Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Dan Kaos Putih
Taman bunga itu masih cantik.
Kami masih bergandengan tangan menyusuri jalan setapaknya. Tangan Brayen masih erat menggenggam tanganku sejak kejadian hampir jatuh tadi. Jantungku belum normal.
Tiba-tiba...
_Tik... tik... tik..._
Setetes air jatuh di ujung hidungku.
Aku mendongak. Langit Jakarta yang tadi biru cerah kini abu-abu.
"Tetes air?" gumamku.
_Byurrr..._
Dalam sekejap, gerimis berubah menjadi hujan. Dari rintik pelan menjadi deras.
"Mas! Hujan!" jeritku.
Pengunjung lain berlarian panik mencari tempat berteduh. Aku panik, tempat parkir mobil Brayen masih jauh di ujung gerbang masuk.
Brayen langsung menarik tanganku.
"Kesini!"
Kami berlari berdua di tengah hujan. Dress putih gadingku mulai basah. Rambut kuncir kudaku basah kuyup. Tapi anehnya, aku tertawa. Brayen juga tertawa. Kami berlari seperti dua anak kecil yang bolos sekolah.
Di sudut taman, ada satu bangunan kecil bekas toko souvenir yang tutup. Roll door nya setengah tertutup, tapi bagian dalamnya kosong dan kering.
"Masuk sini dulu!" kata Brayen.
Kami masuk ke dalam toko kosong itu. Hanya ada cahaya dari luar dan suara hujan deras yang mengguyur atap seng. Nafas kami berdua terengah-engah karena berlari.
"Ya ampun, basah semua," kataku sambil meremas ujung dress ku yang meneteskan air.
Aku mengusap wajahku. Lalu aku mendongak dan melihat Brayen terdiam.
Dia tidak menatap wajahku.
Dia menatap... ke bawah.
Aku mengikuti arah matanya. Dan jantungku langsung berhenti.
Blus putih gadingku... karena basah kuyup, bahannya jadi tipis dan menerawang. Bagian dalamnya terlihat samar. Aku langsung memeluk tubuhku sendiri, menunduk malu. Wajahku panas sepanas api.
Ya Tuhan. Malu sekali.
Brayen langsung memalingkan wajahnya. Rahangnya mengeras. Telinganya merah.
"Jangan lihat!" bisikku pelan, suaraku hampir menangis karena malu.
"Maaf... maaf aku tidak sengaja," katanya cepat, suaranya gugup. Untuk pertama kalinya aku melihat Brayen Lucian yang dingin itu gugup.
Ia melihat sekeliling. Tidak ada jas. Tidak ada jaket. Ia hanya memakai kemeja putih yang juga basah.
Tanpa pikir panjang, ia melakukan sesuatu yang membuatku membulatkan mata.
Ia menarik kaos putih yang ia pakai di balik kemeja putihnya ke atas, membukanya dalam satu gerakan cepat.
_Deg!_
Di depanku kini berdiri Brayen dengan kemeja putih basah yang ia biarkan terbuka, dan di dalamnya... tidak ada apa-apa lagi.
Badan kekar nya terlihat jelas di balik kemeja putih basah itu. Bahu lebar, dada bidang, perut yang keras berotak seperti... seperti patung dewa Yunani yang pernah aku lihat di buku.
Nafasku tercekat.
Ia langsung menyodorkan kaos putrinya yang masih kering karena tadi terlindungi kemeja, ke arahku.
"Pakai ini. Tutup depan mu," katanya cepat, matanya masih memalingkan wajah, tidak berani menatapku. "Diam lah disini. Tunggu baju mu agak kering dan hujan berhenti, nanti aku pakai lagi kaos ku."
Tanganku gemetar menerima kaos hitam itu. Kaosnya masih hangat. Masih wangi parfum mahalnya bercampur wangi hujan.
Aku memeluk kaos itu di depan dadaku, menutupi bagian depan dress ku yang menerawang. Jadi kaos itu seperti penutup dada darurat.
"Terima kasih Mas..." bisikku lirih, masih menunduk. Aku tidak berani mendongak lagi. Kalau aku mendongak, aku akan melihat badannya tepat di depan mataku.
Hening.
Hanya ada suara hujan yang deras di luar.
Aku bisa merasakan kehadirannya yang begitu dekat di ruangan sempit ini. Ia berdiri membelakangiku, memberi jarak, sangat menjaga.
"Sadar Isyana, dia suami kontrak mu," batinku berbisik keras. "Jangan lihat. Jangan jatuh hati."
Tapi bagaimana bisa tidak jatuh hati? Pria yang semalam berjanji tidak akan menyentuhku tanpa izin, hari ini rela melepas bajunya sendiri demi menutupi rasa maluku. Bukan untuk melihatku, tapi untuk melindungiku.
Perlahan hujan mulai reda. Rintiknya mengecil.
Brayen memakai kembali kemeja putihnya yang masih lembab, dan memakai kembali kaos hitamnya setelah aku mengembalikan dengan malu-malu setelah dress ku tidak terlalu menerawang lagi.
"Dingin?" tanyanya.
Aku menggeleng. Padahal aku menggigil.
Brayen melihat parkiran yang masih agak jauh dan genangan air dimana-mana.
Ia menatap dress ku, lalu menatap jalanan becek.
Tanpa basa-basi, ia membungkuk sedikit di depanku.
"Maaf, aku izin menggendongmu lagi ya," katanya pelan, suaranya serius. "Aku takut ada orang lain yang melihat blus putih mu yang masih menerawang kalau kamu jalan di luar... dan jalannya licin."
Untuk kedua kalinya.
Aku mengangguk pelan. Sangat pelan. Wajahku masih menunduk malu. "Iya Mas..."
Dan seperti malam akad itu, ia menggendongku lagi.
Satu tangan di punggungku, satu tangan di bawah lututku. Tubuhku terangkat ringan di pelukannya. Kali ini berbeda. Kali ini baju kami berdua basah. Kehangatan tubuhnya terasa menembus baju basahku.
Aku melingkarkan tanganku pelan di lehernya, menempelkan wajahku di dadanya agar tidak ada orang yang melihat wajahku yang merah padam.
Ia berlari pelan menembus sisa hujan rintik-rintik menuju mobil sport hitamnya. Setiap langkahnya mantap. Aman.
Di dalam pelukannya, aku merasa... aman sepenuhnya. Tidak ada yang bisa melihatku. Tidak ada yang bisa menyakitiku.
Sampai di mobil, ia mendudukkanku dengan hati-hati di kursi penumpang, bahkan memasangkan sabuk pengamanku sendiri.
Ia masuk ke kursi supir. Rambutnya basah kuyup meneteskan air.
Kami berdua saling menatap di dalam mobil yang hening, hanya ada suara AC dan nafas kami berdua.
Basah kuyup. Berantakan. Tapi...
Entah kenapa, aku merasa ini adalah momen paling indah hari ini.
---Bersambung---