NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Perangkap Kemewahan

Siang itu, matahari bersinar terik menembus kaca-kaca jendela kawasan hunian elit di kawasan Selatan Jakarta. Sebuah rumah mewah bergaya modern tropis berdiri megah di atas lahan yang amat luas. Fasadnya didominasi marmer putih, kayu jati berkualitas tinggi, dan kaca tempered berukuran raksasa. Kolam renang infinity di halaman belakang langsung menghadap ke pemandangan hijau yang asri.

Di dalam garasi yang mampu memuat lima kendaraan, terparkir sebuah mobil sport mewah berwarna hitam mengkilap yang masih berpelat putih, lengkap dengan pita merah besar terikat di kap depannya.

Total nilai investasi untuk hunian dan mobil mewah tersebut mencapai angka fantastis: 150 miliar rupiah.

Rendy berdiri di tengah ruang tamu rumah itu dengan wajah berbinar-binar. Dadanya membusung penuh kebanggaan, dan senyum lebar tak henti-hentinya terukir di bibirnya. Di tangannya, ia memegang seberkas dokumen perjanjian yang baru saja ditandatanganinya sepuluh menit yang lalu.

Alya berdiri dua langkah di sampingnya, mengenakan gaun simpel berwarna krem yang amat elegan. Ia menatap Rendy dengan senyuman paling manis—senyuman yang menyimpan perangkap mematikan.

"Bagaimana, Rendy? Kamu suka dengan rumah dan mobil barunya?" tanya Alya dengan suara yang sangat lembut dan tenang.

Rendy memutar tubuhnya, menatap Alya dengan mata berkaca-kaca oleh rasa tak percaya sekaligus ketakjuban yang luar biasa. Materialisme yang selama ini terendam di dalam dirinya kini meluap sepenuhnya.

"Suka, Al? Ini... ini luar biasa! Ini sempurna sekali!" seru Rendy seraya merangkul bahu Alya secara refleks. "Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan membelikan rumah seharga seratus lima puluh miliar ini untuk masa depan kita! Ini bukti kalau kamu memang benar-benar mencintaiku dan mau memulai semuanya dari awal!"

Alya tidak menarik diri, melainkan membiarkan Rendy larut dalam kebahagiaan semunya. Ia melirik tipis ke arah berkas yang dipegang Rendy.

Rendy tidak tahu bahwa seluruh dokumen kepemilikan, sertifikat tanah, dan surat balik nama yang ditandatanganinya barusan adalah berkas hak milik atas nama Alya seutuhnya. Surat yang dibaca dan ditandatangani oleh Rendy hanyalah draf persetujuan pemakaian aset sementara dengan klausul hukum jebakan yang sudah dirancang oleh tim pengacara Alya dan Kai. Jika sewaktu-waktu Alya mengeksekusinya, Rendy bisa diusir tanpa membawa selembar benang pun, bahkan bisa dijerat kasus pemalsuan dan penipuan.

"Tentu saja, Rendy," tutur Alya manis. "Aku membelikan ini semua karena aku ingin kamu merasa dihargai. Kamu kan bilang mau membuktikan ketulusanmu padaku. Ini hadiah kecil dari perusahaanku agar kamu bisa fokus menata kembali hidupmu di sisiku."

"Terima kasih, Alya... Terima kasih banyak!" usak Rendy mantap, mengusap kap mobil sport baru di garasi dengan matanya yang penuh kelapangan rasa serakah.

Sore harinya, acara peresmian rumah baru diadakan secara semi-privat. Beberapa relasi bisnis kelas atas, staf senior perusahaan, serta kerabat dekat diundang untuk menghadiri syukuran kecil di area kolam renang.

Alya sengaja memasukkan nama Siska ke dalam daftar tamu undangan. Alya ingin Siska menyaksikan sendiri puncak kemewahan yang seolah-olah dilimpahkan Alya kepada Rendy.

Siska datang mengenakan gaun merah menyala. Wajahnya yang dipoles tebal tidak bisa menyembunyikan rasa guncangan di hatinya begitu melangkahkan kaki melewati pintu gerbang raksasa rumah tersebut. Matanya liar memandangi dinding marmer, pilar-pilar megah, lampu kristal gantung yang bernilai miliaran, dan mobil sport mewah di garasi.

Dada Siska terasa sesak oleh rasa iri dan cemburu yang membakar.

Seratus lima puluh miliar?! jerit Siska dalam hatinya, mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Kenapa si gemuk itu bisa seroyal ini sama Rendy?! Rumah sekelas istana dan mobil baru diberikan cuma-cuma?! Apa Alya benar-benar sudah gila karena cinta pada Rendy?!

Pikiran Siska makin kacau. Jika Alya memberikan harta sebanyak ini pada Rendy, maka posisi Rendy akan melambung tinggi. Rendy tidak akan pernah membutuhkan Siska lagi, dan anak di dalam kandungannya akan dibuang begitu saja tanpa mendapatkan apa-apa.

Saat acara bersulang berlangsung di tepi kolam renang, Rendy meneguk dua gelas sampanye. Merasa perutnya agak tidak nyaman, Rendy pamit menuju toilet di lantai dasar.

Melihat kesempatan itu, Siska menyelinap keluar dari kerumunan tamu dan membuntutinya dari belakang.

Begitu Rendy keluar dari pintu toilet dan membasuh tangannya di wastafel marmer, Siska langsung melangkah masuk ke dalam area koridor toilet yang sepi, lalu menghadang jalan Rendy.

Rendy tersentak kaget, dahinya berkerut risih melihat Siska berdiri di depannya dengan wajah tegang.

"Siska? Kamu mau apa di sini?" tegur Rendy ketus seraya mengeringkan tangannya dengan tisu. "Ini area privat tamu!"

Siska memajukan tubuhnya, menatap Rendy dengan mata membelalak penuh tuntutan. "Rend! Jawab aku jujur! Kok bisa si gemuk itu kasih rumah seharga seratus lima puluh miliar dan mobil mewah buat kamu?! Kalian beneran resmi balikan?!"

Rendy terkekeh sinis, menyunggingkan senyum sombong yang amat muak dilihat. Rasa percaya dirinya membumbung tinggi ke langit karena merasa sudah memegang harta 150 miliar milik Alya.

"Kenapa? Kamu kaget?" balas Rendy dengan nada meremehkan. "Tentu saja kami resmi balikan! Alya sangat mencintaiku. Dia sadar kalau cuma aku laki-laki yang pantas mendampinginya!"

"Kamu jangan bodoh, Rendy!" desis Siska penuh amarah. "Dia cuma memanfaatkan kamu! Atau jangan-jangan kamu cuma dimanfaatkan buat bikin Kai cemburu?!"

"Apaan sih kamu, Siska?!" bentak Rendy pelan namun tajam, menunjuk muka Siska dengan rasa jijik. "Jangan merusak kebahagiaanku! Dulu waktu sama kamu, aku cuma dapat masalah, utang, dan rengekan tidak jelas! Tapi Alya? Alya memberikanku rumah istana ini dan mobil mewah tanpa perlu aku minta!"

Siska membeku, matanya berkaca-kaca oleh rasa tidak percaya atas perubahan sikap Rendy yang begitu terang-terangan menjadi sangat materialistis dan jahat.

"Kamu... kamu berubah jadi mata keranjang begini cuma gara-gara harta Alya, Rend?!" bisik Siska seraya menahan tangis kemurkaannya. "Terus bagaimana sama aku?! Bagaimana sama anak di kandunganku ini?!"

Rendy menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya penuh kesombongan, menatap Siska dari atas ke bawah.

"Sekarang aku baru sadar, Siska..." bisik Rendy dingin tepat di depan wajah Siska. "...Alya itu jauh lebih baik, jauh lebih berkelas, dan jauh lebih kaya daripada kamu. Jadi mulai sekarang, jauh-jauh dari hidupku dan jangan pernah ganggu hubunganku sama Alya lagi!"

Tanpa memedulikan Siska yang berdiri mematung dengan dada kempas-kempis oleh rasa sakit hati yang amat dalam, Rendy menepis bahu Siska kasar lalu melangkah pergi kembali ke area pesta dengan dada membusung.

"Bajingan..." geram Siska di koridor sepi itu. Air mata amarah menetes menembus riasan tebal di pipinya. "Rendy bajingan! Kamu pikir kamu bisa menendangku begitu saja setelah kamu dapat harta dari Alya?!"

Kebencian Siska pada Rendy dan Alya kini menyatu menjadi api dendam yang membara hebat. Jika Rendy memilih harta Alya dan membuangnya, maka Siska akan menghancurkan mereka berdua dengan cara merebut satu-satunya hal yang paling berharga dan sempurna: Kai Aditya.

Siska menyeka air matanya kasar, merapikan gaun merahnya di depan cermin toilet, lalu mengambil ponselnya.

Siska tahu bahwa saat ini Kai Aditya sedang 'berpisah' dari Alya akibat pertengkaran publik mereka kemarin. Bagi Siska, ini adalah celah emas yang tidak boleh disia-siakan.

Dua jam kemudian, pesta di rumah baru Alya selesai.

Siska sengaja melacak keberadaan Kai melalui stafnya. Ia mengetahui bahwa Kai sedang berada di sebuah kafe VIP di lounge hotel bintang lima kawasan Senayan untuk bertemu dengan beberapa klien bisnis asing.

Siska langsung menuju lokasi tersebut. Dengan keahlian gigihnya memoles penampilan, Siska menyelinap masuk ke dalam lounge VIP.

Di sudut ruangan yang tenang, Kai Aditya duduk di sofa kulit hitam. Pria itu mengenakan kemeja serba hitam, memegang segelas minuman dingin. Wajah tampannya tampak sangat dingin, datar, dan kaku.

Sejak 'berpura-pura putus' dari Alya demi menjalankan skenario perangkap ini, suasana hati Kai memang sedang sangat buruk. Bagi Kai, harus berjarak dari Alya dan berpura-pura tidak peduli pada wanita yang sangat dicintainya itu sungguh membuat dadanya sesak dan kesal. Ia muak harus berpura-pura patah hati di depan publik hanya demi meladeni permainan dua manusia tak bernilai seperti Rendy dan Siska.

Saat Kai sedang menatap layar ponselnya—menunggu pesan rahasia dari Alya—sebuah aroma parfum menyengat mendekatinya.

"Selamat malam, Pak Kai..." suara manja yang mendesah terdengar di samping meja.

Kai mendongak pelan. Siska berdiri di sana dengan senyuman paling memikat yang sengaja dibuat-buat, memiringkan tubuhnya agar gaun merah ketatnya memamerkan lekuk tubuh secara jelas.

Kai tidak merespons. Matanya menatap Siska dengan pandangan yang teramat dingin, seolah-olah wanita di hadapannya ini hanyalah dinding kosong.

Siska tanpa rasa malu mendudukkan dirinya di sofa kosong di samping meja Kai, memajukan tubuhnya mendekati sang pengusaha muda.

"Saya dengar berita soal hubungan Bapak dan Alya..." tutur Siska dengan nada memelas yang dibuat-buat seraya mengusap jemarinya sendiri. "Alya sungguh tega ya, Pak. Bapak yang begitu sempurna dan baik malah dicampakkan begitu saja demi pria berengsek seperti Rendy. Hari ini saja... Alya sampai membelikan Rendy rumah seratus lima puluh miliar dan mobil baru."

Kai tetap diam. Ia menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Siska, lalu meminum minumannya tanpa memandang wajah wanita itu sama sekali.

Rasa diacuhkan itu membuat Siska makin penasaran dan agresif. Siska nekat mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh lengan kemeja hitam Kai di atas meja.

"Pak Kai..." bisik Siska dengan mata berbinar penuh godaan. "Bapak tidak perlu merasa sedih atau kesepian lagi. Alya tidak pernah tahu cara menghargai pria sekelas Bapak. Tapi saya... saya tahu persis bagaimana cara menghormati dan membahagiakan pria seperti Pak Kai. Kalau Bapak mau... malam ini saya bisa mendampingi Bapak—"

TAK!

Kai menghempaskan gelas kristalnya ke atas meja dengan suara benturan yang cukup keras, menghentikan kalimat Siska seketika.

Tangan Siska yang hendak menyentuh lengan Kai membeku di udara.

Kai menolehkan kepalanya lambat-lambat. Matanya mengunci pandangan Siska dengan aura intimidasi yang sangat pekat dan membunuh. Kekesalan Kai yang menumpuk karena harus terpisah sementara dari Alya kini menemukan tempat untuk ditumpahkan.

"Tangan kotor itu..." desis Kai dengan suara yang begitu rendah, tajam, dan sarat ancaman, "...kalau berani menyentuh kemeja saya satu mili saja, saya pastikan jari-jarimu tidak akan pernah bisa memegang apa pun lagi."

Siska tersentak mundur, napasnya tertahan karena rasa takut yang mendadak menyerang dadanya. Wajah tampan Kai di hadapannya bukan lagi raut pria lesu yang patah hati, melainkan sosok pemangsa yang siap mencabik-cabik mangsanya.

"P-Pak Kai... saya cuma mau menghibur Bapak—"

"Saya tidak butuh hiburan dari wanita murahan seperti kamu," potong Kai dingin tanpa ampun. Setiap kata yang diucapkannya menghantam harga diri Siska bagaikan pukulan godam. "Kamu pikir saya tidak tahu niat busukmu? Kamu dibuang oleh Rendy, lalu sekarang mengemis perhatian saya seperti benalu yang tidak punya harga diri?"

Wajah Siska seketika merah padam oleh rasa malu yang teramat sangat. Beberapa tamu VIP di meja lain mulai melirik ke arah mereka.

"Dengar baik-baik, Siska," lanjut Kai seraya berdiri tegap, merapikan jas hitamnya dengan gerakan anggun namun penuh dominasi. "Di mata saya, tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang bisa dibandingkan dengan Alya. Bahkan dalam mimpi terliarmu sekalipun, kamu tidak akan pernah bisa menyamai seujung kuku dari Alya."

Kai menunduk sedikit, menatap Siska yang terkulai ketakutan di sofa.

"Pergi dari hadapan saya sekarang juga sebelum pengawal saya melemparmu keluar dari hotel ini," ancam Kai mutlak.

Tanpa menunggu balasan, Kai melangkah pergi meninggalkan lounge VIP tersebut dengan derap langkah yang cepat dan tegas.

Siska duduk membeku di sofa, giginya gemetaran menahan malu, amarah, dan kehancuran harga diri yang luar biasa. Tatapan dingin dan penolakan mentah-mentah dari Kai Aditya menghancurkan sisa-sisa harapannya.

"Alya... Rendy... Kai..." desis Siska dengan mata merah berair penuh dendam membara. "Kalian semua memandangku sebelah mata... Aku bersumpah akan membuat kalian semua hancur bersama-sama!"

Sementara itu, di dalam mobil mewahnya yang melaju menyusuri jalanan malam Jakarta, Kai segera mengambil ponselnya dan menekan tombol panggilan cepat.

Hanya dalam dua kali dering, suara Alya yang lembut terdengar di seberang telepon.

"Halo, Kai?"

Raut wajah dingin Kai seketika melunak sepenuhnya. Napas panjang penuh kehangatan berhembus dari bibirnya saat mendengar suara wanita tercintanya.

"Alya..." bisik Kai, suaranya dipenuhi rasa rindu yang teramat dalam. "Permainan berpura-pura putus ini sungguh menyiksa saya. Wanita bernama Siska itu baru saja mencoba mendekati saya lagi."

Di seberang sana, Alya terkekeh pelan. "Lalu apa yang kamu lakukan padanya, Kai?"

"Saya membuatnya sadar bahwa dia tidak lebih dari sekadar debu," jawab Kai terkekeh tipis. "Tapi Alya... Rendy sudah memegang draf palsu rumah seratus lima puluh miliar itu, dan Siska sudah berada di puncak keputusasaannya. Kapan eksekusi terakhir permainan ini dimulai? Saya sudah tidak sabar untuk memelukmu kembali di depan semua orang."

Alya tersenyum dingin di balik teleponnya seraya menatap dokumen asli kepemilikan aset di meja kerjanya.

"Besok malam, Kai," jawab Alya mantap. "Besok malam di acara perayaan ulang tahun perusahaanku. Kita kumpulkan mereka semua, dan kita jatuhkan bomnya."

"Tunggu saya besok malam, Ratu," balas Kai penuh kepastian cinta dan dendam yang siap dituntaskan.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!