The Light We Found

The Light We Found

Chapter 1

Gemericik air di pagi hari terdengar begitu jelas dari sebuah rumah kontrakan kecil yang sederhana. Rumah itu hanya dihuni oleh seorang gadis manis yang perlahan tumbuh dewasa bersama waktu. Langkah kaki yang masih basah keluar dari kamar mandi dengan tergesa. Seperti biasa, ia kembali mengulur waktu hingga jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.

"Astaga..."

Dengan terburu-buru Tirta mengusap setiap tetes air di tubuhnya menggunakan handuk putih, lalu melemparkannya begitu saja ke atas kasur. Tangannya segera meraih kemeja putih yang sudah tergantung rapi di lemari kayu di sudut kamar.

Rambutnya yang masih basah dibiarkan tergerai saat ia berjalan menuju dapur. Air di panci ternyata sudah mendidih. Dengan cekatan ia menuangkannya ke dalam gelas berisi susu bubuk.

Hari ini ia kembali melewatkan sarapan. Setidaknya segelas susu hangat itu cukup untuk menahan lapar sampai jam makan siang.

"Besok aku benar-benar harus bangun lebih pagi. Nggak boleh begini terus."

Ia bergumam pelan sambil meniup permukaan susu yang masih mengepulkan uap panas. Kalimat itu hampir selalu ia ucapkan setiap pagi... dan hampir selalu gagal ia tepati keesokan harinya.

Sembari menunggu susunya sedikit dingin, Tirta kembali ke kamar untuk mengambil hair dryer. Suara mesin pengering memenuhi ruangan kecil itu, mengibaskan rambut hitam panjangnya agar kemeja yang baru dikenakan tidak ikut basah.

Tirta Adira adalah gadis sederhana yang tinggal sendirian di sebuah kontrakan yang letaknya tak jauh dari tempatnya bekerja. Ia bukan seseorang yang pandai mengutarakan semua isi kepalanya. Namun, ia selalu mampu menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil.

Senyumnya mudah merekah, bahkan karena hal yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain. Mata cokelatnya yang hangat berpadu dengan rambut hitam legam yang panjang, membuat wajahnya selalu terlihat teduh.

Namanya memang sering disalahartikan sebagai nama laki-laki. Namun Tirta tidak pernah mempermasalahkannya. Baginya, nama itu adalah doa dari sang ayah agar putrinya tumbuh setangguh air yang tak pernah berhenti mengalir. Dan doa itu seolah benar adanya. Di balik senyumnya yang lembut, Tirta adalah perempuan yang pantang menyerah dan penuh ambisi.

Drrtt...

Suara ponselnya bergetar di atas meja. Nama Jordan muncul di layar.

Senyum Tirta langsung mengembang. Sambil tetap mengeringkan rambut, ia meraih ponselnya dan menekan tombol hijau.

"Halo, sayang... Selamat pagi."

Mereka bahkan tidak sedang melakukan panggilan video, tetapi senyum di wajah Tirta tetap selebar itu.

"Kenapa kamu tidak meneleponku?" suara Jordan terdengar kesal. "Bukannya aku sudah bilang, bangunin aku pagi ini?"

Jantung Tirta langsung mencelos.

Sial... dia lupa lagi.

"Maaf, sayang. Aku bangun kesiangan, jadi tidak sempat menelepon."

"Kamu bilang kesiangan, tapi masih sempat mengeringkan rambut?" Jordan terkekeh sinis. "Ya sudah. Terus aja terlambat. Biar aku nggak pernah mengandalkan kamu lagi. Nggak berguna."

Tut.

Sambungan telepon terputus begitu saja.

Hair dryer di tangan Tirta perlahan berhenti. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

"Bersabarlah..." bisiknya lirih. "Ingat semua kenangan yang sudah kalian lewati. Bertahanlah sedikit lebih lama."

Kalimat itu lebih terdengar seperti permohonan kepada dirinya sendiri.

Tanpa sadar, air mata mengalir membasahi pipinya, merusak riasan tipis yang baru saja selesai ia pakai.

"Ini bukan pertama kalinya..." gumamnya sambil mengusap air mata dengan cepat. "Jadi berhenti cengeng."

Ia menarik napas panjang, merapikan barang-barang yang berserakan, lalu berlari kecil menuju dapur. Segelas susu hangat diteguk hingga habis, disusul sepotong roti yang langsung digigit sambil mengenakan jaket.

Helm dikenakan. Motor dinyalakan.

Begitu keluar dari halaman kontrakan, Tirta kembali mengenakan topeng paling sempurnanya.

Senyum.

...********...

"Selamat pagi semuanya, apa kabar kalian hari ini?" sapa Tirta dengan senyuman hangat begitu memasuki ruangan. Sapaan itu langsung disambut oleh rekan-rekan kerjanya yang sudah lebih dulu datang.

"Pagi, Ta. Sebelum nanya kabar kami, coba tanya dulu kabar dirimu sendiri. Hari ini semuanya bakal berjalan lancar atau nggak?" ujar seorang gadis berambut sebahu dengan tatapan yang seolah mengintimidasi.

Dia adalah Lala Maharani, pemilik lidah setajam silet sekaligus sahabat terdekat Tirta.

"Jangan ganggu aku kalau cuma mau protes. Aku nggak punya waktu," balas Tirta santai sambil menyalakan komputer di mejanya.

Lala mendengus pelan.

"Tirta, aku benar-benar nggak ngerti sama kamu. Pria itu sudah kehilangan rasa cintanya sejak dia lebih memilih percaya sama teman-temannya daripada sama kamu. Dia—"

"Kak Tirta, Pak Hardi minta kakak membawa laporan kemarin ke ruangannya." Ucapan Lala terpotong oleh seorang anak magang yang baru saja datang. Tirta menoleh lalu mengangguk kecil.

"Baik, aku ke sana sekarang."

Ia berdiri sambil membawa map di tangannya.

"Selamat bekerja, Nona Lala."

Godaan itu berhasil membuat Tirta kabur dari ceramah panjang sahabatnya. Lala hanya bisa mengembuskan napas panjang.

"Sampai kapan aku harus repot begini? Menyebalkan."

Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi lalu mulai menyalakan komputer.

"Kak Lala, rencana kita selanjutnya apa?" tanya anak magang yang berdiri di samping mejanya.

"Nanti saja. Tunggu gadis keras kepala itu selesai sama laporannya."

...******...

Setelah menyelesaikan laporan yang diminta Pak Hardi, Tirta berniat mengajak Lala makan siang seperti biasanya.

Namun, saat mencari ke meja sahabatnya, kursi itu kosong.

"Aneh..."

Sembari menghubungi nomor Lala, Tirta melangkah menuju kantin kantor.

Blar!

Suara letusan balon membuat Tirta refleks memejamkan mata. Potongan-potongan kertas warna-warni berhamburan dan jatuh di atas kepalanya.

"Selamat ulang tahun, Tirta!"

Sorakan memenuhi kantin.

Tirta terdiam beberapa detik sambil memegangi dadanya yang masih berdebar karena terkejut.

Di hadapannya, Lala berdiri sambil membawa sebuah kue cokelat. Di belakangnya, seluruh rekan satu divisi tersenyum lebar.

"Ya ampun..." Tirta tertawa kecil. "Terima kasih banyak." Hari ini ia bahkan lupa bahwa dirinya sedang berulang tahun.

"Pantas saja aku nggak bisa menghubungimu," ucap Tirta sambil menyenggol pelan bahu Lala.

"Ternyata kalian lagi menyiapkan semua ini."

Lala terkekeh puas.

"Ayo, cepat buat permohonan."

Viona yang berdiri di sampingnya ikut mengangguk.

"Iya, sebelum lilinnya habis."

Tirta menatap nyala lilin kecil di atas kue itu. Perlahan ia memejamkan mata, mengucapkan doa dalam hati, lalu meniup lilin tersebut.

Sorakan dan tepuk tangan kembali memenuhi kantin.

Setelah itu mereka duduk bersama sambil menikmati makan siang yang sudah diambil masing-masing.

"Jadi..." Lala mengangkat sebelah alisnya. "Minta apa kali ini?"

Tirta mengunyah makanannya sebentar sebelum menjawab.

"Semoga semua rencanaku tahun ini dan tahun depan dilancarkan."

Lala mengangguk pelan.

"Dan semoga kamu segera dapat pria yang lebih baik dari si Jojon itu."

Tirta langsung mendelik.

"Namanya Jordan! Jangan seenaknya mengubah nama orang."

Melihat sahabatnya masih membela sang kekasih, Lala pura-pura ingin muntah.

"Ih... bucin."

Lalu ekspresinya berubah serius.

"Terserah siapa namanya. Dia lupa lagi, ya, kalau hari ini ulang tahunmu? Padahal setiap ulang tahunnya dia, kamu selalu rela begadang buat ngucapin tepat jam dua belas malam. Masa dia lupa lagi?" Tirta menggeleng pelan.

"Dia nggak seperti itu."

Baru saja kalimat itu selesai, ponselnya bergetar.

Nama Jordan muncul di layar.

Senyum Tirta langsung mengembang.

"Lihat."

Ia memperlihatkan isi pesan itu kepada Lala dengan wajah berbinar.

"Dia ngajak aku makan malam. Pasti dia lagi nyiapin kejutan."

Lala ikut melihat layar ponsel itu, lalu mengembuskan napas pelan.

Dalam hati, ia sungguh berharap kali ini Jordan benar-benar berubah.

Dan jika ternyata tidak...

Semoga suatu hari nanti, sahabatnya itu dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar tahu bagaimana cara mencintainya.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!