Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 02
Herlan mendengar jelas bagaimana ibunya enggan menyaring ucapan. Dia pun tidak tega melihat istri pertama hanya diam seraya menunduk dalam. Arjanti memang sangat menghormati kedua orang tuanya.“Ma, dijaga lisannya, kasihan Janti!”
Darti mendengkus. “Sekarang istrimu sudah dua, bukan lagi seorang saja. Bersikaplah adil, terlebih Saila masih baru banget dirumah ini. Ajari Janti memaklumi, jangan maunya menang sendiri.”
‘Kapan aku bertindak egois Bu? Setiap kali mau menjawab, membela diri, belum apa-apa sudah Ibu labeli menantu durhaka.’ Sambil memberikan piring ke tamu, batinnya berucap getir.
“Aku paham, Ma.” Herlan baru saja mau mendekati istri pertama, namun tiba-tiba tangannya dipeluk istri muda.
Saila melirik para tamu yang duduk jauh dari keluarga inti. Mereka asik mengobrol sendiri, tetapi pandangan sesekali tertuju ke sini.
“Mas, aku gerah pengen ganti baju lebih nyaman. Kamar kita dimana?” tanyanya dengan suara menekan persis desisan, dan tatapan mata tertuju pada wanita memandang hampa.
Niat hati pun menguap begitu saja, tidak jadi menghampiri wanita yang menyaksikan interaksi mereka.
“Kamar kamu di lantai dua, tapi bagian belakang —” belum selesai Herlan berucap, sudah dipotong suara berat efek pecandu nikotin.
“Kalian itu baru saja menikah. Masa mau tidur di tempat sempit? Sana pakai kamar utama, biar Janti ngalah pindah ke bawah, kan ada kamar kosong bersebelahan dengan ruang istirahat Bapak. Jadi, kalau malam hari semisal Ibumu perlu sesuatu, tinggal panggil dia. Kebetulan dilengkapi pintu penghubung,” pria paruh baya berbadan kurus, sekenanya mengusulkan sesuatu tak etis.
Janti berdiri kaku. Tangannya sibuk meremas selembar tisu. Dirinya sengaja diam, ingin mendengar pembelaan pria yang biasanya sering melawan kedua orang tuanya jika sudah kelewatan dalam hal merendahkan.
“Janti, kamu keberatan tidak kalau pindah ke kamar bawah? Dulu kan sewaktu kita menjadi pengantin baru hingga pernikahan sudah 4 tahun lamanya, dirimu menempati kamar utama, sekarang gantian sama Saila, ya?” lembut suaranya membujuk, hangat sorot matanya menatap tanpa ditemukan binar rasa bersalah pada manik hitam legam.
Hancur sudah hatinya. Bukan kalimat pembelaan yang terlontar di bibir kerap kali mengatakan cinta itu, namun permintaan lebih ke pernyataan.
Saila pun menambahi, mimik wajah seolah merasa bersalah. “Maaf ya, Janti. Bukan maksud mau merebut posisi istri pertama, tapi aku juga berhak menikmati fasilitas sama supaya benar-benar bisa terciptanya rasa adil bukan?”
“Halla, ngapain izin segala! Adil itu ya harus sama rata. Janti sudah 4 tahun jadi nyonya muda di rumah ini. Dimanjakan, walaupun tidak memberi kontribusi apa-apa. Tugasnya cuma hamil, pun gagal dipenuhi. Sana kalian naik ke atas!” usir Darti, menyuruh anak dan menantu barunya beristirahat.
Tenggorokan Janti seperti tersumbat batu. Air mata memenuhi pelupuk, siap tumpah, namun dicegah dengan membayangkan senyum teduh ayah dan ibunya. Mati-matian dia menahan tangis, jangan sampai terlihat lebih menyedihkan dari ini.
Herlan bergeming, ragu menuruti, namun tarikan tangan Saila pada lengan, membuat kakinya berjalan mengikuti.
Para tamu berbisik sambil melihat wajah menantu pertama tampak tegar. Sedari akad sampai saat ini, tak terlihat setetes air mata terjatuh dari wajah oval Arjanti, namun dalamnya hati orang siapa yang paham.
“Walau bagaimanapun, Saila itu lebih tua umurnya dari kamu, dan sebaya dengan suami kalian. Meski statusmu istri pertama, tetap saja harus punya rasa hormat ke putriku. Lagian, semisal Saila hamil terus melahirkan, dirimu bakalan kecipratan dipanggil Ibu, sudah pasti senang bukan?” Tanira berbicara dengan suara lembut, namun sorot matanya menghakimi dengan senyum mengejek.
Darti tidak mau ketinggalan, ikut menyambung. “Ibarat kata, kamu itu masih bau kencur. Kalau normal dan gak mandul, ya lagi masa subur, lah wong umur saja masih 23 tahun.”
“Manusia cuma bisa mengusahakan, tapi kalau yang maha kuasa belum mempercayai memberi amanah anak ke aku dan mas Herlan, terus kami bisa apa?” jawabnya bersuara lembut namun terdapat ketegasan tak terbantahkan.
“Halla, dari dulu gitu terus alasanmu,” sahut Darti sambil menurunkan selendangnya. “Selalu bawa-bawa nama Tuhan.”
“Dorong kursi rodaku ke kamar. Terus bantu mandi seperti biasa!” titahnya bak nyonya ke pelayan. “Biar Astuti yang jaga meja prasmanan. Dia lebih bisa diandalkan, gak kayak kamu — berdiri bak patung, pelit senyum. Cepetan!”
Astuti adalah pelayan di rumah ini, sudah bekerja sedari Arjanti jadi istri Herlan.
“Jeng, aku tinggal sebentar ya? Gak betah mengenakan busana muslimah ini, bawaannya gerah,” Darti meminta pengertian besannya.
Tanira tersenyum memaklumi. “Kayak sama siapa, Jeng. Kita kan sudah jadi keluarga sekarang, santai saja.”
Selendang hitam diturunkan ke pundak, dan Janti masih sempat mengangguk sedikit ke ibunya Saila. Kemudian mendorong kursi roda ibunya.
Gerakannya begitu luwes, tak tampak keberatan maupun kaku. Tiga tahun lamanya dia berteman dengan benda ini.
Semenjak Darti mengalami kelumpuhan pada kedua kaki akibat kecelakaan mobil, Arjanti lah yang sabar merawat wanita itu. Semua dijalani dengan ikhlas. Memperlakukan orang tua Herlan sama seperti ibu dan bapak kandungnya sendiri.
Setibanya di depan kamar mandi, Janti membungkuk. Tangan kanan masuk ke bawah lutut lemas, dan tangan kiri menahan punggung wanita berbobot 54 kilogram.
Keningnya berkerut, berat badan ibu mertuanya lebih berat dari bobot tubuhnya sendiri.
“Hati-hati! Kamu ya, hari-hari selalu gendong aku, tapi masih ceroboh. Hampir aja jatuh kalau gak cepat-cepat pegangan daun pintu!” gerutu wanita yang sudah duduk nyaman di bangku plastik.
Diam, membisu, ya … cara itulah yang diterapkan Arjanti ke diri sendiri. Semakin dia menjawab, maka ibu mertuanya akan melancarkan aksi mengarang cerita, membuat namanya jelek dimata sang suami, berujung Herlan harus memilih membela istri atau tetap menunjukkan bakti kepada ibu telah melahirkannya ke dunia ini.
Arjanti mulai melepaskan pakaian muslimah ibu mertuanya. Meski hatinya bergejolak, sudut mata berembun, tenggorokan tercekat menahan tangis, dia tetap berlaku lembut mengurusi wanita sepantaran ibu kandungnya.
“Kamu itu harusnya bersyukur. Gak perlu susah-susah melewati masa kehamilan, melahirkan yang taruhannya nyawa, langsung saja kebagian dipanggil Ibu nantinya,” ocehnya seraya menikmati pijatan lembut pada betis telah disabuni.
Janti tetap memijat kaki ibu mertua. Dia berjongkok di lantai.
“Coba saja dari dua tahun lalu dirimu setuju dipoligami, saat ini aku sudah bermain bersama cucu,” lanjutnya tanpa menimbang efek perkataan tersebut menyakiti perasaan menantu pertama.
“Mulai sekarang kamu harus tau diri, sadar posisi bukan lagi jadi istri satu-satunya. Terlebih Herlan sudah berjanji padaku, mau mengupayakan semaksimal mungkin bersetubuh dengan Saila supaya dia cepat hamil. Bisa jadi sekarang mereka sudah mulai bercinta,” ucapnya sekenanya.
Sabun dalam genggaman tangan Janti terlepas, badannya lemas. Buliran air mata disembunyikan sekuat tenaga, akhirnya jatuh juga.
“Halla, gak usah sok tersakiti, semua ini terjadi ya karena kamu yang gak mampu memberikan anak. Jangan egois, Janti!”
.
.
Bersambung.
suatu hari nanti si Herlan akan menyesal karena udh menyia2 kan kamu Janti
pasti tu anak yg dikandung saila bukan anak si Herlan
bukan Janti yg salh tapi si Herlan lh tak bisa memberikan keturunan