Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Meridian Kosong
Sapu lidi itu sudah kehilangan sepertiga bulunya, tapi Ji Ming tetap memakainya untuk membersihkan debu di lorong Makam Terlarang — tugas yang tak akan diperebutkan siapa pun di Sekte Puncak Elang Hitam, sebab tak ada yang sudi menginjakkan kaki di sini selain dirinya.
"Sampah bermeridian mati sepertimu memang cocoknya jaga kuburan," begitu kata Tetua Kang tiga tahun lalu, saat pertama kali menjatuhkan tugas ini padanya. "Anggap saja bersyukur sekte masih mau memberimu makan."
Ji Ming tidak membantah. Ia memang tak pernah bisa membantah. Sejak usia tujuh tahun, ketika Tetua penguji menempelkan telapak tangan ke dadanya dan hanya mendapati keheningan — bukan aliran qi yang seharusnya berdenyut di delapan meridian utama, melainkan kekosongan total, seolah tubuhnya adalah sumur tanpa dasar — ia sudah tahu jalan kultivasi normal tertutup baginya selamanya.
Delapan belas tahun. Delapan belas tahun ia hidup sebagai bayangan di pinggiran sekte, disebut "Meridian Kosong" seperti itu adalah aib, bukan sekadar kondisi tubuh.
Ia berhenti menyapu di depan gerbang besi berkarat paling dalam, tempat udara terasa lebih berat, lebih dingin, seakan ada sesuatu yang menahan napas di baliknya. Di atas gerbang, ukiran aksara kuno nyaris terkikis zaman, tapi ia sudah hafal luar kepala:
Di Sini Beristirahat Dosa Perang Boneka Jiwa. Jangan Dibuka, Kecuali Dunia Sudah Siap Hancur Dua Kali.
Peringatan macam apa itu. Tapi hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah Hari Peringatan Perang Boneka — tiga ratus tahun sejak dunia kultivasi nyaris musnah oleh pasukan boneka berisi jiwa curian, dan sekte-sekte besar di seluruh benua menggelar upacara sunyi untuk mengenang para leluhur yang gugur menghentikannya. Di sekte-sekte lain, upacara itu megah dan khidmat. Di Puncak Elang Hitam, satu-satunya "upacara" adalah menyuruh Ji Ming membersihkan debu tiga ratus tahun dari lorong yang tak pernah dilewati siapa pun.
Ia baru saja hendak berbalik pulang ketika lantai di bawah kakinya bergetar.
Bukan gempa. Getarannya terlalu teratur, seperti detak jantung raksasa yang baru saja bangun dari tidur panjang. Retakan tipis merambat dari sela-sela gerbang besi, dan aksara kuno di atasnya mulai berpendar — bukan cahaya emas keberuntungan seperti dalam formasi kultivasi biasa, melainkan cahaya ungu pucat yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Naluri paling dasar berkata: lari.
Tapi kakinya tidak bergerak. Sesuatu di balik gerbang itu — sesuatu yang selama tiga ratus tahun terkubur dalam diam — seolah memanggil namanya, atau lebih tepatnya, memanggil kekosongan di dalam dirinya, seperti dua ruang hampa yang saling mengenali di kegelapan.
Gerbang besi itu terbuka sendiri dengan derit panjang yang menggema di seluruh lorong.
Ji Ming tahu ia seharusnya melapor ke Tetua Kang saat itu juga. Itu aturan paling dasar penjaga makam: apa pun yang terjadi di Makam Terlarang, segera laporkan, jangan pernah masuk sendirian. Tapi kakinya sudah melangkah lebih dulu daripada akal sehatnya sempat mencegah, seolah ada tali tak kasat mata yang menariknya masuk ke kegelapan.
Di dalam, ia tak menemukan pasukan boneka mengerikan seperti yang diceritakan dalam legenda anak-anak. Yang ia temukan hanyalah sebuah ruang bundar kecil, dengan satu altar batu di tengahnya, dan di atas altar itu — sesosok boneka kayu setinggi tangan, ukirannya begitu halus hingga tampak seperti sedang tertidur, bukan sedang mati.
Dan di sisi altar, tergeletak selarik cahaya keperakan yang perlahan membentuk siluet seorang lelaki tua berjubah abu-abu, transparan seperti kabut yang enggan menyerah pada angin.
"Akhirnya," suara itu terdengar seperti berasal dari sangat jauh, dan sangat dekat sekaligus. "Tiga ratus tahun aku menunggu seseorang dengan meridian sekosong milikmu untuk lewat di depan gerbang ini. Hampir saja aku menyerah, Nak."
Ji Ming melangkah mundur, tapi lagi-lagi kakinya berhenti sendiri, seolah tubuhnya sudah memutuskan untuk tidak takut sebelum otaknya sempat memberi perintah.
"Kau... siapa?"
"Namaku tak penting lagi — aku sudah lama mati, ini cuma sisa tekad yang menolak padam sebelum tugasku selesai." Sosok kabut itu mendekat, dan untuk pertama kalinya, Ji Ming melihat wajahnya jelas: lelah, tapi matanya menyimpan kehangatan yang aneh untuk sosok setua dan sesunyi itu. "Dulu, sekte kami disebut pendosa yang hampir menghancurkan dunia. Sebagian dari tuduhan itu benar — ada di antara kami yang mencuri jiwa orang hidup untuk memperkuat boneka, dan itu kejahatan yang tak termaafkan. Tapi bukan seni ini yang jahat, Nak. Yang jahat adalah tangan yang menyalahgunakannya."
"Kenapa... kenapa memanggilku?"
"Karena seni ini tak bisa dijalankan lewat qi. Ia butuh Meridian Kosong — ruang hampa dalam tubuh yang bisa diisi kekuatan jiwa tanpa terkontaminasi qi asing. Selama tiga ratus tahun, hampir tak ada yang lahir dengan kondisi sepertimu. Kalian menyebutnya cacat." Sosok itu tersenyum tipis, senyum yang terasa seperti permintaan maaf yang terlambat tiga abad. "Kami menyebutnya wadah suci."
Cahaya keperakan dari sosok itu mulai meredup, semakin transparan setiap detik.
"Aku tak bisa mewariskan banyak — sisa tekadku hanya cukup untuk satu kali pemberian. Terimalah Manual Sang Pengukir Pertama, dan boneka kayu ini — namanya Xiao Mu, dia bukan senjata, dia sahabat pertamaku dulu, satu-satunya yang selamat bersamaku ketika dunia menghukum kami semua. Jaga dia. Jaga seni ini. Buktikan bahwa jalan ini bisa ditempuh tanpa mengulang dosa kami."
Seberkas cahaya keperakan menembus dahi Ji Ming, dan seketika kepalanya dipenuhi gambaran-gambaran — teknik ukiran, tahapan kekuatan jiwa, cara mengisi wadah dengan tekad tanpa mencuri kehendak siapa pun. Sakit dan indah bersamaan, seperti seumur hidup pengetahuan dijejalkan dalam satu tarikan napas.
Ketika ia membuka mata lagi, sosok kabut itu sudah lenyap. Hanya boneka kayu bernama Xiao Mu yang tergeletak di altar, dan di tangannya kini tergenggam sebuah gulungan tua bertuliskan Manual Sang Pengukir Pertama.
Ia baru saja hendak meraih boneka itu ketika suara langkah kaki tergesa menggema di lorong luar.
"—kubilang jangan biarkan siapa pun mendekati gerbang itu, kenapa segelnya bisa—"
Suara Tetua Kang. Dan di belakangnya, suara derap beberapa murid bersenjata.
Ji Ming baru sadar betapa buruknya posisinya saat ini: seorang murid buangan, berdiri sendirian di ruang paling terlarang di seluruh sekte, memegang relik dari Perang Boneka Jiwa, tepat ketika Tetua Kang — orang yang selama ini paling keras melarang siapa pun mendekati tempat ini — tiba di depan gerbang.
Wajah Tetua Kang, saat melihatnya, bukan menunjukkan kemarahan biasa seorang tetua pada murid yang melanggar aturan. Ada sesuatu yang lain di sana — kepanikan murni, sekilas, sebelum buru-buru ditutupi dengan amarah yang dibuat-buat.
"Anak kurang ajar," suara Tetua Kang bergetar, tapi bukan karena marah — Ji Ming baru menyadarinya sekarang, terlalu terlambat — melainkan karena takut. "Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan? Kau telah mencuri relik terlarang dari Makam Suci!"
"Aku tidak mencuri apa pun, gerbangnya terbuka sendiri, aku hanya—"
"DIAM!" Tetua Kang melangkah maju, dan untuk pertama kalinya Ji Ming melihat tangan tetua itu bergetar — bukan karena murka, tapi karena sesuatu yang ia sembunyikan selama ini nyaris terbongkar. "Tangkap dia. Bawa ke Aula Hukuman. Dan pastikan—" suaranya melirih, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri, "—pastikan tak ada yang mendengar apa pun yang ia lihat di sana."
Baru saat itulah Ji Ming mengerti: ini bukan tentang aturan yang ia langgar. Ini tentang sesuatu yang Tetua Kang sembunyikan di balik gerbang ini, sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar relik terlarang — dan kini, satu-satunya saksi yang tahu adalah dirinya sendiri.
Murid-murid bersenjata mulai mengepung, dan di tangannya, Xiao Mu tiba-tiba bergerak — pertama kalinya sejak tiga ratus tahun, sepasang mata kayu kecil itu terbuka, memancarkan cahaya kehijauan lembut, seolah berbisik: aku di sini, kau tidak sendirian.
Ji Ming menggenggam boneka itu erat-erat, merasakan gelombang kekuatan jiwa yang asing namun terasa seperti miliknya sendiri mulai mengalir dari dada kosongnya — untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun hidupnya, ruang hampa yang selama ini dihina orang lain terasa penuh.
"Aku tidak akan ikut ke Aula Hukuman," katanya, suaranya sendiri terdengar asing di telinganya — lebih tegas dari yang pernah ia ucapkan seumur hidup. "Bukan untuk kejahatan yang tidak kulakukan."
Tetua Kang mendesis. "Kalau begitu kau akan mati sebagai buronan, Meridian Kosong."
"Kalau begitu," Ji Ming mengangkat Xiao Mu di tangannya, merasakan untuk pertama kalinya sesuatu yang bukan kekosongan, melainkan awal dari sesuatu yang belum pernah ia miliki — tujuan, "biar begitu."
Ia melompat mundur menembus retakan formasi yang belum sepenuhnya pulih, membawa boneka kayu bernama Xiao Mu dan gulungan manual kuno, meninggalkan gerbang Makam Terlarang, meninggalkan Puncak Elang Hitam yang selama delapan belas tahun menyebutnya sampah — menuju dunia luar yang bahkan belum sempat ia lihat sekali pun seumur hidupnya.
Di belakangnya, teriakan Tetua Kang memerintahkan pengejaran bergema di sepanjang lorong batu.