Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Gerbang di Kedalaman Gunung
Pagi itu datang lebih cepat dari yang Chu Feng harapkan. Ia terbangun sebelum fajar, tubuhnya masih menyimpan rasa kantuk karena semalam terlalu larut berbicara dengan suara yang kini, mulai hari ini, akan bungkam untuk waktu yang tidak pasti.
Hei sudah lebih dulu bangun, duduk di dekat pintu kamar dengan telinga tegak, seolah merasakan bahwa hari ini akan berbeda dari hari-hari biasa. Chu Feng mengenakan jubahnya, menyampirkan Tombak Awan Kelabu di punggung, dan menggenggam kalung peninggalan ibunya sejenak sebelum akhirnya melangkah keluar menuju titik kumpul yang telah disepakati—halaman belakang menara pusat, tempat Tetua Wang dan keempat rekan timnya sudah menunggu.
"Kau siap?" tanya Zhao Lin, menyadari kedatangannya.
"Sesiap yang aku bisa," jawab Chu Feng jujur, menatap wajah masing-masing rekannya yang juga tampak campuran antara tegang dan bersemangat.
Tetua Wang melangkah maju, membawa sebuah tas kecil berisi bekal makanan dan obat-obatan dasar. "Aku tidak bisa ikut membuka formasi itu—hanya pembawa pecahan Dewa yang bisa melakukannya. Tapi aku akan menunggu di sini, memantau dari luar sebisa mungkin."
Chu Feng mengangguk, menerima tas itu dan menyerahkannya pada Jiang Rou yang akan membawanya selama mereka berada di dalam. "Terima kasih, Tetua. Untuk semuanya."
"Jangan berterima kasih dulu," Tetua Wang tersenyum tipis, meski matanya menyimpan kekhawatiran seorang guru yang melepas murid-muridnya menuju sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan. "Berterima kasihlah setelah kalian keluar dengan selamat, jauh lebih kuat dari sekarang."
Perjalanan menuju lokasi yang ditunjukkan suara di dalam dirinya semalam membawa mereka mendaki lereng gunung di belakang sekte, melewati jalur yang tidak pernah dijamah murid sekte manapun—terlalu curam, terlalu tersembunyi di balik semak belukar lebat yang seolah sengaja tumbuh untuk menyembunyikan sesuatu.
Setelah hampir dua jam mendaki, mereka tiba di sebuah dinding batu besar yang tampak biasa saja pada pandangan pertama—hanya tebing kosong tanpa tanda apa pun yang membedakannya dari batu-batu di sekitarnya.
"Di sini?" tanya Liu Bo, ragu, mengamati dinding batu polos itu.
Chu Feng mengaktifkan Mata Dewa-nya, dan seketika, pola-pola energi tersembunyi yang sebelumnya tidak terlihat mata telanjang mulai muncul di permukaan batu—ukiran-ukiran kuno yang bersinar samar, membentuk simbol yang sama dengan yang pernah ia lihat di pedang latihan ibunya, dan di dinding reruntuhan Lembah Kabut.
"Di sini," konfirmasinya, melangkah maju mendekati dinding itu.
Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk berbicara dengan suara di dalam dirinya sebelum semuanya berubah. Ia menarik napas dalam, meletakkan telapak tangannya pada permukaan batu dingin itu.
Aku siap, pikirnya, menyampaikan pesan terakhir sebelum semuanya dimulai.
"Aku juga," suara itu menjawab, nadanya tenang meski Chu Feng bisa merasakan sesuatu yang menyerupai keberatan hati di baliknya. "Ingatlah semua yang telah kuajarkan padamu, Pangeran Ketujuh. Dan jaga dirimu—jaga mereka—baik-baik."
Sebuah gelombang energi hangat mengalir dari tulang belakang Chu Feng menuju telapak tangannya, menembus dinding batu itu, mengaktifkan ukiran-ukiran kuno yang mulai bersinar terang, satu per satu, membentuk pola yang semakin rumit hingga akhirnya seluruh permukaan dinding itu bercahaya keemasan.
Dengan suara gemuruh rendah, dinding batu itu terbelah menjadi dua, mengungkap sebuah lorong gelap yang menuju ke kedalaman gunung, udara dingin dan lembap segera menyapa wajah mereka berlima.
Chu Feng merasakan sesuatu di dalam dirinya—kehadiran yang selama berbulan-bulan menjadi bagian tak terpisahkan dari keberadaannya—mulai meredup, seperti nyala lilin yang perlahan padam. Sebuah bisikan terakhir, nyaris tidak terdengar, menggema sekali lagi sebelum benar-benar sunyi.
"Sampai jumpa lagi... Chu Feng."
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka di Lembah Kabut berbulan-bulan lalu, suara itu memanggil namanya secara langsung—bukan "Pangeran Ketujuh" seperti biasa. Dan kemudian, benar-benar sunyi. Kekosongan yang terasa aneh dan asing menggantikan kehadiran yang selama ini selalu ada di latar belakang pikirannya.
Chu Feng berdiri terpaku sejenak, dadanya terasa berat oleh kehilangan yang tidak terduga sebesar ini.
"Chu Feng?" Jiang Rou menyentuh bahunya pelan, khawatir melihat ekspresinya yang tiba-tiba berubah. "Kau baik-baik saja?"
"Ya," Chu Feng mengangguk, memaksakan senyum tipis meski hatinya masih terasa kosong. "Dia sudah tertidur. Sekarang tergantung pada kita."
Mereka melangkah masuk ke dalam lorong gelap itu satu per satu, Hei berjalan waspada di samping Chu Feng, indranya yang tajam mengendus udara asing yang menyelimuti tempat itu. Lorong itu semakin dalam dan semakin gelap, hingga akhirnya cahaya samar mulai terlihat di ujungnya—bukan cahaya matahari, melainkan cahaya keemasan yang familiar, mirip dengan cahaya yang pernah Chu Feng saksikan di reruntuhan Lembah Kabut.
Ketika mereka akhirnya keluar dari lorong itu, pemandangan yang menyambut mereka membuat kelima murid itu terdiam kagum.
Sebuah ruangan raksasa terbentang di hadapan mereka, jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan dari luar gunung yang tampak biasa saja—langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi kristal-kristal kecil yang memancarkan cahaya keemasan lembut, cukup terang untuk menerangi seluruh ruangan tanpa terasa menyilaukan. Lantainya terbuat dari batu halus dengan ukiran-ukiran formasi yang rumit, dan di berbagai sudut ruangan, terdapat area-area latihan berbeda—beberapa tampak dirancang untuk latihan senjata, beberapa lainnya untuk meditasi, dan satu area khusus yang tampak seperti arena pertempuran simulasi.
"Ini luar biasa," gumam Zhao Lin, matanya berbinar mengagumi keindahan dan kompleksitas ruangan tersembunyi itu.
"Rasanya seperti waktu berjalan berbeda di sini," Liu Bo menambahkan, merasakan sesuatu yang aneh namun tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan—seolah udara di sekitar mereka bergerak dengan ritme yang berbeda dari dunia luar.
Chu Feng mengangguk, mengingat penjelasan suara di dalam dirinya semalam. Satu hari di sini setara dengan hampir sepuluh hari di luar—waktu yang akan mereka manfaatkan sepenuhnya, meski hati Chu Feng masih terasa berat oleh kesunyian baru yang kini menyertainya, sebuah kekosongan yang harus ia isi dengan kepercayaan penuh pada dirinya sendiri, dan pada keempat rekan yang kini berdiri di sampingnya.
"Kalau begitu," katanya akhirnya, menatap keempat rekannya dengan tekad yang mulai bangkit kembali meski kehilangan yang baru saja terjadi, "jangan sia-siakan waktu. Kita punya banyak hal untuk dipersiapkan, dan waktu yang terbatas untuk melakukannya."
Jiang Rou, Liu Bo, Zhao Lin, dan dua rekan lainnya mengangguk serempak, tekad yang sama menyala di mata mereka masing-masing. Bersama-sama, mereka melangkah lebih dalam ke ruang latihan tersembunyi itu, siap memulai babak baru persiapan mereka yang akan menentukan bukan hanya hasil kompetisi yang akan datang, tetapi juga kemampuan mereka bertahan menghadapi ancaman yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.