NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lengan Kehancuran Mutlak

Tenda raksasa itu bergetar hebat, bukan karena badai di luar, melainkan karena tekanan energi dari Inkuisitor Agung Valerius. Enam sayap cahaya di punggungnya mengepak pelan, memancarkan gelombang Aura Suci yang begitu pekat hingga membuat Lyra jatuh berlutut. Udara di dalam ruangan itu terasa setajam silet, mengiris paru-paru setiap kali dihirup.

"Kau bersembunyi di balik ketiadaan, Kaelen," suara Valerius menggema dari segala arah, seringai arogan tak lepas dari bibirnya. "Tapi di hadapan cahaya murni Sang Kaisar, ketiadaan pun akan terbakar."

Valerius mengayunkan tongkatnya.

Bukan proyektil atau bola api yang keluar, melainkan kilatan cahaya yang bergerak secepat kilat itu sendiri. Kaelen secara insting menyilangkan kedua lengannya di depan wajah, memusatkan Domain Null untuk menangkis.

BLAAAR!

Ledakan cahaya menghantam Kaelen dengan kekuatan yang melempar pemuda itu hingga menabrak dinding magis tenda. Suara daging yang melepuh terdengar mengerikan. Jubah Kaelen hancur di bagian dada, memperlihatkan Inti Leviathan yang kini berputar sangat cepat, memancarkan warna merah peringatan. Mesin kuno itu kewalahan. Aura Suci terlalu murni, terlalu padat untuk disaring oleh satu bagian artefak saja.

"Kaelen!" jerit Lyra, mencoba bangkit. Ia melempar salah satu belatinya ke arah Valerius.

Namun, sebelum belati baja itu berjarak dua meter dari sang Inkuisitor Agung, benda itu meleleh menjadi cairan besi pijar hanya karena hawa panas dari sayap cahayanya. Valerius melirik Lyra dengan sudut matanya yang tanpa pupil.

"Serangga tidak seharusnya berada di altar suci," bisik Valerius, menjentikkan jarinya.

Sebuah pilar cahaya kecil menghantam dada Lyra, melempar gadis itu membentur lantai pualam palsu hingga pingsan seketika.

Melihat rekan satu-satunya tumbang, Kaelen bangkit berdiri. Darah menetes dari dahi dan sudut bibirnya. Kulit di kedua lengannya hangus melepuh, namun ekspresi wajahnya tetap tidak berubah. Rasa sakit fisik itu telah diretas dan diredam oleh artefak di dadanya.

Kaelen menatap ke atas, ke arah sarung tangan obsidian raksasa yang masih meronta di dalam ikatan rantai cahaya emas. Benda itu membutuhkannya, dan ia membutuhkan benda itu. Silas benar, tubuh manusianya tidak akan sanggup menahan energi ini sendirian. Ia butuh penyalur.

"Menyerah pada takdirmu, Anomali," Valerius melayang naik, tongkatnya kini memancarkan cahaya yang menyilaukan seisi ruangan, bersiap untuk serangan mematikan terakhir. "Kaisar Agung mengirim salam penutup."

Valerius menembakkan pilar cahaya raksasa, sebuah Bintang Eksekusi yang ukurannya cukup untuk meratakan seluruh kastil.

Waktu seolah melambat di mata Kaelen. Jika ia menghindar, ledakan itu akan membunuh Lyra dan menghancurkan artefak di atasnya. Jika ia menahannya dengan Domain Null, Inti Leviathan akan meledak dari dalam dadanya.

Maka, Kaelen mengambil pilihan paling gila yang bisa dipikirkan oleh pikiran manusia. Ia menelan energi mematikan itu, lalu mengarahkannya bukan ke dalam pembuluh darahnya, melainkan membelokkannya langsung ke arah rantai emas di atas kepalanya.

Kaelen menerjang maju menyongsong pilar cahaya raksasa itu. Ia membuka pusaran Null di telapak tangannya secara paksa. Saat energi suci itu menghantam tangannya, Kaelen menjerit—jeritan mekanis yang mengerikan. Darah menyembur dari pori-pori lengan dan dadanya. Pembuluh nadinya menonjol hitam. Inti Leviathan berdesis, memuntahkan asap.

Sebelum artefak itu meledak, Kaelen memutar tubuhnya dan menembakkan kembali seluruh energi suci bertekanan tinggi itu ke atas.

TRANG! BLAAARR!

Sinar eksekusi milik Valerius sendiri menghantam rantai-rantai cahaya emas yang mengikat sang artefak. Terjadi benturan dua energi suci yang berlawanan arah, memicu ledakan magis yang merobek langit-langit tenda, membiarkan badai debu Kawah Hitam masuk berhembus.

Rantai emas itu hancur berkeping-keping.

Sarung tangan obsidian raksasa itu akhirnya terbebas. Benda itu jatuh bebas dari udara, tertarik gravitasi dan resonansi magis.

Kaelen, yang kini berlutut dengan tubuh berasap dan nyaris hancur, mengangkat lengan kanannya yang gemetar hebat ke atas.

Sarung tangan itu tidak mendarat. Ia menyambar lengan Kaelen layaknya monster kelaparan yang menemukan mangsanya.

Saat logam obsidian itu bersentuhan dengan kulit Kaelen, suara derak mekanis yang mengerikan menggema. Bagian dalam gauntlet itu hidup; ratusan jarum dan kabel mana mikro menusuk menembus kulit, otot, hingga melilit tulang lengan kanan Kaelen, menyambungkan dirinya langsung ke sistem saraf pusat dan Inti Leviathan di dadanya.

Sayap baja pelindung bahu membentang, mencengkeram tulang belikat Kaelen dengan bunyi gemeretak tulang yang patah dan dipaksa sejajar kembali.

"ARGGHHH!" Kaelen meraung keras. Pendar biru pucat meledak mengubah seluruh ruangan menjadi ungu pekat.

Valerius yang tadinya melayang arogan, kini tersentak mundur, harus menutupi matanya dengan sebelah tangan. Energi yang memancar dari penyatuan itu bukanlah sihir; itu adalah teror absolut.

Perlahan, cahaya ungu itu meredup, menyisakan asap dingin yang menyelimuti tubuh Kaelen.

Pemuda itu bangkit berdiri. Posturnya berubah. Ia tidak lagi terlihat seperti manusia yang terluka. Lengan kanannya kini sepenuhnya terbungkus oleh logam obsidian yang berukirkan rune biru menyala. Gauntlet itu membesar, menyesuaikan diri secara anatomis, dengan cakar metalik yang tajam. Inti Leviathan di dadanya tidak lagi memancarkan warna merah peringatan; benda itu berdenyut stabil, tenang, dan memancarkan energi sedingin ruang hampa angkasa.

Beban pemrosesan mana yang tadinya menyiksa jantung Kaelen kini terdistribusi sempurna melalui jaringan gauntlet raksasa itu. Ia tidak hanya bisa menyerap; kini ia bisa menghancurkan.

Valerius menggertakkan giginya. Kepanikan mulai merayapi sang Inkuisitor Agung. Ia mengangkat tongkatnya kembali. "Mati kau, monster!"

Seratus bilah pedang cahaya suci terbentuk di udara dan melesat menghujani Kaelen bagai hujan meteor.

Kaelen bahkan tidak melangkah menghindar. Ia hanya mengangkat lengan kanannya yang kini berlapis baja purba. Kaelen tidak membuka pusaran untuk menyerap. Ia hanya mengepalkan cakar logamnya.

CRAAAK!

Sebuah distorsi ruang terjadi. Ruang udara di depan Kaelen seolah retak seperti kaca. Seratus bilah pedang cahaya suci itu hancur menjadi serpihan debu cahaya sebelum sempat menyentuh Kaelen, dihancurkan murni oleh tekanan ketiadaan absolut dari gauntlet tersebut.

Mata tanpa pupil Valerius membelalak ngeri. Serangan pamungkasnya dihancurkan hanya dengan satu kepalan tangan kosong.

"Sekarang," suara Kaelen menggema, terdengar ganda—gabungan antara suara manusianya dan distorsi logam mekanis. Mata ungunya menatap lurus menembus jiwa Valerius. "Giliranku."

Dalam kedipan mata, Kaelen menghilang dari tempatnya. Ia tidak bergerak cepat; Domain Null miliknya menghapus resistensi udara, membuatnya seolah berteleportasi.

Sebelum Valerius sempat mengayunkan tongkatnya lagi, Kaelen sudah muncul tepat di depannya. Gauntlet obsidian raksasa Kaelen mencengkeram wajah Inkuisitor Agung itu dengan telak, cakar bajanya menancap di topeng peraknya hingga retak.

"Kaisarmu lupa," bisik Kaelen dingin, mengangkat tubuh jangkung Valerius dari lantai hanya dengan satu tangan kanannya. Enam sayap cahaya Valerius mengepak panik, memukul-mukul Kaelen, namun hawa panas itu kini diserap habis oleh gauntlet dan disaring tanpa sisa. "Kalian tidak bisa mengeksekusi apa yang tidak memiliki nyawa."

Kaelen membanting tubuh Valerius ke lantai pualam dengan kekuatan destruktif yang menggetarkan seluruh dasar kawah. Kawah hitam itu seolah merintih merespons benturan tersebut.

Valerius memuntahkan darah emas dari balik topengnya yang kini hancur berkeping-keping. Tongkat sucinya terlepas, menggelinding jauh.

"Kau... kau akan membawa kiamat bagi dunia ini..." Valerius tersedak, menatap monster berlengan logam di atasnya dengan kengerian mutlak. "Jika kau membunuhku... seluruh Garda Matahari di luar akan merobekmu."

Kaelen tidak menjawab. Ia mengangkat gauntletnya tinggi-tinggi. Rune biru di lengannya menyala terang benderang. Tanpa ampun, Kaelen meninju dada Valerius, menembus tulang rusuk sang prajurit suci, dan menghancurkan inti mana di dalam jantungnya dalam satu hantaman brutal.

Valerius terbelalak untuk terakhir kalinya, sebelum matanya kehilangan cahaya keemasan. Sayap di punggungnya memudar dan lenyap. Inkuisitor Agung Kekaisaran Pusat telah tewas.

Kaelen berdiri tegak, menarik lengannya yang berlumuran darah emas dari dada Valerius. Ia menatap gauntlet mekanisnya. Kekuatan ini tidak masuk akal. Ia merasa bisa meruntuhkan gunung hanya dengan satu jentikan jari. Namun, seiring dengan kekuatan itu, keheningan di dalam kepalanya menjadi semakin pekat. Kemanusiaannya semakin terkikis, digantikan oleh logika mesin pembunuh.

Di luar tenda yang kini atapnya terbuka, terdengar gemuruh langkah puluhan ribu prajurit elit Garda Matahari yang mulai mengepung sisa-sisa parit magis yang melemah. Kematian Valerius telah memicu alarm level tertinggi. Kaelen dan Lyra yang masih pingsan kini terjebak di tengah puluhan ribu pasukan kaisar di dasar Kawah Hitam.

Kaelen berjalan menghampiri Lyra, mengangkat tubuh gadis itu dengan lengan kirinya yang masih manusiawi. Lalu, ia menoleh ke arah ribuan pasukan berseragam emas dan putih yang mulai mendobrak masuk.

Senyum asimetris kembali terbentuk di wajah Kaelen. Dengan Mesin Pemakan Dewa yang kini dua pertiga lengkap, ia tidak melihat puluhan ribu pasukan kaisar sebagai ancaman mematikan. Ia hanya melihat mereka sebagai bahan bakar untuk menguji lengan barunya.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!