"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 | KUNCI CADANGAN DAN KEPERGIAN SANG IBLIS
"Kau tidak mau mengajakku masuk, Mi Amor?" sapa Austin lembut.
Suara bariton itu membuat Aleeza yang baru saja berdiri di ambang pintu apartemennya terlonjak kaget. Aleeza membalikkan tubuhnya, memasang senyuman paling manis namun bernada sinis yang dibuat-buat, lalu memegang gagang pintu erat-erat.
"Mungkin nanti tahun depan!" balas Aleeza ketus.
BAM!
Seketika itu juga Aleeza membanting pintu apartemennya sekuat tenaga tanpa menunggu respons dari sang billionaire di luar. Ia bersandar di daun pintu, menghela napas panjang untuk meredakan debar jantungnya yang menggila.
Ini tidak beres Pria itu benar-benar berbahaya, batin Aleeza memijit keningnya yang mendadak pusing.
Bayangan Austin terus berputar di kepalanya bagaimana pria itu memperlakukannya dengan manis di Paris, mengandeng tangannya menyusuri Sungai Seine, hingga memperlakukannya layaknya seorang ratu. Tidak! Aku tidak boleh terlena! seru Aleeza dalam hati, mencoba menepis segala pesona berbahaya itu.
"Apartemenmu kecil sekali, ya? Jauh lebih kecil dari penthouse-ku."
Sebuah suara bisikan tepat di belakang telinganya membuat darah Aleeza mendadak membeku seketika.
Aleeza membelalakkan mata, menoleh patah-patah ke arah ruang tamu apartemennya. Dan benar saja! Austin Vanderbilt sudah duduk dengan santai di sofa kecil ruang tamunya, menyilangkan sebelah kaki di atas paha dengan sebelah tangan memegang benda kecil berkilau.
"K-Kau?! Bagaimana bisa masuk?!" pekik Aleeza histeris, spontan merogoh saku celananya untuk memastikan kunci apartemennya masih di sana.
Austin menyunggingkan senyuman miring yang sangat menyebalkan. Pria itu mengacungkan sebuah kunci logam kecil di hadapan Aleeza. "Dengan ini," ucapnya santai.
Dengan gerakan kilat, Aleeza melompat maju untuk merampas kunci tersebut. Namun, refleks Austin jauh lebih cepat. Pria itu menarik tangannya ke belakang, membuat Aleeza kehilangan keseimbangan dan menerjang tubuh tegap Austin hingga mereka berdua jatuh berguling di atas sofa.
"Berikan padaku, El Oso sialan!" geram Aleeza, meronta di atas tubuh Austin.
Austin justru terkekeh geli, sebelah tangannya melingkar memeluk pinggang Aleeza erat, sementara tangan lainnya menahan pergerakan gadis itu.
"Sebenarnya aku tidak butuh kunci itu, Mi Amor. Aku tinggal mendobrak pintunya, dan tidak akan ada yang bisa melarangku," bisik Austin tepat di depan bibir Aleeza, membuat jarak di antara mereka terkikis habis hingga napas mereka beradu.
Aleeza merona hebat, jantungnya berdegup kencang bukan karena marah, melainkan karena kedekatan fisik yang teramat intens ini.
"Lepaskan aku, bastard!" ronta Aleeza lemah, menyadari bahwa tenaganya tidak ada apa-apanya dibanding sang billionaire.
Austin melonggarkan dekapan sedikit, membiarkan Aleeza duduk kembali di sofa dengan napas tersengal-sengal. Pria itu merapikan jasnya, lalu memasang raut wajah serius yang mendadak membuat suasana berubah hening.
"Dalam seminggu ini aku tidak bisa mengganggumu," ujar Austin datar. "Aku harus pergi ke Vietnam."
Aleeza tertegun. "Vietnam?" tanyanya tanpa sadar, ada kelegaan aneh yang tiba-tiba menyergap dadanya, namun terselip rasa hampa yang tak kasat mata.
"Ya. Mengurus insiden pabrik yang meledak di sana," jawab Austin mengacak rambutnya kasar. Pria itu menatap Aleeza dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Tapi bagaimana jika aku merindukanmu? Apa kau mau bertanggung jawab?"
"Jangan gila, Austin!" ketus Aleeza membuang muka. Puji Tuhan, pria ini akhirnya pergi! batin Aleeza bersorak gembira. Setidaknya ia bisa bernapas lega dan menormalkan kembali detak jantungnya dari virus berbahaya bernama Austin Vanderbilt.
" Kau harus pergi, sekarang!" usir Aleeza blak-blakan. "Jangan mengalihkan tanggung jawabmu pada orang lain."
Austin mengangguk pelan, berdiri dari sofa. Namun sebelum melangkah ke pintu, pria itu berbalik dan menatap Aleeza lekat-lekat.
" Peluk aku," pinta Austin tiba-tiba dengan suara rendah.
"Apa?!" Aleeza mendelik.
"Peluk aku agak lama, sebelum aku pergi agar aku bisa mengingatnya saat aku merindukanmu," bisik Austin tulus, sebuah permohonan rapuh yang belum pernah ditunjukkan pria itu sebelumnya.
Pertahanan Aleeza runtuh seketika. Didorong rasa bersalah dan dorongan hati yang aneh, Aleeza perlahan bangkit dan merengkuh tubuh Austin ke dalam pelukannya.
Pelukan itu hangat, erat, dan sarat akan emosi yang rumit. Di dalam dekapan Austin, Aleeza bisa mendengar degup jantung pria itu bergemuruh kencang—menandakan bahwa perpisahan ini bukan hal yang mudah bagi mereka berdua, terlepas dari status pertunangan palsu di antara mereka.
"Karena salah cukup..." bisik Austin lembut di telinganya. "Aftarikan aku ke depan sebelum aku ingin membatalkan kepergianku."
Dengan cepat, Aleeza mengantar Austin hingga ke ambang pintu apartemen, lalu mendorong tubuh pria itu keluar.
BAM
Pintu tertutup rapat. Aleeza menyandarkan punggungnya di balik pintu, memegang dadanya yang bergemuruh hebat. Dia sudah pergi... Semuanya akan kembali normal, batin Aleeza meyakinkan diri.
Tok... tok... tok...
Ketukan pelan di pintu membuat Aleeza mengernyit kening. Dengan hati-hati, ia membuka pintu apartemennya kembali.
"Karina?" sapa Aleeza kaget melihat sepupunya berdiri di sana dengan membawa kantong belanjaan.
"Baru saja aku datang," senyum Karina manis melangkah masuk.
Namun sebelum Aleeza sempat menutup pintu, bayangan seseorang dari balik lorong apartemen membuat darah Aleeza mendadak berhenti mengalir.
Seseorang berdiri di sana dalam kegelapan malam, mengawasi gerak-gerik mereka dengan sorot mata yang siap menghancurkan dunia!
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!