NovelToon NovelToon
OVER THE AGE

OVER THE AGE

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: siput

Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg

Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.

Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

Bau khas tembakau yang cukup pekat eca mengambil parfum yang ia selalu bawa setiap harinya di tas kantongnya ia menyemprotkan parfum wewangian bunga yang harum ini pada jaket kesukaan theo, ia tak kuasa menahan aroma tembakau bekas rokok theo yang membuatnya pusing, ia tak kuasa menahan lelah dan kantuknya hingga ia meletakkan dagunya ke pundak theo.

"Ya kalau lo gak mau nampung gue nggak masalah sih ada alex yang mau nampung gue di rumahnya" sahut eca mengusili theo

"Theo, gue senderan bentar ya di pundak lo sepanjang jalan nanti, capek banget gue boleh nggak?" pinta eca

Wangi manis bunga yang mendadak menguar menyamarkan aroma nikotin di sekitar kami, membuat napasku sempat tertahan sesaat.

Namun, kalimat santai yang menyebut kembali nama pria itu langsung memantik rasa dongkol yang membakar tengkukku. Ditambah lagi, kehangatan napas serta dagunya yang menempel tanpa beban di pundak kiriku menghantarkan sengatan aneh yang merayap cepat ke dada, membuyarkan konsentrasi menyetir.

Tanganku meremas setang motor lebih kuat, menutupi gejolak canggung yang berusaha kukendalikan mati-matian.

"Berani lo sebut nama dia sekali lagi, gue turunin lo di pinggir selokan,"

gerutuku dengan suara berat tertahan, pura-pura fokus membelah lalu lintas malam yang mulai lengang.

Meski mulutku terus melontarkan ancaman dingin, pundakku justru sengaja kuturunkan sedikit, memberi tumpuan yang lebih nyaman bagi kepalanya yang terkulai lelah. Rasa gengsi ini menolak mengaku betapa dadaku berdegup kencang karena kedekatan tak tahu diri ini.

"Tidur aja, nggak usah banyak drama. Kalau lo jatuh, gue tinggal."

Sesaat eca sempat tertidur di pundak theo tapi lalu dia membenarkan posisi kepalanya kembali, sepanjang jalan theo hanya fokus mengendarai, malam semakin dingin angin semakin kencang berhembus.

Pergerakan kecil di punggungku saat kepalanya bergeser membuat kewaspadaanku kembali menajam. Hembusan angin malam yang kian menusuk pori-pori kulit kaus tipisku tak lagi kupedulikan, kalah telak oleh rasa hangat ganjil yang merayap di area tempat tubuhnya bersandar.

Jalanan aspal yang basah oleh embun malam terpantul samar di bawah sorot lampu depan motor yang membelah keheningan kota.

Aku sengaja menurunkan kecepatan laju gas, menahan laju mesin agar goncangan jalan tidak mengusik perempuan keras kepala di belakangku ini. Jemariku yang sempat membeku kaku di atas kemudi kini mengetat perlahan, berusaha mengusir debar aneh yang terus mengacaukan ritme pernapasanku.

"Kepala lo berat, jangan gerak-gerak,"

dengusku pelan, suaraku nyaris tertelan deru angin malam yang menerpa helm kami. Dengan satu tangan kiri yang terlepas sesaat dari setang, aku meraih pergelangan tangannya yang melingkar di pinggangku, menariknya sedikit lebih erat ke depan agar ia tak terhempas angin.

"Bentar lagi sampai. Jangan berani-berani pingsan di jalan."

Eca yang setengah tertidur itu ternyata terlalu nyaman di pundak theo yang bidang dan lebar itu, ia semakin erat memeluk theo layaknya boneka beruang besar dan tak di sangkan tangan eca meraba seluruh dada theo yang atlentis hingga turun hampir mengenai daerah privasinya.

Sentuhan tanpa sadar itu laksana sengatan listrik tegangan tinggi yang langsung membakar habis fokus berkendaraku. Otot perut dan dadaku menegang keras di balik kaus tipis, sementara motorku sempat oleng sepersekian detik sebelum kuhentakkan rem secara mendadak ke bahu jalan sepi. Jantungku berdegup gila-gilaan, bukan karena laju kendaraan, melainkan panas liar yang mendesak ke ubun-ubun akibat gerakan tangannya yang kelewat berbahaya.

Dengan gerakan kilat dan napas yang memburu kasar, tangan kiriku mencengkeram erat pergelangan tangannya, menghentikan jemari usil itu tepat sebelum menyentuh batas terlarang di bawah pusar. Kutarik tangannya menjauh dengan cengkeraman tegas, lalu menoleh ke belakang dengan mata menyala penuh gejolak yang sukar kukendalikan.

"Eca, bangun!"

suaraku meluncur rendah, parau dan tercekat di tenggorokan yang mendadak kering kerontang. Wajahku terasa mendidih di balik dinginnya malam, menatap figur yang masih setengah terlelap itu dengan rahang terkatup rapat.

"Lo beneran udah gila, ya? Tangan lo mau gue patahin atau lo sengaja mau bikin kita berdua mati konyol malam ini?"

Eca yang terbangun dengan setengah sadar bercampur bingung ia bahkan tidak tau apa yang dia lakukan.

"Ha? Ada apa?"

"Awh....sakit tau tangan gue, lo gila ya?" sahut eca yang tangannya masih tergenggam tangan besar theo

Darahku berdesir kian tak menentu mendengarnya merintih sok polos seolah tak menyadari bahaya yang baru saja ia ciptakan. Sengatan panas di kulit perutku masih membekas, mengacaukan ritme napasku yang kini terengah di balik keheningan pinggir jalan raya yang lengang. Kulempar tangannya menjauh ke pangkuannya sendiri, lantas meremas kemudi besi begitu kencang hingga buku-buku jariku memutih kaku.

"Gue yang gila atau lo yang sengaja cari mati?"

suaraku merendah tajam, serak dan dipenuhi desakan amarah yang bersusah payah menutupi rasa gugup. Aku menolak menatap wajahnya yang baru terbangun itu, takut tatapan sayu nan lugunya makin mempermalukan kendali diriku yang nyaris runtuh.

"Tangan lo itu tadi ngerayap ke mana, hah? Sadar diri sedikit, lo lagi bonceng cowok, bukan meluk guling di kamar lo."

Dada bidangku naik-turun menahan debar liar yang masih menghantam rusuk. Tanpa menoleh lagi, kutendang pedal gas dan menyentak laju motor agar kembali membelah angin malam.

"Duduk yang bener. Sekali lagi tangan lo macem-macem, beneran gue lempar lo ke trotoar."

...****************...

1
Mawarresa
eca berani bangett🤣
Renjana
tinggalin jejak dulu,
hadir kak, mampir juga ya😊
Siput: thank u udh mampir kak
total 1 replies
atikah@72
sama-sama kak, sukses selalu🫰
atikah@72
ceritanya bagus lanjutkan Thor. jgn lupa mampir ya di aku buat silaturahmi. makasih 🫰
Siput: trimakasih kak support sistemnya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!