Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Bab 1 : Takdir Alya

Aroma besi karatan dan amarah menembus pekatnya malam di balik ruangan mewah lantai 40 gedung perkantoran Megah Corp. Alya, wanita berpenampilan sangat cantik, walau berat badannya 72 kg, elegan, dan menjabat sebagai CEO di usia muda, kini terkapar di atas lantai marmer dingin. Blazer putihnya yang tadinya kotor oleh noda kopi, kini perlahan berubah warna menjadi merah pekat yang merembes deras.

"Kenapa... Rendy?" napas Alya tersengal, dadanya menaik turun secara tak beraturan saat menatap pria bertubuh jangkung yang berdiri tepat di hadapannya.

Pria itu—Rendy, suami yang dicintainya sepenuh hati—sedang memegang sebilah pisau berburu berpola unik yang kini berkilau basah karena darah Alya. Tidak ada sedikit pun raut penyesalan di wajah yang selama ini selalu memberikan senyum manis kepadanya.

"Kenapa?" Rendy terkekeh pelan, tawa yang terdengar bagai bisikan dari neraka. "Karena aku sudah muak berpura-pura menjadi suami penurut dari seorang CEO sempurna, Alya."

Di sudut ruangan yang temaram, bunyi dentang sepatu tumit tinggi bergema perlahan. Seorang wanita melangkah keluar dari kegelapan. Gaun merah mewahnya tampak kontras dengan kekacauan di ruangan itu. Wanita itu tersenyum manis, senyuman yang sangat dikenal Alya selama belasan tahun.

"Siska...?" bisik Alya, matanya membelalak tak percaya. Suaranya tercekat di tenggorokan saat melihat sahabat karibnya sejak masa kuliah melangkah mendekati Rendy.

Siska meraih lengan Rendy dengan santai, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu seraya menatap Alya yang berdarah-darah dengan tatapan penuh kemenangan.

"Kau selalu merasa dirimu paling pintar, kan, Al?" ujar Siska halus, nada suaranya mengayun manja. "Kau pikir Rendy benar-benar mencintaimu karena kerja kerasmu? Karena prestasimu? Pria mana yang betah dengan wanita yang selalu sok mengatur seperti dirimu?"

"Kalian... sejak kapan?" darah segar keluar dari sudut bibir Alya. Sakit fisik akibat tusukan di perutnya tak sebanding dengan rasa hancur di dadanya.

"Sejak sebelum kita menikah," potong Rendy tanpa ragu. Ia berlutut di sebelah tubuh Alya yang melemah, lalu mencengkeram rahang Alya dengan sangat keras hingga wanita itu meringis. "Semua saham milikmu, perusahaan ini, harta keleluargamu... sebentar lagi semuanya akan berpindah ke tanganku. Surat pengalihan aset itu sudah ditandatangani, thanks to your stupidity yang terlalu percaya padaku."

"Aku... aku merawatmu... aku mengangkat derajatmu, Rendy!" jerit Alya parau, air mata bercampur darah menetes di pipinya.

"Dan untuk itu, terima kasih banyak, Sayang," bisik Rendy tepat di telinga Alya sebelum dengan dingin dan tanpa ragu menusukkan pisau itu sekali lagi ke dada kiri Alya.

Siksaan rasa sakit yang amat sangat menghantam kesadaran Alya. Jeritan Siska yang tertawa puas dan tatapan dingin Rendy menjadi hal terakhir yang ia lihat dan dengar sebelum kegelapan total menelan pandangannya. Napas Alya terhenti. Jantungnya berhenti berdetak.

Huuuh!

Alya tersentak bangun, menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah baru saja tenggelam di dasar samudra. Dadanya naik-turun secara histeris, tangannya refleks meraba perut dan dada kirinya tempat rasa sakit menusuk sebelumnya.

Tidak ada darah. Tidak ada bekas luka. Tidak ada rasa dingin dari pisau besi.

Ia terengah-engah, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya. Matanya bergerak liar mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia berada di sebuah kamar tidur bergaya lama, bukan penthouse mewahnya. Poster-poster lama masih menempel di dinding, dan furnitur kayu tua mendominasi ruangan.

"Ini... di mana?" suara Alya terdengar sedikit asing, lebih berat dan sengau.

Alya mencoba beranjak turun dari tempat tidur, tetapi merasa tubuhnya begitu berat dan kaku. Gerakannya terhambat oleh lipatan paha dan perutnya sendiri. Dengan panik, ia melangkah cepat menuju cermin berdiri di sudut kamar.

Langkah kakinya berat, berdentak keras di atas lantai kayu. Ketika berdiri tepat di depan cermin, langkahnya terhenti seketika. Alya terpaku.

Pantulan di cermin bukan wanita gemuk berwajah chubby, walau bertubuh tidak ideal dengan tinggi 168 cm dan berat 72 kg yang selama ini dipuji-puji cantik dalam majalah bisnis. Wanita di cermin adalah sosok dirinya di masa lalu—pipi tembam berona merah, lengan bagian atas yang berisi, serta perut yang menumpuk lemak di balik piyama kain longgar.

"Gila..." Alya meraba pipinya yang tebal, memegang pinggangnya yang lebar. "Ini tubuhku... waktu berat badanku masih 72 kilo?"

Ia memutar tubuhnya, terengah-engah antara percaya dan tidak. Tangannya dengan gemetar meraih ponsel di atas meja nakas. Sebuah ponsel model lama yang belum menggunakan layar lipat canggih milik masa depannya.

Layar ponsel menyala: Rabu, 14 Mei 2021.

"2021?" bisik Alya syok. "Lima tahun lalu? Aku... aku kembali ke masa lalu?"

Lima tahun yang lalu adalah masa-masa terburuk sekaligus titik balik dalam hidupnya. Masa ketika ia masih menjadi staf junior biasa di Megah Corp, masa ketika ia belum melakukan diet ketat yang mengubah penampilannya, dan yang paling penting... masa sebelum ia memutuskan untuk membiayai usaha Rendy dan menikah dengannya.

Pintu kamar mendadak terbuka, mengejutkan Alya hingga ia hampir melompat.

"Alya! Astaga, kau ini harus bangun jam berapa?" seorang wanita paruh baya masuk membawa nampan berisi segelas susu hangat dan roti bakar. Itu Mamanya—sosok yang di masa depan telah meninggal dunia karena serangan jantung dua tahun setelah Alya menikah dengan Rendy.

"Mama...?" mata Alya berkaca-kaca. Ia berlari pelan, lalu memeluk ibunya dengan sangat erat hingga nampan di tangan ibunya hampir terlepas.

"Aduh! Al, kamu kenapa sih? Kok memeluk Mama kencang sekali sampai sesak begini?" goda Mamanya sambil menepuk-nepuk punggung Alya yang tebal. "Mimpi buruk, ya?"

"Aku... aku kangen Mama," tangis Alya pecah di bahu ibunya. Rasa syukur membanjiri dadanya. Tuhan tidak hanya menyelamatkannya dari kematian, tetapi juga mengembalikan ibunya yang amat ia rindukan.

"Kamu ini ada-ada saja. Wong tiap hari ketemu kok kangen," ujar Mamanya tertawa kecil seraya melepas pelukan dan menatap putrinya. "Sudah, cepat mandi dan bersiap-siap. Katanya hari ini temanmu Siska mau main ke sini? Dan pria yang sedang dekat denganmu itu... siapa namanya? Rendy?"

Nama itu bagai sebuah cambukan yang seketika mendinginkan darah di tubuh Alya. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menekan telapak tangannya yang tebal.

"Rendy dan Siska..." ulang Alya dengan suara datar, mengikis habis isak tangisnya dalam sekejap.

"Iya, Rendy. Kamu kan kemarin cerita mau mengenalkan dia ke Mama, sekalian merayakan kenaikan posisimu di kantor," kata Mamanya seraya menata makanan di meja.

Alya menatap dirinya kembali ke cermin. Tatapan matanya yang tadi penuh ketakutan kini berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh dendam.

Lima tahun lalu, Rendy mendekatinya di saat ia bertubuh tambun dan kurang percaya diri. Pria itu bersikap bagaikan ksatria berzirah emas yang menerima dirinya apa adanya, padahal di belakangnya, Rendy dan Siska sudah merencanakan segalanya untuk menguras hartanya. Mereka memanfaatkan kebaikan Alya, menggerogoti aset keluarganya, dan akhirnya membunuhnya secara keji.

"Alya? Kamu melamun lagi?" panggil Mamanya.

"Tidak, Ma," jawab Alya pelan, namun tegas. "Aku cuma sedang berpikir..."

Alya berjalan mendekati jendela kamar, melihat pemandangan kota di luar. Tubuhnya boleh saja saat ini berbobot 72 kg, belum menjadi CEO, dan dikelilingi oleh ular-ular berkulit manusia. Namun di dalam kepalanya, ia memiliki ingatan lima tahun ke depan. Ia tahu setiap pergerakan saham, setiap rahasia perusahaan, setiap kelemahan Rendy, dan setiap niat busuk Siska.

"Kalian membunuhku karena mengincar posisiku dan hartaku," gumam Alya lirih, tersenyum sinis pada pantulan dirinya di kaca jendela. "Kali ini, bukan hanya harta kalian yang akan kuhancurkan. Aku akan memastikan kalian berlutut dan memohon ampun di bawah kakiku."

Pintu rumah di lantai bawah terdengar berdering. Suara bel menyuarakan kedatangan tamu.

"Nah, itu sepertinya mereka sudah datang!" seru Mama dari luar kamar. "Al, buka pintunya!"

Alya menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut jantungnya yang masih utuh berdetak di balik badannya yang berisi. Ia mengepalkan tangannya, membuang jauh rasa trauma dari malam pembunuhan itu, dan menggantinya dengan tekad yang bulat.

Terpopuler

Comments

A.R

A.R

menurutku itu bukan terlalu gemuk malahan standar untuk tinggi badan sgitu

2026-10-19

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Takdir Alya
2 Bab 2: Topeng di Balik Senyuman
3 Bab 3 : Merubah Pola Hidup
4 Bab 4: Ular di Ruang Kerja
5 Bab 5 : Sandiwara Makanan Sehat
6 Bab 6 : Memperbaiki Keadaan
7 Bab 7 : Gaun, Topeng, dan Pilihan Hati
8 Bab 8: Bayangan Masa Kecil
9 Bab 9: Bintang Utama Ballroom
10 Bab 10: Dalam Cengkeraman Sorot Lampu
11 Bab 11: Deklarasi Hati
12 Bab 12: Jerat Umpan Sang Ratu
13 Bab 13: Umpan untuk Sang Pemangsa
14 Bab 14: Api Unggun dan Puncak Perubahan
15 Bab 15: Bayangan Bilah Kelam
16 Bab 16: Topeng Ramah di Atas Luka Lama
17 Bab 17: Sandiwara Hati
18 Bab 18: Api Cemburu Sang Pemangsa
19 Bab 19: Percikan Obsesi
20 Bab 20: Pancingan di Atas Papan Catur
21 Bab 21: Perangkap Kemewahan
22 Bab 22: Panggung Sandiwara
23 Bab 23: Kunci Masa Depan
24 Bab 24: Rumah yang Tidak Pernah Diceritakan Kai
25 Bab 25: Senyum yang Harus Ditahan
26 Bab 26: Siska Mulai Menyerang
27 Bab 27: Kai Cemburu
28 Bab 28: Rendy Mulai Terjebak
29 Bab 29: Bayangan Masa Lalu
30 Bab 30: Detak Jantung di Ujung Waktu
31 Bab 31: Duri dalam Daging
32 Bab 32: Terjebak dalam Pusaran Hasrat
33 Bab 33: Puncak Ketegangan dan Ilusi Kemenangan
34 Bab 34: Pembongkaran Tanpa Ampun
35 Bab 35: Cinta Bersemi di Gudang Kantor
36 Bab 36: Cinta Bersemi di Gudang Kantor
37 Bab 37: Luka Lama yang Terbuka Kembali
38 Bab 38: Topeng yang Terkuak di Pelataran
39 Bab 39: Penguat Jiwa dan Awal Pemulihan
40 Bab 40: Pernikahan di Atas Puing Kehancuran
41 Bab 41: +18 Petaka di Balik Malam Remang
42 Bab 42: Kebohongan yang Terpinta dan Takdir Tersembunyi
43 Bab 42: Kehidupan Baru
44 Bab 44: Sisa Bayang-Bayang
45 Bab 45: Di Bawah Sorotan Jarum Timbangan
46 Bab 46: Takdir yang Tak Terelakkan
47 Bab 47: Pertanyaan di Ujung Takdir
48 Bab 48: Keraguan di Tengah Duka
49 Bab 49: Hangat di Tengah Sunyi
50 Bab 50: Dibalik Senyum Tegar Mbak Winda
51 Bab 51: Bayang-Bayang Takdir yang Bergeser
52 Bab 52: Dusta di Bawah Atap yang Sederhana
53 Bab 53: Penyesalan di Bawah Atap yang Lapuk
54 Bab 54: Keadilan untuk Selembar Ketulusan
55 Bab 55: Sembuhnya Jiwa
56 Bab 56: Pesta Kemenangan
57 Bab 57: Bayangan Carol
58 Bab 58: Ujian Profesionalitas
59 Bab 59: Catur di Balik Meja Kerja
60 Bab 60: Lembaran Waktu yang Berputar
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Takdir Alya
2
Bab 2: Topeng di Balik Senyuman
3
Bab 3 : Merubah Pola Hidup
4
Bab 4: Ular di Ruang Kerja
5
Bab 5 : Sandiwara Makanan Sehat
6
Bab 6 : Memperbaiki Keadaan
7
Bab 7 : Gaun, Topeng, dan Pilihan Hati
8
Bab 8: Bayangan Masa Kecil
9
Bab 9: Bintang Utama Ballroom
10
Bab 10: Dalam Cengkeraman Sorot Lampu
11
Bab 11: Deklarasi Hati
12
Bab 12: Jerat Umpan Sang Ratu
13
Bab 13: Umpan untuk Sang Pemangsa
14
Bab 14: Api Unggun dan Puncak Perubahan
15
Bab 15: Bayangan Bilah Kelam
16
Bab 16: Topeng Ramah di Atas Luka Lama
17
Bab 17: Sandiwara Hati
18
Bab 18: Api Cemburu Sang Pemangsa
19
Bab 19: Percikan Obsesi
20
Bab 20: Pancingan di Atas Papan Catur
21
Bab 21: Perangkap Kemewahan
22
Bab 22: Panggung Sandiwara
23
Bab 23: Kunci Masa Depan
24
Bab 24: Rumah yang Tidak Pernah Diceritakan Kai
25
Bab 25: Senyum yang Harus Ditahan
26
Bab 26: Siska Mulai Menyerang
27
Bab 27: Kai Cemburu
28
Bab 28: Rendy Mulai Terjebak
29
Bab 29: Bayangan Masa Lalu
30
Bab 30: Detak Jantung di Ujung Waktu
31
Bab 31: Duri dalam Daging
32
Bab 32: Terjebak dalam Pusaran Hasrat
33
Bab 33: Puncak Ketegangan dan Ilusi Kemenangan
34
Bab 34: Pembongkaran Tanpa Ampun
35
Bab 35: Cinta Bersemi di Gudang Kantor
36
Bab 36: Cinta Bersemi di Gudang Kantor
37
Bab 37: Luka Lama yang Terbuka Kembali
38
Bab 38: Topeng yang Terkuak di Pelataran
39
Bab 39: Penguat Jiwa dan Awal Pemulihan
40
Bab 40: Pernikahan di Atas Puing Kehancuran
41
Bab 41: +18 Petaka di Balik Malam Remang
42
Bab 42: Kebohongan yang Terpinta dan Takdir Tersembunyi
43
Bab 42: Kehidupan Baru
44
Bab 44: Sisa Bayang-Bayang
45
Bab 45: Di Bawah Sorotan Jarum Timbangan
46
Bab 46: Takdir yang Tak Terelakkan
47
Bab 47: Pertanyaan di Ujung Takdir
48
Bab 48: Keraguan di Tengah Duka
49
Bab 49: Hangat di Tengah Sunyi
50
Bab 50: Dibalik Senyum Tegar Mbak Winda
51
Bab 51: Bayang-Bayang Takdir yang Bergeser
52
Bab 52: Dusta di Bawah Atap yang Sederhana
53
Bab 53: Penyesalan di Bawah Atap yang Lapuk
54
Bab 54: Keadilan untuk Selembar Ketulusan
55
Bab 55: Sembuhnya Jiwa
56
Bab 56: Pesta Kemenangan
57
Bab 57: Bayangan Carol
58
Bab 58: Ujian Profesionalitas
59
Bab 59: Catur di Balik Meja Kerja
60
Bab 60: Lembaran Waktu yang Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!