Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAT ANCAMAN
"Yang Mulia Grand Duke! Panglima Joel!" panggil seorang prajurit muda dengan napas terengah-engah, langsung membungkuk hormat begitu tiba di hadapan mereka.
"Ada apa?" tanya Erik dingin, mengalihkan pandangannya dari Kalyca dengan terpaksa.
"P-prajurit yang berjaga di gerbang utama melaporkan sesuatu yang mencurigakan!" lapor prajurit itu gemetar.
"Ada seseorang yang meninggalkan sebuah kotak kayu berukir lambang keluarga kerajaan di depan gerbang, dan di dalamnya terdapat surat ancaman yang ditujukan langsung kepada Yang Mulia Raja!" lanjut Prajurit itu, berkeringat dingin.
Deg
"Kotak apa itu?! Di mana sekarang?!" tanya Joel, dengan rahang mengeras.
"Sudah diamankan oleh kepala penjaga gerbang, Panglima, mereka tidak berani membukanya sembarangan karena takut ada jebakan sihir hitam seperti sebelumnya," jawab prajurit itu cepat.
Erik mengepalkan tangannya kuat, rahangnya mengeras, dia paling benci dengan sihir hitam, karena dia memiliki memori yang kelam dengan sihir hitam, dimana dia kehilangan segalanya di masa lalunya dulu.
"Sialan! Rupanya jaringan para pengkhianat ini tidak hanya berhenti pada Perdana Menteri dan Menteri Keuangan," umpat Erik, dingin.
"Tabib, sepertinya keahlianmu masih sangat dibutuhkan di istana ini. Ikutlah dengan kami," ucap Erik, melirik Kalyca.
Kalyca terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan di balik cadarnya.
"Baik, Yang Mulia," jawab Kalyca tegas.
Di dalam hatinya, Kalyca tersenyum penuh kemenangan, ini berarti kesempatan baginya untuk melihat dalang dari kebusukan istana ini, dan yang paling penting dia harus mengetahui dimana orang yang sudah menukar nya dulu dengan Edelyn, karena Kalyca yakin orang itu pasti masih hidup.
"Mari, Yang Mulia Grand Duke, kita lihat kejutan apa lagi yang disiapkan oleh para pengecut itu," ucap Joel, mengepalkan tangannya kuat.
"Hem,"jawab Erik, bergumam lirih.
Erik berjalan lebih dulu dengan langkah tegap disusul oleh Gale, Joel, dan Kalyca yang berjalan tenang di barisan belakang
Setibanya mereka di aula utama istana, beberapa prajurit pengawal tampak berjaga.
"SALAM YANG MULIA GRAND DUKE!"
Seru seluruh prajurit membungkuk hormat.
"Dimana kotak nya?" tanya Erik, tanpa basa-basi .
"Silahkan Yang Mulia," ucap salah satu prajurit, sopan.
Di atas meja, sebuah kotak kayu berwarna hitam legam dengan ukiran ular melingkar tampak memancarkan aura gelap yang mencurigakan.
"Jangan disentuh!" seru Joel, tegas.
"Siapkan wadah air suci dan penawar sihir," titah Erik tegas kepada tabib istana yang berdiri gemetar di sudut ruangan.
Kalyca melangkah maju melewati beberapa prajurit, matanya menatap tajam ke arah kotak hitam di atas meja, sebagai seseorang yang pernah mengalami penderitaan teramat berat di masa lalu, dia sangat mengenali jenis sihir pengaman yang melapisi kotak tersebut.
"Itu bukan jebakan racun biasa," ucap Kalyca tiba-tiba, membuat semua orang di ruangan itu menoleh menatapnya.
"Apa maksudmu?" tanya Erik, menyipitkan matanya.
Kalyca merogoh kantong jubahnya, mengeluarkan sebuah serbuk kristal berwarna keperakan, lalu menaburkannya perlahan ke udara tepat di atas kotak hitam itu, seketika, serbuk tersebut bereaksi, memancarkan cahaya keemasan.
"Kotak ini disegel dengan kutukan jiwa pelacak," ucap Kalyca dengan suara tenang namun dingin.
"Jika ada orang sembarangan yang membukanya tanpa menetralkan segelnya terlebih dahulu, jiwa orang itu akan tersedot dan organ dalamnya akan langsung hancur dalam seketika," lanjut Kalyca, diam-diam mengepal kan tangan nya kuat.
Martinez
Satu nama itu kembali menggema di ingatan Cassandra.
"Sihir hitam ternyata benar-benar masih ada, aku pikir setelah kematian nya, sihir hitam ikut mati dan terkubur dengan nya," batin Kalyca, mengingat kehidupan pertama nya.
"Apa ada orang yang membangkitkan jiwa nya," batin Kalyca, berdegup kencang.
Ternyata bukan hanya Kalyca yang merasa jiwa nya bergejolak, mendengar tentang sihir hitam yang kemungkinan di bangkitkan kembali oleh seseorang.
"Sial! Seharusnya aku dulu menghancurkan sampai ke inti jiwa nya, supaya dimasa depan tidak ada yang bisa membangkitkan nya lagi," batin Erik, mengepalkan tangannya kuat.
Pertumpahan darah ribuan tahun yang lalu kembali berputar di ingatan Imanuel, dimana dia menyaksikan sendiri, bagiamana para bajingan pengguna sihir hitam itu merenggut nyawa istri nya, Cassandra.
Imanuel yang kini kembali hidup dan dilahirkan kembali sebagai Erik, kembali merasakan gejolak Kemarahan di hati nya.
"Buka kotaknya," perintah Erik tanpa ragu.
"Kau bisa melakukannya, bukan?" tanya Erik, menatap Kalyca lekat-lekat.
Kalyca mengangguk pelan, tanpa rasa takut sedikitpun, dia mengulurkan tangannya, merapalkan mantra pemurni kuno dengan suara berbisik yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Klik.
Segel itu terbuka dengan sempurna tanpa bahaya apa pun.
Kalyca perlahan membuka tutup kotak hitam tersebut, ternyata di dalamnya, terdapat sebuah gulungan perkamen tua bernoda darah dan sebuah kalung berliontin batu rubi hitam yang memancarkan energi gelap.
Erik langsung merangsek maju, mengambil gulungan perkamen tersebut dan membacanya dalam diam.
Semakin jauh matanya membaca isi surat itu, semakin erat pula tangan Erik meremas kertas tersebut hingga hampir robek, rahang pria itu mengeras, dan aura membunuh yang sangat pekat mendadak meledak dari tubuh sang Grand Duke, membuat udara di dalam aula terasa begitu menyesakkan.
"Yang Mulia Grand Duke, apa isi surat itu?" tanya Joel dengan suara berat, merasakan ketegangan yang luar biasa.
Erik mengangkat wajahnya, menatap lurus ke depan dengan sorot mata bagaikan iblis yang siap mencabik-cabik mangsanya.
"Mereka bukan hanya bersekongkol di dalam istana Veldora..." ucap Erik dengan suara dingin
"Surat ini berasal dari kerajaan tetangga, Kerajaan Zafira, dan tertulis jelas di sini!" lanjut Erik, menunjuk lambang kerajaan Zafira.
Kerajaan Zafirah dan kerajaan Veldora memang tidak pernah akur, dua kerajaan besar itu memang musuh bebuyutan dari puluhan tahun lalu.
"Edelyn bukan hanya berniat meracuni Raja untuk merebut takhta, tapi dia juga telah menjual jalur pertahanan Veldora kepada musuh demi mendapatkan dukungan militer luar!" ucap Erik, berusaha menahan gejolak Kemarahan nya.
DUARR
Mendengar kalimat itu, seluruh prajurit dan petinggi yang ada di aula langsung terjengkit kaget.
"Putri Edelyn benar-benar sudah tidak waras! Beraninya dia menggadaikan keselamatan seluruh rakyat Veldora demi ambisi busuknya sendiri!" murka Joel dengan suara menggelegar.
Kalyca yang berdiri di samping meja perlahan menutup matanya rapat-rapat untuk sepersekian detik, di dalam dadanya, rasa benci, jijik, dan amarah yang telah lama ia pendam kini semakin membara.
"Kamu benar-benar tidak punya hati, Edelyn, kamu menghancurkan segalanya demi tahta yang bahkan tidak pantas kau miliki" batin Kalyca, dengan dada bergemuruh.
"Joel!" panggil Erik penuh penekanan.
"Saya, Yang Mulia!" jawab Joel sigap.
"Kumpulkan seluruh pasukan sekarang juga! Perketat pengamanan di seluruh perbatasan utara!" perintah Erik tegas.
"Baik, Yang Mulia! Saya akan melaksanakan perintah Anda sekarang!" seru Joel dengan penuh wibawa, lalu berlari keluar aula bersama beberapa prajurit.
"Gale, perintahkan pasukan kita untuk tetap siaga dan jangan lengah, jangan biarkan orang asing masuk ke wilayah kita! Terutama ke ibu kota kerajaan Veldora!" perintah Erik, pada tangan kanannya.
"Baik Yang Mulia!" jawab Gale, tegas.
makaci crazy up nya 😍👍