NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Sinyal Bahaya

Kamis pagi yang dingin tidak mampu mendinginkan atmosfer di dalam ruang kerja pimpinan. Ruangan luas berlantai marmer hitam itu kembali menegang. Namun, kali ini ketegangan bukan bersumber dari grafik saham yang merosot atau urusan internal bisnis yang rumit, melainkan dari selembar laporan keamanan terintegrasi tingkat tinggi yang baru saja dideteksi oleh tim siber.

Alensky Graham Nugraha duduk di sofa kulit dengan wajah luar biasa serius. Jari-jemari lentiknya yang biasa menari lincah di atas keyboard, kini bertumpu kaku di atas lututnya. Sementara itu, Sean berdiri tegak membelakangi ruangan, menatap tajam peta digital kota yang berpendar di layar monitor raksasa yang memenuhi dinding.

"Mata-mata kita di wilayah pelabuhan utara mendeteksi adanya pergerakan tidak wajar dari Klan Hitam Viper, Kak," ucap Alensky dengan suara rendah, menghilangkan formalitas pekerjaan karena situasi yang mendesak.

"Mereka tampaknya mulai mengendus keberadaan Lentera sebagai kunci dari stabilitas energimu. Informasi tentang rekam medismu yang sempat bocor tipis minggu lalu sepertinya sudah sampai ke telinga dewan tertinggi mereka."

Sean tidak memutar tubuhnya. Namun, sepasang telapak tangan yang bertumpu di atas meja kerja kaca tempered tampak mengepal dengan sangat kuat.

Aura kegelapan dan tekanan supranatural yang sangat kuat mendadak memancar keluar dari tubuh tegap pria itu. Gelombang energi itu begitu pekat, membuat suhu di dalam ruangan berpendingin udara yang sudah dingin itu terasa semakin drop, menusuk hingga ke dalam tulang.

Alensky, meski sudah terbiasa dengan sisi gelap kakak sepupunya, refleks merapatkan blazer-nya karena merinding.

"Siapa pun yang berani mengarahkan pandangan mata kotor mereka pada Lentera, akan aku pastikan mereka tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi, Alen," jawab Sean. Nada suaranya sangat dingin, tidak bernada, namun memancarkan niat membunuh dari seorang predator tertinggi yang mutlak dan tak terbantahkan.

Alensky menghela napas panjang, mencoba mengusir tekanan berat yang sempat menghimpit dadanya. Ia berdiri dari sofa dan melangkah mendekati meja kerja kakak sepupunya itu.

Sebagai satu-satunya keluarga dekat yang mengetahui rahasia kutukan energi Sean, Alensky memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga stabilitas emosi kakaknya.

"Aku tahu kemampuan fisik dan supranaturalmu sekarang sudah mendekati sempurna berkat Tera, Kak," sela Alensky, menatap profil samping wajah Sean yang bak pahatan marmer tanpa cela. "Tapi musuh kita kali ini terkenal sangat licik. Klan Viper tidak akan pernah menyerangmu secara jantan di medan terbuka. Mereka tahu mereka akan mati jika berhadapan langsung denganmu. Karena itu, mereka pasti akan menggunakan taktik paling kotor: menggunakan keselamatan Dokter Tera untuk merusak fokus mentalmu. Kamu harus ekstra waspada, terutama saat jadwal kunjungan bakti sosial medis luar kota yang akan diadakan rumah sakit besok pagi."

Sean terdiam. Matanya menyipit menatap titik merah di peta digital yang menandakan lokasi desa terpencil di kaki gunung, tempat bakti sosial akan berlangsung.

Alensky benar. Jika Tera disentuh sedikit saja oleh musuh, Sean tahu fokus dan kendali atas energinya akan hancur berantakan.

Tok! Tok! Tok!

Tepat pada saat pembicaraan krusial itu berlangsung, pintu ruang kerja diketuk dengan irama heboh, cepat, dan sangat familiar.

Aura kegelapan yang tadinya menyelimuti tubuh Sean mendadak lenyap dalam sekejap mata secara alami, seolah-olah tidak pernah ada.

Tekanan berat di ruangan itu menguap begitu saja, digantikan oleh ekspresi tenang dan datar yang biasa Sean tunjukkan pada dunia. Alensky hanya bisa menggelengkan kepala melihat perubahan drastis kakak sepupunya yang seperti bunglon jika berhadapan dengan satu nama itu.

"Masuk," ucap Sean datar.

Pintu jati besar itu terbuka, dan Lentera melangkah masuk. Jas dokter putihnya tampak sedikit berantakan di bagian bahu, sebuah indikasi kuat bahwa gadis itu baru saja berlari terburu-buru dari lantai bawah. Di tangan kanannya, Tera membawa sebuah rantang susun plastik berwarna hijau muda yang tampak sangat kontras dengan kemewahan ruangan bernilai miliaran rupiah tersebut.

"Tuan Sean! Nona Alen!" sapa Tera dengan senyuman cerianya yang tanpa beban. Kehadirannya yang hangat langsung meruntuhkan seluruh sisa ketegangan dan energi negatif yang sempat tertinggal di ruangan itu.

"Kebetulan sekali Anda ada di sini, Nona Alen! Ini, ibuku di rumah kontrakan tadi subuh membuat menu sarapan kampung halaman lagi, nasi uduk betawi lengkap dengan semur tahu dan telur dadar suwir! Ibuku bilang, karena kemarin Tuan Kaku ini sudah tidak memprotes tempe mendoannya, hari ini harus dibawakan porsi lebih banyak untuk dibagikan dengan keluarga!"

Alensky yang dasarnya memang penyuka makanan lokal langsung tertawa renyah. Sifat cerianya keluar seketika. Ia melangkah cepat dan menerima rantang susun itu dari tangan Tera dengan wajah yang sangat gembira.

"Wah, Dokter Tera! Ibu Sulis memang yang terbaik di dunia!" seru Alensky girang sambil membuka tutup rantang teratas.

"Kebetulan sekali aku belum sempat sarapan dari pagi karena terburu-buru menyusun laporan ke sini. Kak Sean, lihat ini! Bau semur tahunya sangat menggoda selera, jauh lebih baik daripada menu salad hambar dan dada ayam rebus yang biasa disiapkan koki pribadimu yang sok sehat itu."

Sean tidak menyahuti sindiran adik sepupunya. Pandangannya justru terkunci pada rantang plastik hijau muda itu, sebelum akhirnya beralih menatap wajah Tera. Ada bulir-bulir keringat kecil yang tampak mengilap di pelipis kanan gadis itu, napasnya juga sedikit memburu akibat berlari.

Tanpa memedulikan keberadaan Alensky yang kini sedang memperhatikan mereka sambil tersenyum penuh arti dengan mulut yang sudah bersiap mengunyah, Sean melangkah maju. Langkah kakinya lebar dan konstan, langsung memangkas jarak di antara dirinya dan Tera.

Sean mengeluarkan selembar saputangan sutra putih bersih dari saku jas mahalnya. Kemudian, dengan gerakan tangan yang sangat lembut, kontras dengan aura membunuh yang ia pancarkan beberapa menit lalu, Sean menyeka tetesan keringat di pelipis kanan Tera secara langsung.

Tera seketika membeku kaku di tempatnya berdiri. Sepasang matanya yang bulat melebar sempurna. Wajah manisnya yang semula agak pucat karena lelah, dalam hitungan detik langsung merona merah padam seperti kepiting rebus akibat tindakan intim yang sangat tidak terduga dari pria yang biasanya sedingin es kutub itu.

"E-Eh... Tuan Sean... apa yang kamu lakukan? Aku... aku bisa menyekanya sendiri memakai tisu!" gagap Tera, tangannya bergerak kikuk di udara, bingung harus berbuat apa.

"Kamu selalu berlari seperti dikejar hantu setiap kali mengantarkan makanan, Dokter Lentera," ucap Sean dengan nada suara yang tenang namun mutlak. Ia melipat kembali saputangannya dan memasukkannya ke dalam saku jas dengan gerakan yang sangat elegan.

"Simpan energimu untuk perjalanan bakti sosial medis luar kota besok pagi. Perjalanan ke wilayah perbukitan itu akan cukup melelahkan dan menyita banyak tenaga," lanjut Sean, menatap lurus ke dalam manik mata Tera.

"Ah, iya! Besok pagi-pagi sekali aku sudah harus masuk ke dalam tim medis gelombang pertama yang berangkat ke desa terpencil di kaki gunung itu," cerita Tera, buru-buru menyambar topik tersebut untuk mengalihkan rasa canggung dan debaran jantungnya yang mendadak menggila di dalam dada.

"Aku sangat bersemangat! Sudah lama sekali aku tidak menghirup udara pedesaan yang asli setelah hampir satu tahun penuh terjebak di tengah polusi kota besar ini. Lagipula, warga di sana sangat membutuhkan bantuan pemeriksaan kesehatan gratis."

Alensky yang sedang asyik menyantap nasi uduk di sofa mendengarkan percakapan itu dengan telinga terpasang tajam. Ia melirik kakak sepupunya, menangkap kilat protektif yang sangat pekat di mata Sean.

Alensky tahu apa yang harus ia persiapkan setelah ini untuk memastikan keselamatan dokter kesayangan kakaknya tersebut.

Sean menatap mata bulat Tera yang memancarkan binar kebahagiaan polos dan ketulusan tersebut.

Cahaya yang ada di dalam diri Tera adalah satu-satunya hal yang menahan kegelapan di dalam jiwa Sean agar tidak menelan dirinya sepenuhnya.

Di dalam hati kecil Sean, sebuah sumpah yang sangat sakral perlahan terukir kembali dengan sangat kokoh, sekeras batu karang, dia akan ikut mendampingi tim medis tersebut besok pagi secara rahasia sebagai pimpinan pemantau tertinggi.

Sean akan memastikan bahwa di bawah langit perbukitan esok hari, tidak akan ada satu pun bayang-bayang klan hitam yang diizinkan untuk menyentuh, melukai, atau meredupkan cahaya Lentera kehidupan yang kini telah menjadi separuh dari belahan jiwanya.

"Kembalilah ke ruanganmu dan persiapkan barang-barangmu, Dokter Tera," ucap Sean lembut, membuyarkan lamunan gadis itu. "Dan pastikan kamu beristirahat malam ini."

"I-Iya, Tuan Sean! Kalau begitu aku permisi dulu untuk bersiap-siap. Nona Alen, habiskan nasi uduknya ya!" pamit Tera buru-buru, masih dengan wajah kemerahan yang belum sepenuhnya reda, lalu segera melesat keluar dari ruangan.

Begitu pintu tertutup rapat, kehangatan di ruangan itu kembali menyusut dalam sekejap. Alensky meletakkan sendok plastiknya, wajah cantiknya kembali berubah menjadi mode yang serius dan dingin. Ia menatap Sean yang kini kembali memandang ke luar jendela kaca besar menembus awan kota.

"Aku akan menyiapkan tim khusus untuk bergerak malam ini juga, Kak," ucap Alensky tegas, mengonfirmasi rencana rahasia mereka tanpa perlu Sean mendikte perintahnya.

"Kita akan membersihkan jalur perbukitan itu sebelum fajar menyingsing, agar Nona Dokter kita bisa menikmati udara pedesaannya dengan aman."

Sean tidak berbalik, namun anggukan kepalanya yang samar sudah cukup menjadi perintah mutlak bagi Alensky.

Jangan lupa komen like dan hadiahnya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!