NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

***

Lampu kristal di lobi Mansion Hadiwinata memantulkan pendar kemewahan yang biasanya terasa dingin, namun malam ini, ada aura yang berbeda. Nadia melangkah masuk dengan sisa-sisa senyum kemenangan, meski jalannya masih sedikit menyerupai pinguin akibat pertempuran malam sebelumnya. Di belakangnya, Raditya berjalan dengan langkah tegap, namun wajahnya tampak begitu menderita.

Raditya mengangkat tangannya, melepas jas mahalnya seolah benda itu adalah kontaminan berbahaya. "Ini benar-benar di luar nalar," gumamnya dengan suara bariton yang berat sambil mengendus lengan kemejanya. "Seluruh tubuh saya berbau asap arang dan lemak sapi. Ini adalah penghinaan bagi hidung saya."

Nadia tertawa renyah, tawanya yang lepas menggema di lorong sunyi. "Aduh Mas, jangan lebay deh. Itu namanya aroma rakyat jelata yang nikmat, penuh perjuangan. Lagian, siapa suruh Mas tadi antusias banget pas aku suapin? Bilang aja kalau Mas sebenarnya diam-diam ketagihan sama bumbu sate padangnya."

Raditya mendengus, mengikuti Nadia masuk ke dalam kamar utama yang luas. "Saya terpaksa, Nadia. Jika saya tidak membuka mulut, kamu pasti akan memasang wajah sesenggukan itu dan menuduh saya sebagai Papa yang tidak sayang anak lagi. Saya hanya memitigasi risiko drama."

Nadia meletakkan tasnya di meja rias, lalu berbalik. Ia melihat Raditya yang sedang berdiri di depan cermin besar, jemarinya yang panjang mulai melepas kancing kemeja satu per satu dengan gusar. Jiwa Aurelia yang jahil pun bangkit. Ia ingin memberikan penghargaan kecil karena Raditya sudah mau mengipasi dirinya di pasar malam tadi.

"Ya sudah, sebagai tanda terima kasih karena Mas sudah rela jadi asisten pribadi aku tadi... gimana kalau aku bantu Mas mandi?" tanya Nadia dengan nada menggoda. Ia mendekat, tangannya terulur membantu membuka kancing kemeja Raditya yang tersisa. "Aku siapkan airnya, atau mungkin Mas butuh bantuan buat gosok punggung?"

Raditya terdiam seketika. Gerakan tangannya berhenti. Ia menunduk, menatap Nadia dengan tatapan yang tadinya dingin namun mendadak berubah menjadi sangat pekat dan gelap. Tekanan udara di kamar itu seolah turun seketika.

"Kamu yakin dengan tawaranmu, Nadia?" suara Raditya memberat. "Kamu tahu kan kalau di dunia bisnis, tidak ada makan siang gratis? Dan tawaranmu ini... bisa saya anggap sebagai undangan terbuka untuk penagihan hutang yang lebih besar."

Nadia sempat menelan saliva, merasa aura predator Raditya kembali muncul. Namun, sisi barbarnya menolak untuk terlihat takut.

"Cuma mandi, Mas. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Bayinya pengen Papanya wangi."

**

Uap hangat segera memenuhi ruangan kamar mandi seluas kamar hotel bintang lima itu. Dinding marmer hitam yang elegan berkilau tertimpa cahaya lampu LED temaram, menciptakan suasana yang begitu privat dan menyesakkan secara bersamaan. Suara gemericik air dari shower besar di tengah ruangan menciptakan ritme yang intim, seolah mengisolasi mereka dari dunia luar.

Nadia berdiri dengan tangan gemetar. Ia sudah mengganti daster pestanya dengan selembar satin tipis berwarna merah marun yang nyaris transparan saat uap air mulai membasahinya. Di depannya, Raditya berdiri tanpa sehelai benang pun.

Aurelia jiwa yang berada di tubuh Nadia hampir saja kehilangan napas. Ini adalah pertama kalinya ia melihat mahakarya Tuhan secara utuh. Otot-otot dada yang terbentuk sempurna, perut six-pack yang keras dan berkilau terkena air, serta aura dominasi yang memancar begitu kuat hingga membuat kaki Nadia terasa lemas sebelum memulai apa pun.

"Kenapa diam? Katanya mau membantu?" suara berat dan serak Raditya memecah lamunan Nadia. Matanya yang gelap menatap Nadia dengan intensitas yang bisa melelehkan baja.

Nadia menelan saliva dengan susah payah. Ia mendekat dengan langkah kecil yang tidak stabil. Jari-jarinya yang mungil meraih botol sabun cair beraroma kayu cendana yang maskulin. Dengan gerakan ragu, ia mulai mengusapkan busa lembut itu ke dada bidang Raditya.

"Ini... ini tanda terima kasih karena Mas sudah mau antre sate tadi," bisik Nadia pelan, mencoba mengalihkan pandangannya dari tatapan Raditya.

Namun, baru saja tangan Nadia bergerak turun ke arah perut suaminya, Raditya tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Nadia. Cengkeramannya kuat, tegas, namun tidak menyakiti.

"Mas?" cicit Nadia kaget.

Dengan satu gerakan eksplosif yang tak terduga, Raditya memutar tubuh Nadia dan memojokkannya ke dinding marmer yang dingin. Dug! Punggung Nadia menyentuh dinding, sementara shower yang berada tepat di atas mereka mengguyur tubuh keduanya secara penuh.

Daster tipis Nadia kini melekat erat di kulitnya, mencetak jelas lekuk tubuhnya, termasuk perutnya yang sudah menonjol empat bulan.

"M-mas... katanya cuma mau mandi..." napas Nadia mulai tersengal saat wajah Raditya mendekat. Ujung hidung mereka bersentuhan, dan Nadia bisa merasakan napas panas Raditya yang berbau mint.

"Ini bagian dari pembersihan, Nadia," bisik Raditya, suaranya kini terdengar seperti geraman lapar seorang predator yang baru saja bangun dari tidurnya. "Tapi saya rasa, harga diri saya dan jas seharga ratusan juta yang kini bau asap itu tidak cukup dibayar hanya dengan gosokan sabun murahan. Saya pebisnis, Nadia. Saya butuh pembayaran yang lebih... nyata."

Raditya menekan tubuhnya lebih rapat, membuat Nadia bisa merasakan setiap inci panas tubuh suaminya yang sudah meradang.

"Ah... Mas... pelan..." rintih Nadia saat bibir Raditya mulai mendarat di ceruk lehernya. Raditya memberikan hisapan-hisapan kuat dan gigitan kecil yang menuntut, seolah ingin menandai wilayah kekuasaannya.

"Nnghh... Radit... jangan di sana... nanti ada bekasnya lagi, malu kalau dilihat Bi Sum," desah Nadia pasrah. Tangannya yang bebas justru meremas rambut basah Raditya, menarik pria itu lebih dekat. Rasa takut dan gairah bercampur menjadi satu, membuat lututnya terasa seperti jeli yang siap luruh.

Raditya sama sekali tidak mendengarkan keberatan itu. Ia justru mengangkat tubuh Nadia dengan mudah. Secara refleks, Nadia melingkarkan kakinya di pinggang kokoh Raditya. Penyatuan itu terjadi secara intens di bawah guyuran air panas yang menderu.

"Akhh! Mas... sakitt... pelan-pelan," rintih Nadia. Kepalanya mendongak ke belakang, punggungnya menempel pada marmer basah yang licin. Raditya mulai bergerak dengan stamina kuda liar-nya yang legendaris, tidak memberikan ampun sedikit pun.

"Nadia... ohh, gila... kenapa kamu selalu sesempit ini, hah?" erang Raditya. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras karena menahan kenikmatan yang luar biasa hebat. Ia menghujam dengan ritme yang dalam dan pasti, mengabaikan segala kedinginan yang biasanya ia tunjukkan di luar kamar.

"Nnghh... ahh! Mas... akhh... aduhh, bayinya..." Nadia merintih, tangannya memegangi perutnya yang terasa sedikit kram karena guncangan gairah yang begitu dahsyat. Ia merasa kewalahan, seolah jiwanya akan melayang keluar dari tubuhnya di bawah kendali penuh pria ini.

"Bayinya kuat seperti Papanya... ahh... nikmat sekali, Nadia... nngghh!" Raditya mengerang panjang. Ia tidak memberikan celah sedikit pun bagi Nadia untuk bernapas. Gerakannya semakin cepat, menuntut segalanya dari Nadia hingga mereka mencapai puncak kenikmatan bersamaan dengan pekikan dan rintihan keras yang menggema di ruangan itu.

Nadia terkulai lemas di pelukan Raditya. Dadanya naik turun dengan napas yang putus-putus. Air hangat masih terus mengalir, membasuh tubuh mereka berdua yang bersatu dalam keringat dan sisa gairah.

Raditya membenamkan wajahnya di leher Nadia, menghirup aroma istrinya yang kini sudah bersih dari bau asap pasar malam, digantikan aroma gairah yang pekat. Ia memberikan kecupan lembut di dahi Nadia sebelum menurunkan istrinya perlahan ke lantai.

"Lain kali, jangan berani-berani menawarkan bantuan jika kamu tidak sanggup menanggung konsekuensi akhirnya, Bumil Barbar," bisik Raditya dengan senyum tipis yang penuh kemenangan di bibirnya.

Nadia hanya bisa menyenderkan tubuhnya yang lemas ke dinding marmer. Matanya terpejam erat dengan hati yang merutuk habis-habisan.

"Sialan... gue niatnya cuma mau balas budi biar dia nggak kaku lagi, malah kena unboxing ronde kedua. Bener-bener si Kulkas ini mesin penghancur stamina!" batin Nadia sebelum pasrah dibantu Raditya untuk membilas tubuh.

***

Bersambung

1
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
Heresnanaa_: happy reading yaa 🫶
total 2 replies
MARWAH HASAN
aku suka yg cerita model begini
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
Heresnanaa_: aaa maaciw kaka😍🤭😚🥹🫂
total 1 replies
partini
wah tumben mafia bermain dulu bisa sikat tebas biarpun itu ibu ayah sodara ga penting,keren bang Radit
partini
wow
aku
sangat jelas..... 🤣🤣🤣🤣
partini
ahhh ternyata mafia juga Thor,masih di dalam perut aja aktif luar biasa gimana kalau dah lahir bisa lebih sadis dari ayahnya tu baby
MOZZA AUDYA
sikattt trussssssssss Thor buat nyaaaa seru bat drama siang yang di buat nadia 🤭
partini
itu baru di semprot kalau pakai jurus 10 tinju dan tendangan apa ko langsung 😂
MOZZA AUDYA
lanjut thorrr.... gk sabar nih nunggu drama di kantor nyaaa🤭
partini
ulet kadut itu,ayo nak bantu mommy buat hempas uler kadut 😂😂
tunggu aksi luar biasa bumil thor
𝐀⃝🥀Weny
si kulkas jadi bucin😁
MOZZA AUDYA
wahhhhh nampak aada drama baru yang akan di main kn nihh🤭
partini
Thor sekali pakai lingerie bagus deh perut Belendung uhhhh
partini
see main masuk aja kata ga berani wkwkwk
partini
lah masa udah ketauan aja sih ,roh nya Nadia ganti yg tau orang lain pula 🤦
MOZZA AUDYA
aduhh nadia jiwa barbar nya gk bisa di tahan sihhh 🤭
partini
good story 👍👍👍👍👍
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
Heresnanaa_: stay tune beb 😚
total 1 replies
partini
Nemu juga novel kaya gini suka "❤️
Heresnanaa_: hai kaka🤭
happy reading yaa 🤭
total 1 replies
rara🍁🍃🦋
mo nangis tapi mallu
Heresnanaa_: diam diem aja author engga liat kok🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!