Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 YUDI KERNET YANG JADI PELATIH TIKALA
Umur 25 tahun, Bima di Glasgow. Yudi di Tuminting. Pada umur 26 tahun.
Yudi tidak jadi pemain bola. Tidak jadi kernet juga. Sekarang dia jadi apa ? Dia jadi pelatih.
Bukan pelatih berlisensi. Tidak punya sertifikat PSSI. Tidak punya sepatu bola. Dia latih pakai sendal swallow.
Lapangan Tikala , pada jam 5 pagi. Masih gelap. Lampu bagang di laut masih menyala.
12 anak berdiri. Termasuk Ronald , anak Joshua , umur 10 tahun yang sekarang pakai sepatu Specs Lightspeed no 40 kebesaran pemberian Bima.
Yudi berteriak. "LARI! 5 PUTARAN LAPANGAN! YANG BERJALAN , PULANG!"
Anak - anak berlari. Ronald di depan. Kaki pakai sepatu kebesaran , tapi lari yang paling kencang.
Yudi melihat jam. Jamnya jam tangan plastik Rp 25 ribu dari pasar. Bukan smartwatch seperti yang Bima pakai di Glasgow yang bisa mengecek detak jantung.
Yudi ingat dulu , umur 14 tahun , dia lari sama Bima tiap pagi di Tikala sebelum dia kerja kernet angkot. Bima yang mengajak. Sekarang dia yang mengajak anak - anak.
Jam 5.30 , anak - anak selesai berlari. Muntah satu. Nangis dua.
Yudi suruh mereka duduk.
"Tahu kenapa kita lari pagi ?" tanya Yudi.
Anak - anak diam.
"Supaya kalau nanti ada trial di Manado United , ngana so tidak kaget. Karena di sana , hari pertama fisik. Yo - yo test. Kalau ngana gagal hari pertama , pulang. Tidak ada hari kedua."
Yudi tahu. Karena dia pernah mengantar Bima trial di Manado United dulu naik angkotnya. Dia lihat Bima lolos karena fisiknya kuat. Karena lari pagi di Tikala.
Satu anak angkat tangan. Namanya Aldo , umur 11 tahun , anak nelayan juga , bapaknya baru saja meninggal.
"Coach Yudi , kita tidak mau jadi pemain bola. Kita mau jadi nelayan seperti Bapak. Untuk apa lari ?"
Pertanyaan yang sama yang pernah Yudi tanyakan ke Bima waktu umur 14 tahun dulu. Waktu Yudi bilang "Kita jadi kernet saja , Bima. Bola tidak kasih makan."
Yudi berjongkok.
"Dulu Kak Bima juga ditanya begitu sama saya" kata Yudi. "Saya bilang , untuk apa main bola , jadi nelayan saja."
"Lalu ?"
"Lalu Kak Bima berkata : Nelayan yang hemat tenaga yang akan mendapatkan ikan yang banyak. Pemain bola yang hemat tenaga yang akan mendapatkan gol terbanyak."
Aldo tidak mengerti. Tapi mengangguk.
Latihan teknik. Yudi tidak bisa teknik. Dia tidak pernah jago bola. Dulu di Tikala , dia cuma bisa tendang kencang. Tidak bisa Pisang Raja.
Jadi dia ajar apa yang dia bisa : Cara jatuh.
"JATUH! SEMUA JATUH!"
Anak - anak bingung.
Yudi kasih contoh. Dia jatuh di lumpur Tikala. Berguling , lalu berdiri lagi.
"Di Sawangan , rumput sintetis. Kalau jatuh , kulit kebakar. Di Tikala , lumpur. Kalau jatuh, tidak apa. Jadi jangan takut jatuh. Kak Bima dulu jatuh terus di Tikala , makanya di Sawangan dia tidak takut."
Ronald , anak Joshua , bertanya: "Coach , Kak Bima pernah nangis di Tikala ?"
Yudi ingat. Malam setelah Bima jual sepatu no 39 kebesaran untuk tiket ke Manado. Bima menangis di Tikala dengan pegang bola jelek.
"Pernah. Sekali. Waktu umur 12 tahun. Setelah itu tidak pernah lagi sampai umur 17 tahun di Sawangan."
"Kenapa ?"
"Karena dia simpan nangisnya untuk gol 30 meter."
Anak - anak tertawa.
Jam 6.30 pagi , latihan selesai. Anak - anak pulang , karena harus sekolah. Yudi harus kerja. Kerja apa ? Sekarang dia bukan kernet lagi. Dia jadi tukang ojek pangkalan di depan pasar Tuminting. Penghasilan Rp 80 ribu sehari. Tidak banyak. Tapi cukup untuk beli bola plastik baru tiap bulan untuk anak - anak Tikala.
Siang itu , Bima video call Yudi dari Glasgow. Jam di Glasgow jam 5 pagi , dingin -2 derajat. Jam di Tuminting jam 12 siang , panas 33 derajat.
Bima lihat Yudi pakai kaos oblong di pangkalan ojek.
"Yudi , kau masih latih anak - anak ?" tanya Bima.
Yudi menjawab "Masih. 12 anak. Sama seperti dulu kita 12 anak di Tikala. Cuma sekarang aku yang jadi kau. Dan Ronald yang jadi kau."
Bima tertawa.
"Yudi , aku transfer ya bulan ini lebih. Rp 5 juta. Untuk beli sepatu untuk anak - anak."
Yudi tolak.
"Jangan. Jangan kasih sepatu. Kasih bola plastik saja. 2 bola Rp 100 ribu. Cukup. Kalau kasih sepatu , mereka jadi manja. Biar kaki pecah - pecah dulu seperti kita. Nanti kalau sudah sampai Sawangan , baru pakai sepatu bagus."
Bima terdiam. Di Glasgow , dia pakai sepatu Adidas Predator terbaru , harga Rp 4 juta , gratis dari sponsor.
Di Tikala , anak - anak pakai kaki ayam.
Yudi berkata lagi
"Bima , kau ingat , dulu kau bilang apa waktu kita lari pagi umur 14 tahun ?"
"Apa ?"
"Kau bilang : Yudi , kalau aku jadi pemain timnas nanti , kau jadi apa ?"
Bima ingat.
"Aku jawab : Aku jadi kernet terus."
"Ternyata tidak. Sekarang aku jadi pelatih."
Bima memakai jaket tebal , menangis sedikit. Tidak kelihatan di video call karena blur.
"Yudi , kau pelatih terbaik yang pernah aku punya. Lebih baik daripada Coach Sudirman dan Coach Thomas Doll."
Yudi tertawa , giginya kuning karena rokok.
"Ah , kau. Aku cuma ajar jatuh. Mereka ajar gol."
Malamnya , Yudi tulis di buku tulis lusuh. Buku tulis yang dia pakai catat absen anak - anak Tikala.
Di halaman terakhir , dia tulis
Absen Tikala 2033
Ronald - Hadir - Sepatu no 40 kebesaran - Calon Sawangan*
Aldo - Hadir - Tidak mau jadi pemain bola - Tapi tetap berlari - Calon Nelayan Kuat
Di bawahnya , dia tulis pakai pulpen yang hampir habis
TUGAS PELATIH BUKAN BIKIN ANAK JADI BIMA. TUGAS PELATIH BIKIN ANAK MAU LARI PAGI.
Dia tutup buku. Taruh di bawah bantal. Besok jam 5 pagi harus bangun lagi.
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya
Happy reading