NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Cerita yang Terus Berjalan

Hari-hari sekarang punya ritme yang baru. Aku nggak lagi bangun dengan perasaan berat yang menindih dada kayak dulu. Aku bangun, tarik napas dalam, lihat matahari masuk lewat celah jendela, dan bersyukur masih ada hari baru yang menunggu. Bukan berarti rindunya hilang begitu aja. Masih ada, bahkan kadang terasa lebih kuat dari sebelumnya. Pas aku lihat sepasang orang jalan bareng sambil tertawa di pinggir jalan, pas hujan turun sore-sore kayak waktu pertama kali dia datang di bawah pohon itu, pas aku buka buku lama dan ingat pesan-pesan kecil yang dia selipkan di halamannya. Semua hal kecil itu kadang bikin aku berhenti sebentar, tarik napas, dan senyum sendiri sambil bilang dalam hati, aku ingat kamu di sini. Rindu itu nggak lagi bikin aku berhenti melangkah. Justru jadi alasan buat aku berjalan lebih jauh, melihat lebih banyak, dan menghargai setiap momen yang ada. Karena aku tahu betul, waktu itu nggak selalu berpihak ke siapa pun. Kalau ada yang mau kita lakukan, ada yang mau kita temui, ada yang mau kita bilang, jangan ditunda sampai besok. Besok nggak selalu datang. Itu pelajaran paling berat yang dia ajarkan ke aku.

Buku catatanku udah lumayan tebal sekarang. Isinya bukan cuma cerita soal Bima, tapi juga cerita-cerita baru yang kutemui sepanjang perjalananku. Tentang nenek penjual bunga di pinggir jalan yang selalu senyum ke setiap orang yang lewat, tangannya keriput tapi dia menata bunganya dengan hati-hati banget seolah setiap bunga itu punya jiwa. Tentang anak kecil yang menolong kucing kecil jatuh ke selokan tanpa ragu sedikit pun, bajunya kotor tapi dia pulang dengan wajah paling puas sedunia. Tentang teman yang tiba-tiba datang dan ajak ngopi pas aku lagi merasa sepi, nggak tanya kenapa aku sedih, cuma duduk di sebelahku dan bilang aku ada di sini kalau kamu butuh. Semua hal kecil yang dulu nggak pernah aku perhatikan, sekarang terasa begitu berharga. Bima pernah bilang kan kalau setiap orang yang kita temui itu punya cerita yang layak didengar, dan setiap kehidupan itu berharga dengan caranya sendiri. Sekarang aku benar-benar ngerti maksudnya. Dunia ini bukan cuma soal aku dan masalahku. Ada ribuan cerita di sekitarku yang sama indahnya, sama beratnya, dan sama layaknya untuk dihargai.

Suatu sore aku lewat taman itu lagi. Nggak dengan perasaan berat kayak dulu. Aku jalan pelan di pinggir jalan setapaknya, melihat bangku kayu itu dari kejauhan. Ada sepasang anak muda yang duduk di sana sore itu. Mereka tertawa, saling bercerita, wajah mereka bersinar kayak ada harapan baru yang sedang tumbuh di antara mereka. Cowoknya menyodorkan sesuatu ke ceweknya, ceweknya tersenyum sampai matanya menyipit, dan mereka duduk berdampingan menatap matahari yang mulai turun. Aku berhenti sebentar, tersenyum melihat mereka. Dulu kita juga begitu kan? Dulu tempat ini jadi saksi awal cerita kita yang sederhana tapi begitu dalam. Aku nggak merasa cemburu atau sedih melihat orang lain menempati tempat kita dulu. Aku justru merasa hangat di dada. Kalau bangku tua ini bisa menyaksikan satu pertemuan yang indah, kenapa nggak pertemuan-pertemuan lain juga? Bima pasti senyum melihat ini dari mana pun dia berada. Dia selalu suka melihat orang lain bahagia, bahkan kalau dia nggak bagian dari kebahagiaan itu. Itu salah satu hal paling luar biasa dari dirinya. Dia mencintai dunia tanpa meminta dunia mencintainya balik duluan.

Aku nggak masuk ke dalam taman itu. Cukup melihat dari luar, mengingat-ingat sebentar, lalu melanjutkan langkahku pulang. Tempat itu bukan lagi tempat yang harus kutunggu. Itu bagian dari masa lalu yang indah, dan aku udah bawa bagian itu ke dalam diriku sendiri. Ke mana pun aku pergi sekarang, dia ikut di dalam sini. Nggak perlu ke taman buat merasakan kehadirannya. Dia ada di caraku tersenyum ke orang asing yang lewat di sekitarku. Dia ada di caraku mendengarkan teman yang lagi bercerita tanpa terburu-buru memberi pendapat. Dia ada di keberanianku mencoba hal-hal baru yang dulu aku takut lakukan. Dia ada di cara aku menghargai orang-orang yang aku sayangi, bilang aku sayang kamu sebelum terlambat. Dia hidup bukan sebagai bayangan yang bikin sedih, tapi sebagai cahaya yang bikin aku lebih hangat dan lebih baik dari sebelumnya. Itu cara terbaik buat dia tetap ada di sisiku kan? Bukan dengan menangisi kepergiannya, tapi dengan menghidupkan kebaikan yang dia ajarkan ke dalam setiap hari yang kujalani.

Beberapa minggu kemudian aku selesaikan satu tulisan panjang. Bukan buku yang sempurna, banyak yang masih kurang, bahasanya sederhana, nggak ada kisah yang dramatis atau berlebihan. Tapi isinya jujur banget. Tentang seseorang yang datang tiba-tiba di taman, yang menyapa dengan senyum paling tulus, yang menyembunyikan rasa sakitnya supaya orang yang dia sayang nggak ikut sedih, yang berjalan sejauh yang dia mampu cuma untuk satu pertemuan singkat di sore hari. Tentang pertemuan yang mengubah cara aku melihat dunia selamanya, meskipun perpisahannya datang lebih cepat dari yang sempat kita rencanakan. Judulnya aku tulis persis kayak kalimat yang selalu dia ucapkan: 38.000 Langkah ke Hatimu. Saat menulis kalimat terakhir, aku tarik napas panjang, menutup bukuku pelan-pelan. Rasanya kayak menutup satu bab penting dalam hidupku, tapi bukan berarti cerita selesai. Justru sebaliknya, ini awal dari bab yang baru. Cerita kita mungkin berakhir di halaman ini, tapi dampaknya akan terus berjalan ke halaman-halaman kehidupanku yang berikutnya, dan mungkin juga ke kehidupan orang lain yang akan membacanya nanti.

Malam itu aku mimpikan dia lagi. Tapi bukan mimpi yang bikin sedih kayak dulu. Kita berdiri di puncak bukit tempat melihat matahari terbit, tempat yang pernah dia gambar di buku sketsanya. Langit di depan kita berwarna keemasan dan merah muda, angin berhembus lembut menerpa wajah kita. Dia berdiri di sebelahku, pakai jaket cokelat tua yang biasa dia pakai, senyumnya tenang dan hangat kayak biasanya. Dia nggak pergi menjauh kali ini. Dia berdiri di sana, menatapku, dan bilang dengan suara yang jelas dan damai, kamu sudah sampai Aurora. Teruslah berjalan ya. Ceritamu belum selesai. Kamu punya banyak hal indah yang masih harus kamu lakukan. Aku percaya sama kamu. Pas aku mau jawab dan bilang aku rindu kamu, aku terbangun. Kamar masih remang-remang, cahaya bulan masuk lewat jendela, dan aku tersenyum meski air mata menetes di pipiku. Kali ini air mataku bukan karena sedih, tapi karena merasa ditenangkan. Rasanya dia benar-benar ada di sana, memelukku pelan sebelum aku memulai hari baru. Aku tahu itu bukan mimpi biasa. Itu pesan yang selama ini aku butuh dengar, tapi takut aku tidak berani terima. Sekarang aku siap.

Besok paginya aku bangun lebih awal. Aku sarapan dengan tenang, merapikan buku tulisku, dan duduk sebentar di meja belajarku memandangi kotak kecil peninggalannya yang sekarang diletakkan di sudut meja, terbuka, di mana aku bisa lihat isinya setiap hari tanpa rasa takut atau sedih yang berlebihan. Ada foto masa kecilku yang dia simpan bertahun-tahun, ada surat-suratnya, ada buku sketsa gambar tempat-tempat yang ingin kita kunjungi bersama. Semuanya terawat rapi. Aku tahu dia akan senang melihat aku menjaganya dengan baik. Ada rencana baru yang ingin aku mulai. Aku mau berbagi cerita yang kutulis ke orang-orang. Bukan untuk dipuji atau terkenal, bukan juga supaya orang kasihan sama aku. Tapi karena aku percaya cerita Bima layak diketahui. Kalau satu orang saja yang membacanya jadi lebih menghargai orang di dekatnya, lebih berani mencintai tanpa ragu, lebih tulus pada setiap pertemuan, lebih memaafkan dan lebih lembut pada sesama, itu udah cukup buatku. Bima pasti setuju. Dia selalu bilang kebaikan itu makin indah kalau dibagikan ke orang lain. Semakin kamu beri, semakin kamu punya. Itu hal aneh yang baru aku pahami belakangan ini.

Langkahku hari ini mungkin bukan langkah besar. Aku belum tahu persis ke mana arah tujuanku. Kadang aku masih ragu, kadang aku masih merasa sendirian, kadang aku masih terdiam lama memikirkan kenapa semuanya harus terjadi seperti ini. Tapi aku nggak takut lagi. Karena aku tahu, aku nggak jalan sendirian. Seseorang sudah menempuh 38.000 langkahnya cuma supaya aku merasa berharga, cuma supaya aku tahu bahwa aku layak diperjuangkan, layak ditunggu, layak dicintai dengan tulus apa pun keadaanku. Dan sekarang, langkah-langkahku adalah kelanjutan dari perjalanannya juga. Setiap tempat yang aku kunjungi, setiap orang yang aku bantu, setiap senyum yang aku berikan, itu semua adalah langkah yang kita ambil bersama. Dia tidak hilang. Dia hidup di setiap langkah yang kuambil dengan kebaikan.

Di mana pun kamu sekarang Bima, dengerin ya. Aku baik-baik saja. Aku terus berjalan. Aku hidup dengan tulus, sama seperti yang kamu ajarkan padaku. Aku melihat matahari terbit setiap pagi dan mengingat senyum kamu. Aku mendengar suara hujan dan terasa kehadiranmu di bawah pohon itu. Aku bertemu orang-orang baru dan menceritakan kebaikanmu supaya namamu terus hidup di hati orang-orang yang belum pernah bertemu kamu. Terima kasih udah sampai di hatiku. Terima kasih udah mengajarkanku bahwa perpisahan bukan akhir dari cinta. Bahwa seseorang bisa pergi dari pandangan mata, tapi tidak pernah pergi dari hati yang benar-benar mencintai. Selamat jalan Bima. Sampai ketemu lagi di pertemuan kita yang lain, di tempat yang tidak ada perpisahan di sana. Aku mencintaimu. Hari ini, besok, dan selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!