NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murid Baru di Barisan Belakang

Teng... teng... teng...

Suara dentang bel pergantian jam pelajaran bergaung nyaring di seluruh penjuru Rexanswood Academy, membubarkan keheningan lorong dan sudut-sudut kantin. Clyrine baru saja mengantongi ponselnya kembali ke saku blazer dengan hati yang masih diliputi sisa rasa kecewa akibat pesan singkat Damien. Tepat pada saat itu, derap langkah tergesa namun percaya diri terdengar mendekati mejanya.

"Cly! Sorry, urusan gue di bagian administrasi baru beres tadi, ribet banget validasi berkas pindahan luar negeri," ujar Adrian seraya menumpukan tangannya di tepi meja, napasnya sedikit memburu namun senyum lebarnya tetap terpasang tampan.

Clyrine mendongak, menyembunyikan gurat muram di wajahnya dengan helaan napas lega. "Lama banget lo. Yaudah, ayo ke kelas. Keburu guru masuk, ntar lo malah kena semprot di hari pertama."

"Ayo," sahut Adrian santai.

Keduanya melangkah beriringan melintasi koridor utama menuju lantai dua. Di sepanjang jalan, postur jangkung Adrian dan cara berjalannya yang luwes tak henti-hentinya memancing perhatian para siswi yang berpapasan. Adrian yang menyadari hal itu tampak sama sekali tidak canggung, bahkan dengan santai menyenggol pelan lengan Clyrine.

"Eh, Cly, pulang sekolah nanti kita main dulu ya?" celetuk Adrian menoleh dengan mata berbinar antusias. "Gue punya banyak banget cerita yang mau diobrolin sama lo. Soal Prancis, soal anak-anak lama, pokoknya semuanya. Tenang aja, ntar gue yang telepon langsung izin ke Om Charles biar lo nggak kena omel."

Mendengar nama Charles disebut, Clyrine tersenyum tipis. Adrian memang teman masa kecilnya; keluarga Vaughan dan keluarga Rexander dulu cukup dekat sebelum Adrian diboyong ke Paris, jadi ayahnya pasti tidak akan keberatan jika ia pergi bersama Adrian. Terlebih lagi, mengingat tawaran jemputan Damien yang baru saja ia tolak mentah-mentah, pergi bersama Adrian terdengar seperti pilihan terbaik untuk menghibur diri.

"Oke, sepakat," jawab Clyrine mantap. "Asal lo yang traktir makan."

"Beres! Mau makan apa aja gue jabanin," tawa Adrian renyah.

Begitu mereka tiba di ambang pintu kelas 12 Unggulan Sosial, suasana ruangan yang tadinya bising mendadak senyap. Di balik meja guru, sosok wanita paruh baya berpenampilan anggun dengan kacamata berbingkai emas dan setelan blazer formal berwarna marun telah berdiri tegak.

Ibu Cassandra Finch—guru pengampu mata pelajaran Hukum Bisnis dan Etika Korporasi yang terkenal sangat disiplin, dingin, dan paling disegani setelah Pak Antonio.

"Masuk dan segera ambil tempat duduk kalian," suara Bu Cassandra terdengar tegas membelah ruangan. Pandangannya kemudian beralih meneliti map dokumen kuning yang dibawa Adrian. "Kamu murid pindahan dari Saint-Germain International School itu, kan? Berdiri di depan sebentar untuk perkenalan."

Clyrine mengangguk kecil pada Adrian memberi isyarat, lalu melangkah cepat menuju meja sudut belakang dekat jendela tempatnya biasa duduk. Di sana, Zerin dan Rebecca sudah menyambutnya dengan bisik-bisik heboh melihat siapa yang baru saja melangkah masuk bersama Clyrine.

Sementara itu, Adrian berdiri tegak di tengah depan kelas. Sikap tubuhnya yang luwes, senyum ramahnya yang menawan, serta aura percaya diri yang memikat seketika membuat seisi ruangan—terutama deretan bangku siswi—menahan napas.

"Selamat siang semuanya," sapa Adrian dengan suara bariton yang hangat dan artikulasi bahasa Inggris bercampur aksen Prancis yang halus. "Nama gue Adrian Vaughan. Pindahan dari Paris. Gue balik ke sini karena urusan bisnis keluarga bokap dan mutusin buat nyelesaiin semester akhir di Rexanswood. Salam kenal, semoga kita bisa kerja sama dengan baik."

Senyum tipis yang dilemparkan Adrian di akhir kalimat membuat beberapa siswi di barisan depan berbisik histeris. Wajah tampan dengan garis rahang blasteran, hidung mancung, dan pembawaan karismatik itu jelas langsung menempatkannya di jajaran cowok paling populer di sekolah dalam hitungan menit.

Di barisan tengah, Claire Elowen Rexander yang sejak tadi duduk terdiam menahan sisa rasa malu akibat kejadian di ruang BK pagi tadi, mendadak menegakkan punggungnya. Matanya berbinar menatap sosok Adrian.

Sebagai anak tiri yang selalu haus pengakuan dan status sosial, Claire tahu betul siapa nama keluarga di belakang pemuda itu. Keluarga Vaughan—salah satu dinasti konglomerat logistik dan perkapalan internasional yang sangat disegani. Mendapatkan perhatian dari pemuda sekelas Adrian di hari pertamanya masuk sekolah jelas akan menjadi cara instan untuk memulihkan reputasinya yang baru saja hancur di depan teman-temannya.

Apalagi, bangku di sebelah kanan Claire kebetulan sedang kosong karena Victoria dipindahkan ke barisan lain oleh pengawas ujian tadi pagi.

Claire langsung merapikan rambut pirangnya yang tergerai, memasang senyuman paling manis dan anggun yang ia miliki, lalu menoleh ke arah Bu Cassandra.

"Bu Cassandra," panggil Claire dengan nada lembut nan santun yang dibuat-buat, mengangkat sebelah tangannya dengan anggun. "Kursi di sebelah saya kosong kok. Adrian bisa duduk di sini saja supaya lebih mudah beradaptasi dengan materi hukum bisnis kita."

Claire kemudian menoleh langsung ke arah Adrian, menatapnya dengan binar mata mengundang dan senyuman menawan. "Duduk di sini aja, Adrian. Nanti catatanku bisa kamu pinjam kalau kamu ketinggalan materi awal."

Beberapa siswi lain mendengus iri melihat kelihaian Claire mencari celah, sementara Genevieve tersenyum bangga di kursinya, mengira langkah sahabatnya kali ini pasti akan berhasil membalikkan pamor mereka.

Bu Cassandra melirik bangku kosong di samping Claire, lalu menatap Adrian. "Kebetulan kursi itu kosong, Adrian. Kamu bisa—"

"Terima kasih atas tawarannya, Claire," potong Adrian cepat namun dengan intonasi yang luar biasa sopan dan tenang.

Adrian tersenyum tipis ke arah Claire—sebuah senyum ramah formal yang sama sekali tidak menyiratkan ketertarikan personal. Pandangan matanya kemudian meluncur lurus melewati meja Claire, mengabaikan gadis itu sepenuhnya, dan terkunci pada meja sudut belakang dekat jendela.

Tepat di samping Clyrine, meja kayu panjang itu menyisakan satu kursi kosong karena Zerin dan Rebecca duduk di meja depannya.

"Tapi Bu Cassandra," lanjut Adrian menoleh kembali pada sang guru dengan nada penuh hormat, "saya izin duduk di bangku belakang sebelah Clyrine saja. Clyrine teman masa kecil saya, jadi saya rasa saya bakal jauh lebih cepat nyambung belajar sama dia."

Deg.

Hening total seketika menyergap seisi kelas.

Wajah Claire membeku kaku di tempatnya. Senyum manis yang tadi ia pajang perlahan retak, berganti menjadi semburat merah padam menahan malu yang teramat sangat di hadapan puluhan pasang mata teman sekelasnya. Penolakan itu begitu santai, namun telak menghantam harga dirinya—lagi-lagi karena Clyrine.

Bu Cassandra mengangkat sebelah alisnya, lalu mengibaskan tangan singkat. "Baiklah, terserah kamu asalkan tidak membuat kegaduhan di belakang. Silakan duduk."

"Terima kasih, Bu," pungkas Adrian ramah.

Tanpa melirik Claire sedikit pun yang kini menggigit bibirnya erat-erat menahan amarah, Adrian melangkah lebar menyusuri lorong kelas dengan ransel tersampir di satu bahu. Begitu tiba di barisan belakang, ia menarik kursi kayu di sebelah Clyrine dan menghempaskan tubuhnya ke sana dengan senyuman puas.

"Nih, gue nemenin lo di belakang," bisik Adrian jahil seraya mengeluarkan buku catatan dan pulpennya di atas meja.

Clyrine menahan senyum gelinya melihat Claire yang kini membuang muka ke depan dengan punggung bergetar menahan kesal.

"Ngapain lo nolak Claire?" bisik Clyrine pelan tanpa menoleh pada Bu Cassandra yang mulai menulis di papan tulis. "Padahal dia kan anak teladan, catatannya lengkap tuh."

Adrian mendengus pelan, mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati telinga Clyrine seraya menyeringai tipis. "Gue nggak butuh cewek bermuka dua yang sok manis, Cly. Dari dulu kan partner gue cuma lo."

Kata-kata santai itu berhasil menerbitkan kekehan kecil di bibir Clyrine, perlahan menyapu gumpalan sesak yang sempat membekukan hatinya sejak pagi tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!