Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15 Pertemuan Kedua
"… Aku mau pergi sebentar," pamitku.
"Kenapa? Bukannya pertandinganmu baru mulai tengah hari?" tanya Sandra yang menyadari aku sedang memutar gagang pintu.
"Hmm..." Aku sempat ragu, memutar otak mencari alasan yang masuk akal. "Aku mau memanaskan sihir dan mengasah kemampuan mantraku dulu. Kalian tidak usah ikut, cuma bakal mengganggu."
Usai menutup pintu kamar, aku menuruni tangga penginapan dan berpamitan singkat pada penjaga. Sandra, yang tampaknya masih penasaran, menyusul turun ke bawah. Namun, ia langsung membuang muka saat aku meliriknya dengan tatapan tajam.
Sambil terus melangkah menyusuri lorong jalanan, aku berkali-kali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang membuntutiku. Setelah yakin Sandra benar-benar pergi, aku mengambil jalur memutar yang biasa kulalui untuk menemui Nyonya Mener dan organisasinya.
Setibanya di lokasi, aku menyampaikan maksud kedatanganku pada salah satu pria yang bertugas di balik bayang-bayang. Pria itu memutar matanya, mengamati penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan kelengkapanku.
"... Silakan masuk," ucapnya dingin.
Setelah memastikan aku bukan penyusup atau mata-mata Kekaisaran, ia membukakan pintu kayu tebal di hadapanku, lalu membantingnya hingga tertutup rapat begitu aku melangkah masuk.
Seisi ruangan terendam dalam kegelapan. Tapi tak lama berselang, seseorang merapal mantra Fireball, membakar sumbu-sumbu obor di dinding dan menyinari seluruh penjuru ruangan dalam seketika.
"Lyan? Apa tujuanmu mendadak melayangkan panggilan seperti ini?" tanya Nyonya Mener, membuka suara.
"Ini tentang..." Aku melirik sejenak ke arah para penjaga yang bersiaga di sudut ruangan, memberi isyarat agar kami diberikan privasi. "Ada hal penting yang harus kubicarakan secara personal."
Nyonya Mener mengangguk paham lalu mengangkat satu tangannya. "Memangnya apa yang ingin kau bahas? Biar kutebak, tentang kompetisi hari ini?"
Para penjaga segera melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Setelah memastikan tidak ada lagi telinga asing yang mendengarkan, aku mulai bersuara.
"Ya, itu salah satunya."
"Salah satunya?" Ia menaikkan sebelah alisnya.
Pengaruh dan karisma Nyonya Mener adalah fondasi yang menjaga The Brotherhood tetap berdiri kokoh, bahkan setelah Tuan Lynden dipastikan tertangkap—atau mungkin sudah dieksekusi mati. Walau seorang wanita di tengah dunia prajurit yang keras, ia sanggup memimpin pergerakan bawah tanah ini tanpa goyah. Meski hanya duduk di atas kursi kayu sederhana, keagungan sikapnya tak pernah gagal memancing rasa kagumku.
"Kita simpan pertanyaan kedua itu untuk nanti," sambungnya tenang. Ia memutar sebatang pena di jemarinya dengan mahir, lalu menusuk ujungnya tepat ke atas sebuah amplop di meja. "Mari kita bicarakan dulu tentang Duke Welding dan bagaimana jalannya pertandinganmu nanti."
"Aku berhasil mendapatkan informasi mengenai keberadaan Duke Welding saat ini. Sejak awal, kita memang tidak pernah diberi tahu di mana ia menetap," sambungnya dingin. "Banyak fraksi yang membencinya, bahkan di tubuh militer sendiri ia mulai dikucilkan. Dengan disingkirkannya Count Maxus secara tidak hormat, Duke kehilangan satu-satunya sekutu terkuat... Namun, si tua bangka itu jelas tidak sebodoh yang kita bayangkan."
Nyonya Mener bangkit berdiri, lalu melemparkan amplop surat yang sempat ia tusuk tadi tepat ke hadapanku.
"Hanya informasi di dalam dokumen ini yang bisa membantumu bertahan hidup nanti. Lawan yang akan kau hadapi bukan mage biasa, Lyan. Kuharap keberuntungan memihak padamu."
Aku menelan ludah. Jika sosok sekelas Nyonya Mener sampai memperingatkanku seperti itu, tingkat bahaya pertandingan besok sudah dipastikan berada di luar nalar. Dialah satu-satunya orang yang paling memahami kekuatanku—bahkan ia jauh lebih mampu menilai kapasitas tempurku ketimbang Steven yang sudah bertahun-tahun berkelana bersamaku.
"Tapi ada kemungkinan pertandinganmu bakal diundur satu minggu lagi," tambahnya tiba-tiba.
"Hah?" Aku mengernyit bingung.
"Seperti yang kujelaskan sebelumnya, nyawa Duke Welding sedang dalam bahaya besar. Dalam acara perjamuan kemarin, ia nyaris terbunuh akibat racun. Bahkan saat perjalanan pulang dari kantornya bulan lalu, rombongan pengawalnya ditembaki oleh kelompok tak dikenal."
"Jadi kompetisi diundur karena si tua itu ketakutan dan tidak berani menampakkan diri? Dan alasan Colosseum dikosongkan... murni untuk menekan risiko percobaan pembunuhan lagi?" cetusku tajam.
"Tepat sekali!" serunya. "Tapi masalahnya, Kaisar Abdius mendadak memanggilnya kembali ke Ibu Kota untuk penandatanganan nota kesepahaman. Duke tidak mungkin menolak perintah Kaisar, padahal di sisi lain ia sangat berambisi menyaksikan pertandingan kelas Wizard secara langsung. Seperti yang kau tahu, tujuan utamanya menggelar kompetisi ini adalah mencari pengawal pribadi baru."
Nyonya Mener menyilangkan tangan di dada, lalu menatapku lekat-lekat.
"... Karena itu, aku punya satu permintaan jika pertandingan besok benar-benar diundur. Aku ingin kau pergi menyelidiki keberadaan Tuan Lynden."
"M... Menyelidiki Tuan Lynden?" kagetku.
"Kau tidak salah dengar," ucapnya seraya duduk kembali. Senyuman tipis wanita itu terasa mengintimidasi. "Aku tahu betul apa yang ada di pikiranmu, Lyan. Walau rasanya tidak etis mengirim sekelompok anak muda ke dalam misi berisiko tinggi ini, aku sudah tidak punya pilihan lain. Hampir semua anggotaku tewas dalam penyelidikan sebelumnya—"
"Singkatnya, kau mau menjadikan kami kelinci percobaan?" pangkasku dingin.
"Sebagian benar. Aku ingin melihat apakah kalian sanggup meloloskan diri dan berhasil."
Kalau begitu, cara pikirnya sama saja dengan Sandra dan Steven yang ingin melihatku keteteran! Bedanya, kalau kalah di arena pertandingan, aku mungkin masih punya kesempatan menyelamatkan diri. Jika sampai tertangkap oleh pasukan Kekaisaran, mati di tempat justru menjadi pilihan yang jauh lebih baik daripada disiksa seumur hidup di dalam sel.
"... Tenang saja, imbalan untuk jasa kalian sangat besar, lo!" bujuknya santai.
"Untuk apa uang melimpah kalau nyawa kami yang jadi taruhannya?!" tumpah rasa kekesalanku.
"Ya sudah kalau begitu... Memaksa kalian juga tidak ada gunanya," helanya sambil menurunkan bahu, mengalah. "Jadi, apa pertanyaan kedua yang ingin kau tanyakan tadi, Lyan?"
Bagus, ini giliranku...
"Apakah kau tahu tentang Lyzeas?"
Nyonya Mener mengibaskan bahunya santai. "Aku tahu legenda itu. Memangnya ada apa?"
"Aku bertarung melawannya," bisikku serius.
"Bertarung?" Ia terdiam sejenak, lalu... "Hahaha!"
Tawanya pecah memenuhi ruangan. "Mana mungkin kau bisa selamat usai melawan iblis tingkat atas sepertinya... Kalau mau berbohong, pikirkanlah cerita yang sedikit lebih masuk akal!"
"Aku tidak sedang berbohong!" tegasku menatap matanya tajam. "Aku berhadapan langsung dengannya di Puncak Zantur beberapa hari yang lalu."
"Kau serius?" ucapnya menghentikan tawa seraya menyeka air mata di sudut mata. "Tapi laporan dari para informanku—tunggu sebentar..."
Jeda hening yang canggung mendadak menyelimuti kami. Nyonya Mener mengelus dagunya, tampak menimbang sesuatu di dalam kepala. Tak lama kemudian, senyuman oportunis yang sama kembali terukir di wajahnya. Cara pandangnya saat menatapku membuat kudukku merinding.
"Aku akan membocorkan semua hal yang kuketahui tentang Lyzeas. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Kerjakan dulu misi penyelidikan Tuan Lynden," tawar wanita itu lugas. "Aku tidak memintamu membawanya kembali dalam keadaan hidup. Aku hanya butuh kalian membawa pulang informasi apa pun mengenai keberadaannya. Bukankah ini penawaran yang adil? Kalian dapat imbalan besar, plus informasi gratis dariku."
"Sialan... Hah, sudahlah." Aku mengusap wajahku kasar. Semua orang di dunia ini benar-benar oportunis. Aku benci situasi ini!
"Tidak ada pilihan lain," ucapku pasrah. "Aku setuju."
"Bagus kalau—"
"Sebelum itu," potongku cepat. "Aku ingin tahu, apakah kau sendiri percaya kalau dia memang nyata?"
"Biar kujawab jujur. Aku percaya dia ada," balas Nyonya Mener. "Walau banyak akademisi beranggapan manusia yang berubah menjadi iblis itu hal yang mustahil, bukti di lapangan menunjukkan Lyzeas memang ada."
"Kalau begitu, kenapa Kekaisaran tidak menangkapnya lalu menjadikannya bahan eksperimen?" tanyaku heran.
Mengingat Kekaisaran memiliki laboratorium rahasia dan unit khusus untuk mengembangkan senjata biologis, rasanya mustahil mereka melewatkan kesempatan emas ini. Terlebih lagi, ras iblis darah murni sudah hampir punah sejak perang dua abad silam.
"Mereka sudah pernah mencobanya," sahut Nyonya Mener dingin. "Sekelompok penyihir elit dari Ordo Matahari Terbit sempat diutus untuk meneliti sekaligus menangkap Lyzeas. Namun, seluruh tim itu hilang tanpa jejak, sebelum akhirnya ditemukan tewas dengan kepala tancap di atas batang-batang besi. Pihak istana memperkirakan butuh penyihir tingkat King atau Saint untuk menundukkannya. Tapi mengingat anggota Ordo tersebut diisi oleh para Wizard dan Mage tingkat Saint, mengalahkan Lyzeas jelas bukan urusan sepele."
"Kalau begitu, Kekaisaran bisa saja mengirimkan lebih banyak pasukan," sanggahku. "Bukankah negeri ini punya suplai prajurit melimpah yang siap dikorbankan kapan saja?"
"Memang awalnya mereka mengutus lebih banyak sukarelawan dari wilayah jajahan. Tapi kabar mengenai keberadaan setengah iblis ini malah membuat opini publik memburuk," lanjut Nyonya Mener.
"Maksudmu?"
"Otoritas Kaisar Abdius mutlak, dan semua itu wajib ditopang oleh citra bahwa Kekaisaran tak pernah terkalahkan oleh siapa pun. Begitu publik melihat ketidakberdayaan Istana menghadapi satu entitas seperti Lyzeas, kerajaan-kerajaan taklukan mulai merasa Kekaisaran telah kehilangan mandat untuk memerintah. Jadi, saat ini Istana berupaya keras menutupi setiap bukti keberadaan Lyzeas sambil diam-diam mencari cara untuk membekuknya," paparnya sambil meneguk segelas air. "Mereka masih sibuk mengurus hal itu di samping fokus menginvasi Levorian."
Ia meletakkan gelasnya kembali ke meja, lalu menatapku lurus.
"... Begitu kau sampai di Gymalon, ibu kota Zurich, temui orang-orangku di sana. Cari pria bernama Patric. Dia seorang Fighter yang pernah menjadi sukarelawan dalam kampanye perburuan Lyzeas, sekaligus satu-satunya yang selamat dari pembantaian kelompok itu. Tanyakan padanya—mungkin saja dia tahu apa kelemahan iblis itu."
"Kalau begitu..." Nyonya Mener menggeser kursinya ke belakang, lalu menyodorkan selembar surat kedua padaku. "Di surat ini ada stempel resmiku. Jika orang-orangku di Gymalon mencurigaimu, tunjukkan saja surat ini dan katakan, 'Nyonya Mener yang mengutusku.'"
Ia bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Pertemuan kita selesai sampai di sini."
Nyonya Mener berjalan membuka pintu kayu yang sebelumnya tertutup rapat. Di luar, beberapa pengawal pribadinya sudah bersiap menyambut dan mengawalnya pergi hingga sosoknya menghilang di balik lorong. Tak lama kemudian, penjaga yang lain melangkah mendekat, bergeming menungguku untuk segera mengangkat kaki dari tempat itu.
Bersambung...