Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 19
Mendengar jeritan histeris Lee Dong dari balkon lantai dua, ruangan utama lantai satu kediaman megah itu mendadak gempar. Suara teriakan dalam bahasa Mandarin bersahutan menembus koridor-koridor marmer. Tak sampai sepuluh detik, pintu kaca raksasa yang menghubungkan ruang tengah dengan pelataran bawah mendadak didobrak dari dalam!
BRAK!
Belasan anak buah Ying Long—sekitar lima belas orang prajurit berjas hitam—berhamburan keluar ke pelataran bawah. Mereka merengsek maju membawa pistol Combat Pistol dan AP Pistol, langsung mengarahkan moncong senjata mereka ke arah pelataran tempat Andika dan Franklin berdiri tegak.
Namun, Andika dan Franklin sama sekali tidak memberi mereka kesempatan untuk membidik.
CKLAK-BUMP!
Secara serempak, Andika dan Franklin mengangkat Pump Shotgun kaliber 12 mereka dan memicu tembakan pertama tanpa ragu!
BANG! BANG!
Dentuman ganda shotgun menderu bagaikan petir di tengah pelataran! Dua prajurit Ying Long yang memimpin di barisan paling depan langsung terlempar ke belakang. Peluru sebar (buckshot) menghantam dada mereka dalam jarak dekat, merobek jas mahal mereka dan menyemburkan darah segar ke dinding kaca di belakangnya. Tubuh mereka roboh seketika tanpa sempat melepaskan satu tembakan pun.
"DIVERSI! BERPENCAR, FRANK!" jerit Andika menembus bisingnya dentuman senjata.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Andika melompat lincah ke arah kiri, berguling di atas rumput halaman, lalu berlindung rapat di balik pilar beton tebal penyangga balkon. Di sisi lain, Franklin merayap cepat ke arah kanan, berlindung di balik tembok batas batu alam yang kokoh.
Sisa anak buah Ying Long yang panik melihat dua rekan mereka tewas seketika langsung memuntahkan hujan peluru secara membabi buta ke dua arah terpisah.
RATATATATATAT! BANG! BANG! BANG!
Badai peluru dari belasan pistol musuh menyapu pelataran. Bunga api memercik liar saat puluhan peluru 9mm menghantam pilar beton tempat Andika berlindung dan mengikis pinggiran tembok batu Franklin. Serpihan semen dan pecahan kaca beterbangan menembus udara malam yang pekat, menciptakan atmosfer peperangan yang sangat mencekam dan panas.
"Maju dari dua sisi! Kepung mereka di pilar!" teriak salah seorang komandan anak buah Lee Dong dalam bahasa Mandarin sambil memberi isyarat tangan.
Enam orang prajurit musuh membagi kelompok menjadi dua. Tiga orang merayap menyisir pilar beton tempat Andika bersembunyi, sementara tiga orang lainnya bergerak memutar untuk mengunci posisi Franklin di balik tembok batu.
Andika yang merapatkan punggungnya di pilar beton mendengar langkah kaki tergesa-gesa yang mendekat dari balik sudut. Tatapan matanya berkilat dingin, bibirnya mengukir senyuman tipis yang sangat gila. Ia menghitung ritme langkah kaki itu di dalam kepalanya.
Tiga... dua... satu...
Andika mendadak keluar dari balik pilar dengan gerakan secepat kilat!
BANG!
Tembakan shotgun Andika dalam jarak satu meter menghantam perut prajurit musuh pertama hingga terlempar menabrak rekannya! Belum sempat dua orang sisanya mengangkat pistol, Andika mengokang shotgun-nya dengan sentakan kasar—CKLAK-BUMP!—lalu mengarahkan moncong senjata tepat ke dada musuh kedua.
BANG!
Dada prajurit itu hancur berantakan. Prajurit ketiga yang panik mencoba menembak muka Andika dari jarak dekat, namun Andika dengan refleks luar biasa mencengkeram laras pistol musuh, membengkokkan arah tembakan ke atas, lalu mendaratkan hantaman pangkas shotgun-nya tepat ke rahang musuh!
BUKK!
Musuh tersungkur pusing, dan Andika mengakhirinya dengan satu tembakan dingin ke kepala—BANG!
Sementara itu, di sisi kanan pelataran, Franklin tidak memberikan ampun sedikit pun. Tiga prajurit Ying Long yang mencoba mengepungnya dari balik tembok batu langsung disambut dengan taktik gerilya jalanan yang mematikan.
Franklin merogoh kantong rompi amunisinya, melepaskan kait satu bom tempel (sticky bomb), lalu melemparnya melewati atas tembok batu tepat ke tengah-tengah barisan tiga musuh tersebut.
"Apa itu?!" teriak salah satu musuh kaget.
Franklin menyeringai tajam dari balik tembok, memencet tombol detonator di tangannya.
BOOOOOOMMMM!
Ledakan dahsyat meletus hebat! Gelombang tekanan dan kilatan api menghancurkan tiga prajurit musuh seketika, melemparkan tubuh mereka yang terbakar ke atas kap mobil yang terparkir di pelataran. Pecahan logam dan debu membumbung tinggi menyelimuti area kanan pelataran.
"Andika! Pintu utama bersih! Kita masuk!" berteriak Franklin sambil melompati tembok batu yang tersisa, mengokang kembali shotgun-nya.
"Lanjut, Frank!" balas Andika sambil melangkah keluar dari balik pilar, melangkahi jasad-jasad musuh yang bergelimpangan di tanah.
Namun, pertempuran di lantai satu belum berakhir. Begitu Andika dan Franklin menerobos pintu kaca raksasa menuju hall utama lantai satu, delapan orang anak buah Lee Dong sisanya sudah bersiap membuat garis pertahanan terakhir di balik sofa-sofa mewah dan meja bar marmer!
RATATATATATAT!
Tembakan beruntun dari balik meja bar menyambut kedatangan mereka! Peluru-peluru menghantam pintu kaca di belakang Andika dan Franklin hingga hancur berkeping-keping menjadi ribuan kristal kecil. Andika dan Franklin melompat bersamaan, berlindung di balik dua pilar marmer raksasa di dalam ruangan hall yang luas.
"Mereka bertahan di balik bar dan tangga melingkar, Andika!" seru Franklin menembus bisingnya deru tembakan.
"Bagus! Semakin banyak dari mereka berkumpul, semakin cepat tempat ini jadi kuburan!" balas Andika dengan tawa renyahnya yang mengerikan.
Andika mengisi ulang selongsong shotgun-nya dengan kecepatan luar biasa—slek, slek, slek!—memasukkan empat peluru sebar kaliber 12 ke dalam magasin tubularnya. Pria asal Makassar itu lalu mengintip sedikit dari balik pilar, menembakkan dua tembakan beruntun ke arah lampu gantung krisal raksasa yang menggantung di langit-langit hall!
BANG! BANG!
Rantai penahan lampu kristal bernilai miliaran rupiah itu putus seketika! Lampu raksasa seberat ratusan kilogram itu jatuh membentur lantai marmer tepat di atas barikade dua anak buah Lee Dong!
PRANGGG-CRASHHH!
Dua prajurit Ying Long tertimpa pecahan kristal dan besi tebal, menjerit histeris sebelum akhirnya tewas terhimpit.
Memanfaatkan kekacauan dan debu kristal yang membumbung di dalam hall, Franklin melompat keluar dari balik pilarnya bagaikan banteng mengamuk! Dengan shotgun di tangan, ia merensek maju memuntahkan tembakan demi tembakan ke arah musuh yang bersembunyi di balik sofa.
BANG! CKLAK-BUMP! BANG!
Setiap kali laras shotgun Franklin meletus, satu anak buah Lee Dong terlempar dari balik sofa dengan tubuh hancur. Franklin bergerak tanpa henti, membalaskan setiap tebasan pisau yang pernah mengenai jasad Lamar dengan peluru-peluru panas yang tak terhentikan.
Sisa tiga prajurit Ying Long terakhir yang bertahan di kaki tangga melingkar menuju lantai dua mendadak gemetar hebat. Senjata mereka kehabisan amunisi, sementara dua pria di hadapan mereka bergerak seperti iblis yang tidak bisa dilukai oleh peluru.
Andika melangkah perlahan menembus asap mesiu yang tebal di dalam ruangan hall. Sepatunya menginjak pecahan kaca kristal dengan bunyi gemeretak yang dingin. Shotgun di tangannya terangkat lurus ke arah tiga prajurit tersisa yang menyudut di kaki tangga dengan wajah pucat pasi.
"Jangan... ampuni kami..." ratap salah seorang dari mereka dengan suara gemetar, mengangkat kedua tangannya yang berdarah.
Andika menatap ketiga orang itu dengan mata hitamnya yang mati, tanpa ada sedikit pun riak rasa kasihan.
"Ini salam dari Lamar," bisik Andika datar.
BANG! BANG! BANG!
Tiga tembakan presisi beruntun menggelegar di dalam hall utama! Tubuh tiga prajurit terakhir Ying Long terkulai kaku di atas anak tangga marmer yang kini bersimbah darah segar.
Suasana hall utama lantai satu kediaman megah itu mendadak hening seketika. Bau menyengat dari asap mesiu, bau darah yang kental, dan puing-puing hancurnya ruangan menjadi bukti bisu dari pembantaian total yang baru saja terjadi. Seluruh belasan pasukan penjaga lantai satu telah tewas mengenaskan bergelimpangan di pelataran dan hall utama.
Franklin berdiri menatap tangga melingkar yang mengarah ke lantai dua, napasnya naik turun terengah-engah sembari menyapu keringat bercampur darah di dahinya. Andika mengokang shotgun-nya untuk terakhir kali, menatap ke atas dengan senyuman dingin.
Lantai satu telah dibersihkan sepenuhnya. Sekarang, tidak ada lagi barikade atau pasukan yang menghalangi jalan mereka menuju lantai dua—tempat Lee Dong bersembunyi ketakutan menunggu vonis matinya.