NovelToon NovelToon
PENGEMBARA DARI DESA

PENGEMBARA DARI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Djafar S

Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 BADAI CEMBURU DI BALIK PINTU PENDOPO

Hari-hari yang dihabiskan di pendopo kayu belakang rumah kolonial Ciumbuleuit perlahan-lahan mengikis habis sisa-sisa tembok tinggi arogansi yang dulu dibangun oleh Nadia. Sejak insiden pipa air pecah dan pagi-pagi yang dihangatkan oleh secangkir kopi hitam buatan sang gadis, kedekatan antara Raka Ardian dan Nadia tumbuh bagaikan tunas muda yang disiram air subur.

Mereka sering menghabiskan sore hari dengan duduk berdampingan di teras pendopo, membicarakan hal-hal sederhana—mulai dari filosofi lukisan kanvas Nadia, hingga cerita-cerita alam tenang tentang Desa Ciherang yang selalu membuat Nadia terpikat.

Bagi Nadia, Raka bukan lagi sekadar pengawal bayaran kaku kiriman sang paman, melainkan tempat bersandar paling nyaman di dunia yang terasa begitu bising dan penuh ancaman ini. Sebaliknya, Raka menemukan ketenangan tersendiri di balik omelan-omelan kecil Nadia yang manja. Tanpa pernah diucapkan secara gamblang melalui kata-kata manis, sebuah ikatan batin yang kuat telah merajut hati keduanya secara erat.

Namun, kedamaian manis itu diuji secara tiba-tiba pada suatu siang yang cerah.

Suara desing mesin mobil sedan mewah yang berhenti tepat di depan gerbang kayu jati utama memecah keheningan siang itu. Tak lama kemudian, Tuan Wiratman datang berkunjung bersama seorang wanita paruh baya dan seorang gadis muda berwajah jelita yang tampak sangat cemas. Gadis itu bernama "Kirana"—seorang mahasiswi kedokteran tingkat akhir berpenampilan anggun, dengan rambut ikal tergerai rapi dan tutur kata yang sangat santun.

Kirana datang membawa permohonan putus asa. Kakeknya—seorang tokoh masyarakat terkemuka di kawasan Setiabudi—mendadak jatuh sakit parah dengan gejala sesak napas akut, penurunan kesadaran, dan tubuh melemah drastis tanpa ada satu pun rumah sakit modern di Bandung yang mampu mendiagnosis penyakitnya secara tepat. Mendengar berita dari Tuan Wiratman bahwa Raka memiliki keahlian luar biasa dalam menyembuhkan Tuan Wiratman dari racun misterius, Kirana datang bersimpuh memohon uluran tangan sang tabib muda.

Raka, dengan jiwa welas asih yang berakar dari ajaran Welingan Sejati, tentu tidak bisa menolak panggilan kemanusiaan tersebut. Ia segera masuk ke dalam pendopo, mengambil tas kain kecil berisi gulungan jarum perak dan racikan rempah obat herbalnya, lalu bersiap berangkat bersama rombongan Kirana.

Namun, di beranda rumah utama, Nadia menyaksikan seluruh pemandangan itu dengan dada yang mendadak terasa sesak dan panas. Dari balik tirai jendela kaca, matanya menatap tajam ke arah Kirana. Ia melihat bagaimana gadis berwajah rupawan itu berkali-kali menatap Raka dengan binar kekaguman yang begitu kentara, melontarkan kata-kata penuh rasa terima kasih yang tulus sambil menyentuh lengan jaket Raka secara sopan namun teramat dekat di mata Nadia.

Bagi seorang gadis yang sedang jatuh cinta setengah mati seperti Nadia, pemandangan itu tampak bagaikan tusukan belati beracun.

Siapa perempuan itu sebenarnya?! Kenapa dia menatap Raka seolah pemuda itu adalah pahlawan penyelamat dunianya?!* batin Nadia bergemuruh hebat, rahangnya mengatup rapat dengan tangan mengepal kuat di sisi tubuhnya.

Beberapa jam kemudian, mobil rombongan tiba di sebuah kediaman asri di kawasan Setiabudi. Raka langsung digiring menuju kamar utama tempat kakek Kirana terbaring lemah. Di dalam ruangan bernuansa klasik tersebut, sang kakek tampak megap-megap dengan napas tersenggal dan kulit membiru di sekitar bibirnya. Berbagai alat pemantau medis modern berbunyi nyaring menandakan instabilitas organ vital.

Dokter-dokter rumah sakit sebelumnya mendiagnosis kondisi tersebut sebagai gagal jantung stadium akhir dan edema paru akut, memberikan suntikan pengencer darah serta oksigen murni, namun tidak ada satu pun tindakan medis konvensional yang membuahkan hasil. Tubuh sang kakek justru semakin menolak obat-obatan kimia, sementara frekuensi kejang otot terus meningkat.

Raka menenangkan Kirana yang berdiri di sudut ruangan dengan mata berlinang air mata. Dengan tenang, Raka mencuci tangannya, lalu mulai memusatkan konsentrasi batinnya untuk memindai kondisi pasien menggunakan kepekaan energi Welingan Sejati.

Melalui aliran tenaga dalamnya, Raka menemukan fakta mengejutkan yang luput dari pandangan dokter modern: kakek Kirana tidak menderita gagal jantung alami, melainkan mengalami keracunan metaloid lambat—sejenis residu toksik dari bahan pengawet kayu atau cat antik, yang terhirup secara tidak sengaja dari renovasi perpustakaan tua di rumah itu, lalu mengendap dan menyumbat total jalur meridian paru-paru serta membekukan sirkulasi darah mikro di dada.

Tanpa membuang waktu, Raka membuka gulungan kain berisi jarum perak steril miliknya. Dengan gerakan yang sangat cepat, presisi, dan diresapi tenaga dalam hangat, Raka menancapkan jarum pertama di titik meridian "Dingchuan" di tengkuk leher sang kakek untuk membuka saluran napas yang menyempit akibat spasme otot. Sang kakek sempat terbatuk keras, mengeluarkan lendir gelap pekat yang langsung diseka oleh Kirana dengan sigap.

Selanjutnya, Raka menancapkan jarum kedua dan ketiga di titik "Tanzhong" di tengah dada serta "Feishu " di punggung belakang. Melalui ujung jarum tersebut, Raka menyalurkan gelombang energi murni secara perlahan, melancarkan gumpalan darah beku di sekitar dinding jantung dan mendesak sisa toksin metaloid agar keluar melalui pori-pori kulit. Kirana, yang berlatar belakang pendidikan kedokteran, terpana menyaksikan bagaimana grafik pada monitor digital di samping ranjang perlahan-lahan kembali stabil dari detik ke detik.

Setelah jarum dicabut, Raka meracik serbuk herbal akar puser bumi dan jahe merah yang diseduh dengan air hangat, lalu membantunya meminumkan ramuan penawar tersebut secara perlahan ke mulut sang kakek. Dalam waktu kurang dari empat puluh lima menit, warna kebiruan di wajah sang kakek memudar, digantikan oleh rona kemerahan yang sehat. Kelopak matanya perlahan terbuka, dan ia menarik napas panjang dengan dada yang kembali lapang.

Kirana menangis histeris karena bahagia, berulang kali mengucapkan terima kasih sambil menggenggam tangan Raka dengan penuh rasa kagum dan rasa hormat yang mendalam.

Sesampainya kembali di pendopo Ciumbuleuit selepas magrib, Raka mendapati Nadia sedang duduk bersilang kaki di kursi teras dengan wajah ditekuk masam, bibir mengerucut kesal, dan kedua tangan dilipat rapat di depan dada.

Raka tersenyum tipis, dapat menebak arah angin badai yang sedang melanda hati gadis itu. Ia melangkah mendekat dan duduk di kursi bambu di hadapan Nadia. "Kenapa wajahmu ditekuk begitu, Nadia? Seperti pakaian belum disetrika."

Nadia mendengus keras, memalingkan wajahnya ke samping dengan gestur ngambek kekanak-kanakan yang kentara. "Tidak apa-apa! Sana saja pergi mengurus pasien-pasien cantikmu itu! Kenapa harus repot-repot pulang ke pendopo kecil ini kalau kau bisa dielu-elukan dan disanjung oleh mahasiswi kedokteran berwajah manis di rumah mewah keluarga kaya raya?"

Raka tertegun sejenak, lalu tertawa kecil—sebuah tawa tulus yang justru membuat Nadia semakin merenggut sebal.

"Kau sedang cemburu, Nadia?" tanya Raka lembut dengan sorot mata penuh kehangatan.

"Cemburu?! Suka sekali kegeeran!" tukas Nadia cepat, namun pipinya langsung bersemu merah padam, membongkar kebohongannya sendiri. Ia beranjak berdiri dari kursinya, menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu berjalan masuk membanting pintu rumah utama.

Di balik rasa cemburu yang meledak-ledak itu, Raka justru merasa semakin yakin bahwa perasaan yang tumbuh di hati Nadia adalah nyata dan murni. Peristiwa hari itu tidak hanya membuktikan betapa besar cinta Nadia padanya, tetapi juga mempererat jalinan batin di antara mereka, menguji ketulusan di tengah riuhnya badai dunia luar.

1
indah Mayaddah f
Jadi penasaran, apa isi catatan rahasia di buku harian kakek Wirya itu 🤔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Nanti deh aku bisikin... 🤭
total 1 replies
Myz Pena
kebiasaan orang2 di kampung kalau ada orang yang udah naik mobil mewah lalu di bawa ke kampunh pasti jadi tontonan warga kampung 🤭
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Betul😄
total 1 replies
Myz Pena
keuarganya raka sangat sederhana apalagi penggambaran sosok ibundanya 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: iya, memang tokoh pendamping kadang kurang kita perhatikan
total 1 replies
CNNTAYY
utusan juga itu ngeremehin+songong banget untung ada raka/Proud//Proud/
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih CNNTAY ku😍
total 1 replies
iorlif
sepertinya mirip kejadian di suatu tempat
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Mungkin juga sih, tapi murni kok dari imaginasi ku👍
total 1 replies
Siti Aisyah
Kalau ngomongin tentang gabah dan dijemur dihalaman jadi teringat ibu waktu dikampung 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!