, Arven keluar dari kamar.
Pintunya tertutup pelan kali ini. Aku duduk di tepi ranjang, memeluk lututku sendiri, mencoba menata napas yang sejak tadi untuk kembali normal. Waktu terasa berjalan pelan. Terlalu pelan sampai aku berhenti menghitungnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, pintu terbuka lagi.
Arven kembali dengan dua es krim di tangannya. Uap dingin dari kemasannya samar-samar terasa di udara.
"Katanya pengen es krim kan?"
Nada suaranya ringan, hampir ceria. Seolah kejadian barusan hanyalah percakapan kecil yang sudah lewat begitu saja.
Aku menatapnya sebentar, lalu mengambil es krim itu tanpa ragu. Jari-jari kami sempat bersentuhan singkat.
Aku makan pelan. Dingin es krim membuat kepalaku terasa sedikit lebih jernih. Arven duduk tidak jauh dariku, memperhatikanku dengan tenang.
Saat sendok terakhir menyentuh dasar cup, sesuatu berubah.
Kelopak mataku terasa berat. Awalnya aku mengira itu hanya rasa nyaman kerena kenyang. Tapi beratnya datang dengan cepat.
Padahal aku yakin, aku sudah tidur lama sebelumnya.
Aku mengusap mataku, mencoba melawan rasa kantuk yang tiba-tiba menekan dari dalam kepala. Tubuhku terasa hangat, tapi juga lemas, seperti tenggelam perlahan ke kasur meski aku masih duduk.
Aku mendongak.
Arven menatapku.
Tatapan itu kembali.
Dingin.
Jantungku tersentak kecil. Ada jeda singkat cukup lama bagiku untuk menyadarinya, cukup cepat baginya untuk mengubahnya.
Dalam hitungan detik, ekspresinya melembut. Alisnya turun, matanya kembali hangat, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Ia mendekat, lalu duduk di sampingku.
Tangannya terangkat, mengusap kepalaku perlahan. Gerakannya familiar dan menenangkan.
"Kamu keliatan ngantuk," katanya lembut, dia hampir seperti berbisik. "Pasti capek."
Aku ingin bilang aku tidak capek. Bahwa ini rasanya aneh. Bahwa tubuhku tidak biasanya seperti ini. Tapi lidahku terasa berat. Kata-kata tidak bisa tersusun dengan rapi di kepalaku.
"Tidur dulu," lanjutnya. Suaranya rendah, stabil. "Aku temenin."
Tangannya tetap di kepalaku, menekan pelan, seperti membimbingku untuk bersandar. Aku menurut.
Tubuhku bergerak tanpa perlawanan, punggungku mulai menyentuh kasur. Bantal terasa terlalu empuk.
Mataku setengah terpejam.
Sebelum semuanya benar-benar gelap, aku masih bisa melihat Arven berbaring di sampingku, menghadapku. Wajahnya dekat.
Senyumnya ada di sana, dan lagi-lagi tidak sampai ke matanya.
Pagi datang dengan cahaya tipis yang menyelinap lewat celah gorden. Aku terbangun perlahan, tidak lagi dengan rasa pusing atau kantuk aneh seperti kemarin.
Aku hampir tidur selama satu hari penuh, tanpa sadar hari sudah kembali pagi.
Apartemen terasa sunyi, terlalu sunyi sampai akhirnya aku mendengar suara langkah di dapur.
Arven.
Ia sedang bersiap. Jaket sudah dikenakan, rambutnya sedikit berantakan seperti biasa. Pemandangan yang entah kenapa terasa menyenangkan
"Aku mau keluar sebentar," katanya sambil merapikan kancing jaket. "Ada urusan."
Kata keluar langsung membuat pikiranku bergerak lebih cepat dari biasanya. Dadaku menghangat.
Aku mengangguk pelan, berusaha terdengar biasa saja.
"Oh...kamu pulangnya kapan?"
Arven menoleh padaku, senyumnya lembut. Selalu lembut kalau menatapku seperti itu.
"Mungkin agak sore," jawabnya pelan, seolah memastikan kata-katanya tidak terdengar aneh.
Lalu ia melangkah mendekat. "Kamu jangan lupa makan, ya, istirahat yang cukup, minum obatnya juga."
Aku mengangguk lagi, meski sebagian perhatianku sudah melayang ke luar apartemen. Ke pintu. Ke dunia di baliknya.
Tangan Arven terulur ke pergelangan tanganku. Ia membetulkan gelang yang kemarin sempat kulepas. Sentuhannya hati-hati, nyaris seperti takut melukaiku.
"Jangan dilepas lagi," katanya lembut, tapi ada nada yang lebih dalam di sana. Seperti permintaan yang ingin dipatuhi.
Aku menatap gelang itu sebentar, lalu menatap wajahnya. Ada dorongan kecil di dadaku. Iseng atau mungkin ingin tahu sejauh mana batasnya.
"Kalau aku lepas lagi gimana?" tanyaku, sengaja ringan.
Arven tidak langsung menjawab.
Ia menatapku lama. Terlalu lama untuk sebuah candaan biasa.
"Aku-" katanya pelan. "Mungkin-"
Dadaku berdebar. Ada jeda di antara kata-katanya yang membuat udara terasa menipis. Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri di telinga.
"Aku mungkin-"
Ia berhenti lagi.
Lalu tiba-tiba, sudut bibirnya terangkat.
"Ga akan ngasih kamu cemilan," lanjutnya sambil tersenyum kecil, "terus cemilannya aku makan sendiri."
Aku tertegun sesaat, lalu tanpa sadar menghembuskan napas lega. Tangan Arven terangkat, mengusap pipiku dengan gemas, seperti sedang menenangkan anak kecil yang ketahuan overthinking.
"Kamu lucu," katanya ringan. "Jangan kebanyakan mikir."
Ia melangkah sedikit menjauh, lalu berhenti lagi di depanku.
"Aku pergi dulu, ya?" katanya lembut. "Ingat apa kata-kataku."
Aku belum sempat menjawab ketika ia mencondongkan tubuhnya.
Ciuman singkat mendarat di pipiku.
Ciumannya terasa hangat.
Tubuhku menegang seketika. Mataku melebar, napasku tersendat. Selama ini Arven memang sering menyentuh menggenggam tanganku, memeluk, mengusap kepalaku semuanya terasa penuh perhatian. Tapi ini, ini berbeda.
Ini pertama kalinya.
Arven mundur perlahan, seolah ingin melihat reaksiku. Senyumnya tetap sama lembut, penuh rasa sayang lalu ia berbalik menuju pintu.
Pintu tertutup.
Aku berdiri di tempat, jari-jariku menyentuh pipi yang masih terasa hangat. Ada rasa aneh di dadaku.
Setelah pintu tertutup dan suara langkah Arven benar-benar menghilang, aku tidak langsung bergerak.
Aku berdiri di ruang tengah, menahan napas, seperti anak kecil yang baru saja ditinggal sendirian untuk pertama kalinya.
Perlahan aku berjalan ke arah balkon kecil, menyingkap tirainya sedikit. Di bawah sana, mobil Arven sudah melaju menjauh. Lampu belakangnya mengecil, lalu hilang di belokan.
Dadaku terasa ringan.
'Akhirnya,' Pikirku.
Kata itu muncul begitu saja di kepalaku, disertai senyum kecil yang tidak bisa kutahan. Aku berbalik cepat, seperti takut perasaan ini keburu menguap, lalu mulai bersiap.
Aku mengambil tas kecil, memasukkan ponsel, dompet. Tanganku bergerak cepat, ringan, nyaris jatuh karena terlalu bersemangat.
Saat kakiku sudah hampir melangkah ke pintu, pandanganku jatuh ke pergelangan tanganku sendiri.
Gelang itu.
Aku terdiam.
Benda kecil itu terlihat biasa saja, tapi entah kenapa sekarang terasa menatapku balik. Aku mengangkat tanganku, memutar pergelangan perlahan. Terngiang lagi suara Arven pagi tadi.
'Jangan dilepas lagi,'
Aku menelan ludah.
Pelan-pelan, aku melepasnya. Lalu aku berjalan ke kamar, meletakkannya di atas meja kecil di samping ranjang.
"Aku cuma keluar sebentar," gumamku, entah pada siapa.
Pintu apartemen tertutup di belakangku.
Lift turun membawa aku dan jantungku yang berdebar kencang. Begitu pintu lift terbuka, udara luar menyentuh wajahku.
Terlalu berbeda sampai membuatku refleks menarik napas panjang dan langsung terbatuk.
"Uhuk-" aku menutup mulut. "Harusnya nggak kulakuin."
Aku tertawa kecil sendiri setelahnya.
Aku melangkah keluar, mataku bergerak ke sana kemari. Gedung-gedung, kendaraan lewat, suara orang berbicara, klakson, semuanya terasa terlalu hidup. Aku berjalan pelan, seperti takut momen ini pecah kalau aku terlalu cepat.
Awalnya aku ingin ke minimarket bawah apartemen. Tapi entah kenapa, rasanya membosankan. Aku sudah terlalu sering kesana.
Di seberang jalan, sedikit jauh tapi masih bisa dijangkau dengan jalan kaki, aku melihat papan Indomaret.
Aku tersenyum.
'Aku ingin ke sana.'
Langkah kakiku terasa ringan, hampir melayang. Aku masuk ke dalam, suara pintu otomatis terbuka terdengar seperti sambutan kecil. AC dingin langsung menyapa, membuatku menggigil sedikit.
Aku mengambil keranjang. Aku memilih camilan satu per satu. Tanganku berhenti di rak biskuit, lalu pindah ke snack asin. Saat mengambil minuman, pikiranku tiba-tiba melayang.
'Arven biasanya pilih yang mana, ya?'
Pertanyaan itu muncul tanpa diminta.
Aku menatap botol-botol minuman di depanku, mencoba mengingat sesuatu yang tidak ada. Aku sadar aku tidak benar-benar tahu.
Selama ini, Arven selalu yang memilihkan, menyodorkan, menyediakan. Aku hanya tinggal menerima semua perlakuan dia.
Dan tiba-tiba dadaku terasa aneh.
Aku tahu banyak tentang diriku dari cerita-ceritanya. Apa yang kusukai, apa yang tidak, kebiasaanku, ketakutanku.
Tapi tentang dia?
Aku hampir tidak tahu apa-apa.
Aku membayar di kasir dengan perasaan campur aduk. Senang, puas, tapi juga bersalah. Seolah aku baru menyadari ketimpangan yang selama ini tersembunyi di balik perhatian manisnya.
Saat aku berbalik untuk keluar, sebuah suara menghentikanku.
"Seren? kamu seren kan?"
Aku menoleh.
Seorang wanita berdiri tidak jauh dariku. Usianya seumuran denganku. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya tampak familiar, terlalu familiar sampai dadaku langsung mengencang.
"seren, kan?" katanya lagi, tersenyum lebar. "Lama nggak ketemu."
Aku berdiri terpaku, keranjang belanja terasa berat di tanganku.
Aku kenal dia?
Dan kenapa, untuk pertama kalinya sejak aku keluar dari apartemen itu, perasaan senang di dadaku berubah jadi sesuatu yang lain sesuatu yang membuatku ingin menoleh ke belakang, memastikan Arven ada disini.