NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BONCENGAN TANPA BICARA

Rintik-rintik hujan yang tadinya halus kini mulai membesar, berubah menjadi deru gerimis tebal yang membentur daun-daun pohon di tepi jalan pintas. Suara gesekan ban kendaraan di atas aspal basah memecah keheningan malam yang kian dingin.

Enzo menggeser posisi berdirinya, melangkahi bodi depan motor matic tua milik Maya, lalu mendaratkan duduknya di atas jok kemudi. Jemari tangannya menggenggam setang yang agak licin oleh air hujan, merasakan getaran halus dari mesin tua yang meraung konstan.

Maya mematung sejenak di samping bodi motor. Lampu depan motor membiaskan pendar cahaya keemasan yang menembus tirai air, memantulkan bayangan tubuh Enzo yang tegap di atas jok. Ada keraguan tipis yang sempat melintas di wajah gadis dua puluh satu tahun itu. Selama ini, Maya selalu membangun jarak yang sangat tegas dengan pria mana pun. Pengalaman pahit dikhianati oleh sosok yang ia percayai telah mengajarinya untuk selalu curiga dan tidak mudah bergantung pada siapa pun.

Namun malam ini, di tengah dinginnya jalanan sepi yang diguyur gerimis, benteng pertahanan itu mendadak terasa begitu rapuh.

"Gue nggak bakal macam-macam, May," kata Enzo tenang tanpa memutar kepalanya.

"Naiklah, sebelum hujan beneran turun lebat," sambung Enzo seraya menunjuk jok belakang.

Maya menghembuskan napas pelan yang membentuk uap tipis di udara dingin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis berjaket parasit biru tua itu memegang bahu Enzo sebentar sebagai tumpuan, lalu mengayunkan kakinya menaiki jok belakang.

Enzo memutar tuas gas secara perlahan. Motor matic tua itu meluncur mulus membelah kegelapan malam, menyusuri jalanan aspal yang memantulkan pendar lampu penerangan jalan.

Di belakangnya, Maya duduk kaku. Pada awal perjalanan, gadis itu sengaja mengambil jarak beberapa sentimeter dari punggung Enzo. Kedua tangannya canggung memegang besi pegangan di bagian belakang jok motor, menahan goncangan roda saat melintasi cekungan aspal yang tergenang air. Angin malam yang memotong cepat di sela-sela baju basahnya membuat bahu mungil gadis itu berguncang halus oleh rasa dingin.

Namun, seiring laju kendaraan yang konsisten menembus rintik hujan, perhatian Maya perlahan teralih pada sosok pemuda yang mengendalikan setang di depannya.

Enzo mengemudi dengan sangat tenang dan stabil. Tidak ada atraksi berkendara yang ugal-ugalan, tidak ada usaha untuk sengaja mengerem mendadak demi mencari kesempatan memotong jarak fisik, dan tidak ada obrolan basi yang dipaksakan. Pemuda itu sepenuhnya fokus membelah jalanan licin, menjaga keselamatan mereka berdua di atas kendaraan tua yang baru saja pulih dari mogok.

Dari sudut pandang tempatnya duduk, Maya bisa melihat dengan jelas lebar punggung Enzo. Kaus polos kusam yang dikenakan pemuda itu telah basah kuyup di bagian bahu dan belakang, menempel ketat pada kulitnya. Punggung itu bukan punggung pria kaya yang terbiasa bersantai di dalam mobil berpendingin udara, melainkan punggung seorang pekerja keras yang setiap hari memanggul beras, semen, dan kayu demi menyambung hidup.

Punggung yang kokoh, jujur, dan memancarkan rasa aman yang amat nyata.

Maya menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Rasa malu dan sesal perlahan merayap naik di dalam dadanya. Ia mengingat kembali bagaimana beberapa hari yang lalu ia membentak Enzo di kafe, menolak bantuannya dengan prasangka buruk, bahkan mengatainya dengan kata-kata tajam. Maya selalu mengira bahwa setiap pria yang mencoba mendekati atau membantunya pasti memiliki niat terselubung—menginginkan imbalan, mencari perhatian, atau berniat memanfaatkannya.

Namun Enzo mematahkan seluruh prasangka buruk itu tanpa perlu banyak bicara. Pemuda itu tidak pernah meminta uang, tidak memamerkan kebaikan, dan tidak memintanya untuk merasa berutang budi. Enzo menolongnya di tengah hujan sepi murni karena kemanusiaannya sendiri.

Gengsi tebal yang selama bertahun-tahun membungkus hati Maya mendadak melunak, meleleh sedikit demi sedikit disapu dinginnya air hujan.

Ketika motor tua itu melintasi polisi tidur yang cukup tinggi di persimpangan jalan, kendaraan itu berguncang agak keras. Refleks, pegangan tangan Maya pada besi belakang jok terlepas. Demi menjaga keseimbangannya agar tidak merosot jatuh, Maya meremas tepi kain kaus kusam Enzo di bagian pinggang.

Enzo merasakan cengkeraman halus jemari Maya di pinggangnya, namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun atau bertindak janggal. Ia tetap mengemudikan motor dengan stabil, memberikan ruang yang sangat nyaman bagi Maya.

Perlahan-lahan, bukannya menarik kembali tangannya ke besi belakang yang dingin dan licin, Maya justru membiarkan jemarinya tetap memegang tepi kain kaus Enzo. Gadis itu menyandarkan sedikit dahi dan bahunya mendekat ke punggung tegap Enzo, menggunakan tubuh pemuda itu sebagai benteng alami untuk menghalau hembusan angin malam dan rintik hujan yang menusuk kulitnya.

Keheningan di antara mereka berdua di sepanjang perjalanan itu tidak lagi terasa kaku atau dipenuhi prasangka. Keheningan itu telah berubah menjadi sebuah kesepahaman tanpa suara—sebuah chemistry halus yang terbangun dari rasa percaya yang baru saja bertunas.

Lima belas menit kemudian, laju motor matic tua itu perlahan melambat saat memasuki mulut gang sempit kawasan pemukiman padat. Enzo menghentikan kendaraannya tepat di depan pagar kayu kecil sebuah rumah sewa sederhana tempat Maya tinggal.

Rintik hujan telah mereda menjadi gerimis tipis yang samar. Enzo mematikan mesin motor, lalu menegakkan standar samping kendaraan.

Maya perlahan mengayunkan kakinya turun dari jok belakang. Gadis itu merapikan jaket parasitnya yang basah, berdiri di samping motor seraya menundukkan kepalanya tipis. Pipi cantiknya bersemu merah samar di bawah temaram sinar lampu gang.

"Sudah sampai, May," kata Enzo ramah seraya menyerahkan kunci kontak motor itu ke tangan Maya.

Maya menerima kunci logam yang masih agak hangat itu. Jemarinya sempat bersentuhan tipis dengan telapak tangan Enzo yang agak kasar.

"Makasih ya, Nzo..." bisik Maya pelan, nada suaranya sangat lembut dan jujur.

"Sama-sama, May," sahut Enzo seraya menyunggingkan senyum tipis yang membumi.

"Besok kalau mau dipakai kerja, panasi dulu lima menit sebelum jalan," pesan Enzo seraya menunjuk mesin motor.

Maya menatap Enzo dengan binar mata yang jernih. Untuk pertama kalinya, tidak ada jarak curiga atau duri pertahanan diri di dalam sorot matanya. Gadis itu melihat Enzo bukan lagi sebagai pria asing yang patut diwaspadai, melainkan sebagai sosok yang sanggup memberikan kehangatan dan rasa aman di tengah dinginnya dunia.

"Kamu... kamu mau mampir dulu?" tawar Maya sedikit canggung.

"Ada teh hangat di dalam," sambung Maya seraya meremas tepi jaketnya.

Enzo melirik pakaian kusamnya yang sudah basah kuyup oleh air hujan. Ia menyunggingkan senyum tulus seraya menggelengkan kepala secara halus.

"Nggak usah, May," tolak Enzo jujur dan sopan.

"Baju gue basah kuyup begini, nanti malah mengotori lantai rumah kamu," lanjut Enzo seraya menyunggingkan senyum tulus.

"Hati-hati di jalan ya, Nzo," ucap Maya tulus.

"Siap, May. Gue balik dulu," pamit Enzo seraya mengangguk sopan.

Pemuda itu membalikkan badannya, melangkah tenang menyusuri gang sempit yang basah menuju arah pemukiman kontrakannya. Maya berdiri di dekat pagar kayunya dalam diam, memperhatikan langkah tegap Enzo yang perlahan menghilang di balik tikungan gang dengan rasa hangat yang merayap naik di dadanya.

Saat Enzo melangkah menapak di trotoar luar gang, ponsel tua di saku celana jins lamanya bergetar halus dua kali secara berurutan. Enzo merogoh benda itu, membuka layar retaknya yang menyala terang di bawah temaram lampu jalan.

[Pembaruan Data Target: Maya (21 Tahun)]

[Analisis Tindakan: Perlindungan & Sikap Menjaga Batasan yang Konsisten.]

[Status Emosional Target: Tembok gengsi dan trauma pengkhianatan target telah luruh secara signifikan. Target mulai memberikan rasa percaya penuh dan kehangatan emosional kepada Anda.]

[Keterikatan Maya Meningkat: 22% -> 30%]

[Catatan Sistem: Ketegasan dan kejelasan prinsip Anda telah berhasil memenangkan hati Target tanpa perlu obral kata-kata manis.]

Enzo menatap layar ponsel tuanya dalam diam, menyunggingkan senyum tipis yang penuh perenungan. Pemuda itu mengantongi kembali ponselnya, lalu menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celananya yang basah, melangkah mantap menyongsong malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!