NovelToon NovelToon
" Kota Sane " Tertinggal Diujung Dunia

" Kota Sane " Tertinggal Diujung Dunia

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Misteri / Tamat
Popularitas:767
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."

Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.

Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.

Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.

Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?

​Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keraguan yang datang

Matahari pagi menyengat hangat di halaman depan penginapan. Suara pukulan palu dan deru mesin potong kayu saling bersahut-sahutan. Pak Karman dan para pekerja bangunan sedang bergerak cepat, berpacu dengan waktu agar proyek perluasan penginapan dan minimarket selesai tepat sebelum musim wisatawan tiba.

Di antara tumpukan semen dan kayu, Devan berdiri memegang balok kayu tebal. Kaos dalamnya sedikit basah oleh keringat, memperlihatkan lengannya yang berurat saat membantu Pak Karman mengangkat bahan bangunan.

Langkah kaki ringan mendekat. Naya muncul dengan rambut diikat satu kebelakang sambil bawa ponsel di genggamannya. Senyumnya terkembang manis saat menghampiri Devan.

"Bang, anterin ke tebing, yuk?" bujuk Naya, matanya berbinar penuh harap. "Naya mau telepon Ayah, Ibu, sama Abang. Naya kangen banget sama mereka. Kita naik kereta trail aja ya, Bang?"

Naya sengaja membayangkan betapa romantisnya jika mereka berboncengan menaiki motor trail menembus angin pantai, memeluk pinggang Devan erat-erat dari belakang.

Devan menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman yang bising oleh para pekerja. Matanya menatap keranjang-keranjang kosong di sudut penginapan.

"Kita pakai mobil saja," jawab Devan datar tanpa ekspresi. "Sekalian belanja bahan-bahan untuk diisi ke minimarket dan bahan stok kafé."

Bahu Naya mendadak lemas. Senyum manisnya meluncur turun seketika.

"Yah... gagal romantis deh," gumam Naya merajuk, melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah cemberut.

Devan tidak membalas rajukan itu. Namun, sudut bibirnya terangkat tipis—hanya sebentar—sebelum ia berbalik mengambil kunci mobil pick-up double cabin miliknya. Tak berapa lama, deru mesin mobil Devan terdengar mendekat dan berhenti tepat di samping Naya. Devan membukakan pintu penumpang dari dalam. Mau tak mau, Naya pun naik dengan bibir yang masih sedikit maju.

Perjalanan berlanjut hingga mereka tiba di puncak tebing—titik tertinggi di pulau itu yang memiliki sinyal telepon paling kuat. Angin laut berembus kencang, mengibarkan rambut Naya saat mobil terparkir rapi di tepi tebing.

Naya segera keluar, mencari posisi nyaman di atas batu besar, lalu memanggil nomor keluarganya melalui panggilan video. Wajah hangat Ayah, Ibu, dan saudara laki-lakinya seketika memenuhi layar ponsel.

"Ayah! Ibu! Abang!" seru Naya riang, rasa rindu yang membuncah membuat matanya berkaca-kaca. Suara gelak tawa dan petuah hangat dari keluarganya mengalir deras, mengobati rasa sepi yang terpencar jauh di pulau ini.

Devan menyandarkan tubuhnya pada kap mobil, berdiri beberapa langkah di belakang Naya. Ia menyilangkan dada, memperhatikan gadis itu berbicara penuh riang dari kejauhan dengan tatapan yang amat lembut.

"Eh iya, Yah, Bu... Naya mau kenalin seseorang!" seru Naya tiba-tiba. Ia berbalik dan melambaikan tangan heboh pada Devan. "Bang Devan, sini sebentar!"

Devan tersentak kecil, namun ia tetap melangkah mendekat secara perlahan. Naya mengarahkan kamera ponselnya tepat ke wajah Devan.

"Ini Bang Devan, Yah. Orang yang selama ini jaga Naya di penginapan," ucap Naya bangga.

Ayah Naya di layar ponsel tersenyum lega. "Nak Devan... terima kasih banyak ya sudah menjaga dan merawat Naya selama berada di sana. Kami di sini sangat berutang budi padamu."

"Sama-sama, Pak. Sudah jadi kewajiban saya," balas Devan sopan dengan nada suara yang tenang dan berwibawa.

Naya menatap layar ponsel, lalu beralih menatap Devan yang berdiri tepat di sampingnya. Keberanian mendadak menyusupi dadanya. Di hadapan angin tebing yang berembus kencang, Naya tersenyum manis dan mengucapkan kalimat yang membuat dunia serasa berhenti berputar.

"Dan tahu tidak, Yah? Naya jatuh cinta sama Bang Devan," ucap Naya blak-blakan tanpa ragu sedikit pun.

Ekspresi Ayah Naya di layar seketika membeku. Senyum ramahnya lenyap, berganti dengan sorot mata terkejut dan serius.

Di saat yang sama, Devan mendadak kaku bagai patung. Manik matanya melebar tajam, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menatap Naya tak percaya—sama sekali tidak menduga gadis itu akan mengutarakannya secara terbuka di depan orang tuanya sendiri.

Keheningan yang mencekam mendadak menguasai area tebing.

"Naya," suara Ayah Naya terdengar mendalam dan berat dari balik ponsel. "Bisa berikan ponselnya sebentar kepada Devan? Dan kamu... coba jalan agak menjauh dulu dari sana."

-----

Naya melangkah mundur beberapa meter, membiarkan angin tebing yang kencang menyapu gaun dan rambutnya. Dari kejauhan, matanya tak lepas menatap sosok Devan yang berdiri tegap memegang ponsel. Pria itu tampak begitu serius, mengangguk beberapa kali dengan raut wajah yang sulit ditebak.

Di balik layar ponsel, raut wajah Ayah Naya melembut, berganti menjadi sebuah penyesalan yang mendalam sebagai seorang kepala keluarga.

"Nak Devan... Pertama-tama, saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas perilaku putri saya," ucap Ayah Naya, suaranya terdengar berat dan sarat akan penyesalan dari seberang telepon. "Naya itu... dia anak yang terbiasa dimanja sejak kecil. Dia polos, impulsif, dan sering kali belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang hanya gejolak emosi sesaat."

Devan mendengarkan dengan tenang. Angin tebing menyapu kemeja hitamnya, tetapi fokusnya terkunci sepenuhnya pada suara pria paruh baya di balik layar.

"Saya memahami hal itu, Pak," jawab Devan pelan namun tegas. "Bapak tidak perlu meminta maaf. Naya anak yang baik."

Ayah Naya menghela napas panjang, menatap Devan lekat-lekat melalui layar video. "Kalau memang Nak Devan juga memiliki perasaan yang sama pada Naya... saya mohon bersabarlah. Biarkan dia tumbuh dulu. Biarkan dia menyelesaikan kuliahnya dan belajar mandiri sampai dia siap mewarisi salah satu perusahaan saya nanti. Saya tidak ingin masa depannya terhambat oleh perasaan yang belum matang."

Kata-kata itu menghantam dada Devan seperti hantaman ombak di bawah tebing. Masa depan. Sebuah kata yang rasanya tak pernah berhak dimiliki oleh sosok seperti dirinya—seorang pria yang terikat oleh kutukan malam purnama dan haus akan darah. Namun, Devan menyembunyikan semua gejolak di dadanya. Ia mengangguk perlahan, sebuah gestur penghormatan dan janji yang diam-diam menggores hatinya sendiri.

"Saya mengerti, Pak," tutur Devan dengan nada suara yang begitu dewasa dan tenang.

"Terima kasih, Nak Devan. Terima kasih sudah menjadi pria yang dewasa dan mau menjaga putri saya di sana," pungkas Ayah Naya penuh rasa haru sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.

Devan menurunkan ponselnya. Ia berdiri mematung di tepi tebing, menatap hamparan laut biru yang tak bertepi. Naya perlahan berjalan mendekat, menyipitkan mata mencoba membaca raut wajah pria di hadapannya.

"Bang...? Ayah omong apa sama Abang?" tanyakan Naya hati-hati, ada cemas yang menyusup di suaranya.

Devan memutar tubuhnya. Wajah dingin tanpa ekspresi itu telah kembali—sebuah topeng sempurna yang selalu ia pakai untuk melindungi dirinya.

"Bukan apa-apa. Ayahmu cuma minta kamu segera fokus pulang dan menyelesaikan kuliahmu," jawab Devan datar sambil menyerahkan ponsel itu kembali ke tangan Naya. Tanpa menunggu balasan, Devan berbalik dan melangkah menuju mobil.

Naya terpaku di tempatnya. Senyumnya pudar, menggantung di antara kebingungan dan rasa penasaran yang membakar dada.

Namun, di dalam saku celana Devan, jemari pria itu mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di balik tatapan dingin yang ia tunjukkan pada Naya, ada satu rahasia besar yang sengaja disimpan erat oleh sang Ayah—sebuah pesan berbisik yang diucapkan Ayah Naya tepat sebelum panggilan video itu terputus:

"Lagipula Nak Devan... saya tahu siapa kamu sebenarnya. Dan saya tahu apa yang terjadi pada pulau sane ,saat malam bulan purnama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!