Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kabar dari Surabaya
Pertemuan di perpustakaan itu menjadi yang pertama dari beberapa pertemuan serupa. Tidak setiap Jumat, karena Nafisah berhati-hati agar tidak mencolok, tapi cukup sering hingga Ustaz Malik hafal pola kedatangan mereka dan mulai duduk di kursinya dengan sikap yang, anehnya, semakin longgar.
"Satu meter," katanya suatu sore, tanpa diminta, begitu Zaki masuk. "Kamu sudah hafal aturannya sendiri, kan?"
"Inggih, Ustaz."
"Bagus. Jadi saya tidak perlu mengulang." Ia kembali ke kitabnya, lalu menambahkan, hampir seperti bergumam sendiri, "Zaman saya dulu, aturannya lebih ketat. Tapi ilmu yang baik selalu punya ruang untuk kejujuran yang baik juga."
Zaki tidak sepenuhnya paham maksud kalimat itu, tapi ia menyimpannya di kepala seperti menyimpan nasihat yang akan berguna suatu hari.
Pertemuan-pertemuan itu singkat, tidak lebih dari setengah jam, selalu diselingi kesunyian yang canggung sekaligus nyaman. Mereka bicara tentang kitab, tentang kampung halaman masing-masing, tentang mimpi-mimpi kecil yang tidak pernah mereka ceritakan ke orang lain. Nafisah bercerita tentang keinginannya membuka pengajian untuk anak-anak perempuan di desanya kelak. Zaki bercerita tentang ayahnya yang menawar kain sampai pembeli menyerah duluan.
Tapi hari itu, pertengahan Juli, suasana perpustakaan terasa berbeda sejak Zaki masuk.
Nafisah sudah duduk di tempat biasa, tapi wajahnya tegang, dan tangannya meremas ujung kerudung tanpa sadar.
"Ada apa?" tanya Zaki begitu duduk, lupa sejenak pada jarak satu meter yang biasa mereka jaga hati-hati.
"Kang sudah dengar kabar dari Surabaya?"
"Kabar apa?"
Nafisah menghela napas, seperti mengumpulkan kekuatan untuk mengatakannya. "Katanya perundingan dengan Belanda macet. Bapak saya dapat surat dari kenalannya di kota, katanya tentara Belanda mulai bergerak di beberapa daerah, dekat perbatasan. Gus Hanif dipanggil kembali ke markas laskarnya kemarin malam, mendadak."
Zaki merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dadanya. Ia sudah dengar sepotong-sepotong kabar itu dari obrolan santri senior, tapi tidak pernah membayangkan kabar itu bisa datang secepat dan sedekat ini.
"Apa artinya itu?"
"Saya tidak tahu pasti," jawab Nafisah. "Tapi Abah bilang, kalau perundingan benar-benar gagal, Belanda bisa saja menyerang. Bukan cuma di kota besar. Bisa sampai ke desa-desa seperti ini."
Ustaz Malik, dari kursinya di dekat pintu, tidak berdeham kali ini. Ia menutup kitabnya pelan-pelan, seperti sudah mendengar percakapan itu sejak awal.
"Anak-anak," katanya, suaranya lebih berat dari biasa. "Kabar itu benar. Tadi pagi Kiai menerima surat dari Kediri. Situasinya memang genting."
Zaki dan Nafisah menoleh bersamaan.
"Ustaz tahu?" tanya Zaki.
"Seluruh pengurus pondok tahu, tapi belum disampaikan ke santri, supaya tidak menimbulkan kepanikan sebelum waktunya." Ustaz Malik menyandarkan punggungnya. "Tapi kalian berdua sudah cukup dewasa untuk mendengarnya. Perundingan Linggarjati itu rapuh, dan banyak yang meragukan Belanda akan menaatinya."
"Kalau perang benar terjadi," tanya Nafisah pelan, "apa yang akan terjadi pada pondok ini?"
Ustaz Malik menatap ke luar jendela, ke arah sawah yang menghijau tenang seolah tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang dibicarakan di dalam ruangan kecil itu.
"Entahlah, Nak. Kiai sudah mulai memikirkan rencana, kalau-kalau keadaan memburuk. Tapi untuk sekarang, yang bisa kita lakukan hanyalah tetap belajar, tetap berdoa, dan menjaga diri masing-masing." Ia menoleh pada mereka berdua, dan untuk sesaat, tatapannya melembut, hampir seperti seorang ayah. "Termasuk menjaga apa yang sedang kalian bangun ini. Zaman yang genting sering membuat orang lupa menjaga hati mereka sendiri."
Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti hujan pertama, tidak deras, tapi cukup untuk membasahi sesuatu yang selama ini kering.
Setelah pertemuan itu, Zaki berjalan pulang ke asrama dengan pikiran yang berat. Ia menemukan Darto duduk sendirian di tangga, tidak seperti biasanya yang selalu ramai bicara.
"Kamu sudah dengar?" tanya Zaki, duduk di sebelahnya.
"Soal Surabaya?" Darto mengangguk pelan. "Kang Ridwan dengar dari santri senior yang baru pulang kampung. Katanya di kota-kota besar orang-orang sudah mulai was-was."
"Gus Hanif dipanggil kembali."
"Saya dengar." Darto menatap kejauhan, ke arah sawah yang mulai gelap oleh senja. "Kang Zaki, saya mau cerita sesuatu. Sesuatu yang seharusnya sudah saya ceritakan dari awal."
Zaki menoleh. "Tentang apa?"
"Tentang kenapa saya selalu bilang 'nanti saja' setiap kali kamu tanya soal Gus Hanif." Darto menghela napas panjang, seperti membuang beban yang sudah lama ia pikul sendirian. "Ayah saya dulu bekerja untuk keluarga Kiai, sebelum saya masuk sebagai santri. Saya besar mendengar cerita tentang keluarga ini dari dekat, lebih dekat dari santri lain."
"Lalu?"
"Gus Hanif itu bukan orang jahat, Kang. Justru sebaliknya. Dia baik, jujur, dan bertanggung jawab. Kalau saya harus memilih siapa yang pantas untuk Nafisah dari sudut pandang orang tua, mungkin dia yang paling masuk akal." Darto menatap Zaki lurus-lurus. "Tapi kebaikan seseorang tidak selalu berarti dia yang tepat untuk dicintai. Dan saya rasa, dari cara Nafisah bicara tentang kamu ke Rukmini, dan cara kamu bicara tentang dia ke saya... Kalian sudah tahu jawabannya sendiri, cuma belum berani mengucapkannya keras-keras."
Zaki terdiam. Kata-kata Darto menetap di dadanya, berat tapi jujur, seperti kebanyakan hal yang keluar dari mulut sahabatnya itu ketika ia benar-benar serius.
"Saya takut, Darto."
"Takut kenapa?"
"Takut zaman ini tidak memberi kami cukup waktu."
Darto menepuk punggungnya pelan, tanpa kata-kata jenaka kali ini, hanya kehadiran yang diam dan setia.
Di kejauhan, dari arah masjid, terdengar suara azan magrib mulai berkumandang, menggema di antara sawah dan atap-atap pondok, seolah mengingatkan bahwa apa pun yang terjadi esok, hari ini masih ada waktu untuk sujud, untuk berdoa, dan untuk berharap bahwa zaman yang genting itu masih menyisakan ruang bagi dua hati yang belum sempat mengucap segalanya.