Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Setelah berdebat panjang dengan Arga, kini Tirta akhirnya masuk ke dalam kamar pria itu. Suasana kamar tampak sepi. Ruangan itu hanya diterangi lampu tidur yang memancarkan cahaya temaram.
Pria bernama Arga tadi terus memaksanya untuk menemani Marchel mulai malam ini. Bahkan katanya, malam ini juga dia akan berangkat ke luar negeri untuk menghadiri acara keluarga. Hingga akhirnya Tirta masuk dan menatap pria yang tengah tertidur di atas ranjangnya. Terlihat kening Marchel berkerut seolah sedang menahan sesuatu.
Langkah kaki gadis itu mendekat. Tangan kanannya menyentuh dahi Marchel, dan ternyata benar seperti yang dikatakan Arga. Suhu tubuh pria itu mulai terasa hangat. Dengan sigap Tirta menyiapkan semangkuk air dan kain kecil jika sewaktu-waktu demamnya semakin tinggi.
Setelah meletakkan air di samping ranjang, matanya beralih ke arah sofa. Sebenarnya dia ingin tidur di sana sambil mengawasi Marchel dari kejauhan. Namun, ucapan Arga kembali terngiang di kepalanya.
"Ingat, tidur di ranjang yang sama. Perlakukan dia seperti anak kecil. Kita tidak pernah tahu kapan panas tubuhnya naik atau kapan dia akan membutuhkan seseorang di sisinya."
Tirta mengembuskan napas pelan.
Dia beranjak ke sisi kiri ranjang, lalu naik dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Matanya memperhatikan punggung tangan Marchel yang kini ditempeli plester kecil. Sepertinya pria itu baru saja disuntik sebelum dokter tadi pulang.
Belum lama dia melamun, tubuh Marchel tiba-tiba menggigil hebat. Wajah pria itu memucat. Kepalanya terus menggeleng pelan layaknya seseorang yang sedang terjebak dalam mimpi buruk.
“Marchel...”
Tirta memanggil sambil menyentuh lengan kekar pria itu.
Namun, panggilannya tidak mendapat respons.
Tubuh Marchel terus menggigil. Bibirnya berulang kali mengucapkan kalimat yang sama.
“Aku tak pantas hidup...”
“Aku tak pantas hidup...”
“Aku tak pantas hidup...”
Suara itu semakin bergetar.
Tangannya mencengkeram seprai dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tirta hanya bisa menahan air mata saat melihat pria yang selama ini tampak begitu kuat ternyata menyimpan luka sedalam ini. Kematian seseorang benar-benar menghancurkan hidupnya.
Rasa bersalah itu seolah tidak pernah pergi dari relung hatinya. Perlahan Tirta mendekat. Tangannya mengusap lembut rambut Marchel, sementara tangan satunya menggenggam hangat kepalan tangan pria itu.
Tak ada kata-kata.
Dia hanya menemani.
Terus melakukan hal yang sama.
Perlahan, Marchel melepaskan cengkeramannya dari seprai. Namun, kini tangannya justru beralih menggenggam erat pergelangan tangan Tirta. Bibirnya masih terus mengulang kalimat yang sama.
“Aku tak pantas hidup...”
“Tidak apa-apa... semuanya akan baik-baik saja.” Suara Tirta terdengar sangat pelan di dekat telinga Marchel.
“Perlahan semua akan membaik, dan kamu pasti sembuh. Setiap orang berhak hidup dengan baik. Sudah cukup penderitaanmu selama delapan tahun ini.” Bisikan itu membuat gumaman Marchel perlahan menghilang hingga akhirnya benar-benar berhenti.
Tangan besar pria itu menarik tubuh Tirta semakin dekat. Kepalanya menyusup mencari kenyamanan di dalam pelukan gadis tersebut. Lengan kanan Tirta kini menjadi bantal untuk kepala Marchel, sementara gadis itu membalas pelukan pria tersebut dengan lembut. Tangis Marchel akhirnya pecah.
Tirta yakin, kaus yang dikenakannya kini pasti sudah basah karena air mata pria itu. Bagian dadanya terasa lembap oleh tangisan yang selama ini selalu ditahan.
Hingga jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, barulah keduanya bisa tertidur dengan tenang.
Mereka saling berpelukan.
Tanpa ikatan.
Tanpa satu pun kata cinta.
Namun, keduanya sama-sama merasakan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Keinginan untuk terus bersama. Perasaan yang diam-diam tumbuh tanpa mereka sadari. Perasaan yang perlahan masuk ke relung hati terdalam, lalu mengobati luka satu sama lain. Ruang kosong dalam hati Tirta yang selama ini dipenuhi rindu mulai terisi.
Sementara hati Marchel yang selama delapan tahun menunggu untuk sembuh, perlahan mulai menemukan ketenangannya karena kehadiran Tirta. Dua hati itu kini telah terikat tanpa mereka sadari. Ikatan yang kelak tak akan mudah dipisahkan oleh siapa pun.
**
Pagi harinya, tepat pukul tujuh seperti biasa, Marchel terbangun lebih dulu. Pria itu langsung menyadari bahwa dirinya masih memeluk erat Tirta. Namun, anehnya dia sama sekali tidak berniat melepaskan pelukannya.
Lengan besarnya masih melingkari pinggang gadis itu, sementara wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Melihat Tirta tertidur seperti ini membuat Marchel semakin betah menatap wajahnya. Bahkan tanpa sadar dia mempererat pelukannya, lalu menyusupkan wajah ke ceruk leher Tirta.
Dia menghirup perlahan aroma tubuh gadis yang selalu memperlakukannya dengan semaunya, tetapi juga begitu tulus menyayanginya.
Hingga jam menunjukkan pukul sembilan pagi, Marchel masih menikmati momen itu. Dia hanya menunggu Tirta membuka matanya. Rasanya tidak ada malam yang lebih tenang daripada malam saat dirinya bisa tidur bersama gadis itu.
“Eghh...”
Lenguhan pelan Tirta menandakan gadis itu mulai terbangun. Marchel buru-buru memejamkan mata dan berpura-pura masih tertidur. Bahkan diam-diam dia kembali mempererat pelukannya. Mata cokelat Tirta perlahan terbuka. Saat menyadari dirinya masih berada dalam pelukan Marchel, hal pertama yang dia lakukan adalah memeriksa suhu tubuh pria itu.
Syukurlah...
Demamnya sudah turun.
Tirta mengembuskan napas lega.
Dengan sangat hati-hati dia mencoba melepaskan pelukan Marchel. Namun, pria usil itu justru semakin mengeratkan lengannya.
“Guling ini... kenapa rasanya berbeda sekali, ya?” gumamnya pelan sambil tetap berpura-pura mengigau. Tirta yang tidak mengetahui sandiwara itu hanya terdiam sesaat. Kemudian perlahan dia mengangkat lengan Marchel agar bisa melepaskan diri.
Namun, tepat di tengah usahanya... Marchel membuka mata. Tirta langsung membeku. Matanya membulat lebar. Rasanya seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
“Kenapa kamu ada di sini? Di atas tempat tidur yang sama denganku? Apa kamu sedang berusaha...” Belum sempat Marchel menyelesaikan ucapannya, Tirta langsung melepaskan tangan yang tadi dipegangnya.
Namun, pria itu dengan sengaja menjatuhkan kembali lengannya tepat ke pinggang Tirta, membuat posisi mereka kembali seperti semula. Tirta langsung menggeleng panik. Tangannya ikut melambai-lambai di udara.
“Tidak! Ini karena Kak Arga yang minta tolong padaku. Katanya dia ada urusan ke luar negeri bersama keluarganya, jadi dia memintaku menemanimu di sini. Sungguh! Kak Arga juga yang menyuruhku tidur di ranjang yang sama. Kalau kamu keberatan, aku tidak akan tidur di kamar ini lagi.” Tirta menjelaskan semuanya tanpa jeda. Dia benar-benar tidak ingin dicap sebagai gadis yang sedang mencari kesempatan.
“Oh... tidak masalah.” Jawaban Marchel terdengar begitu santai. Baginya, justru akan menjadi masalah besar jika malam berikutnya dia harus tidur sendirian lagi.
“Tidak masalah? Berarti kamu mengizinkannya?” Tirta menatapnya dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
“Iya.” Marchel menjawab singkat. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Tirta yang terus berubah-ubah ekspresi. Semakin lama dia menatap gadis itu, semakin sulit baginya mengalihkan pandangan. Rasanya Tirta jauh lebih candu daripada apa pun di dunia ini.
“Hah?” Tirta semakin bingung. Setahunya, Arga pernah berkata bahwa Marchel sangat membenci jika barang-barangnya disentuh orang lain. Lalu kenapa sekarang pria itu membiarkannya tidur di ranjang yang sama begitu saja?
Aneh sekali.
“Apa telingamu tuli sampai aku harus mengulang ucapanku?” Kali ini Marchel berbicara dengan nada yang jauh lebih lembut. Bahkan senyumnya membuat wajahnya terlihat jauh lebih tampan daripada biasanya.
“Aku... aku akan memesan makanan dulu.” Tirta segera turun dari ranjang.
Dia buru-buru menjauh.
Entah kenapa, semakin lama berada di dekat pria itu, semakin sulit dirinya menjaga jantungnya tetap tenang. Melihat Tirta pergi dengan tergesa-gesa, Marchel yang masih berbaring di atas tempat tidur hanya bisa tersenyum puas. Rasanya, pagi ini terlalu indah untuk segera berlalu.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜